Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Serangan terhadapku


__ADS_3

Begitu malang aku rasanya. Baru pulang dari sekolah sudah mendapat siraman hati yang memanaskan suasana menjadi api.


Serangan dari ibu sambungku yang membabi buta, membuatku tidak bisa berbuat apa pun. Dia terus menerus menyerang dengan hardikannya tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskannya.


Sementara adikku yang kesal terlebih dahulu membuang kepercayaannya terhadapku. Dia semakin menyerang dengan pertanyaan yang membuatnya semakin gerah.


"Aku tidak percaya dengan Kakak?!" selanya dengan acuh. "Kalian berdua, pasti telah berjanji untuk menyembunyikannya," serangnya sedikit meninggi. "Sampai segitu lamanya...?!"sindir adikku menghentikan omongannya.


"Dek, kami tidak lama di sana." Menatap adikku yang terlihat begitu sinis. "Kami cuman sebentar, kok," jawabku.


"Lalu, kenapa Kak Widia, mengatakan demikian?" tanya adikku dengan segala pertanyaan yang membuat penasarannya semakin memuncak.


Aku seketika terheran. Diam dan menatap adikku lekat sambil mencerna dengan detail, apa? Maksud dari pertanyaannya, setelah dia mendengar Widia. "Demikian apa, Dek?" tanyaku memberi jawaban kembali kepadanya.


"Katanya, kalian itu di warung, lama?!" serang adikku. Menatapku dengan wajah penuh menyelidik.


Serangan yang di lemparkan oleh adikku terhadapku begitu membuatku terasa mati, sehingga aku tidak bisa menelan nasi dan meminum, minumku dengan nikmat.


"Tidak! Kami tidak lama. Kami cuman sebentar, kok," dalihku dengan lembut.


"Kalau kalian tidak lama. Lalu, kenapa Kak Widia mengatakan seperti itu?!" Menatapku dengan tajam . "Aku tidak tahu, siapa diantara kalian yang jujur atau berbohong?" tanya adikku dengan bingung. "Tapi, setahuku di antara kalian berdua tidak ada ke samaan dalam menjawabnya," sambungnya.


Seketika pukulan semakin keras menimpaku. Jemari lemahku semakin gemetar dan dingin. Rasa takut kini memuncak menumbuhi ubun-ubun.


"Dek, tidak ada yang berbohong." Menatap adikku dengan wajah cemas. "Kami cuman duduk sebentar untuk minum," lanjutku dengan memberi penjelasan.


"Lalu, kenapa Kak Widia mengatakan seperti itu?" tanya adikku kembali dengan penuh tanda tanya. Melemparkan selidikan yang mematikan. "Kak Widia itu tidak mungkin berbohong, Kak," selanya. Duduk menatapku dengan kemarahan. "Kak Widia, itu takut dengan ibunya," sambungnya dengan tegas.


Seketika kecemasanku semakin membuat kebisuan atas diriku. Wajah senja ayahku yang ketat, kini telah menari-nari menghampiriku.


Apa pun yang aku jelaskan rasanya tidak mudah di terima oleh adikku, apalagi ayahku. Pertanyaan terhadap Widia semakin menghantui kenyamananku.


wajah adikku semakin pias terlihat. Dia sesekali menatapku dengan kesal, seolah dia menunggu jawaban kebenaran dariku.


"Kakak, juga tidak tahu, Dek!" Menatap adikku yang telah lama duduk di hadapanku.


"Ha?" Adikku terperanjat. "Kakak tidak tahu? Kenapa bisa?" Menatapku dengan penuh keheranan. Menyeringai. "Ada-ada saja!" Melemparkan pandangan dengan acuh. "Kakak tahu kalau...?" Berhenti. Menatapku dengan tajam. "....Ayah sampai tahu, bagaimana? Bisa-bisa, aku dan kakak akan kena hukuman!" serang adikku penuh penekanan . Mendesis kesal.


