
"Ana," gumamku pelan dengan senang berjalan sendiri. "Hihihi!" Aku pun sejenak melupakan semua yang menyerang hari ini di balik tawa bahagia karena aku telah terbebas dari ibu sambung yang menahanku berdiri lama di halaman rumah.
Kreek!
Perlahan aku membuka tirai dengan pelan- pelan.
Plak!
Plak!
Plak!
Baugh!
Aku sangat terkejut dan terpelongo serta kedua kakiku terhenti mendadak. Tangan yang masih memegang tirai terus menempel di tirai yang setengah terbuka.
"Ana, ini kenapa?" tanyaku terheran bercampur suara parau orang yang sakit. Melihat lantai kamar yang di penuhi oleh bantal, selimut dan mainanku.
Huhuhuhu !
Aku seketika terkejut sambil menangis pelan. Mengambil anak Bp lalu mengayunkannya ke udara sambil menatapnya dengan lirih.
"Ana, kenapa kau buang mainan Kakak?" tanyaku dengan nada suara yang pelan dan tertahan sedikit yang bercampur sedih dan parau, layaknya suara orang yang sedang sakit. Mengambil dan mengayunkan anak Bp di udara. "'Kan jadi putus!" jeritku dengan lirih. Menatapnya. "Huhuhu!" Suara tangisku pecah kembali setelah melihat anak Bp yang sudah dua putus kepalanya. "Kakak 'kan gak punya mainan lagi," sambungku dengan lirih. Melihat adikku yang duduk di atas tempat tidur dengan acuh.
"Mana aku tau. Kakak mau punya mainan atau tidak!" balasnya dengan kasar. Melemparkan mainanku berikutnya ke lantai.
Plak!
Plak!
Plak!
Baugh!
"Aaagh!" Aku menjerit setelah mainan anak Bp itu mendarat di dahiku. "Aaagh!" Aku semakin menjerit dan mengelus dahiku dengan lembut. "Ana , kau jahat," kataku berteriak dengan suara yang bercampur tangis dan parau. "Kau sudah memutuskan ini," rintihku dengan lirih. Melirik boneka yang aku ayunkan di hadapan dengan bola mata berkaca-kaca.
"Itu salah Kakak. Kenapa Kakak sakit lagi? Dan gara-gara Kakak, aku jadi di hukum dan di marahi sama Ibu kesayangan Kakak itu! Huhuhuhu!" teriak adikku menahan suara dan tangisnya. "Wanita itu memang jahat. Dia sangat jahat. Aku gak mau melihatnya," rintihnya. Memukul-mukul bantalnya dengan kedua tangannya. "Kakak sama dia itu sama. Kalian berdua memang jahat!" katanya sambil menahan mulutnya yang berteriak lebar agar tidak terdengar oleh ibu sambung kami.
__ADS_1
Sementara aku semakin lirih melihat anak Bp yang putus sehingga jeritan adikku tidak terlalu kudengarkan. "Mainanku sudah putus," kataku terus menerus mengulanginya dengan lirih bercampur suara tangis yang kutahan kuat agar tidak terdengar juga oleh ibu sambung kami.
"Kakak gak pernah merusakkan mainanmu, Ana," rintihku melihat anak Bp. "Ini adalah mainan kesayangan Kakak," ucapku semakin sedih. Melihat anak Bp dan mengingat ayahku yang tidak semudah itu mau membelikan mainan untuk ku. "Kau gak tau Ana. Ini harganya mahal," ungkapku. Melihat adikku dengan bola mata berkaca-kaca.
"Kak, kalau pun mahal. Kakak masih bisa beli lagi, kok," ucap adikku. "Kakak 'kan masih punya uang jajan. Beli saja pakai uang jajan Kakak," sarannya dengan gamblang.
Aku semakin geram mendengar omong kosong darinya. "Uang jajan Kakak 'kan gak banyak," terangku menggerutu.
"Itu masalah Kakak. Bukan masalahku. Makanya, Kakak gak usah punya Ibu seperti dia," cibir adikku. Mencubit hati ini.
Sontak aku langsung melayangkan sorot mata yang tajam melihat bibirnya yang bijak mengatakan itu.
Huhuhuhu!
