Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ujian terakhir


__ADS_3

Ejekan itu mengiringi langkahku. Aku semakin gontai berjalan kaki seorang diri. Pagi yang membisukan diri ini. Melangkah bersama tas yang tersandang. Tapi kali ini berbeda. Tas yang aku bawa tidak seperti semalam berisi buku berlagak sok sudah naik kelas.


Tas yang ini adalah tas tempat kotak pensilku yang telah hancur. Kotak pensil itu tidak sama lagi susunannya, seperti semula. Bahkan pensil dan penggaris pun tidak lagi utuh. Aku terus berjalan dengan semangat yang gigih.


Tas yang membawa kotak pensil rusak itu terasa sangat ringan.


"Liyan, kenapa kau membawa tas lagi?" tanya Septiani yang mengetahui kekeliruanku semalam. "...kau lupa lagi, ya?" tanyanya menyeringai. Sinis.


Aku tetap diam dan tidak menjawabnya sedikit pun. Malah aku lebih fokus melihat jalan agar aku tidak terlambat lagi.


"Kenapa kau jalannya cepat ?" tanya Septiani yang berjalan kencang dariku. Di tengah jalan yang hampir mau sampai.


Aku yang berjalan mengencangkan kaki ini meminggir dari jalan raya sedikit. Rumput yang berbaris rapi di badan jalan. Aku terobos begitu saja.


"Liyan, hati-hati, nanti rumputnya mati," teriak Tania menyinggung jalanku.


"Iya, jangan lari-lari, nanti rumputnya mati," sambung Ecy pedas.


Aku yang masih polos terus melangkah sampai ke depan gerbang. Gerbang yang masih terbuka di ikuti oleh penjaga sekolah yang berdiri. Memeriksa setiap yang kami bawa ke sekolah.


"Liyan, kau tidak bawa buku lagi, 'kan?" tanya penjaga sekolah menghentikan langkahku.


"Tidak Pak," jawabku meremas jemari menahan rasa malu.


"Rasanya saya ingin memeriksa kembali tasmu. Tapi itu di luar peraturan karena kau tidak terlambat," katanya melihatku dan melirik tas yang tersandang dengan tajam.


Aku pun mengangguk dan pergi dari hadapan pak Sukri. Ruang kelas telah terlihat. Anak- anak telah bersiliweran keluar masuk kelas.


Aku masih di tengah halaman sekolah menatap nanar ruangan kelas, di ikuti oleh pikiranku yang berputar mengingat kotak pensil yang rusak. Sambil berjalan, aku melirik tas yang tersandang mengingat kotak pensil dan penggaris yang sudah tidak layak pakai lagi.


"Liyan, kau bawa tas lagi?" tanya Fikri bingung.


"Iya, dia 'kan, lupa kalau kita ujian," sambung Widia melirikku.


Langkah yang setengah ingin terhenti di depan pintu aku ayun pelan maju ke depan, melangkah dengan kedua tangan memegang tali tas dan tatapan melihat lantai serta gurat wajah yang murung.


"Liyan, kau sakit lagi, ya?" tanya Rasyd menegur dari belakang.


"Tidak," aku langsung menjawabnya setelah terkejut.


Rasyd terus berjalan dan sedikit pun tidak meresponnya. Tas yang tadi tersandang ramah di pundakku telah terletak di atas meja.


"Liyan, ini apa isinya ?" tanya guru pengawas.


"Kotak pensil, Bu," jawabku langsung pelan.

__ADS_1


"Kotak pensil ?" tanyanya dengan gurat wajah penuh curiga. Menatap tajam tas yang terletak. "Emang kotak pensilmu besar, ya?" tanyanya semakin heran.


"Iya, Bu," jawab Widia.


"Kotak pensilnya sebesar papan, Bu," timpal Tania menghina.


"Hahaha !" sambung Ecy tertawa.


Aku sangat sedih mendengar ejekan mereka. Air mata yang menganak di pelupuk mata pun sekuat-kuatnya aku bendung agar tidak terjatuh. Pensil yang mencoret buku pun semakin lemah bergerak.


