
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Ayahku mengutarakan kembali keinginannya kepadaku.
"Liyan! Ayah itu kepingin sekali melihat kamu sembuh.Bisa bersekolah seperti yang kamu inginkan,bisa tertawa,bermain seperti dulu.Dimana ? Kamu tidak ada beban, nak! Ayah begitu sedih melihat kamu. Masih kecil seharusnya anak seusia kamu ini bermain dan bersenang-senang bukannya malah seperti ini. Duduk diam didalam rumah karena penyakit.Ayah melihat di wajah kamu itu terlihat begitu banyak beban yang kamu pikul."
Ayahku duduk disisi pembaringan ku.Sambil membelai rambutku yang hitam dan jarang tersiram air.Semenjak aku sakit.Aku begitu jarang mandi karena tubuhku yang lemah tidak bisa terkena air terlalu sering.Terkadang aku mandi. Tidak jarang dengan air hangat.Begitu air hangat mengalir membasahi tubuh mungilku. Kesegaran akan siraman air terasa sampai kedalam tubuhku.Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri juga, setelah aku selesai mandi air hangat yang begitu hangat menyentuh tubuh mungilku.Seakan terasa dingin dan membuat tubuh mungilku menggigil setiap kali aku selesai mandi.
Didalam pembaringanku.Aku melihat wajah ayahku yang sudah menua dan mata lelahnya begitu banyak kerutan kesusahan.Matanya yang dulu begitu terang ketika dilihat kini terlihat gelap tanpa cahaya.Banyak tersimpan sejuta makna dimatanya. Semenjak aku terbaring lemah.Tangannya yang sudah menunjukkan kesamaan dengan usianya kini memegang dua masalah.Yang pertama masalah ekonomi keluarga kami dan yang kedua masalah kesembuhanku.Kaki jenjangnya selau melangkah untuk mencari nafkah. Kini harus melangkah juga untuk mencari tempat untuk aku berobat. Dimana aku bisa sembuh total.
Aku pun menatap ayahku dengan lirih sambil menangis dalam hati.Rasanya aku engga tega melihat ayahku yang begitu susah akan diriku.Andai saja aku tahu kapan? Aku sakit. Aku pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk mencegahnya.Tapi lagi-lagi yang aku hadapi adalah takdir.Dimana aku tidak bisa merubah takdir yang sudah menjadi ketetapanku.Dan andai saja sakit itu bertanya kepadaku.Pasti aku akan menolaknya untuk singgah ditubuh mungilku.
"Ayah,kalau seandainya menurut Ayah aku akan sembuh lakukanlah keinginan Ayah untuk membawaku berobat.Karena aku kepingin sekali sekolah Ayah.Aku sudah rindu dengan teman-temanku.Aku juga kepingin bermain sama seperti Adek.Mereka begitu bahagia diluar sana tertawa sambil bermain lari-larian. Sementara, aku hanya dirumah saja mendengarkan mereka tertawa. Dan kalau pun aku mau bermain. Aku cuman bisa melihat mereka dari depan pintu.Seketika mendengar itu air mata ayahku pun tercurah membasahi pipiku tanpa dia sadari.
Ayahku seketika terpaku diam mendengar apa keinginanku. Aku cuman menginginkan satu yaitu,aku sembuh! Sambil menyeka air mata. Ayahku pun seketika mengutarakan senyum kepadaku.Senyum yang menutupi semua kesedihannya.Sebuah senyum penyemangat untukku.Agar aku semakin kuat dan percaya kalau aku akan sembuh.Aku melihat dibalik senyum ayahku.Tersirat beribu makna di wajah senjanya. Namun, dia tak bisa mengungkapkannya.Hanya untaian do'a yang sering dia panjatkan setelah dia selesai sholat. Kesabaran yang terus dia pupuk setiap hari. Kepasrahan yang membuat dia selalu ikhlas untuk menerima dalam menghadapi semuanya.
Aku yang polos begitu semangat melihat senyum ayahku.Aku bisa melihat senyumnya adalah senyum kebahagiaan. Seakan tidak ada beban didalam dirinya hari ini.Begitu kuat dia menahan semuanya dengan sendiri.
__ADS_1
Seketika dia pun beranjak dari pembaringanku dengan langkah kaki yang terseok-seok.Dari pembaringanku.Aku melihatnya pergi meninggalkan aku sendiri dikamar yang berteman dengan sepi ku.
