
"Kak, jangan melamun." Tegur adikku. Melihat.
"Ia." Sahutku. Mengangkat kepala.
Tidak berapa lama, kami duduk di dapur menikmati jajan yang di bawa oleh adikku, tiba-tiba aku mendengar panggilan ayah membuat gendang telinga mau pecah.
"Liyan!" Panggil ayahku dengan suara sedikit keras.
Jajan yang ingin aku makan seketika terhenti mendengar panggilan ayah, membuatku terperanjat dan beranjak menghampiri dengan langkah gagap.
Aku berjalan perlahan menunduk bersama tas yang tersandang di pundak.
"Ia Ayah." Jawabku pelan. Menunduk.
Ayahku duduk di kursi dengan sorot mata yang tajam. "Liyan." Panggil ayahku dengan suara datar. Menatap dengan tajam. "Kau belum mengganti pakaianmu!" Sungut ayahku dengan wajah yang tersulut amarah. "Sudah jam berapa ini!" Lanjut ayahku. Mendelik.
Spontan aku menarik tubuh mungil mundur ke belakang, bagaikan tersambar petir. Wajah polos yang pucat kini ketakutan dan memerah, butiran kristal pun jatuh berserakan membasahi baju dan lantai.
Adikku yang duduk menikmati jajan yang ia bawa, tersentak dan beranjak memutar badan.
"Ayah, sudah! Jangan marahi kakak." Pinta adikku. Berdiri. "Aku takut." Rengek adikku. Melihat.
"Ana, jangan menyela apa yang ingin Ayah sampaikan pada kakakmu!" Ucap ayahku. Mendelik. "Kakakmu sudah membuat cemas sepanjang hari ini!" Lanjut ayahku dengan kesal. "Bisa-bisanya dia pergi bermain dan sesore ini baru pulang." Rintih ayahku dengan wajah yang memerah. "Pergi diam-diam tanpa permisi, bahkan tidak permisi dengan mu." Tampik ayahku dengan menahan kekesalannya.
Melihatku dan adikku
Melihat wajah ayahku yang mengisi ruangan, membuat terdiam dan mematung hingga terlempar ke sudut. Adikku terdiam dan melepaskan jajan yang ada di tangannya seketika.
Aku begitu frustasi melihat wajah ayahku yang ketat dan memerah karena kesalahan terbesarku yang semakin menyeret tubuh mungil ini, hingga tak kuasa lagi untuk keluar dari lingkaran api yang menguasai ayahku seakan membakarku hari ini.
Sorot mata yang tajam membuatku ingin segera kabur jauh dari hadapan ayahku. Jemari tangan yang mengepal dengan kuat membuat kedua bola mata tertancap melihatnya sehingga membuatku sesak.
"Ayah maafkan Liyan." Pintaku dengan wajah memohon. Melihat ayahku dengan air mata yang menganak di pelupuk mata.
"Maaf kau bilang!" Sela ibu sambung kami. Keluar dari kamar. "Enak saja kau bilang maaf." Lanjutnya dengan sorot mata tajam. Berdiri.
Mendengar selaan dari ibu sambung kami membuatku semakin terpukul. Rasanya, saat ini aku bagaikan anak yang terintimidasi dalam tekanan besar. Kaki lemah kini semakin rapuh menginjak lantai yang mencoba menahan amarah. Jemari lemah yang terkulai di samping tubuh mungil melihat dengan sedih seakan ia menjerit karena ia tidak bisa mendekap dan menenangkan diriku.
"Dengan senang hatimu, pergi dan pulang jam segini, ya!" Pekik ayahku. Mendelik. "Siapa yang mengajakmu bermain ke sana, jawab?!" Pinta ayahku dengan sedikit keras. Menyelidik.
Aku meremas jemari dengan kuat. "Engga ada Ayah, Liyan sendiri yang mau ikut." Jawabku pelan dengan suara bergetar. Menangis.
Sementara adikku yang berdiri di sudut lemari pakaian, menutup bibir dengan rapat sambil melemparkan pandangan melihat sekeliling dan menunduk. Wajah terlihat begitu panik dan pilu. Ia ingin sekali menolong dari amarah ayahku tapi ia tidak mempunyai keberanian.
"Kau sendiri yang mau ikut!" Ungkap ayahku dengan sorot mata yang tajam. Mengerutkan kening. "Di mana rumah temanmu?" Tanya ayahku dengan menyelidik.
Sontak kedua bola mataku melebar mendengar pertanyaan ayahku yang penuh dengan menyelidik, membuat diriku semakin panik. "Liyan tidak tahu Ayah!" Jawabku pelan. Melirik ayahku dengan wajah ketakutan. "Liyan cum..." Seketika terhenti.
