Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cuci piring dan bermain di rumah


__ADS_3

"Gak. Kakak gak mau nanti Ayah marah," terangku. Menjatuhkan sendal di hadapan adikku.


"Kenapa taruh di sini, Kak? Simpan saja!" tanya adikku dan menyuruhku untuk menyimpannya.


Aku sedikit ingin tahu dan melihat tapak sendal jepit yang menjadi perdebatan dari tadi.


Glek!


Aku menelan ludah. Aku terkagum dengan kepandaian ayahku.


"Ana, tapi Ayah pintar, ya," kataku kepada adikku. Melihat sendal yang ingin kusimpan.


"Pintar kenapa, Kak?" tanya adikku. Memutar badan menatap piring yang ingin di cuci.


"Coba lihat!" pintaku kepada adikku. Menaikkan kepala melirik adikku yang terus menatap piring kotor. "Ayah bisa memperbaiki sendal yang rusak seperti ini," ungkapku dengan kagum melihatnya.


Adikku hanya diam saja. Dia mengetatkan wajahnya setelah melihat piring. "Kenapa kau seperti itu?" tanyaku. Melihat adikku dan juga melihat piring.


"Kak, kenapa piringnya banyak kali?" keluh adikku bertanya.


"Karena itu piring dari semalam," jawabku.


Adikku langsung diam menarik napas. "Aku malas mencucinya," katanya memelas. "Biasanya yang mencuci piring Ayah. Ini kenapa kita?" tanya adikku terheran. Melirikku.


"Mungkin Ayah gak sempat," jawabku.


Aku tetap menatap piring dengan sendu dan kemudian teringat dengan ayahku.


"Jadi, kita harus mencucinya?" tanya adikku. Seakan dia tidak percaya dengan piring yang dilihatnya.


"Ana," panggilku. Menghentikan langkah adikku.


"Lihat dulu sendalmu!" desakku pada adikku.


"Itu cuma sendal jelek. Ngapain dilihat lagi," kata adikku.


Aku sedikit terkejut mendengar omongan adikku dan bercampur kagum melihat hasil kerja keras ayahku yang telah membuat sendal adikku jadi lebih bagus.


"Kesini Ana lihat dulu, ha?!" Aku menarik lengan adikku dan mengayunkan sendal jepit di hadapannya.


"Ih, iya Kak. Bagus. Ayah pandai juga, ya," kata adikku memuji ayahku.


"Iya," sahutku.


"Itu pakai kawat apa ya, Kak?" tanya adikku. Berpikir.


Aku yang berpikir pun. "Kawat jemuran," jawabku.

__ADS_1


"Ha, kawat jemuran, Kak," jawab adikku. Kami berdua pun menebaknya secara bersamaan.


"Tapi ini kawat jemurannya agak tebal," kataku . Melihat tapak sendal.


"Iya, 'kan Kak," sambung adikku. Menatap dengan gurat wajah seakan dia tidak tega melihat jerih payah ayahku yang membetulinya. Adikku seakan dia menyesal karena telah membangkang pada ayahku.


Aku terus menatap adikku lekat. Perlahan aku pun menyimpan sendal itu di balik pintu. Di mana tempat sendal dan sepatu tersusun di situ.


"Ana, sendalmu ini Kakak simpan di sini," kataku.


"Iya Kak. Sekarang tugas kita itu!" kata adikku dengan nada suara berat. Memonyongkan sedikit bibir sebagai isyarat menunjuk piring kotor.


"Kita harus mencuci semuanya. Sebelum Ayah pulang," kataku.


"Bukan Ayah, tapi Ibu kesayangan Kakak itu," ucap adikku dengan kesal. "Tapi aku akan sekalian mandi, Kak," ungkapnya. Mengambil handuk serta sabun dan menggotong embar tempat piring kotor, berdua dengan ku.


Piring pun telah kami bawa ke sumur. Di mana tempat kami sering menggunakannya baik untuk mandi, mencuci piring dan mencuci baju.


Hahaha ! Aku dan adikku pun tertawa dengan riang.


"Kak, ini buih sabunnya. Hus, hus, hus!" kata adikku mengembus-embus buih sabun dengan gembira.


"Ini lagi, Dik," sambungku mengembuskan buih sabun juga sebanyak mungkin ke udara.


"Hahaha ! Buihnya berterbangan," kataku dengan senang melihat buih yang menutup sedikit wajah kami berdua.


"Ini lagi Kak, buihnya !" ucap adikku. Menunjukkan gumpalan buih sabun yang menggunung di kepalan tangannya.


