Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Memori yang lucu


__ADS_3

Guratan wajahku hanya diam saja mendengar omelan Widia yang tiada henti. Sesaat aku diam sambil memikirkan apa yang di katakan oleh Widia. Menurutku dia memang benar, apa salahnya aku menjawab pertanyaannya dengan menaikkan sedikit kepalaku sesekali saja.


Ungkapannya hari ini tentang diriku membuatku seperti, mati kata. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa dan berkata apa? Sepertinya, aku telah terkepung sehingga aku tidak bisa untuk mengelak lagi sekali pun, memberi alasan entah itu manis atau pun pahit? Yang kutahu adalah aku memang tidak berkata jujur. Itulah kenyataannya yang membuat aku dilema perasaan yang mendalam.


Kejujuran begitu minim pada diriku saat ini sebab aku tidak mau ada kesalah pahaman atau pun perkelahian antara kami sesama teman yang di akibatkan oleh diriku sendiri. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Perumpamaan itu tak ayal terkadang terngiang di telingaku, namun sayang beribu sayang aku masih saja urung untuk menjadikannya pedoman dalam setiap keputusanku.


"Kau tidak perlu menutupinya. Jika, suatu saat kami mengetahuinya kau pasti akan lebih menunduk lagi." Widia masih saja berdiri di dekatku. "Fikri paling tidak suka melihat orang yang tidak mau mengatakan apa adanya," lanjut Widia memberiku pilihan.


"Aku sedang menggambar." Aku menjelaskan kembali pada Widia dengan serius.


"Alah, palingan cuman bohongan, ya 'kan?! Supaya aku tidak menanyainya lagi," celetuk Widia sambil menatapku sebelah mata.


Kedua bola mataku langsung menatapnya dengan kebenaran yang tersimpan di hatiku. Seandainya saja aku punya keberanian mengatakannya aku sudah pasti mengatakan yang sebenarnya. Aku terus melebarkan kedua bola mata melihat Widia yang terus menerus mengomel.


"Kalau kau tidak jujur nanti kita semua kena hukuman," cetus Widia sambil berjalan mondar mandir.


"Emang kau mau kemana, sih?" Aku bertanya menatap Widia dengan penuh keheranan.


"Oh, iya. Aku hampir lupa, untung kau ingatkan, kalau tidak, bisa habis aku dimarahi oleh Fikri." Widia menganyunkan tangannya ke udara dan kembali memutar badan ke arah meja Fikri.


"Kau di suruh Fikri mengambil sesuatu?" tanyaku ingin tahu.


"Iya, Fikri menyuruhku mengambil kotak nasinya," jawab Widia.


"Mmm!" Kedua bibirku melengkung mendengarnya.


"Kenapa kau tersenyum?" Widia menatapku dengan penuh tanda tanya.


"Tidak ada apa-apa," jawabku menahan tawa geli. "Widia, kau masih ingat tidak? Pada waktu itu ketika Septiani dan aku membawa bekal ke sekolah. Fikri bilang apa coba?!"


"Mmm, oh, iya. Fikri bilang, hanya Anak bontot yang membawa bekal ke sekolah. Hahaha !" Tawa kami seketika pecah memenuhi ruangan kelas.


"Kau masih ingat bagaimana wajah Septiani," kata Widia. Kami berdua tertawa sambil mengingat momen yang penuh tawa canda.


"Iya, aku masih ingat. Wajah Septiani seperti, semut yang tersiram minyak tanah," kataku.


"Dan juga wajahmu pada saat itu seperti, siput yang membawa rumah yang salah, hahaha. Terkulai layu, lalu menunduk. Hahaha ! Setelah itu kau langsung cepat-cepat menutup kotak nasimu dan menyembunyikannya di dalam laci. Ptfff" Widia menahan tawa. "Setelah itu kau langsung bilang, 'Engga ah. Itu bukan apa-apa, itu hanya kotak kecil. Aku cuman melihatnya saja.' Widia semakin asyik meledekku sampai wajahku memerah dan malu.


"Enak sekali kalian tertawa di sini," sambung Solihin yang hadir seperti, hembusan angin.


"Mana kotak nasi Fikri?" tanya Solihin sambil melihat benda yang di pegang oleh Widia.

__ADS_1


"Apa kau di suruh Fikri untuk mengambilnya?" tanya Widia kembali.


"Engga. Cuman Fikri tadi menyuruhku untuk melihat ke sini," balas Solihin dengan jelas.


"Ini bawalah! Kasih sama Fikri," pinta Widia dengan lembut.


"Oga ah. Aku engga mau. Nanti aku lagi yang dimarahinya," keluh Solihin menjauh dari Widia.


"Solihin!" Teriak Widia memanggil Solihin yang telah pergi meninggalkan kami.


