
"Kakak, sakit tahu! Sedikit, sedikit Kakak selalu mencubit. Pipiku 'kan jadi merah. Coba lihat!" gerutu adikku dengan penuh penekanan menunjukkannya padaku.
"Masa, iya sih, Dik. Coba Kakak lihat!" pintaku melihat kedua pipi adikku. "Engga, ah?!" Aku melihat pipi kanan dan kirinya. "Cubitan Kakak 'kan pelan, Dik."
Perselisihan yang terjadi antara aku dan adikku telah terbenam bersama matahari senja. Bayangan pun tidak lagi terlihat bersama matahari yang selalu tersenyum mendengarkan perselisihan kami. Kini dia telah membenamkan dirinya bersama awan biru yang berlabu meninggalkan kami yang senantiasa menjadi saksi.
Hiruk pikuk suara- suara angin pun kini ikut menyepi bersama dentingan waktu yang berputar. Suara kicauan burung yang indah pun tidak lagi terdengar. Hanya kepakan sayap yang membayangi bumi yang terlihat dengan senang mencari tempat berteduh.
Tidak banyak yang bisa aku ucapkan setelah aku melihat adikku menghentikan permainan bonekanya. Adikku yang gemar bermain boneka kini beranjak mengambil handuk setelah dia menyusun bonekanya dengan rapi. Aku yang melihat perkembangan adikku begitu bahagia karena sedikit dari peraturan yang di terapkan oleh ayahku telah dia laksanakan.
Serta merta aku pun berdiri mengikuti adikku dari belakang. "Dik, mau mandi, ya?" tanyaku mengikutinya.
"Iya Kak," jawab adikku sambil mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.
Aku yang berdiri di belakang melihatnya sangat senang karena adikku merapikan beberapa pakaian yang terlihat berantakan.
"Kak!" panggil adikku sambil menyimbahi pakaian satu per satu.
"Iya," sahutku dari belakang.
"Kakak tidak mandi?" tanya adikku, melirik sedikit ke belakang.
"Belum tahu, Dik," jawabku dengan bimbang.
"Kenapa Kakak belum tahu? Ini 'kan sudah sore," kata adikku bertanya.
"Iya. Kakak tahu kalau ini sudah sore! Tapi Kakak masih ragu mandi atau tidak." Aku langsung teringat diriku yang sakit.
"Ragu kenapa Kak?" tanya adikku kembali ingi tahu.
"Kakak ragu, nanti kalau Kakak mandi, demam atau tidak, ya?!" jawabku dengan penuh kebimbangan bertanya kembali.
"Ya elah, Kak. Itu pun bingung. Ini 'kan harinya panas , Kak. Mana mungkin Kakak demam kecuali hujan! Kalau hujan, Kakak mandi mungkin Kakak akan demam," tutur adikku yang terlihat rajin hari ini.
"Kondisi tubuh kita hari ini berbeda, Dik." Aku menunduk, seperti bunga yang layu.
Spontan adikku memutar tubuhnya ke belakang menghadap aku. "Berbeda bagaimana, Kak?" tanya adikku menatapku dengan lekat.
__ADS_1
Aku yang tadi diam tiba-tiba terperanjat berdiri dihadapan adikku. Secepat mungkin aku berdalih agar adikku tidak semakin bertanya-tanya.
"Ya, Kakak sakit. Kau sehat," ungkapku langsung.
Heehhh! Adikku langsung menghela napas dengan lemas mendengar alasanku. "Jadi karena Kakak sakit?" tanya adikku langsung menaikkan pandangannya.
"Mmm!" jawabku tersipu malu.
"Ya, ampun Kak. Kakak jangan mau kalah dengan penyakit Kakak," sambung adikku. Sok dewasa. "Kakak 'kan kuat," lanjutnya yang menirukan gaya bahasa orang dewasa. "... ." Dia pun terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya yang berikutnya.
"Kuat apa?" tanyaku memotong pembicaraan adikku.
Adikku langsung pusing melihatku. "Selama ini 'kan Kakak yang selalu menemaniku bermain,mencariku dimana aku bermain?, bahkan Kakak yang masih sakit saja dulu mau mencariku ke tempat permainanku. Kakak engga pernah bilang pada Ayah kalau Kakak sakit." Adikku menatapku dengan mengingat kejadian yang lalu.
Seketika aku terdiam, seperti orang yang menahan malu. Adikku memang benar. Apa yang di katakannya itu benar. Dalam kondisi sakit sekali pun, aku tetap berusaha untuk mencari adikku sampai ketemu tidak peduli itu panas atau pun hujan yang terpenting bagiku adalah menemukan adikku. Di samping itu, Ayahku yang selalu mengatakan, anak pertama harus bisa menjaga adiknya. Dan dia pun memberiku tanggung jawab penuh atas diri adikku.
