Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Meremuk daun demi ketenangan


__ADS_3

Aku semakin bingung. Air mata terus saja menetes meski aku sudah berusaha menahan tangis.


"Liyan, jangan bilang kalau kau sakit lagi!" serangnya dari belakang.


Deg!


Aku semakin frustrasi mendengar penolakannya secara langsung. Aku sendiri semakin khawatir dan dilanda kebingungan untuk memberi jawaban padanya. Ujung baju yang aku pakai terus menerus aku remas sebagai tanda menahan rasa takut akibat sakit yang tiba-tiba datang dengan sendirinya.


"Dengar Liyan, kalau kau sakit. Kau tidak usah diobatkan lagi . Biar kau tau rasa karena gak pandai menjaga kesehatanmu!" pekiknya dengan kasar.


Glek!


Aku semakin pucat mendengarnya. Tenggorokan refleks langsung menelan ludah sekasar mungkin. Tubuh mungilku semakin drop. Aku tidak lagi bisa merasakan kata-kata yang penuh kasih sayang yang utuh dari seorang orang tua.


Hatiku semakin menjerit sekuat-kuatnya. Berulang kali aku melihat langit yang biru bercampur hati yang bersedih. Langit yang terlihat di balik bola mata yang berkaca-kaca seakan menyapaku dengan senyuman manis yang membuat aku sedikit tenang.


"Kau dengar ya Liyan. Ayahmu mencari uang bukan hanya untuk mengobati penyakitmu saja dan bukan juga untuk mengasih kalian berdua jajan. Itu juga ada untuk ku," tandasnya dengan pedas. "Yaaa," katanya dengan penuh penekanan. Menempelkan kedua bibirnya di telinga sebelah kananku. "Setiap kali Ayahmu mencari uang..., aku selalu tidak kebagian!" celetuknya pedas.


Sontak aku menutup bola mata dengan kuat. Di ikuti telinga yang menajamkan pendengaran untuk mendengarnya.


Hixs! Hixs! Hixs!


Hati terus saja menjerit bercampur isak tangis yang menganak. Napas pun seakan terasa tersenggal keluar sesekali dari tenggorokan hingga terdengar jelas di kedua telinga.


"Kenapa kau masih saja diam, Liyan? Kau bisu ya, ha?" tanya ibu sambung kami semakin menempelkan bibirnya di telingaku.


"E-engga Bu," jawabku sedikit terbata bercampur isak tangis yang tidak bisa kututupi.


"Engga?! Lantas, kenapa kau menangis?" tanyanya semakin menyelidiki.


Aku semakin gusar dan perlahan aku melihat adikku yang masih membelakangiku secara diam-diam.


"Kenapa kau diam saja? Kau menunggu Adikmu menjawabnya, hm?" tanya ibu sambungku dengan nada suara yang mematikan keberanianku. "Adikmu itu gak akan mau menolongmu. Dia itu dari dulu memang gak pernah suka dengan mu. Jadi, gak usah kau lirik-lirik dia untuk menolongmu," katanya dengan tegas. Menjauhkan bibirnya dariku.


Huh !


Aku sejenak lega di balik hati yang bercampuraduk. Sekilas aku merasa tenang kalau ibu sambungku sedikit percaya dengan jawabanku. Namun, sedikit juga aku merasa takut ketika tanpa sengaja aku melihat adikku telah mengetahui kelemahanku.

__ADS_1


Senang bercampur panik itulah yang bisa aku rasakan saat ini untuk menggambarkan diriku. Tungkai kaki yang lemah bercampur nyeri pun, masih bertahan dengan kokoh berdiri kuat di tengah terpaan angin yang berembus membawa daun-daun yang berterbangan mengibas muka dan rambut ini.


Daun-daun yang sudah tidak kokoh itu berguguran mewarnai tanah yang bercampur dengan pasir. Aku sangat terusik ketika daun kecil itu menampar pipiku dengan lembut.


Sontak aku tersimpul manis di tengah lontaran kata-kata pedas yang bercampur dengan bumbu-bumbu sandiwara. Aku yang sangat pandai menyembunyikan apa pun dari ayahku detik ini begitu terancam oleh adik semata wayangku.


Dia seakan tidak mau melepaskan aku begitu saja demi keselamatan dirinya dari hukuman seorang ayah.