Pikiranku semakin kacau. Selera makan pun, hilang seketika. Panas yang menyerang tubuh mungilku tidak lagi aku hiraukan.


Adikku yang kesal dengan serangannya. Semakin mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi terhadapku. Mengeluarkan tatapan tajam yang tidak bisa untuk aku tatap.


"Kakak itu, memang keterlaluan," gerutu adikku. Mengepal jemarinya dengan kuat.


Aku hanya diam saja. Menunduk sambil menatap nasi yang setengah belum habis. Memutar sorot mata, melihat gelas yang teronggok di sampingku yang baru aku sentuh beberapa kali.


Perut kecilku yang keroncongan serasa kenyang sudah. Mendengar semua hujatan dan hardikan yang menyambut kedatanganku.


Jam terus berdenting. Panggilan untuk meminum obat pun, telah tiba. Seiring pikiranku yang berada melintasi masalah dengan Widia, kini refleks aku buang sejenak.


Aku berdiri setelah mengatur semua hardikan yang menyerangku dengan netral, tanpa belas kasih. Aku langsung berjalan menyeret kaki yang lemah, menghampiri tempat, di mana? Aku menyimpan obat. Lengan yang terasa gemetar mengambil obat, kini aku ayun dengan perlahan.


Seraya menjatuhkan tubuh lemah kembali, sambil mendengarkan omelan adikku yang terus menyerangku.


Perlahan aku membuka obat dengan gemetar.


Memasukan ke dalam mulut bersama seteguk air dan esekali aku menatap wajah adikku yang kesal.


Setelah aku meminum obat dan menetralkan semua masalah yang menyerang. Aku membuka suara dengan getir. "Keterlaluan seperti, apa?" tanyaku. Menyandarkan tubuh lemah di dinding kamar.


Seketika adikku menatapku dengan sinis. "Keterlaluan, apa?" tanya adikku, seakan dia menyerah mendengarku sambil melemparkan kekesalan. Tertawa sinis. "Jangan pura-pura tidak tahu, Kak?" sindir adikku.


"Berpura-pura apa, Dek?" tanyaku.


Seketika adikku terdiam menghela napas, seakan dia menyerah menghadapinya.


"Kakak, jangan pura-pura tidak tahu?!" Lama menunggu jawaban dariku.


"Benaran dek! Kakak tidak bohong!" ujarku memberi kebenaran. Menatap adikku yang masih menaruh kecurigaan atas penyampaianku.


"Alah!" Dengan acuh dan menyeringai. " Kakak cuman berdalih aja, supaya kakak tidak di marahi oleh Ayah! Iya, 'kan?" tanya adikku dengan cecaran yang menekankan sehingga membuat diriku semakin terjebak dalam ke salah paham ini. "Aku tahu! Kakak bekerja sama dengan Kak Widia untuk mencari alasan supaya tidak di marahi," serangnya semakin panas. Berdiri menatap keluar dengan acuh.


Sementara, diriku yang terbelenggu, berusaha memacari jalan keluar yang aku tidak tahu, apakah aku temukan? Setelah berhadapan dengan ayahku.


Kedua bola mata yang redup, semakin berputar melihat sekeliling. Detak jantung pun, semakin kencang tidak beraturan hingga membuat jemariku yang lemah merasa dingin.


"Dek! Kakak tidak bohong." Menatap adikku yang berdiri memalingkan wajah dariku. "Mana mungkin, Kakak berani berbohong, apalagi sampai membuat Ayah marah besar. Siapa yang berani?" timpalku. Bertanya kepada adikku sendiri.

__ADS_1


"Entahlah Kak! Tapi yang jelas. Aku tidak terima kalau aku di marahi oleh Ayah, hanya gara-gara Kakak," tolak adikku. Berdiri menyandar tubuh di tepi pintu. Menghembuskan napas kasar bersama kekesalannya.