Aku yang masih kecil kini sudah merasakan bagaimana rasanya mengemban tanggung jawab besar terhadap diriku sendiri. Itulah yang memicuku untuk tidak menangis dalam keadaan apapun. Memicuku harus tetap kuat dalam menjalani setiap hempasan ombak yang mendera dan harus bisa berpegang pada kayu yang lapuk.
Air mata hanya bisa melemahkan semangat. Air mata tidak bisa menguatkan diri. Air mata juga tidak bisa menjadi penyelesai masalah justru itu akan menjadi duri yang membelenggu setiap hembusan napas. Oleh sebab itu, hari ini seberat apapun penyakit yang menyerangku, aku tidak boleh rapuh.
Aku masih diam membisu setelah mendengar penuturan adikku kepadaku yang membuat adikku kembali bertanya seakan mendesakku harus mengikuti keinginannya.
"Kak, jangan diam saja. Nanti kita ke sorean mandi. Kakak 'kan tahu, bagaimana tempat mandian kita?" lanjut adikku mengingatkan aku.
Sementara aku yang masih bimbang hanya diam dan menunggu jawaban apa yang akan kuberikan pada adikku yang semakin membuatku gelisah. Pertanyaannya kini terdengar menjulang tinggi sampai ke langit. Dia tidak henti-hentinya bertanya menyelidiki.
"Kakak itu 'kan kuat. Buktinya, selama ini walaupun Kakak sakit, Kakak masih bisa menemaniku bermain, bahkan Kakak masih sanggup sekolah. Ya, walaupun Kakak tidak boleh ikut olahraga," kata adikku kembali.
"Dari mana kamu tahu?" Sontak aku terperanjat bertanya pada adikku dengan heran.
"Kok dari mana? Ya, dari sekolahan la, Kak. Tadi sewaktu aku izin keluar kelas. Aku melihat Kakak di koridor ruangan kelas orang Kakak. Kakak di situ berdiri, melihat mereka yang berolahraga. Bahkan ketua kelas orang Kakak si Fikri itu, aja aku tahu, kalau dia memohon pada Pak Duan, supaya Kakak tidak ikut olahraga," cetus adikku membuatku semakin terkejut.
"Kamu tahu dari mana, Dik?" tanyaku menyelidiki kembali seakan tidak percaya.
"Aku tadi mendengar dari kantin. Teman Kakak yang bicara, si wakil ketua kelas ituuu, yang si Rasyd namanya itu, Kak," jawab adikku dengan nada suara yang mendayu.
"Ooh!"gumamku pelan dengan pandangan menatap lurus mengingat kejadian itu. "Lalu, dia bilang apa lagi?" tanyaku menyelidiki selanjutnya.
__ADS_1
"Aku tidak mendengarnya lagi, Kak. Aku langsung masuk ke kelasku," jawab adikku.
"Kalau Kakak boleh tahu. Ngapain kau keluar?" tanyaku ingin tahu.
"Ke kamar mandi," jawab adikku singkat.
"Kenapa Kakak tidak melihatmu, ya?" Aku bertanya pada diriku sendiri di hadapan adikku.
"Ooh! Kakak tadi serius sekali, melihat teman Kakak yang berolahraga itu." Adikku langsung menjawabnya.
"Eemm!" Aku hanya mengangguk dan menatap adikku sambil memonyongkan sedikit bibirku memberi balasan atas jawabannya.
Setelah adikku selesai merapikan pakaiannya kini giliranku untuk memberi jawaban atas ajakan adikku untuk mandi. Aku kembali memutar kedua bola mata melihat lantai rumah yang berhubungan langsung dengan pintu dapur yang sering kami lalui, terkhusus untuk mandi.
Sesak di dada pun semakin menyerang, napas pun tidak lagi terhirup dengan beraturan. Lemas dan cemas pun mulai menghampiri perlahan. Hembusan napas yang tidak pernah aku dengar kini terdengar berdesis.
Sementara kebisuan yang masih membungkamku membuat adikku kembali melihat ke arahku seakan dia berharap keputusan dariku segera.
Aku yang mulai menepi perlahan kini tertahan karena sorot mata adikku yang tajam melihatku. Dia berdiri seakan tidak mengizinkan aku untuk kabur dari hadapannya. Matanya yang tajam membuatku kembali selangkah maju.
"Dik, Kakak tidak mandi, ya!" pintaku dengan lembut. "Kalau kau takut mandi sendiri. Kakak akan temani kau mandi." Aku menatap adikku dengan perasaan sedikit kurang yakin, kalau adikku mau menerima alasanku.
"Kakaaak!" rengekan adikku kembali keluar. "Kan Kata Ayah, kita berdua itu, kalau sudah waktunya mandi, ya, harus mandi, Kak," keluh adikku yang tidak mau mendengarkan alasanku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1