Aku yang memejamkan mataku karena lelah dan mengantuk.Mendengar dengan samar-samar sebuah perbincangan dalam keadaan setengah sadar.Kalau ayahku berbicara dengan seseorang diluar.
"Ia,besok, kami akan membawa dia pergi berobat." Membicarakan tentang diriku."Karena baru hari ini, aku bertemu dengan temanku dipasar.Yang memberi tahu kepadaku, dokter yang bisa menangani anakku.Dia mengatakan kepadaku. Pernah keluarganya mengalami penyakit seperti yang dialami oleh anakku."
"Ia,itu bagus! Aku melihat anak kamu itu masih kecil. Anak-anak seusia dia itu seharusnya bermain.Tapi, yang terlihat malah sebaliknya.Dia harus terkurung diam didalam rumah.Bahkan,untuk berjalan didepan pintu saja tidak pernah terlihat."
"Aku pun tidak mengerti! Awal mula penyakitnya seperti apa gejalanya.Itu tidak pernah terpikir kan olehku! Aku hanya sibuk dengan kerja dan mencari uang.sampai aku tidak ada waktu untuk memperhatikan kesehatannya." Dengan pendengaran yang masih setengah sadar. Aku masih dengan jelas mendengar perkataan ayahku dengan nada suaranya yang sedih bercampur dengan penyesalan.
"Ia,Saat ini keinginanku cuman satu. Melihat putriku sembuh."
Suara nasihat dan suara sedih ayahku. Membuat ku turun dari tempat tidur dan melihat siapa? Teman ayahku berbicara dengannya. Aku mengayunkan kaki kecilku yang lemah dengan perlahan sambil terseok-seok.Kaki kecilku yang begitu berat melangkah.Membuat aku memaksa tubuh mungilku untuk membantunya. Seketika aku berdiri manis dibalik pintu. Melihat kedepan pintu mendengarkan mereka berbicara dengan sedikit kepalaku melihat keluar. Ada seorang lelaki usianya sedikit lebih jauh dari ayahku yang berdiri didepan pintu dengan pakaian rapi. Seperti, habis melaksanakan ibadah sholat.Dia begitu bijak memberikan sebuah nasihat penyemangat untuk ayahku.Ayahku yang hampir separuh keyakinannya hilang akan kesembuhanku.Terlihat kembali bangkit.
Sementara aku yang polos dan belum mengerti sepenuhnya masalah yang dihadapi ayahku.Hanya bisa melihat dan diam.Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu ayahku.Apalagi untuk mengurangi beban didalam pikirannya.Sementara, hari ini beban diriku saja masih menjadi bebannya.
__ADS_1
Melihat kondisi ayahku yang semakin hari semakin memprihatinkan karena memikirkan keadaanku.Tak ada yang bisa kulakukan!
Dalam hitungan hari yang terus berlalu meninggalkan. Aku hanya bisa duduk termangu didalam kesendirianku.
Lelah ayahku bisa terbayar tuntas hanya dengan melihat kesembuhanku.Tidak ada yang begitu berharga baginya selain melihat diriku yang seperti dulu.Berjalan dengan gagah tanpa ada beban didalam diriku.Senyum ceria terukir diwajahku.Pelupuk mata yang bersinar membuat rasa lelahnya hilang seketika, dia kembali kerumah setelah bekerja.
Wajah manisku yang menjadi obat lelah baginya setelah seharian diluar mencari nafkah. Kini berbanding terbalik hanya, kesakitan dan beban yang berat. Ketika, dia melihat wajahku saat ini.
Dia tak banyak bicara. Tapi masih juga, suka mengatakan sesuatu hal yang penting bagiku.Namun,hari seakan sirna semuanya. Bagaikan ditelan bumi.Diamnya, yang selama ini menggambarkan kebijaksanaannya.Kini berubah menjadi diamnya orang bisu yang tidak tahu apa-apa.
Aku teronggok dengan lemas dan sedih. Melihat ayahku yang begitu besar perjuangannya untuk kesembuhanku.
Bertanya kesana kemari demi diriku.Hari-harinya, begitu kacau dan kusut seperti benang.Dia tidak lagi merasakan kapan? Dia bahagia dan sedih? Semua begitu terasa mati bagi dirinya. Tidak ada rasa sedih dan bahagia dalam hidupnya saat ini.
Begitu juga dengan diriku.Aku tidak tahu kapan? Terakhir kali aku tertawa. Yang ku tahu saat ini aku tidak lagi baik-baik saja!
__ADS_1
Bersambung.....