Seketika aku terdiam mendengar penolakan dari adikku yang sebal terhadapku. Menunduk merasa bersalah.


Klenteng!


Seketika aku tersentak dan mengangkat kepala. Memutar sorot mata dan melihat suara asing yang kudengar, sambil menatap adikku yang berdiri dengan kesal. Kami pun, bertemu pandang dengan penuh tanda tanya.


"Liyan!" Terdengar suara panggilan ibu sambungku dengan keras.


Aku dan adikku yang bertemu pandang dengan pertanyaan di dalam diri masing-masing. Memutar pandangan menatap ibu sambung kami, sambil berselimut keheranan.


Refleks, aku bangun dan berdiri. Memutar badan ke arah sumber suara yang memanggilku dan melupakan perdebatanku dengan adikku seketika.


"Iya, Bu," jawabku pelan. Berdiri menghadap dapur. Meremas jemari sambil menggigit bibirku pelan. Bersama rasa takut yang menganak.


Sementara, adikku yang tadi terlihat kesal dengan ku. Dia terlihat begitu takut dan gemetar, setelah melihat ibu sambung kami dan aku. Wajahnya begitu khawatir seakan dia mencemaskan keributan terjadi kembali. Dia kemudian, memberi sebuah isyarat kepadaku dengan anggukan kecil seakan bertanya sambil menaikan alis.


"Ada apa?" Dengan penuh keheranan adikku menatapku.


Aku yang menatapnya hanya diam dan tidak memberi respon apa pun. Pikiranku semakin kacau tidak terarah dan pikiranku pun, entah ke mana sehingga membuatku frustasi.


Sementara, ibu sambungku terus menatapku seakan menunggu sesuatu dariku. Dia sesekali mendengus dengan kesal, melihatku yang masih bergeming.


"Liyan! Apa kau telah selesai makan?" tanya ibu sambungku menyelidik. Menatap sedikit tajam sambil berdalih.


"Be-belum, Bu," jawabku terbata. Menatap adikku kemudian menunduk.


"Apa?!" Menatapku dan terperanjat. "Belum selesai?" tanyanya, seakan tidak percaya. "Huh! Liyan! Dari tadi, kau makan! Sampai sekarang belum selesai?!" Menatapku dengan bengong. Memegang piring setengah menggantung di udara.


Aku hanya bisa meremas jemari sambil menatap adikku, seakan aku mengadukan ketakutan padanya.


Dari tempat aku berdiri. Aku melihat ibu sambungku terus menyusun piring dengan rapi, sambil mengomel pedas dan kasar kepadaku.


"Kau ini!" ungkapnya dengan menggigit kedua gerahamnya. "Di kasih makan, bukannya di habiskan?!" bentaknya. "Apa sebenarnya mau mu, ha?" Menatapku tajam. "Nasimu tidak habis dari tadi!" Terlihat mengulum omongan yang ingin dia keluarkan.


Aku hanya diam dan menunduk, sambil mencengkram jemari dengan kuat. Menatap nanar dengan butiran kristal yang telah jatuh menyentuh jemariku.


"Kau tahu 'kan, kalau kau tidak menghabiskan nasimu!" Mendelik. "Kau tidak akan sembuh! Mau berapa lama lagi kita terus-menerus ke rumah sakit!" pekiknya semakin meninggi.


Meletakan piring dengan kasar.


Adikku yang berdiri cukup jauh dariku, begitu sedih melihatku yang lemah. Refleks dia pun, menghampiri dan berdiri tepat di sampingku.


Dia pun, kemudian dengan lembut mengayunkan lengannya merangkulku dengan elusan yang lembut.


Wajah piasnya, seketika berubah menjadi wajah simpati. Menatapku yang terkena serangan dari ibu sambungku hingga aku tidak bisa membela diriku sendiri.


"Kak! Jangan nangis lagi!" pintanya dengan lembut. Mengelus pundakku.


Aku yang merintih seketika menarik napas dengan menahan sedikit malu. Melihat air mata yang berjatuhan.