"Kerjakan latihan kalian! Jangan ada yang mencoba untuk mengejek sesama temannya!" kata guru pengawas dengan tegas.


"Liyan, kalau ini memang benar kotak pensil. Ibu senang," katanya dengan lega.


Dia pun pergi berlalu dari hadapanku. Di ikuti oleh kedua mata mengikuti setiap langkahnya.


Huuuh!


Aku pun mengurut dada dengan lega karena guru pengawas tidak membukanya dan aku pun selamat dari ejekan, hinaan bahkan cacian dari teman-temanku ketika melihat kotak pensil yang rusak itu.


Jam ujian pun telah habis. "Anak-anak kumpul soalnya, sesuai urutan nomor meja kalian," pinta guru itu.


"Baik, Bu," jawab kami serempak.


"Sekarang Ibu akan membawanya agar dinilai," cetusnya.


Kami pun dengan senang hati menyerahkannya. Soal itu kini telah di bawa oleh guru itu ke ruang guru untuk dinilai.


Jam istirahat pun tiba. Aku dan teman -teman yang lain berhamburan keluar kelas ada yang belajar, ada yang makan, ada yang bermain lompat tali. Begitu pun dengan aku. Aku yang jarang jajan di sekolah duduk di bawah pohon bunga kertas sambil membawa buku.


"Ada yang tidak punya kawan!" katanya berteriak senang sekali. Seakan dia itu adalah suara Septiani.


Refleks aku memutar kepala ke arah sumber suara. Ternyata Septiani dan Widia. Aku semakin tidak mengerti melihat Widia, kenapa dia tiba-tiba berubah derastis terhadapku. Kalau aku mengingat masa lalu, Widia tidak suka dengan ku karena aku memaafkan Septiani yang bersikap kasar kepadaku.


Akan tetapi, aku melihat pemandangan yang sangat berbeda. Widia semakin hari semakin lama semakin dekat dengan Septiani. Padahal dia sangat membenciku karena memberi maaf pada Septiani.


Aku yang bersandar seorang diri di bawah pohon semakin bertanya-tanya. Buku yang terbuka pun langsung terabaikan ketika aku melihat mereka sepertinya mau mendekatiku.


"Liyan, kau suka sekali duduk di sini?" tanya Septiani seakan dia baru pertama kali melihatnya.


"Di sini dingin," jawabku langsung.


"Liyan, kau membaca apa?" tanya Widia.


"Membaca puisi," jawabku.

__ADS_1


"Puisi yang kau tulis itu, ya?" tanya Widia mengingat puisi yang pernah aku baca di depan kelas.


"Iya," jawabku mengangguk.


Widia dan Septiani pun menjatuhkan tubuh mereka duduk di dekatku.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Solihin dengan riang.


Kami bertiga pun refleks memutar kepala melihat ke arah mereka yang berlari menghampiri.


"Ayo kita bermain ini!" ajak Rasyd sambil meletakan ular tangga.


"Ini," kataku dengan membelalak . Aku langsung meletakan buku di atas bongkahan semen kecil tepat di sampingku.


"Kau pernah main, Liyan?" tanya Fikri.


"Belum," jawabku langsung. Melirik ular tangga yang terletak di atas tanah.


"Tapi kita sebentar lagi masuk," ucap Septiani yang duduk di sebelah Fikri.


"Masih lama," balas Solihin yang antusias ingin bermain.


Mau tidak mau kami pun bermain ular tangga mengikuti keinginan Solihin yang telah ingin sekali bermain.


Tidak berapa lama bel pun berbunyi dengan nyaring di telinga.


"Sudah pulang," kata Widia berlari duluan.


Akhirnya, satu per satu kami pun bubar meninggalkan bawah pohon. Begitu juga dengan Solihin dia pun berlari kencang membawa ular tangganya.


"Liyan, kau pulang sendiri ,ya," pinta Widia dengan nada suara yang tidak menyukaiku.


Aku menyandang tas dan melihatnya yang mengatakan itu.


"Aku buru-buru," katanya kembali menyandang tas dan langsung pergi.


"Liyan, daaaaah," kata Solihin yang pulang bertiga bersama Rasyd dan Fikri.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2