Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Air Mataku


__ADS_3

Air mataku yang bercucuran membasahi pipiku membuat jemari kecilku menghapusnya. Isak tangis yang begitu sedih masih terlihat di wajah polosku. Rona wajahku yang kini memerah menatap baju yang aku pakai dengan lirih.


" Huh! Dasar kau, anak cengeng!" Menatapku dengan sinis. " Sudah! Diam kau jangan menangis lagi sebentar lagi Ayahmu pulang!" Dengan mendelik dia menatapku dan meninggalkan aku sendiri di dalam kamar.


Huhuhu!


Tangisku semakin tak terbendung. Pita suaraku pun kini terasa berat dan serak. Keping - keping kehancuran batinku akan hardikan nya terhadap diriku kini terasa menyayat di hatiku yang polos. Genggaman jemariku kini semakin melemah.


Kamar yang terasa sunyi seperti tak ada arti kehidupan lagi. Membuat ku seakan depresi hari ini.


"Liyan!" Teriak ibu sambungku memanggilku. Seakan dengan cara paksa aku harus segera keluar dari dalam kamar yang menjadi saksi atas apa yang terjadi hari ini pada diriku.


Air mata yang tumpah melimpah kini membasahi lantai kamarku.


"Liyan, apalagi ayo cepat keluar!" Bentak ibu sambungku dari balik tirai kamarku sambil menyibak nya.


Segera mungkin aku mengusap air mataku dengan zig-zag. Melangkah keluar dengan perlahan sambil menunduk.


"Lihat itu! Pakaian yang kau pakai itu, kan, bersih! Ya, kan? Jadi, bau la itu, yang kau pakai itu. Belum mandi sudah ganti baju." Dengan suara meninggi. Ibu sambungku menatap ku yang berjalan dengan tajam.


Aku hanya diam tetap berjalan tanpa melihat nya sama sekali. Pandanganku terus melihat kebawah dengan menahan tangisku yang berat.


" Kau jangan menangis, sebentar lagi Ayahmu pulang. Nanti ribut lagi di rumah ini, gara-gara kau! Dia sudah capek di luar sana!" Kata ibu sambungku dengan meninggi. Kedua matanya begitu tajam melihat ku tanpa berkedip. Wajahnya kini terlihat seperti api yang membara membakar semua yang ada.


" Dimana bajumu tadi?! Cepat taruh kesana! Ke tempat pakaian kotor, biar di cuci Ayahmu besok!" Pekik ibu sambungku dengan tegas dan wajah di penuhi oleh amarah.


Aku kini berjalan menyeret tubuh lemahku yang sakit. Menghampiri dapur tempat pakaian kotor, dengan pandangan kosong aku memasukkan pakaian kotorku ke dalam ember.


Diriku begitu terlihat seperti tak bernyawa berjalan terseok-seok dengan kekosongan. Segugukan akibat tangisku tadi kini masih saja terdengar. Mataku yang sembab memerah kini masih terlihat jelas.


" Sudah!" Ibu sambungku berjalan menghampiri ku dan menatapku dengan sinis.


Tanpa edukasi yang baik dia melakukan keinginannya tanpa melihat diriku. Hari ini aku lebih-lebih terlihat seperti orang bodoh yang terabaikan.

__ADS_1


"Liyan!" Ibu sambungku memanggilku setelah dia melihat jam. "Kamu sudah makan tadi,kan? Sambil menyapu ruang tamu.


Eemm! Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan pelan dan menunduk. Aku yang terlihat sedih masih menyandar didinding kamar ayahku diam mematung.


" Terus, kamu sudah minum obat?" Tanya nya ingin tahu.


"Sudah!" Jawabku dengan lirih dengan suara sedikit gemetar.


"Baguslah! Ngapain kau berdiri disitu?!" Menatapku dengan sedikit merasa bersalah. "Duduk kau,duduk! Jangan berdiri nanti kau pingsan." Dengan penuh penegasan.


Aku pun seketika menyeret tubuhku untuk duduk. Mataku masih saja membendung sehingga menutupi yang aku lihat. Hatiku masih terasa begitu tersayat sehingga aku belum bisa menghilangkan tangisku meskipun, aku sudah diam terlihat.


Seketika aku teronggok dilantai melamun dengan pandangan kosong. Pikiran ku pun mengingat -ngingat kejadian tadi, yang menimpaku sekejap mata. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ibu sambungku memarahi ku sejadi-jadinya. Tanpa kesalahan yang fatal.


