
"Sewaktu pulang kau tidak melihat adikmu?" tanya ayahku mengibaskan pakaian kotor.
"Tidak Ayah," jawabku dengan menatap nanar dengan khawatir.
"Kelasmu dengan kelas Adikmu seberapa jauh?" Ayahku melanjutkan pertanyaannya.
Aku hanya terdiam mendengar ayahku. Jemari kecilku yang lemah yang ingin menggantungkan tas sontak berhenti. Pikiranku pun berputar memikirkan adikku. "Tidak jauh Ayah." Aku terpaksa membuka bibirku yang pucat menatap nanar kakiku yang berdiri lemah tidak berdaya.
Sekarang ayahku kembali mengguncang pikiranku tentang adikku. Pada dasarnya, aku dan adikku tidak begitu dekat ketika di sekolah. Adikku berteman dengan temannya dan aku berteman dengan temanku.
"Ayah tadi Liyan sudah melihat ke kelasnya. Tapi, pintu kelasnya sudah di tutup." Aku mengatakannya pada ayahku. "Liyan juga tadi sudah bertanya pada teman sekelasnya. Dia bilang, Ana sudah pulang."
"Pergi kemana dia? Sampai sekarang belum kembali. Ayah sudah lama tiba di rumah, dari tadi Ayah belum melihat Adikmu kembali." Ayahku berjalan mengikuti bayangannya mendekati kompor dan periuk.
"Mungkin dia lagi di jalan, Yah," jawabku. Sok tahu.
"Mengapa dia lama kali berjalan. Sama siapa pula dia berjalan sesiang ini," sambung ayahku memasak untuk makan siang kami.
Refleks bibirku yang pucat ini pun diam membisu, kekhawatiran pun langsung menghampiriku. Perasaan tidak enak pun menyelimuti diriku yang malang dan berdiri di pintu melihat keluar.
Suara ayahku yang memasak di dapur pun terdengar sampai ke telingaku yang berdiri melihat adikku ke sana dan kemari dengan pandangan penuh konsentrasi.
Klenteng ! Klenteng ! Klenteng !
Suara dentingan itu pun masih saja terdengar menemani kami berdua di rumah. Ayahku dari dapur bergumam kudengar. "Sudah si Ana belum kembali, Ibumu pun entah kemana," rintih ayahku masih memikirkan adik dan juga ibu sambungku.
Aku begitu suntuk setelah mendengar gumaman kecil dari ayahku. Ketidak tenangan pun menggerogoti hingga membuat kepalaku sakit. Sebelumnya, tadi aku yang ketakutan ketika melihat ayahku di marahi oleh pemilik rumah ini, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Kedua bola mataku semakin berputar dengan kencang hingga sampai saat ini aku belum juga melihat mereka. "Ayah emang Ibu pergi kemana ?" tanyaku berputar melihat ayahku yang memasak.
"Ayah tidak tahu." Ayahku segera menjawab pertanyaanku.
Mendengarnya aku pun langsung diam memutar kembali badan melihat adikku. Setelah sekian lama aku berdiri, aku belum juga melihatnya sama sekali.
"Ayah, kalau begitu, Liyan cari Ana keluar aja, ya, Yah," pintaku dengan rasa khawatir.
Seketika tangan ayahku yang mengaduk masakan terhenti. "Mau kemana kau mencarinya ?" tanya ayahku. "Apa kau tahu rumahnya?" Ayahku bertanya lagi sambil mengaduk masakannya kembali.
"Tidak semua Ayah," jawabku. "Hanya dua rumah saja yang Liyan tahu rumah temannya Ana." Aku sambil menunduk.
"Tidak usah! Mungkin Adikmu sebentar lagi akan sampai. Ayah takut, kalau kamu sakit lagi," tutur ayahku.
__ADS_1
Aku langsung diam ketika mendengar ayahku menolak tawaranku untuk mencari adikku. "Iya Ayah." Aku langsung beranjak dari hadapannya.
"Istirahatlah! Biarkan Adikmu kembali sendiri. Ayah yakin, dia tidak akan kemana - mana?! Dia pasti di rumah temannya yang sering datang kemari ?!" kata Ayahku menebak sendiri.
"Kalau begitu, Liyan mencari Ibu saja," lanjutku memberi tawaran.
"Tidak perlu juga. Sedangkan Adikmu saja Ayah melarangmu, apalagi Ibumu," sambung ayahku menyelesaikan masakkannya dengan cepat. "Duduklah di bangku Ayah! Ini sebentar lagi akan masak dan Ayah akan mengambilkan nasimu."
Mau apalagi yang harus aku perbuat. Aku pun dengan berat langkah duduk di bangku ayahku sambil menunggu makanan yang akan di bawa oleh ayah padaku.
"Liyan, kau tadi tidak olahraga , 'kan?" tanya ayahku kembali teringat dan membuatku terkejut.