"Apa kau tidak tahu?" Tanya ibu sambungku. Memotong penjelasan dariku. Berdiri.
"Jadi, kau pergi ke rumah temanmu, alamatnya kau engga tahu!" Kata ayahku dengan penuh penekanan dengan tawa seakan ia mengejek. "Kalau sampai kau hilang, kayak mana?" Tanya ayahku kembali. Mendelik. "Siapa yang akan bertanggung jawab dan siapa nanti yang akan mencarimu?" Tanya ayahku dengan kesal. Mendengus.
"Kau itu suka sekali membuat orang susah!" Tandas ibu sambungku. Kesal.
Mendengar cengkeraman amarah ayah dan ibu sambungku membuat getir dan depresi. Suara pekikan yang keras kini terasa bagaikan dentuman peluru yang memporak porandakan semua tanpa tersisa.
"Liyan, mulai besok dan seterusnya kau tidak boleh lagi kemanapun, apalagi bermain dan bepergian jauh, sekalipun meminta izin." Kata ayahku dengan penuh penekanan. "Itu hukuman untuk mu!" Lanjut ayahku. Mendelik.
Sontak aku terperanjat mendengar teguran dari ayah yang membuatku seakan tidak percaya dan terkekang.
"Biar jangan terlalu panjang kakimu!" Lanjut ayahku sedikit meninggi dengan sorot mata tajam. "Mulai besok, kau harus pulang sekolah tepat waktu setelah itu jangan pergi keluar rumah!" Perintah ayahku. "Kalau sampai besok ayah pulang kau engga ada, kau akan tahu hukuman apa yang akan Ayah berikan untuk mu." Tuntut ayahku. Duduk mengangkat kepala tegak menatapku dengan sorot mata yang tajam.
Aku yang berdiri menyandar di dinding semakin rapuh, mendengar tuntutan yang di berikan oleh ayahku semakin membuatku terbelenggu.
"Biar tahu dulu kau, kayak mana rasanya hukuman itu enak atau tidak!" Rancau ibu sambungku. Melihatku dengan sorot mata tajam.
Rancauan ibu sambungku semakin membuatku semakin tersudut dan membeku, ruangan kosong yang hampa sekarang di penuhi oleh dentuman suara yang keras. Tubuh mungil yang lemah kini berteriak meminta pertolongan.
Secercah harapan dan kasih sayang yang kuharapkan kini tidak ada datang menghampiriku yang terpukul. Air mata kesedihan begitu menyapa dengan ramah. Naluri kekanakan yang polos kini terbungkus oleh dilema yang mengekang.
Matahari senja kini turun menyapaku mengintip dengan sendunya. Jam dinding yang berdenting semakin kencang berputar. Sakit yang menyelimuti tubuh mungil kini menangis menerima lemparan kata-kata yang menyayat hati, menutup rapat bibir kecil yang pucat, memukul kaki mundur tersudut ke dinding.
"Ayah jangan marahi lagi pada kakak!" Pinta adikku dengan wajah memohon. Menghampiri. "Kasihan kakak." Bisik adikku pelan di telinga ayahku. Melihat dengan lekat.
"Biarkan saja!" Tandas ibu sambungku. "Biar sekalian dia tahu." Berjalan.
__ADS_1
Sampai saat ini aku masih mematung, melihat adikku dan ibu sambungku berjalan meninggalkan diriku, memohon dengan tulus kepada ayahku sementara ibu sambungku pergi dengan melemparkan kata yang membuat hatiku pilu.
Keheningan dari ayahku seketika menyelimuti ruangan, mendengar permintaan adikku yang polos.
"Ana, kamu ngapain berdiri di situ." Kata ayahku melihat adikku.
"Ana tadi mau makan jajan sama kakak." Jawab adikku pelan. Menunduk dan melihatku.
Dada yang sesak masih menemaniku mematung dengan tungkai kaki yang lemah membuat tubuh mungil perlahan ketakutan sambil melirik ayahku yang duduk di kursi.
Mata Ayahku begitu tajam melihat sehingga membuatku menunduk dengan wajah yang dilema.
Aku pun teronggok menatap lurus dengan pandangan kosong. Suara tangis dan segugukan masih terdengar meskipun dengan pelan.
"Liyan, cepat sana ganti bajumu!" Perintah ayahku dengan tegas. Berdiri.
"Baik Ayah." Jawabku dengan pelan. Menunduk.
