Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kenangan kelereng di balik sedihku


__ADS_3

Adikku tetap bersikeras tidak mau memberi kotak obat P3K itu. Dia sangat membenciku hingga ke ubun-ubun.


"Aku gak akan mengasihnya," kata adikku dengan penuh kebencian. Menatapku dengan sinis.


"Tapi Kaki Kakak sakit," rintihku kembali. Melirik lutut yang belum sembuh.


"Udah aku bilang, aku gak mau ngasih ini sama Kakak," lanjut adikku bersikukuh dengan erat memeluk kotak P3K itu.


Air mata semakin menetes. Aku terlihat histeris sekarang hingga suara tangis semakin memenuhi ruangan ini. "Ayaaah," kataku memanggil nama ayahku dengan pilu sambil menaikkan kepala menatap ke arah pintu yang terkunci dari luar. "Ayaaaah," panggilku lagi sambil menyeka air mata dengan sebelah tangan kananku sambil menahan isak tangis yang keluar.


"Kakak gak boleh panggil-panggil Ayah. Ayah lagi kerja," tegur adikku tidak senang mengerutkan keningnya. "Nanti Ayah jatuh, kalau Kakak memanggilnya," tuturnya.


Huhuhuhu !


Aku semakin sedih sekali air mata pun tak terbendung lagi. Pintu yang masih terkunci dari luar masih terus kutatap dengan harapan ayahku datang dan memelukku.


Huhuhu!


Aku terus menangis di muka adikku yang cerewet. Tangan sebelah kanan pun terus mengusap air mataku sementara tangan sebelah kiriku meremas baju terusan setengah lutut yang kupakai. "Ayaaah, huhuhu !" panggilku lagi bersama suara tangis yang membuat aku tersengal.


Tungkai kaki yang nyeri ini seakan ingin menyerah menahan tubuh mungil yang lemah yang berlama-lama berdiri tegak. Bola mata yang sayu bercampur merah menatap nanar ke bawah dengan pandangan kosong. Mata yang berkaca-kaca pun terasa perih ketika ingin membuka mata dengan lebar.


"Cengeng!" gumam adikku kecil yang masih terdengar jelas di telingaku meski bercampur dengan suara tangis. "Dikit... dikit nangis. Dikit... dikit nangis," singgung adikku pedas.


Tubuh mungilku yang berdiri tegak lurus tepat di dekat lemari yang menjadi pembatas antara kamar kami dengan ruangan tamu kutarik mundur ke belakang dan bersandar mendekati lemari.


Huhuhu !


Isak tangis masih saja keluar dari mulut yang kaku ini. Jemari dan ujung kaki pun terasa dingin ketika terkena embusan angin yang masuk ke dalam rumah kami melalui celah-celah kecil dan jendela kamar yang terbuka lebar.


Rumah yang terkunci dari luar serta jendela yang terkunci dari dalam yang terpasang tepat di atas meja dan bangku yang sering digunakan ayahku untuk makan dan melepaskan lelahnya, terlihat terkunci dengan rapat sehingga tidak ada sedikit pun cahaya terang yang menerangi bumi masuk ke dalam rumah yang gelap ini selain pancaran sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dinding yang kecil.

__ADS_1


Jendela yang terdapat di ruang tamu kami ini tepatnya di dekat meja makan ayahku sama sekali tidak berjerejak. Itulah sebabnya kenapa ayah dan ibu sambungku melarang kami untuk membukanya.


Huhuhu !


Tangis pun masih lagi terdengar pecah mengisi ruangan rumah yang gelap ini. Rumah yang terkunci dari luar pun seakan begitu sedih mendengar isak tangis yang pecah begitu saja. Tubuh mungil yang lemah ini pun tetap berdiri melihat adikku yang menjatuhkan tubuh kecilnya duduk di atas bangku ayahku sambil memangku kotak P3K itu. Di ikuti oleh kepalanya melirik ke samping kanan melihat pintu rumah yang masih terkunci dari luar.


Huhuhu!