Aku semakin segugukan dan menjatuhkan pandangan melihat anak Bp yang putus. Kesedihan semakin melelehkan air mata yang tadi sudah berhenti.
"Ini juga tempat tidurku semua penuh dengan mainan Kakak. Padahal 'kan, kita sudah membuat batas. Yang ini tempat tidurku..., dan yang itu tempat tidur Kakak," ucap adikku kesal bercampur sebal. Menunjuk tempat tidurnya dan tempat tidurku.
Huhuhu! Kakak gak pernah menaruh mainan di situ," balasku pelan bercampur suara lirih yang parau. Memikirkan yang di bilang oleh adikku. Perlahan aku melihat ke arah jendela yang terbuka lebar. "Mungkin terbang di buat angin," sambungku. Melihat keluar jendela yang berembus angin kencang.
"Gak mungkin," sangkal adikku langsung. "Mana mungkin angin bisa masuk ke mari. 'kan anginnya gak kencang," sentaknya.
Setelah sekian lama aku baru bisa menenangkan diri. Aku bangun dan melihat ke luar jendela. Angin yang berembus menerpa wajahku terasa menyegarkan kembali bola mata yang perih akibat banyak menangis.
"Ana, mainan Kakak jadi sedikit," singgungku kembali dengan lirih. Menahan hati yang sedih dan mengambil bantal serta selimut yang terlempar di lantai.
Huhuhuhu !
Sementara dia masih saja menangis mengenang kesedihan yang menempel di dalam hatinya. Segugukan masih terdengar dengan jelas meski dia mencoba untuk menahannya.
"Dottie, mereka jahat sekali," kata adikku mengadukan isi hatinya pada boneka ke sayangannya.
Glek!
Tangan yang ingin mengambil bantal guling sontak terhenti mendengarnya yang mengadu pada boneka itu.
"Kau tau 'kan, aku gak punya Ibu. Aku hanya punya Ayah..., tapi ayahku sudah gak sayang lagi samaku, huhuhu!" rintihnya memangku bonekanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Aku semakin terharu bercampur sedih mendengar keluhan adikku yang mengadukan pada boneka Dottienya.
"Kakakku juga jahat samaku. Gara-gara dia aku gak di sayang Ayah lagi... ,dan gara-gara dia aku di hukum," paparnya. Mengadukan segala isi hati hingga tercurah habis.
Aku semakin risau mendengarnya. Tangan yang ingin mengambil bantal pun perlahan aku jatuhkan dan menaikkan bantal ke atas tempat tidur dengan keras.
Baugh!
Baugh !
Baugh !
Bantal pun aku lempar dengan gamblang ke atas tempat tidur. Satu per satu bantal yang teronggok di atas lantai kini telah terletak di atas tempat tidur.
Jendela yang terbuka lebar yang membawa angin berembus masuk melalui celah-celah kecilnya mengibas tirai kamar, rambut serta baju terusan setengah lutut yang kupakai.
"Itu dia Dottie. Kakakku yang jahat!" kata adikku. Mendirikan boneka di atas bantal yang di pangkunya tepat ke arah mukaku.
Huh!
Aku semakin menghela napas panjang. Melihat tingkah adikku yang aneh bercampur lucu.
"Ana, Kakak gak jahat, kok. Kakak cuma... ," kataku dan menatap ke arah jendela yang sering memasukkan angin melalui celah-celah kecilnya. Aku tidak lagi melanjutkan omonganku berikutnya.
Udara kosong yang mengusik diri ini dari kepedihan seakan menuliskan sebuah harapan yang masih saja aku impikan dengan harapan semu.
Di balik tubuh yang aku putar secara langsung.Di ikuti oleh tangan yang sebelah kanan mengambil mainan di atas lantai serta tangan sebelahnya memegang mainan dengan erat yang di ambil oleh tangan sebelah kananku.
"Kalau kau gak percaya. Kakak gak tau lagi," ucapku dengan datar seakan aku pasrah setelah mengatakannya.
"Kakak itu pembohong! Mana pernah Kakak ngomong jujur," serang adikku. Mendongak dan menaikkan kepala seolah melihat jendela yang terbuka.
"Ana, kapan Kakak bohong ?" tanyaku tak rela mendengar tuduhan yang di lontarkan adikku terhadapku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...