"Kak, Kakak jangan bohong pada Ayah," kata adikku berbisik pelan di telinga sambil memegang tanganku dan meletakkan daun yang jatuh di atas telapak tanganku.


Aku yang menunduk dan bergulung dengan lamunan, sontak terkejut dan refleks melihat adikku langsung yang berdiri tepat di sebelah kiriku. Dengan gugup aku pun memutar kedua bola mata melirik ibu sambungku yang masih berdiri tepat di samping sebelah kananku sementara adikku di sebelah kiri.


"Liyan, kalau kau gak sakit. Jangan coba-coba gak mandi nanti," ancam ibu sambung kami dengan suara penuh penekan. Spontan membuat bulu kudukku merinding.


"I-iya Bu," jawabku dengan terbata. Melirik adikku yang acuh mendengarnya.


"Dengar kalau bisa di rumah ini tidak ada yang boleh sakit!" tandasnya melayangkan sebuah ancaman yang keras.


Deg!


Aku langsung terhenyak dan memegang bulu kudukku secara diam-diam.


Perlahan aku menjatuhkan setengah pandangan melihat tanah yang tadi bersih di sapu, kini kembali kotor karena embusan angin yang membawa daun berserakan tak tentu arah. Melihat adikku yang spontan melayangkan pandangan melihat ke arah ibu sambung kami langsung.


"Ana," kataku memanggil adikku yang sudah mulai memerah. Di ikuti oleh sebelah tangan kiriku menggenggam tangannya sebagai isyarat menyuruh adikku menahan emosinya.


Hah !


Adikku refleks memutar kepala berpaling dari ibu sambung kami seakan dia mengerti maksud dariku.


"Ini untuk kalian berdua ya ! Tidak boleh ada yang sakit satu orang pun!" ancam ibu sambung kami dengan keras. Berdiri di belakangku.


"Iya, Bu,"jawabku mengangguk. Meremas daun seperti yang di lakukan oleh adikku tadi.


Krak!


Daun itu pun hancur bersama hati yang tertekan. Bola mata masih saja menatap daun yang berserakan dan membuka ingatan, kalau kami dari tadi masih saja berada di luar.

__ADS_1


"Kak, badan Kakak benar-benar sakit," ucap adikku pelan. Memberitahuku.


Glek!


Aku kembali sedih. "Ana, Kakak gak sakit," dalihku terus berbohong pada adikku. Melirik ke samping kanan tempat di mana ibu sambung yang masih berdiri. "Bu, kami mau masuk ke dalam," pintaku mengiba.


"Dari tadi kalian betah di sini. Sekarang ada Ibu di sini..., kalian mau masuk," katanya dengan nada suara sinis. Melayangkan omongan itu kepada ku.


Daun yang aku pegang semakin kuremas. "Bu, kami sudah kedinginan," balasku pelan. Menjatuhkan pandangan ke bawah melihat daun kering.


"Kedinginan?" tanya ibu sambungku terheran. Mengulangi yang kuucapkan.


Bulu kudukku semakin merinding, sementara adik yang berada di samping tepat di sebelah kiriku pergi dan berjalan dengan melenggang.


Glek !


Aku menganga dan membelalak melihat adikku yang cuek.


"Lihat itu Adikmu! Belum di kasih masuk dia sudah pergi. Untung saja kalian punya Ayah yang tidak mudah termakan rayuan," terangnya. "Kalau tidak..., Ayahmu pasti akan sudah membenci kalian," tandasnya.


Aku semakin terkejut dan terheran maksud dari ucapannya. Netra yang melihat adikku tadi perlahan berputar sambil mencerna yang di katakan olehnya.


"Ayahmu memang Ibu akui. Dia adalah Ayah yang sangat sayang pada kalian. Sampai - sampai kalian bisa mengelabuinya, heh!" lanjutnya. Menyeringai.


Daun yang di berikan adikku tadi perlahan aku buang sedikit demi sedikit dari genggaman tangan yang tegak lurus di samping kiri.


"Heh!" katanya membuang napas dengan sinis ke udara. "Sekarang tinggal kau sendiri di sini. Kau mau masuk atau tidak?" tanya ibu sambung kembali.


"Mau Bu," jawabku. Mengangguk, di ikuti oleh tangan yang masih terus saja membuang daun yang kuremuk.


"Pergi sana!" serunya dengan acuh.


Tanpa pikir panjang aku pun langsung menyeret kaki yang terkulai lemah ini dengan terseok-seok.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2