Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ditinggal berdua


__ADS_3

"Kalau kalian terus bertengkar. Lalu Ayah kapan bisa tenang, Nak?" keluh ayahku bertanya.


Diam mematung itulah malam ini yang bisa aku lakukan. Sedangkan adikku sama sekali tidak jadi memegang buku cerita nabi yang dibelikan oleh ayah kami. Buku itu kini terletak tanpa disentuh olehnya.


"Ana, Ayah sudah berapa kali bilang? Jangan sering bertengkar! Kalian itu Kakak beradik cuma berdua, Nak," jerit ayahku kesal melihat kami sering bertengkar. "Kau juga Liyan! Kenapa harus ribut dengan Adikmu?" tanya ayahku sesal. "Sebentar saja kalian buat Ayah tenang, engga bisa?" tanya ayahku.


Aku dan adikku hanya diam saja menuntut ketidak sukaan di dalam hati masing-masing. Buku yang terletak di atas laci lemari pun aku tatap.


"Mau berapa lama kalian, harus ribut, ha?" tanya ayahku. Berdiri dan menatap ke arah kami berdua.


Puk!


Puk!


Aku dan adikku terlihat saling senggol-menyenggol tangan di hadapan ayahku yang menyidang kami malam ini.


"Hanya gara-gara buku. Bisa-bisanya kalian ribut dan bertengkar di situ. 'Kan sudah kelewatan kalian. Sampai-sampai Ayah di sini kalian tidak takut!" celetuk ayahku. "Apa kalian mau Ayah hukum lagi, ha?" bentak ayahku bertanya.


Aku dan adikku semakin diam menutup mulut hingga rapat. Tangan yang saling memukul pun tidak lagi terlihat melayang ke depan.


"Ayah, besok mau cepat kerja, Nak! Kalian tau 'kan kita tidak orang kaya. Jadi, jangan bertengkar hanya gara-gara buku itu. Kalau sampai bukunya sobek. Pakai uang siapa lagi nanti membelinya, Nak?" tanya ayahku. "Kau tau Liyan, harga buku itu? Itu harganya mahal, Nak! Ayah sudah susah payah mengumpulkan uang untuk membelinya. Malah kalian bertengkar sampai tarik-tarikan !" tandasnya sebal. "Kalau itu sobek! Ayah tidak bisa lagi membelinya," pekik ayahku semakin kesal.


Aku tidak lagi berkutik. Mulut serapat mungkin aku kunci. Tungkai kaki yang sudah sembuh pun berdiri tegak menopang tubuh mungil yang lemah ini.


"Ayah, tau buku itu tidak bisa Ayah beli dua. Supaya kalian bisa satu per satu memilikinya. Ayah jadi, menyesal membeli kalian buku itu," cibir ayahku.


Kepala langsung aku naikkan tegak lurus melihat ayahku yang duduk di bangku sambil melayangkan sorot mata yang tajam melihat kami berdua yang menunduk.


"Ana, kau juga jangan terlalu membenci Kakakmu !" tegur ayahku tegas. "Mau sampai kapan pun dia adalah Kakakmu!" terangnya. Duduk melihat adikku yang menunduk bisu.


Kedua ekor mataku melirik adikku yang diam. Dia hanya diam membeku melihat jemari tangan yang dia pegang kuat.


"Dari dulu Ayah lihat! Kau selalu tidak suka sama Kakakmu," ucap ayahku membungkam mulut adikku.


Sepanjang hari ini kami hanya mendengar omelan dan nasihat dari sang ayah. "Kalau kayak gini. Mau bagaimana Ayah besok kerja?" tanya ayahku seakan meminta saran dari kami.


Kepala yang melihat ke bawah. Sontak aku angkat menatap ayah dan adikku. "Jawab Liyan?" tanya ayahku antusias.


"Ayah, kami janji. Kami tidak akan bertengkar lagi," terang adikku lirih.


Perlahan aku menyeret kedua kaki ini dengan diam-diam mendekati adikku. "Ana, kau selalu berjanji. Kakak takut kalau Ayah gak percaya lagi," bisikku sambil melirik ayahku dari ekor mataku.


Teh yang masih berada di dalam cangkir ayahku. Dia seruput dengan pelan. "Dari dulu, Adikmu itu selalu senang berjanji," singgung ayahku, meletakkan cangkir.

__ADS_1


Adikku seketika tersinggung mendengarnya. Wajah polosnya yang tadi sempat tenang sejenak kini langsung berubah menjadi malu.