Dia yang masih menyapu terlihat dari ekor mataku begitu tenang. Seperti dia tidak merasa bersalah, apalagi melakukan kesalahan. Itulah yang terlihat dari wajahnya yang tenang.


Dudukku yang melamun. Tiba-tiba tersentak di kejutkan oleh adikku yang manja.


" Kak, lagi apa?" Adikku sambil memukul bahuku.


Aku menggelengkan kepalaku memberikan jawaban dan melihatnya sekilas.


" Kak, kakak kenapa ?" Tanya adikku ingin tahu. "Ibu kesayangan kakak! Dia lagi nyapu tadi aku lihat. Tumben dia rajin." Ejek adikku yang berusaha menggoda ku.


Aku hanya diam dan melemparkan pandangan sesekali pada adikku.


" Oh, ia kak! Aku belum buka sepatu! Nanti marah pulak dia." Sambil membuka sepatunya dan menaruhnya di tempat sepatu.


" Kak, Ayah sudah pulang?" Tanya adikku sambil berjalan menuju tempat ku.


Rasanya aku bosan sekali melihat adikku yang terus melayangkan pertanyaan kepadaku. Wajahku yang tadi terlihat sedih kini berubah pias dan sedikit mengkerucutkan bibir Kecilku.


" Kakak kenapa diam aja, kakak sakit ,ya?" Dengan menaruh punggung tangannya di keningku.

__ADS_1


Spontan aku menepisnya dengan sembarang.


Rasanya ingin sekali aku menyuruh adikku pergi dari hadapan ku. Tapi, itu tidak mungkin pikirku. Adikku tidak tahu apa yang terjadi kepadaku hari ini sehingga aku tidak mungkin memarahinya dan menyuruhnya pergi. Aku juga takut melakukan itu. Aku takut dia nanti mengaduh kepada ayahku yang membuatku semakin frustasi. Jadi, sekali lagi akulah yang mengalah demi kedamaian untuk diriku sendiri.


" Engga dek!" Kataku dengan lugas.


" Terus kenapa kakak diam saja?" Tanya adikku kembali protes.


Rasanya aku engga mungkin memberitahu kepada adikku apa yang terjadi pada diriku hari ini. Aku merasa khawatir akan adikku yang suka mengaduh kepada ayahku. Bisa terjadi lagi nanti badai yang lebih besar lagi menghantam diriku.


Diposisi ini diriku kembali dituntut untuk diam. Demi ketenangan di dalam rumah ini. Tak ada kata yang aku ucapkan untuk menjawab semua pertanyaan adikku yang antusias ingin tahu semuanya.


Aku hanya diam menatap adikku yang bertanya tantang diriku. Semakin hari rasanya aku semakin tertekan. Tak bisa bersuara dengan lantang untuk membela diriku sendiri.


" Kakak tidak kenapa-kenapa? Dek!" Sambil menatap adikku yang memasang wajah penasaran. " Kau pergi sana ganti baju!" Pintaku pada adikku yang bawel.


"Huh! Sebentar lagi kak, lagian aku kan, engga kemana-mana." Menggeser tubuhnya dengan meluruskan saraf -saraf nya.


" Kak, sebentar lagi kita ujian." Kata adikku meletakkan tasnya sedikit jauh darinya sambil menatapku. " Ia, kakak harus cepat sembuh." Kembali melihatku dengan penuh harap.


" Kapan dek?" Dengan penasaran.


" Engga tahu ntah, kapan? Tapi tadi kata, guru kami sebentar lagi kiat ujian." Melihat lurus kedepan dengan wajah datar dan tatapan kosong.


Seketika adikku melihat ku yang begitu sendu, diam seperti orang yang lagi bingung.


" Kakak, engga tahu dek!" Dengan pasrah. " Kakak tadi sudah bilang sama Ayah kalau kakak mau sekolah. Tapi Ayah melarang." Kataku dengan wajah yang kehilangan harapan.


Adikku melihat ku lekat dan diam. Dengan wajah yang masih tidak percaya dia terus menatapku lekat. " Masa,ia kak! Ayah melarang Kakak untuk sekolah?!" Adikku yang masih tidak percaya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku membenarkan pertanyaan adikku yang tidak masuk akal menurutnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2