Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kecemasanku


__ADS_3

Sebisa dan semampuku aku terus berusaha keras membujuk adikku yang sangat sulit untuk dibujuk.


"Ana sekarang kita bermain, yuk!" ajakku dengan lembut. Menarik lengan adikku turun dari tempat tidur dengan raut mukaku yang imut.


"Engga, ah! Aku gak mau ikut bermain sama Kakak, huhuhu! Aku cuma mau bermain bersama Dottie-ku," tandasnya dengan marah.


Aku semakin lemas mendengarnya. Aku jadi semakin sedih ketika melihat adikku yang menyentil dengan air matanya lagi.


"Ana... ," panggilku, melihat adikku yang berjalan membelakangiku dan sama sekali tidak mau menoleh sedikit pun. "...Kakak minta maaf," lanjutku menunduk sedih bercampur bersalah. "Jangan nangis lagi, ya!" pintaku memohon dengan tatapan yang mengiba melihat punggung adikku yang berdiri membelakangi.


Dudududu!


Adikku tetap cuek dan acuh seakan dia sedang menindurkan bonekanya dengan irama buaian menggunakan suaranya yang serak habis menangis. Dia tetap tidak merespon sedikit pun yang aku ungkapkan. Dia terus saja menggendong boneka kesayangannya.


Melihat adikku, aku sedikit jenuh sehingga aku tidak lagi mau berbicara apa pun dengannya. Sebal bercampur sesal aku langsung memutar badan melupakan dia yang tidak mau memberi respon apa pun. Perlahan aku menjatuhkan tubuh duduk menghampiri anak Bp yang masih terlihat di atas lantai.


Diam bercampur sedih dan sesal aku merangkul itu sendi bersama tubuh mungil yang lemah ini dan tungkai kaki yang cidera akibat sepeda yang aku naiki dengan keteledoran. Seandainya saja aku lebih berhati-hati ini semua tidak akan terjadi, pikirku dan Septiani tidak akan mendapat kesempatan untuk mencelakaiku.


Tapi itu semua sudah tidak ada gunanya lagi untuk diingat kini yang bisa aku lakukan adalah harus sabar dan tabah walau apapun yang datang mendera. Hidup tidaklah sampai di sini jadi, sebisa mungkin aku harus kuat dan tegar.


Adikku yang sedikit tersinggung dengan sikap dan ucapanku terus kutelan seakan meminum pil pahit setiap waktu. Aku yang lebih tua darinya memegang kendali penuh atas diri ini. Aku tidak bisa memaksa adikku untuk bisa menjadi adik yang seperti yang kumau. Sebisa dan sepahit apapun aku harus bisa menggenggamnya erat di dalam kepalan tangan yang lemah yang setiap saat menghampiri dan selalu senang berdampingan dengan ku.


Sampai saat ini aku masih duduk diam membisu sambil memainkan anak Bp kesayanganku dan sama sekali aku tidak mau berkata apapun, walau hanya sekedar mengejek. Dia masih tetap kuberi kesempatan terus bermain dengan boneka miliknya.

__ADS_1


Tatapan dengan sengaja kupalingkan darinya hanya untuk sekedar melihat dia yang sama sekali begitu jutek dan seakan menganggap semuanya sia-sia sehingga aku seolah merasa selalu berbuat salah. Tangan kecil yang lemah bercampur dingin ini mendadak terhenti tanpa kusadari sedikit pun sambil memegang anak Bp.


"Ana, si Dottie-mu sudah gak nangis lagi?" tanyaku seakan berpura tidak tahu. Seolah aku terlihat ingin mencari perkelahian lagi dan seolah aku ingin mendengar suara adikku yang cerewet itu.


Namun, sayang lagi-lagi aku kembali mendapat kekecewaan. Aku yang duduk dihadapan anak Bp yang berada di dalam satu ruangan dengan adikku kembali merasa sedih, seperti orang yang diasingkan.


"Ana, kau masih marah, ya?" tanyaku. Memutar kepala ke samping kanan melihat adikku yang masih cemberut. "Kalau kau marah jangan lama-lama," bujukku, menunduk sedih melihat jemari lemah yang kumainkan.


"Kakaaak! Ssttt, jangan ribut! Si Dottie-ku tadi belum tidur," jawabnya langsung menyahut dari belakang.


