Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tersadar


__ADS_3

"Pak,pak !" Tetangga kami pun, mulai panik.


"Ia ada apa?"Kata Ayahku


"Sudah mulai sadar, pak."


Ayahku langsung beranjak dari kursinya melihat Ibu sambungku. Apakah betul sudah sadar ataukah belum?


Ayahku sendiri dari tadi dia ingin melihat dan duduk disamping Ibu sambungku. Namun, di halangi oleh orang pintar itu. Dia bilang,"jangan dulu dekat-dekat"akhirnya ayahku pun, mengurungkan niatnya untuk duduk di samping Ibu sambungku.


"Lo, kena***?"


Ayahku pun, terdiam sambil menatap tetangga kami. Ayahku,ketika melihat tidak ada tanda-tanda akan dia sadar.


"Ia, pak tadi ada!"Kata tetangga kami.


Dia pun, melihat lekat ke Ibu sambungku yang terbaring.


Masa ia sih! padahal tadi kan sudah gerak-gerak jarinya.


Sementara, suara riuh gemuruh sudah terdengar dari pada tetangga yang ramai berkerumun di rumah. Mereka seperti, melihat pameran tontonan gratis.


Aksi ibu sambungku hari ini begitu memukau. Gaya pingsannya yang begitu lama bak seperti, akting yang di buat-buat.


Lain lagi dengan perkataan sang orang pintar alias dukun.


"Ini kerasukan!"Sambil berdiri dia terus mengelilingi ibu sambungku. Bergegas dengan mantranya dan percikan air yang di percikkan nya ke tubuh ibu sambungku yang kini membasahi tubuhnya terlihat.


"Kerasukan apa mbah?" Tanya tetangga.


"Sepertinya, ini kerasukan kuntilanak."


"Iiiihh!"


Mendengar itu pun tetangga yang ramai berkerumun di rumah kami pun menatap satu sama lain. Sambil memegang tengkuk mereka yang merinding. Membuat bulu kuduk mereka berdiri sambil mengelus-elus tangannya sendiri.


Aku takuuut! Terus aku bergeser merapat ke Ayahku yang duduk di kursi.


Mendengar perkataan Mbah dukun. Raut wajah Ayahku langsung berubah masam mendengarnya.


"Kerasukan apa?" Ayahku langsung berwajah pias. Dengan suara yang sayup-sayup terdengar ke telingaku.


"Masa ia sih! Setahu aku kalau kerasukan kuntilanak itu gak mungkin, kayak gitu!" Tetangga.


"Ia kan,mana mungkin seperti, itu aneh! Sambil mengerutkan kening.


"Sepertinya, ini yang dibuat-buatnya biar semakin panjang masalahnya."


"Eh,atau jangan-jangan! Sambil melihat Mbah dukun itu,"ini sepertinya, aku mengenalnya?"


Raut wajahnya penuh tanda tanya yang mendalam.


"Ia,ia aku sudah tahu. Itu bukan orang pintar seperti, yang kalian katakan tadi." Menunjuk ke arah Mbah dukun.

__ADS_1


"Bapak itu hanya orang biasa. Cuman dia sering dipanggil-panggil sama orang. Tapi hanya, untuk mengurut. Ada sih! Tau-taunya, alias indra ke enamnya tapi, dia bukan seperti yang kalian tahu seperti ini."


"Kalau aku tahu dia itu tidak kerasukan! Dia itu cuman berpura-pura."


"Masa ia dia bersandiwara ?" Tanya yang satu.


.


.


.


Karena keramaian di rumahku Ayahku tidak memasak hari ini.


Akan tetapi, Ayahku malah memperhatikan ibu sambungku dengan serius. Melihat Ayahku yang terus menatap Ibu sambungku. Aku pun, ikut memperhatikan mereka berdua. Pertama, yang ku perhatikan adalah Ayahku yang kedua, Ibu sambungku. Bola mataku pun, berputar silih bergantian melihat mereka.


"Hm!"Seketika dukun itu pun menghela napas panjang. Seakan dia menyerah terlihat dari raut wajahnya yang mulai kusut.


.


.


.


Melepaskan!


Dengan memandangi Ibu sambungku yang terbaring tak berdaya. Wajah cemasnya memandangi Ibu sambungku seakan dia mengatakan, kenapa tidak sadar-sadar juga?


"Huh!"Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan meletakkan semua alat tempurnya."Maaf bang,ada yang harus kita bicarakan."


"Bang begini,sebelumnya saya minta maaf."


Melihat ke Ayahku tapi sesekali melihat kebawah juga.