Buih sabun yang menggumpal itu pun kini berjatuhan ke bawah tepat jatuh di atas papan.


"Ana, udah! Kita berhenti saja main ini. Sebelum Ayah dan Ibu datang. Nanti mereka marah. Kalau sabunnya habis dan piringnya belum di cuci," kataku panik. Bergegas mengambil piring satu per satu dan mencucinya.


"Kak, aku yang mencucinya. Kakak yang membasuhnya," usul adikku.


"Iya, bawa kemari piringnya," harapku memohon agar adikku menaruh piring yang disabuninya tepat di hadapanku.


Air yang telah tersedia pun aku ambil sedikit demi sedikit untuk menyiram piring dan gelas beserta juga mangkok-mangkok sayur dan juga mangkok cuci tangan.


"Ana, sudah selesai. Kakak naik luan, ya," kataku meminta izin. Menyusun piring yang sudah bersih ke dalam ember.


"Tunggu saja aku, Kak. Itu piringnya berat, nanti pecah. Nanti Ayah dan Ibu kesayangan Kakak itu marah sama kita," ujar adikku. Meneruskan mandi dan memakai baju.


Aku yang menunggu di luar pun mendengarkan suara air yang menyiram tubuh adikku dan lantai.


"Kak, sekarang kita naik," ajak adikku. Membuka pintu kamar mandi. Menghampiriku mengangkat ember.


"Kakak nanti kalau sudah sampai di rumah. Kakak mau main Anak Bp," ungkapku. Berjalan sambil membawa ember piring berdua dengan adikku.

__ADS_1


Pagi yang hampir mau pergi. Masih menemani kami mencuci piring.


"Kak, kalau aku mau main boneka, tapi keluar," terang adikku dengan nada suara mengiba.


"Ana, mana mungkin kau berani keluar. Ayah dan Ibu 'kan sudah melarang kita," kataku. Menatap wajah adikku dengan sendu.


Aku dan adikku telah masuk ke dalam rumah tepatnya menyusun piring di dapur.


"Jadi, kita bermain apa?" tanya adikku dengan menekuk wajahnya.


"Kakak gak tau," balasku dengan gurat wajah memelas.


"Bukannya Kakak bilang tadi, Kakak mau main Anak Bp ?" tanya adikku.


"Gak jadi, Kakak malas," jawabku acuh.


Piring yang kami susun pun berangsur mulai berkurang. Gelas yang tadi banyak kini tidak lagi ada. Semua telah tersusun dengan rapi di tempatnya masing-masing.


"Kalau aku main boneka saja lah, Kak," tutur adikku dengan berat hati. "Kalau Kakak apa?" tanyanya. Melirikku, di ikuti oleh tangannya menyusun gelas di rak piring.


"Kakak bingung," jawabku. Melirik adikku juga, di ikuti oleh kedua tangan menutup lemari makan dengan rapat.


"Kenapa Kakak memegang pintu lemari itu?" tanya adikku ingin tahu.


"Ooh, tadi pintunya gak rapat. Makanya Kakak tutup lagi. Biar semut tidak masuk dan juga lalat," jawabku dengan lugas.


"Tapi sekarang 'kan lalat gak ada lagi, Kak. Semenjak gak ada sampah lagi," ucap adikku. Menaruh ember yang sudah kosong ke bawah kolong meja kompor.


"Iya, Kakak memang sudah lama gak melihat sampah lagi. Siapa yang membuang sampahnya ?" tanyaku ingin tahu. Menyusun sendok makan satu per satu ke tempat sendok.


"Di buang Ayah," jawab adikku langsung. Memutar badan dan berjalan ke ruang tamu. Di ikuti oleh aku dari belakang. "Makanya, Ayah sekarang marah melihat kalau ada yang


berserakan," tandas adikku.


"Tapi, Dik. Kakak bingung di rumah main apa?" tanyaku kepada adikku melihat diriku sendiri yang bingung.


"Kakak 'kan pandai main kelereng. Main itu saja!" usul adikku . Mengambil boneka kesayangannya.


Refleks kepalaku pun langsung menoleh ke arah toples plastik yang tertutup rapat yang terletak di atas lemari yang menjadi pembatas ruang tamu dan kamar kami.


"Itu sudah lama teronggok, Kak. Kasian ia, gak ada yang memainkannya lagi," tandas adikku.


"Kenapa gak kau saja?" tanyaku. Mengambil toples plastik yang tertata rapi di atas laci lemari.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2