
"Baik Ayah," jawab adikku, menunduk lesu. "Tapi 'kan Ayah bilang, kalau Kakak udah besar," tolaknya kembali.
"Memang Kakakmu udah besar. Tapi, Nak. Kakakmu juga Anak Ayah," tandas ayahku.
Sejenak adikku diam melayangkan tatapan mata yang tajam terhadapku. Mainan yang teronggok tepat dihadapannya dia putar-putar sambil memandangiku dengan sebal.
"Ayah sekarang sudah gak sayang lagi samaku," sesal adikku bercampur sebal.
Omongannya itu masuk ke dalam pendengaranku. Refleks kedua bola mata yang sayu ini menatap wajah adikku yang dengan gamblang mengatakan itu.
"Kalau Ayah udah gak sayang lagi samaku. Mana mungkin Ayah mau mengasih aku uang jajan lagi," ungkap adikku, memainkan masak-masakkannya.
"Liyan, nanti kalau Adikmu merajuk. Bilang sama Ayah, ya!" kata ayahku.
Aku masih saja menatap adikku yang merajuk karena omongan ayahku. Omongan ayahku masih saja terdengar mengaung di udara.
"Kenapa kalian bisa bertengkar hanya gara-gara Ayah?" tanya ayahku. Berdiri dan melirik ke arah kami.
"Karena Ayah 'kan Ayahnya kami," jawab adikku, menunduk memainkan mainannya.
"Ayah, karena Ayah itu sangat sayang sama kami," sambutku, melihat adikku yang bermain.
Sungguh mengharukan bagiku. Aku sangat senang mendengar ayahku sudah tidak pilih kasih lagi, pikirku.
"Kakak senang 'kan? Karena Ayah sudah gak sayang lagi samaku," cetus adikku, merajuk dan cemberut.
Aku semakin menutup mulut ini dengan kuat. Duduk menemani adikku yang masih seru bermain di halaman rumah.
"Kalau Ayah udah gak sayang lagi samaku. Untuk apa aku meminta uang jajan sama Ayah," ucap adikku, menatapku yang duduk membisu.
Aku semakin bingung melihat sikap adikku yang semakin lama semakin berubah-ubah. Dia tidak pernah mau mendengar apapun yang dikatakan oleh ayahku.
"Untuk itu Ayah tidak suka melihat kalian yang sering bertengkar. Ayah kadang sedih melihat kalian, Nak! Yang setiap hari selalu ribut hanya gara-gara Ayah," sambung ayahku.
Aku yang duduk menemani adikku di luar bermain hanya diam menunduk mendengarkan ocehan ayahku.
"Mau bagaimana Ayah tenang mencari uang, Nak? Kalau di rumah kalian saja kayak gini!" ungkap ayahku memandangi kami dengan sendu. "Ayah gak banyak minta apapun sama kalian," lanjutnya.
Aku dan adikku bertemu tatap bercampur sedih. Sudah seharusnya aku dan adikku baik-baik saja. Semenjak ibu sambung kami pergi ayahku terlihat kacau dan risau.
__ADS_1
"Ayah, kami gak akan bertengkar lagi," kataku pelan, melihat ayahku yang sedang sibuk berbenah.
"Iya Ayah. Aku gak akan minta uang jajan lagi," balas adikku. Duduk termangu memandangi mainannya yang berserakan.
Bertemu tatap itulah yang bisa aku lakukan dengan adikku. Setiap detik aku selalu berharap kalau adikku tiba-tiba bisa berubah. Namun, sayang aku hanya senang bermimpi di siang bolong. Adikku yang terlalu egois dan mau menguasai kasih sayang ayah kami seorang diri belum juga sadar kalau selama ini dia sudah membuat ayahku bingung.
"Ana, Ayah juga akan sayang samamu kok, Dik," ucapku.
"Kak, kalau Ayah sayang samaku gak mungkin Ayah memarahiku hari ini," balas adikku kembali, meletakkan mainan yang dia pegang.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Duduk mematung menunggu adikku yang belum juga usai.
"Karena hari ini aja. Ayah belum mengasih aku uang jajan, Kak," cetus adikku, menatap daun jambu yang berterbangan.
"Ana, Ayah belum ada uang," sambutku membela sang ayah.