"Kakak, aku 'kan masih kecil. Jadi, kalau aku lupa. Jangan marahi aku! Bilang sama Ayah, Kak," tuntut adikku berbisik pelan.


Aku langsung tercengang mendengarnya malam ini. Adikku sungguh berani. Dia tidak tahu siapa yang ada dihadapannya. Kepala kecil ini pun menggeleng melihat adikku yang sering mengesalkan.


"Kak, cepat bilang sama Ayah. Kalau aku masih kecil," desak adikku.


Aku yang sudah berdiri bersama adikku. Menatap lurus ke arah ayahku yang duduk sambil menutup cangkirnya.


"Nak, ini sudah malam. Sekarang pergilah tidur! Ayah juga harus istirahat. Besok Ayah akan cari uang yang banyak untuk kalian. Supaya kalian bisa jajan," cetus ayahku.


"Ayah, beli es lilin, ya!" sahut adikku langsung sumringah.


"Iya, Nak! Besok Ayah akan beli es lilin yang banyak," sambung ayahku senang. Bangun dan mengantar kami ke kamar. "Sekarang Anak Ayah tidur, ya!" bujuknya lembut.


"Iya, Ayah. Selamat malam," ucapku tersenyum.


Segaris senyum pun tertoreh di wajah ayahku yang malang. Dia memutar badan dengan lesu meninggalkan kamar kami. Jenjang kakinya yang menua terlihat begitu berat untuk melangkah.


"Ayah, kami tidur dulu, ya. Besok kita bermain lagi," kataku dari belakang ayahku.


Seketika langkah ayahku terhenti. Di ikuti oleh sebelah tangan kanannya memegang tirai. "Iya, Nak! Tidur yang nyenyak, ya!" harap ayahku.


Pluk!


Tirai pun langsung terjatuh kasar. Bayangan ayahku yang tadi berdiri sambil menoleh ke belakang melihat aku dan adikku sudah menghilang seketika.


"Ana, Ayah sedih," bisikku di telinga adikku.


"Kenapa Kak?" tanya adikku sambil memakai selimut.


"Besok Ayah kerja kita tinggal sama siapa ?" keluhku bertanya kepada adikku. Duduk sambil mencari selimutku.


"Kakak cari apa?" tanya adikku.


Duduk pun aku putar melihat sekeliling tempat tidur. "Kakak cari selimut, Dik," jawabku linglung.


Pluk!


Adikku pun melemparkan selimut menutupi kepalaku. "Ana," teriakku, menarik selimut yang terletak di kepala.


"Liyan, Ana! Jangan bersuara! Sekarang tidurlah, Nak! Walaupun besok kalian masih libur," jerit ayahku dari dinding kamarnya.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Kami akan tidur," balasku kuat.


Malam pun semakin larut. Kedua mata telah mengantuk. Adikku sudah lupa dengan pertengkarannya tadi dengan ku.


🌵🌵🌵


"Uuh! rintihku kesal. Tubuh mungil yang setengah lemah ini pun bergerak dengan kasar untuk menghindari cahaya matahari yang masuk dari celah dinding. "Ana! panggilku mengerjitkan kedua bola mata.


Puk!


Aku melemparkan guling dengan pelan mengenai tubuh kecil adikku yang masih terlelap.


"Kak, aku masih ngantuk," ucap adikku masih menutup kedua matanya.


"Ayah sudah pergi!" kataku pelan. Duduk melihat adikku yang masih menarik selimutnya.


"Kak, berarti di rumah kita berdua lagi?" tanya adikku berlagak sok imut.


"Iya," jawabku.


"Kenapa Ayah suka mengunci kita di rumah, Kak?" tanya adikku. Bangun dan membuka kedua mata.


"Kita 'kan gak ada kawan, Dik," jawabku kembali.


Saat ini hanya menatap nanar tempat tidur yang bisa kami lakukan Kakak beradik. Rumah yang selalu menjadi teman kebisuan untuk kami semakin menempel kuat.


"Kita punya kawan kok, Kak," bantah adikku cemberut kesal mendengar ayahku kembali mengunci pintu.


"Kawan di mana?" tanyaku terheran.


"Di luar," jawab adikku enteng.


"Hahaha! Itu lain, Dik. Itu kawan jauh," ledekku. Turun dan membuka jendela kamar.


"Hai, Liyan!" sapa salah seorang anak.


"Kalian dikurung lagi, ya! Kasihan!" ejek salah satu dari mereka.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2