Ayahku yang diam berdiri seperti patung dihadapannya menatap Mbah dukun itu dengan lekat.Menanti jawaban dari laki-laki yang ada di hadapannya.Sambil menggenggam jemarinya.


Jawaban apa sih yang akan diberikannya kepada ku tentang istriku.Kenapa? Lama sekali dia membuka mulutnya untuk bicara denganku.


Sudah sedari tadi aku menunggu namun, tak juga sepatah katapun keluar.


"Mmm,***!" Mbah dukun menarik napas panjang.


"Bagaimanakah selanjutnya ? Apa yang ingin anda katakan,bicaralah sudah lama saya berdiri disini."Ayahku.


"Be,begini pak. Seeebenarnya istri Bapak itu tidak kerasukan atau pun sejenisnya."Mbah dukun.


"Apa? Jadi,kalian disini hanya membuang -buang waktu saya. Andakan tahu seharusnya dirumah seseorang itu ngapain jam segini, kan?"Dengan nada meninggi Ayahku bicara kepada Mbah dukun.


"Kalau anda tahu tidak terjadi apa-apa! Kenapa? Anda masih disini berlama-lama,sudah seharusnya anda pergi dari tadi,huh!" Ayahku pun marah dengan wajah kesal menutup matanya sambil menarik napas panjang.


Mendengar kemarahan Ayahku sang mbah dukun pun diam mematung. Melihat kebawah meskipun, sesekali dia juga melihat ayahku,yang berbicara.


Sementara, tetangga kami dan beberapa orang termasuk aku. Ayahku pun, diam dan pergi meninggalkan rumah kami.

__ADS_1


"Pak, pak aku pulang ya."Di depan pintu melangkahkan kakinya.


"Ia,sudah terimakasih ?" Tanya ayahku.


"Belum pak,nantilah di rumah."


Huh! Itu Mbah dukun membuat kita letih saja, dikirain tadi benaran.Tapi ternyata,***huuu! Sorak mereka pergi meninggalkan rumah kami.


Rumah kamipun seketika sepi. Ibu sambungku yang masih terbaring ditinggalkan seorang diri. Termasuk Ayahku juga meninggalkannya terbaring di ruang tamu sendiri.


Ada-ada saja!


"Dek,dek bangun !" Kata Ayahku lalu meninggalkannya.


Sudah ku duga nya itu tadi. Waktu aku melihat tangannya. Masa jarinya gerak-gerak kan, gak mungkin aja pingsan seperti itu.Jadi, terhalang memasak,mana belum sholat Dzuhur lagi.


"Liyan sudah jam berapa?" Tanya Ayahku dari dapur.


"Jam 13.00 WIB ayah."


Aku yang masih duduk di dekat Ibu sambungku.


"Cepat pergi sana! Cari adikmu sudah jam berapa ini? Dari tadi tidak kembali kerumah."


"Baik Ayah." Bergegas meninggalkan Ibu sambungku sendiri.


Kalau Ayahku tahu. Aku tadi duduk disamping Ibu sambungku menjaga dia yang berpura-pura pingsan. Pasti ayahku marah besar karena ayahku tahu dia tidak pingsan. Tapi Ayahku tetap diam melihat mereka. Apakah mereka merasakan atau melihat hal yang sama? Seperti Ayahku. Ayahku tidak mau membuat malu mbah dukun itu.


Dia masih menghormatinya. Meskipun, Ayahku tidak percaya dengan semua yang dilihatnya. Apalagi yang dikatakan mbah dukun itu kepada dia.


"Liyan!"


Tidak ada jawaban!


Kemana anak ini? Apa dia sudah pergi?


Ayahku pun yang sedari tadi di dapur menyiapkan menu makan siang kini beranjak menghampiri ruang tamu.


*Tidak ada* !


Tiba-tiba matanya tertuju kepada wanita yang berbaring lemah dengan mata yang masih tertutup dan tangan yang masih tegang.


Ayahku pun menghampirinya dengan penasaran memerhatikan dengan tajam tubuhnya!


Ada engga ya, tangannya gerak-gerak.Ayahku pun membuka matanya dengan lebar.


Ternyata !


Ada! Kata Ayahku dengan matanya menunjuk jemari tangannya yang di gerakannya.


Hm! Ternyata dia cuman berpura-pura. Kata Ayahku dalam hati dengan wajah sinis.


"Hey,hey ayo bangun!" Kata Ayahku dengan kesal sambil menggoyangkan tubuhnya.

__ADS_1


Namun, dia tidak bereaksi ketika mendengar Ayahku memanggilnya.


Bersambung......


__ADS_2