"Jangan membela Kakakmu, itu!" teriaknya dari dapur. "Dia tidak pantas untuk di bela," serangnya. "Biar 'kan saja, dia seperti itu!" Melirikku dengan sinis. "Gara -gara dia, semua orang di rumah ini selalu kena amarah," lanjutnya dengan wajah memerah seperti api. "Entah, apa yang di inginkannya! Huh!" Menatapku dengan kebencian. Mendengus.


Tiba -tiba adikku dengan refleks membuka suaranya.


"Kakak, 'kan sudah makan," timpal adikku. Memberanikan diri menatap ibu sambung kami.


"Apa kau bilang!" sungutnya. "Jadi, kau membela kakakmu yang menyebalkan itu! Iya!" hardiknya.


"Iya!" jawab adikku dengan acuh. "Karena dia adalah Kakakku," tandasnya tidak senang dengan perkataan ibu sambung kami.


"Ooh! Jadi, begitu, ya!" Mengangguk seakan dia memikirkan sesuatu yang bisa menjerat kami.


"Tunggu saja! Kalau Ayahmu nanti pulang!" serangnya dengan ancaman. "Apa kau bisa membela, Kakakmu atau tidak?" Melemparkan pertanyaan yang membuatku gundah.


Kedua bola mata yang berkaca-kaca menatap adikku yang berdiri di sampingku. Adikku begitu sedih melihatku.


"Kak! Sudah jangan menangis! Nanti kalau tiba- tiba Ayah pulang, kita berdua yang akan di marahi," pinta adikku memohon dengan tulus. Menatapku lirih.


"Apalagi Kakak tadi berbuat kesalahan...," Adikku menatap dengan pandangan kosong. "...pulang terlambat," cetusnya.


Tangisku yang terisak sedih serta mengerang di hatiku, perlahan aku redakan setelah adikku memberiku sebuah permintaan yang dia minta dengan tulus kepadaku.


Sementara dari dapur, ibu sambungku masih terlihat kesal, terdengar dari pegangannya kasar.


"Liyan!" teriak ibu sambungku dengan keras memanggilku. "Kau lagi apa?" tanyanya dengan wajah memerah. Menatapku dengan sorot mata yang tajam. "Kenapa kau berdiri di situ! Apa kau mau pergi, iya?" tanyanya dengan tuduhan yang memilukan. Dia pun, memutar kepala kembali sambil menyimbahi yang terletak di lantai.

__ADS_1


"Ti-tidak, Bu," jawabku pelan dengan perasaan yang takut.


"Kalau begitu, duduk! Dan lanjutkan, makanmu sampai habis!" perintahnya dengan keras. "Aku tidak mau, kalau Ayahmu sampai melihat nasimu yang masih banyak itu!" Mendesis sambil membuang muka dariku.


Perlahan aku menjatuhkan tubuh mungil yang lemah ke lantai untuk menghabiskan kembali nasi yang ada di hadapanku.


Adikku yang menemani di sampingku. Ikut menjatuhkan tubuhnya juga mengikuti aku. Dia begitu khawatir hingga tidak mau menyerangku lagi.


"Makan saja, Kak! Nasinya sampai habis. Biar tidak ada lagi yang marah, Kak!" desak adikku dengan lembut. Mendekatkan piring tepat di hadapanku.


Perlahan tanganku yang lemah menyentuhnya dan menyuap nasi perlahan demi per lahan. Mengunyah dengan pelan sampai tidak ada sedikit pun yang tersisa.


"Kalau Kakak cepat sembuh, 'kan?! Tidak ada lagi yang memarahi, Kak?" sambung adikku dengan lembut. Menatapku yang menyuap nasi.


Setengah nasi yang aku kunyah. Aku bertanya kepada adikku. "Tapi?! Kenapa Ayah cepat sekali pulang, Dek ?" tanyaku ingin tahu. Meneguk air yang terletak tepat di sampingku dan menatap dengan kedua bola mata yang memerah.