Kedua bola mataku yang menahan malu, menatap Solihin yang telah menghilang. Setelah itu aku kembali melihat meja yang seakan wajah malu ini terlihat dengan jelas.


Ingin sekali aku mengambil sesuatu untuk menutupi wajah yang telah kalah malu ini. "Widia, kau sudah terlalu lama di sini. Nanti Fikri marah. Siapa tahu dia lagi kelaparan?!" dalihku menyuruh Widia agar cepat keluar.


"Eh, iya. Dia pasti kelaparan?! Bagaimana ini Liyan? Aku takut kalau dia akan memarahiku." Widia yang berdiri menatap keluar pintu terlihat gusar sambil memegang kotak nasi Fikri.


"Itu akibat kalau kau terlalu banyak mengejekku. Sampai kau lupa dengan yang ada di tanganmu," sungutku.


"Solihin hari ini tidak membantuku," rengek Widia semakin frustrasi. "Coba Septiani yang meminta tolong, dia langsung mau." Widia menatap nanar keluar dengan sedih.


"Liyan, kalau begitu tolong temani aku memberikan kotak ini padanya," pinta Widia merayuku.


"Pak Duan sudah tidak ada. Kami sudah selesai dan sudah istirahat," sambung Widia.


"Maknanya, Fikri menyuruhku mengambil ini," lanjut Widia sambil mengayunkan kotak nasi ke udara.


"Aku tetap tidak berani," tolakku kembali sedikit menggeser tubuh merapat ke dinding.


"Kalau kau ikut bersamaku sambil mengantar ini. Fikri tidak akan marah karena melihatmu," ujar Widia kembali.


"Dari mana kau tahu, kalau Fikri tidak marah? Kenapa kalau aku ikut dia tidak marah padamu?" tanyaku semakin penasaran.


"Karena dia takut kalau kau menangis," jawab Widia dengan singkat.


Aku kembali merenung sambil memutar otak. Melihat ke depan sambil bertanya di dalam hati. Sementara, tanganku menyusun peralatan tulis dan menutup buku.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu tapi kalau nanti Pak Duan ada di sana aku kembali lagi masuk ke sini," cetusku dengan tegas memberi isyarat.


Tidak berapa lama Widia diam sambil menimbang apa yang kusampaikan. "Jadi, kau tinggalkan aku sendiri." Widia kembali protes.


" 'Kan sudah kubilang, kalau Pak Duan tidak ada aku mau menemanimu tapi kalau pak Duan di situ aku engga jadi, menemanimu," kataku menjelaskan.

__ADS_1


"Sudah ayo! Pak Duan tidak akan ada." Widia menarik lenganku keluar dengan paksa.


Kedua kaki kami pun melangkah dengan perlahan sambil berhati-hati. "Kenapa jalanmu pelan, Widia?" tanyaku sambil melihat kakinya yang melangkah.


"Bukannya kau takut dilihat oleh Pak Duan," jawab Widia sambil melirikku.


Mendengarnya aku hanya diam. Seolah aku salah telah bertanya padanya. Tatapanku pun masih melihat lurus ke depan. Kedua lenganku terkulai tegak lurus di samping.


Sementara, Widia terlihat begitu santai seakan dia tahu, kalau Fikri tidak akan marahinya karena keterlambatannya menyerahkan yang di minta oleh Fikri.


"Kenapa kau yakin, kalau aku ikut denganmu Fikri tidak akan memarahimu?" tanyaku memecah kebisuan dari Widia untuk yang kesekian kalinya.


"Ya begitulah menurutku." Widia segera menjawab dengan keyakinan penuh. "Kalau menurutmu bagaimana? Mari kita lihat, apa Fikri akan berani marah di depanmu?" Widia memberiku pertanyaan yang tidak bisa kujawab.


"Entahlah. Mana kutahu," jawabku.


Widia kemudian diam melihatku. Aku yang melebarkan kedua mata masih tetap sama diam dan terus berjalan. Di dalam perjalanan kami ingin menemui Fikri. Tidak sengaja ada suara yang memanggil kami.


"Liyan,.Widia!" Teriaknya dari arah yang berlawanan.


Tersentak aku dan Widia pun menghentikan langkah. Kepala kami pun refleks berputar ke arah sumbar suara.


"Fikri," gumam kami berdua sambil bertemu pandang. "Kita sudah jauh kemari melangkah ternyata dia sudah di kantin," timpal Widia dengan kekesalan sedikit.


"Berarti dia tidak akan memarahimu," selaku sambil memutar badan menuju kantin.


"Kenapa sekarang kau bilang begitu, Liyan?" tanya Widia melihatku dengan heran.


"Di kantin 'kan banyak orang. Mana mungkin, dia berani memarahimu, ya, dia pasti malu," jawabku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊😍🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2