
"Adikmu ada betulnya juga, Liyan," sahut Septiani melihat ke atas langit sambil melemparkan potongan ranting ke sudut pohon.
"Ayo Widia!" ajak Septiani berjalan lebih dulu sambil melambaikan tangan.
"Liyan, kami pulang dulu, ya!" pamit Widia dengan ramah sambil membuang potongan ranting ke tempat yang sama.
"Iya, kalian hati-hati, ya!" seruku.
"Kak, awas ada orang jahat," teriak adikku yang suka memotong pembicaraan.
Aku terkejut mendengarnya. Sementara Widia dan Septiani lain dalam menanggapinya. Mereka berdua menoleh dan hanya melemparkan senyum pada adikku.
"Ana, kau gak boleh ngomong gitu!" tegurku keras. "Kalau sampai mereka tersinggung kayak mana?" tanyaku merasa panik akan ucapan adikku yang terlalu ringan keluar.
"Aku 'kan cuma ngasih tau aja, kak," sahut adikku memelas, melihat jemarinya yang mengorek-ngorek sudut jerejak.
"Tapi kalau Kak Septiani merasa, bagaimana?" tanyaku menutut adikku untuk tidak mengulanginya lagi.
Dia langsung terdiam jera setelah melihat reaksiku yang terlontar kepadanya. Mengukur panjang jerejak dengan jemarinya berulang kali. Aku yang melihatnya setelah mendapat teguran dariku sedikit merasa iba akan diamnya menutup mulut dengan rapat.
"Dik, sekali lagi. Jangan bicara kayak gitu. Apalagi sama kawan Kakak," pintaku dengan penuh harapan agar adikku kelak tidak melakukan itu lagi.
"Tapi 'kan aku gak salah, Kak. Aku hanya mengingatkan saja. Kalau di luar banyak orang jahat," cetus adikku yang melihat ke arah Widia dan Septiani menghilang. "Aku juga takut, Kak. Kalau Ayah dibawa orang jahat," lanjutnya dengan gamblang.
Kedua bola mataku melebar menatap adikku melongo. Di dalam hati aku sebenarnya ingin sekali tertawa karena adikku yang selalu bicara dengan konyol. Namun, terpaksa kutahan agar adikku tidak mengetahui kalau aku sebenarnya bisa langsung mereda jika mendengar leluconnya.
"Kak, kalau Kak Widia 'kan, rumahnya dekat. Kalau Kak Septiani?" tanya adikku yang selalu ingin tahu semua tentang sahabatku.
Aku langsung menghela napas menyerah menghadapi adikku yang selalu ingin tahu dan cerewet. "Kalau rumah Kak Septiani jauh," jawabku dengan gurat wajah datar.
" 'Kan gak salah Kak, kalau aku menyuruh mereka hati-hati. Apalagi sama orang jahat," cetus adikku dengan entengnya yang tidak merasa bersalah sedikit pun. Berdiri semakin merapatkan tubuh kecilnya ke jendela. "Ayah juga belum pulang. Ayah kalau udah keluar pasti lama-lama pulang," ucap adikku kecewa bercampur sedih.
Aku yang masih berdiri menemaninya ikut merapatkan tubuh mungil ini juga ke jendela. "Kau rindu sama Ayah?" tanyaku pada adikku yang sudah menukar topik pembicaraan.
"Iya aku rindu juga sama," kata adikku dengan guratan wajah terheran melihat dirinya sendiri.
__ADS_1
Sungguh wajah dan kedua sorot matanya yang tertatap olehku menimbulkan pertanyaan batin yang meresahkan diri. Aku yang sedikit pandai membaca gelagat orang yang tersembunyi dari sorot matanya. "Berarti aku selam ini gak pernah rindu sama Ayah?" tanyaku ingin tahu dengan sengaja memancing adikku agar dia bersuara.
"Selama ini 'kan Ayah sama kita," jawab adikku yang suka berdalih.
"Mana pula. Selama ini 'kan Ayah juga meninggalkan kita di rumah," sentilku pada adikku.
"Iya, tapi 'kan Ayah gak pernah jam segini di luar, Kak," sahut adikku membuka sedikit tirai melihat jam.