"Alah, Kakak selalu bilang kayak gitu. Aku tau uang jajan itu di kasih Ayah untuk Kakak 'kan?" jerit adikku, melayangkan pertanyaan yang menghenyak diri ini.
"Ana, Ayah memang gak ada uang. Kalau Ayah punya uang. Ayah pasti akan mengasihmu ?!" tandasku, melihat adikku dengan sedih.
"Ana, Ayah mulai besok akan cari uang yang banyak untuk mu, Nak!" sambung ayahku dari dalam.
Adikku langsung sumringah. Benar, Yah," teriak adikku senang. "Asyiiik, berarti besok aku udah bisa jajan, Kak," ungkapnya, memutar duduk dengan wajah bahagia.
"Kak, kalau besok Ayah bawa uang yang banyak. Berarti aku bisa beli es lilin," ucapnya bahagia.
Aku masih terus saja melihatnya. Sesekali aku juga melihat ayahku yang memutarkan kepala melihat ke arah kami yang bermain di luar.
"Liyan, Ana. Sebentar lagi mau malam, Nak! Susun mainan kalian, ya!" pinta ayahku dengan lembut dari dalam rumah.
Pintu rumah yang setengah terbuka terlihat bayangan ayahku yang sedang sibuk meski bercampur dengan gelapnya udara yang menembus ke dalam ruangan.
"Liyan, bantu Adikmu menyusuni mainannya. Jangan lama-lama di luar, Nak! Kau kurang sehat, Liyan!" tegur ayahku dari dalam.
Bayangan ayahku masih terlihat jelas olehku berdiri bersama sapu. Dia begitu mencemaskan kami berdua.
"Ayah sudah menimbakan air mandian untuk kalian, Nak!" lanjut ayahku sambil menyapu. "Ingat, mandinya jangan banyak-banyak, pakai air, ya!" terangnya.
"Iya, Ayah," jawabku, menyusuni mainan dengan rapi.
__ADS_1
"Kak, mulai sekarang gak ada lagi yang memarahi kita. Kalau kita bermain," ujar adikku senang. "Kalau kemaren kita bermain di dalam kamar aja dimarahi," katanya, menyimpan mainan yang dia ambil dari bawah pohon jambu.
"Kenapa mainannya sampai ke sana?" tanyaku penasaran.
"Hehehe, tadi aku buang, Kak," jawab adikku nyengir.
Kedua sorot mata ini masih lekat menatap adikku yang sudah mulai senang. Rasanya, kepergian ibu sambung kami bagaikan obat hati baginya. Dia sudah tidak lagi mendapatkan kemarahan.
"Kak, kalau Ayah teman kita. Aku pasti senang ?! Karena Ayah gak suka marah-marah," tandasnya.
Puk!
Mainan pun aku masukkan ke dalam plastik dengan kasar. "Ayah, juga marah-marah kok," bantahku, menoleh ke arah adikku.
"Engga, ya! Ayah gak pernah marah samaku kok, Kak. Kalau sama Kakak, aku mana tau," ledek adikku acuh.
Betapa menyebalkan adikku. "Ana, sekarang kita cuma bertiga," tuturku. Bangun mencari mainan yang tersisa.
" 'Kan enak Kak. Cuma ada Ayah, aku dan Kakak," lanjut adikku enteng.
"Kalau Ayah kerja kita sama siapa?" tanyaku sebal melihat adikku yang sangat bahagia.
"Kak, kalau Ayah pergi. Pasti gak akan lama-lama," tandas adikku. Sok tahu.
Malam pun telah tiba. Mainan yang tadi menemani sore kami kini sudah tersimpan dengan rapi. Tubuh mungil yang lemah dan bau juga sudah kami basahi dengan air mandian yang ditimbakan oleh ayah kami.
"Nak, sekarang malam ini, hanya tinggal kita bertiga," kata ayahku, menatap kami berdua dengan sendu.
" 'Kan enak, Yah. Gak ada yang marahi kami," sahut adikku langsung.
Sontak ayahku langsung meletakkan gelasnya. "Engga ada yang marahi, Nak?" tanya ayahku terheran.
"Iya Ayah," jawab adikku.
"Kalau ada Ibu kesayangannya Kakak. Aku pasti dimarahi?! Apalagi kalau aku minta uang," ucap adikku lirih.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...