"Tidak Ayah," jawabku langsung dengan cepat melihat ayahku.
"Baguslah! Ternyata, gurumu mendengarkan permohonan Ayah," kata ayahku dengan tenang.
Aku langsung menatap membelalak dengan pandangan lurus. 'Ternyata, ayahku telah datang menjumpai guruku,' pikiranku pun langsung teringat kembali ke sekolah. Tubuh lemahku ini diam terpaku. Apa yang barusan terdengar olehku bagaikan sambaran petir yang mematikan.
"Assalamualaikum Ayah." Terdengar suara yang membuat aku dan ayahku terkejut dan seketika aku melupakan yang kupikirkan.
"Wa'alaikumussalam," jawabku dan Ayahku melihat ke pintu.
"Ana tadi singgah di rumah teman sebentar Ayah. Dia masuk rumah baru. Rumahnya cantik makanya, Ana lupa pulang," kata adikku merasa tidak bersalah.
Ayahku yang mendengarnya pun melongo melihat adikku seakan tidak bersalah. "Ana, seharusnya, kau itu pulang dulu ke rumah. Jangan membuat kami yang ada di sini cemas memikirkanmu," tegur ayahku dengan lembut. "Setelah itu, baru kau pergi ke sana," lanjut ayahku sambil menyusun piring kotor.
"Habis, mau bagaimana Ayah?! Mereka memaksa Ana untuk ikut." Adikku duduk sambil membuka sepatu. Wajah merasa tidak bersalahnya pun terus melihat sepatu yang dia buka. "Ana tidak bisa menolak Ayah karena mereka terus menerus memaksa Ana ikut," dalih adikku.
"Kau tidak takut, kalau nanti orang itu meninggalkanmu sendiri di jalan, bagaimana? Ayah di sini, Kakakmu tidak tahu, Ibumu apalagi! Mau kemana kami nanti mencarimu. Rumah temanmu saja Ayah tidak tahu." tutur ayahku pada adikku.
"Kalau Ana tidak kembali, tidak mungkin Ayah tidak mencari Ana. Pasti Ayah bisa menemukan Ana," kata adikku seolah dia menganggap ayahku tidak kesal.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba suara salam terdengar lagi dari pintu.
Aku langsung mengangkat kepala melihat ke pintu. "Ibu," gumamku pelan.
"Wa'alaikumussalam." Ayahku langsung menjawabnya.
Ayahku yang masih berada di dapur memalingkan pandangannya langsung dari kompor yang di bersihkannya melihat ibu sambung kami yang barusan masuk.
Adikku pun langsung tidak lagi bersuara. Dia segera beranjak masuk ke kamar membawa tas sekolahnya. "Kakak engga ikut samaku masuk?" tanya adikku ketika beranjak.
__ADS_1
"Nanti Ayah marah," jawabku melirik ayahku yang lagi sibuk.
"Ayah engga marah itu Kak. 'Kan Kakak samaku," kata adikku dengan lembut mengajakku untuk menemaninya.
Aku menggeleng memberi isyarat penolakan atas ajakannya.
"Engga mau, ya sudah. Biar Kakak tidak usah kebagian jajanku." Adikku langsung pergi menghilang.
"Jajan," gumamku pelan. "Aku sudah lama tidak pernah membeli jajan." Aku menelan ludah melihat jajan yang di pegang oleh adikku tadi. "Aku Maulah." Segera aku bangun dari dudukku mengejar adikku.
"Liyan!" Aku langsung berhenti melihat ayah yang memanggilku.
"Iya Ayah." Aku segera mendekati ayahku.
Sementara, ibu sambungku yang baru tiba di rumah, dia berdiri di dapur melihat masakan yang di masak oleh ayahku tadi. Dia terlihat menelan ludah karena lapar. Aku rasa ingin sekali dia memakan makanan itu terlebih dahulu.
Aku yang berdiri di belakangnya ikut menelan ludah refleks bawaan karena aku juga kelaparan.
Di samping itu, ayahku juga terlihat seperti yang kami rasakan juga. Sekian lama dia memasak untuk kami sekian lama itu juga dia belum bisa menikmati masakannya.
"Ayah, nasinya mana? Liyan sudah lapar," ungkapku memotong ibu sambungku yang berdiri di depanku terlebih dahulu.
"Ini, Nak!" Ayahku langsung menyerahkannya.
"Makanlah yang banyak biar kamu cepat sembuh," sambung ibu sambungku melihat ke arahku.
"Iya Bu," jawabku.
"Ibu tidak makan?" tanyaku melihatnya sambil memegang piring.
"Ini Ibu mau mengambil nasi," kata ibu sambungku mengambil piring.
"Duduk di sana! Jangan lagi berdiri di sini. Nanti nasimu itu jatuh!" seru ayahku menunjuk tempat yang sering kami gunakan untuk makan.
"Ayah, nasi Ana mana?" tanya adikku berlari memeluk ayah.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1