"Emang jam berapa?" tanyaku ingin tahu. Berjalan merapatkan tubuh di belakang adikku sambil menarik tirai mengeluarkan kepala melihat jam.
"Iya, Dik," jawabku terkejut setelah melihat jam. "Ayah ke mana?" gumamku pelan di telinga adikku.
"Palingan duduk sama kawannya," jawab adikku sedikit menuduh. Sok tahu.
"Bentar lagi juga pulang, Dik," kataku dengan yakin. Menarik kembali tubuh mungil mundur ke belakang. Berdiri di depan jendela belakang ini itulah yang sering menjadi rutinitas kami berdua setelah ayahku mengeluarkan peraturan baru melarang kami untuk tidak lagi keluar rumah.
Bermain bersama teman-teman terkadang sangat kurindukan, terkhusus juga untuk adikku. Bermain di luar menghabiskan waktu bersama teman itu adalah hal yang menyenangkan bagiku.
"Kak, kapan Ayah mengasih kita untuk keluar lagi bermain?" rengek adikku yang sering terdengar mengusikku dengan pertanyaannya itu.
"Kakak betul. Kita setiap hari hanya melihat orang itu bermain dari sini," sambut adikku membenarkannya. "Coba kalau ada Ibu. Kita pasti dikasih keluar untuk bermain," cetusnya begitu sumringah.
Sontak aku langsung memutar kepala menatapnya. Tidak percaya dengan ucapan adikku yang terdengar dengan jelas. "Ibu?" tanyaku spontan dan lalu terdiam.
"Iya, Kak. Coba Ibu masih ada. Pasti Ayah akan dimarahi Ibu, kalau Ayah membuat kita kayak gini?!" lanjut adikku dengan benar.
"Tapi Ibu udah gak ada," balasku penuh sesal. Berdiri melihat bawah pohon yang sering ditulis adikku dengan wajah ibu.
"Kak, apa Ibu gak bisa bangun lagi?" tanya adikku yang polos.
Deg!
Aku begitu terkejut dan tidak pernah memikirkan kalau adikku sampai sejauh itu. "Ana, mana bisa," jawabku lugas, menatap bawah pohon menyimpan kesedihan.
"Tapi 'kan katanya, Ibu cuma tidur," lanjut adikku mengutarakan isi hati yang terpendam.
__ADS_1
Adikku sangat menggelitik hatiku. Aku yang tadi sudah sebal, kesal dan jenuh seketika kembali lempang.
" 'Kan kalau orang tidur bisa dibangunkan, Kak?" tanya adikku melemparkan perkataan itu.
Tidak lagi bisa berucap itu yang terjadi melilitku. Adikku yang selalu ingin tahu dan cerewet itu terus saja menekanku dengan pertanyaan itu dari dulu.
"Dik, ini Ibu tidur yang panjang," jawabku dengan tegas sebagai salah satu cara agar adikku bisa percaya.
"Lama, Kak?" tanya adikku ingin tahu lagi.
"Iya," jawabku singkat dengan nada suara yang sudah lelah menjawab semua pertanyaannya.
"Sampai berapa lama, Kak?" tanya adikku lagi seakan dia tidak ingin melihat hidupku dengan tenang.
Rasanya aku semakin jenuh dan sebal karena aku tidak bisa berlari jauh dari adikku sendiri. Menghindarinya dari pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
"Kakak gak tau, Dik," jawabku menyerah menghadapinya.
"Kalau Ayah tau itu, Kak?" tanya adikku kembali yang tidak ingin membiarkan pikiranku tenang. Berdiri terus di hadapanku dan terus menatapku dengan lekat. Aku pun demikian juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan adikku, berdiri di hadapannya dan mendengarkan semua ocehannya dengan terpaksa walau sesekali aku memalingkan muka melihat yang lain.
"Ayah pasti tau?!" balasku, melihat daun jambu yang terjatuh menyentuh tanah.
"Aku mau nanya itu nanti lah sama Ayah," gumam adikku pada dirinya sendiri.
Aku yang berdiri di sampingnya refleks menoleh ke arahnya tanpa disuruh. Dia yang terlihat, seperti sedang menanti kedatangan ayah kami dari sholat jumat.
"Tanya saja," usulku menyambungnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1