"Entahlah, Kak! Aku tidak menanyakannya. Karena Ayah terlebih dahulu marah! Karena tidak melihat Kakak," tandasnya sedikit menyesal.


"Lalu..?" tanyaku ingin mengetahui kelanjutannya.


"Ayah kemudian meletakan belanjaan yang dia bawa," jawab adikku tegas. "Kemudian dia tidak bicara apa-apa lagi, setelah dia memarahi kami," Menatap dengan pandangan kosong lurus ke depan. Seakan adikku mengingat kejadian yang dia alami. "Bagaimana? Aku mau bertanya pada Ayah?! Kenapa dia pulang cepat?" lanjut adikku dengan pertanyaan yang membingungkan dirinya sendiri.


Seketika aku terdiam sambil termangu. Melihat kondisi rumah kami yang riuh karena amarah yang memuncak.


"Bagaimana...?" tanya suara ibu sambung kami dari dapur yang mengagetkan.


Sontak aku dan adikku terperanjat dan saling bertemu tatap.


"...nasinya sudah habis?" tanyanya penasaran dengan nada suara datar yang mengarah kepada kami berdua.


"Su-sudah, Bu," jawabku dengan terbata. Melirik.


"Sykurlah! Kalau sudah habis. Berarti tidak perlu lagi mendengar kemarahan Ayahmu?!" ujarnya.


Ibu sambungku, seakan dia telah membaik. Terdengar dari nada suaranya yang berucap barusan.


Seketika hatiku terasa lega sedikit, begitu juga dengan adikku. Dia terlihat seperti sedang menghapus dada, terlihat dari wajahnya yang begitu lega.


Sepintas aku melihat kekesalan dari ibu sambungku telah berakhir. Aku pun, mulai menarik napas dalam melepaskan semuanya.


"Liyan! Suruh adikmu untuk makan!" seru ibu sambungku. Berjalan mengambil sendal. "Jangan sampai Ayahmu pulang dia belum makan," ujarnya.


Seketika adikku yang duduk di sampingku menatap dengan wajah acuh. Dia tidak sedikit pun, menaruh respon hingga membuat aku sedikit marah dengannya.


"Dek! Jawab," bisikku pelan di telinga adikku. Menyenggol lengannya dengan pelan.


"Apa yang mau aku jawab, Kak?" Memalingkan wajah seketika. "Lagian dia 'kan bertanya sama Kakak! Bukan samaku," tolak adikku.


"Biar bagaimana pun, dia itu orang tua, Dek?!" Menatap adikku yang begitu masam.


"Ayolah, Kak! Berdamai sedikit dengan diriku," bisik adikku. "Lagian dia 'kan bertanya dengan Kakak dan yang di suruhannya, juga Kakak, 'kan?!" timpalnya dengan wajah penuh penekanan.


Ibu sambungku pun semakin sibuk dengan gerakannya yang ke sana kemari, membawa baju kotor ke tempatnya. Aku yang menatapnya pun begitu lirih. Mengingat apa yang di bilang oleh adikku tadi.


.


.


.


Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...


Sambil menunggu Author untuk Update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti seru deh bacanya! 🥰



Aurel adalah seorang wanita muda yang berpredikat janda dengan dua anak balita, tanpa pengalaman mengelola perusahaan yang ditinggal oleh almarhum suaminya.


Sedang dia sendiri mempunyai 4 toko kue.

__ADS_1


Rajev seorang duda asal India yang bekerja di Qatar, memang sudah mencintai Aurek sejak Aurel masih gadis. Ditambah pula dia mengemban amanat almarhum suami Aurel untuk menjaga istri dan anak-anaknya.


Mampukah kekuatan cinta mereka menghadapi percobaan perebutan perusahaan hingga pembunuhan yang pelakunya adalah paman almarhum Radit?


__ADS_2