Isak tangis belum jua reda melihat kotak P3K yang dipangku adikku, di ikuti oleh tangan sebelah kananku memegang laci lemari yang aku sandari. Tangan lemah itu pun berjalan perlahan tanpa kutoleh sedikit pun menyentuh kelereng kecil yang tiba-tiba terletak di dalam laci.


Deg!


Aku sontak terkejut setelah tangan ini refleks menyentuhnya. Perlahan dengan diam-diam aku memutar kepala sepelan mungkin melirik ke arah tangan yang menggenggam sebuah kelereng.


"Kelereng," gumamku pelan sambil menatap kelereng yang aku main-mainkan di genggaman dengan kedua netra yang sembab dan memerah.


Kelereng ini begitu mengingatkan aku tentang aku yang dulu yang begitu suka dan pandai bermain kelereng. Aku langsung menarik bibir tipis sedikit manis bercampur dengan wajah pilu yang sembab akibat tangisan.


Sedihku seketika berangsur hilang ketika kelereng itu tanpa sadar menyentuh jemari ini. Pikiran yang kacau akibat serangan yang menyerang bertubi-tubi kembali seakan terasa segar.


Tubuh mungil ini begitu lincah ketika aku bermain bersama teman-temanku. Kini kelereng itu begitu asing ia tidak lagi tersentuh oleh tangan ini. Ia sekarang lebih sering teronggok manis di dalam toples bening yang terletak di sudut laci.


Jemariku terus memain -mainkannya hingga aku melupakan kesedihanku. Ia bagaikan alat hipnotis yang membawaku keluar dari sedih.


Plak!


Deg!


Sontak aku terkejut dan terbangun dari lamunan. Refleks aku memutar kepala dan melepaskan kelereng begitu saja. Tubuh mungil yang lemah bercampur lutut yang nyeri seketika ingin terjerembab ke lantai.


Kedua bola mata nanar ini pun menatap adikku yang masam meletakkan kotak P3K itu di atas meja. Sorot matanya yang bertemu pandang dengan ku begitu sinis dan menakutkan.

__ADS_1


Glek !


Ludahku langsung masuk ke dalam tenggorokan dengan kasar . Jemari yang tadi memegang kelereng refleks kukepal dengan kuat sebagai isyarat untuk diriku sendiri sebagai alat untuk menahan rasa takut dari sorot mata yang dilayangkan adikku ketika bertemu pandang dengan ku.


"Kenapa Kakak melihatku?" tanya adikku sinis. Duduk berkutat di atas bangku kayu yang sering digunakan ayahku untuk makan.


Aku langsung menunduk melihat lutut yang nyeri dengan lirih. Di ikuti oleh tangan kiriku meremas ujung bajuku dengan kuat.


"Kalau Kakak gak suka, bilang," sentaknya. "Biar kubilang sama Ayah," lanjutnya seakan mengancam.


Aku semakin takut dan diam membisu mencengkram tanganku dengan kuat. Bisikan demi bisikan terdengar bersuara menyalahkan aku. Aku semakin panik bercampur khawatir ketika adikku mengatakan itu.


Raut muka pun berubah kembali histeris. Tubuh mungil ini semakin kuat dan mampu untuk bertahan di tengah amarah adikku meski ia ingin menyeretku beralih dari adikku.


"Biar Ayah tau.., dan Ayah gak menyuruhku lagi menjaga Kakak," sambung adikku. Melihat kotak P3K yang terletak di atas meja.


"Kakak gak kenapa-napa kok," balasku menjawab pertanyaan adikku. Melihat pintu dan jendela kayu yang terkunci.


Aku terus menatap pintu dengan lekat dengan raut muka yang penuh harap akan ada orang yang datang untuk membebaskan aku darinya.


"Kenapa Kakak lihat-lihat pintu? Kakak mau ngadu sama Ibu kesayangan Kakak itu?" celetuknya melayangkan pertanyaan terhadapku.


"Engga," jawabku langsung membalas pertanyaannya.


"Ayah sama Ibu kesayangan Kakak itu pulangnya lama," terangnya dengan ketus.


Suara itu semakin menekanku untuk menjatuhkan tubuh ini teronggok di atas lantai.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2