Ha! Aku langsung tercengang melebarkan kedua bola mata dan refleks memutar duduk melihat tepat ke arah adikku dengan hati yang senang karena dia sudah mau bersuara.


"Ana, kau udah gak marah lagi?" tanyaku senang bercampur heran. Melihat adikku yang semakin lama semakin sibuk dengan bonekanya.


"Kak, tadi si Dottie-ku lagi kepanasan. Jadi, aku tadi ngipasinnya dulu," lanjut adikku. "Anak Bp Kakak udah bangun?" tanyanya dan menatap dengan lekat ke arah anak Bp. Duduk bersila di atas tempat tidur.


"Kakak merindukan Ibu kesayangan Kakak, ya?" tanya adikku menyelidiki, seolah mendekatkan kedua bibirnya di telingaku.


Aku langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan adikku sambil khawatiran melihat ibu sambung yang belum pulang. Jam dinding sudah berbunyi dan berputar seperti biasanya. Hari semakin bertukar siang menjadi malam.


"Ana, kenapa Ibu lama sekali pulang?" tanyaku berbisik pada adikku yang duduk di belakangku.


"Mana aku tau Kak. Itu 'kan Ibu kesayangan Kakak. Bukan Ibuku kok," cetus adikku dengan ketus.

__ADS_1


Aku sontak terkejut setelah mendengar omongan adikku. Aku seakan malu karena menceritakan kekhawatiranku padanya. Dengan lekas aku langsung mengambil anak Bp yang terdiam dan memainkannya kembali seperti yang kumau.


"Kalau Kakak rindu. Kakak berdo'a kepada Allah agar Ibu kesayangan Kakak pulang," saran adikku cemerlang. Mendadak pintar.


Anak Bp yang ingin kupegang kembali gagal setelah mendengar saran adikku yang bagus. Tangan lemah pun kini menggantung setengah di udara bebas dan memutar kepala perlahan ke samping kanan tepatnya sedikit ke belakang melirik adikku walau hanya sekedar ingin melihat bentuk wajahnya yang mengatakan itu.


Aku sedikit senang bercampur haru. "Ana, kau mencemaskan Ibu juga?" tanyaku ingin tahu, melirik adikku yang sedang berjaga agar si Dottie kecilnya tidak terbangun.


"Engga! Aku cuma kasihan aja. Ibu kesayangan Kakak itu ilang atau tidak?" tanya adikku kepadaku dengan penuh tanda tanya, melihatku dengan pikiran yang sedikit jernih. "Kalau Ibu kesayangan Kakak ilang, nanti Ayah pasti sedih!" lanjutnya dengan wajah sendu, seolah adikku tahu keadaan yang sebenarnya akan terjadi. Jika ayah yang selalu kami sayangi akan bersedih. "Pasti Ayah gak akan kerja," katanya semakin pilu. "Kalau Ayah gak kerja. Terus Kak..., aku dapat jajan dari mana?!" lanjutnya. Menatapku seolah dia memikirkannya.


Aku langsung menangkan diri sambil menarik bibir tipis dan menatap adikku yang ikut juga merasakan kesedihan, meski yang ada di dalam kepalanya hanyalah jajan dan melihat ke arah dinding kamar lalu aku memutar tatapan kembali melihat ke arah pintu dari balik tirai yang terpasang dengan rapi.


"Ana, Ayah gak mungkin lupa cari uang. 'Kan Ayah udah bilang akan cari uang yang banyak," sambungku. Duduk bersila dengan sebelah kaki di hadapan anak Bp yang sedang kumainkan.


"Aku gak tau Kak," balas adikku memelas. "Karena Ayah 'kan sayang juga sama Ibu kesayangan Kakak itu," timpal adikku sesal.


Kedua pendengaran pun kupasang dengan tajam untuk mendengarkannya secara langsung. Adikku masih sedih dan terus mengeluh karena dirinya tidak berapa suka dengan wanita yang beberapa waktu lalu dinikahi oleh ayah kami. Wanita yang dari kecil telah kami anggap sebagai ibu pengganti.


Aku langsung menoleh ke arahnya lagi. "Ana Ayah sayang kok sama kita berdua," kataku, melihat adikku yang duduk dengan raut muka benci.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2