Sementara adikku yang tadi berdiri di samping ayahku kini berjalan menghampiriku. Wajahnya terlihat begitu sedih dengan langkah gontai dan tubuh yang lemas.
Ia menyeret kaki dan menyandarkan tubuh tepat di sebelahku. Ia begitu khawatir melihatku sehingga ia memberikan jajan yang ada di genggaman.
"Kak, makan dulu jajannya!" Pinta adikku dengan tulus. "Melihat jajan. "Setelah itu kakak mandi." Lanjutnya dengan lembut. Membuka jajan.
"Kakak mandi sebentar lagi." Ucapku pelan. Melihat adikku.
Adikku yang duduk di samping bersamaku diam menatap dengan sendu.
"Kakak mandi sekarang aja!" Seru adikku. Mengunyah.
Mendengar seruan adikku, aku diam melihat ke lantai dan melihat jajan.
"Kakak masih takut!" Rintihku. Melihat adikku dan melihat jajan yang aku mainkan dengan jemari.
"Kalau kakak, engga mandi nanti Ayah sama ibu kesayangan kakak marah lagi." Bisik adikku. Melihatku dan melemparkan pandangan ke sekeliling.
Tubuh mungil yang lemah menunduk seketika dengan separuh jiwa yang menghilang pergi. Tatapan kosong dan pikiran yang kalut, menemani hati yang pecah bagaikan beling.
Suara dan wajah ayah yang memerah karena amarah masih terlintas di dalam benakku. Suasana yang mencekam membuatku mengurungkan keinginan untuk beranjak.
Panas tubuh yang mengisi hari menambah kecemasan batinku.
"Ayah sama Ibu di mana?" Tanyaku dengan suara berat. Mengingat Ucapan yang di sampaikan oleh ibu sambungku tadi, bahwa ia bukanlah ibuku.
"Aku engga tahu Ibu tersayang kakak di mana!" Jawab adikku dengan ketus. Melihat dengan wajah masam. "Tapi kalau Ayah, tadi aku lihat pergi membawa timba." Sambung adikku. Mengumpulkan plastik jajanan.
Seketika aku mendongak melihat adikku yang berbicara dengan ketus. "Kenapa kau tahu Ayah membawa timba?" Tanyaku ingin tahu. Melihat adikku lekat.
" Aku melihatnya." Sambut adikku tegas. Menatap keluar dengan wajah datar .
Melihat adikku yang mulai jenuh, aku bangun dari duduk, berdiri dan berjalan dengan langkah gontai menatap lurus dengan pandangan kosong. Aku berjalan sambil melihat kaki yang melangkah ke kamar.
Perlahan aku memutar kepala melihat sudut dinding tempat aku tadi mengadukan kesedihan dengan miris. Hatiku begitu kembali perih dan kedua bola mata berkaca kembali.
" Liyan!"
Aku pun menghentikan langkah dan memutar badan ke belakang melihat suara yang memanggil. "Ia Ayah." Jawabku pelan. Melihat ayahku dengan wajah yang di selimuti ketakutan.
"Kenapa belum kau ganti pakaianmu?" Tanya ayahku dengan suara sedikit meninggi. Melihat dengan tajam. "Cepat ganti bajumu!" Perintah ayahku. Berdiri.
Mendengar perintahnya membuatku diam dan kembali membeku dengan tatapan menunduk dan melihat adikku sudah menghilang.
Sontak aku selalu di selimuti oleh keheranan ketika berada dengan adikku, tiba-tiba terlihat dan tiba-tiba menghilang, seperti hantu saja kataku di dalam hati tertawa geli.
"Jangan sampai, Ayah lihat kau masih memakai pakaian itu lagi!" Pekik ayahku. Menggantung handuk.
Aku yang segera masuk ke kamar, tiba-tiba terhenti kembali. "Liyan, kenapa kau masih memakai pakaian seragammu?" Tanya ibu sambungku. Mendelik. "Kan jadi susah nanti mencucinya kalau terlalu kotor." Keluh ibu sambungku. Berdiri dengan sorot mata yang tajam.
Seketika bola mata yang tadi terbuka dengan lebar kini mengecil seketika.
"Ia Bu, ini mau di ganti, kok." Ucapku pelan. Melihat lantai.
Dia pun pergi setelah puas melihatku tertekan. Ia memutar badan dan berjalan keluar, menyapu halaman. Suara sapu yang terdengar menyeret tanah seakan melampiaskan kemarahannya kepadaku.
Setelah Dia menghilang, aku kembali memutar badan melanjutkan kemabli langkah. Tirai kamar yang tergerai kini aku sibak dengan jemari lemah.
__ADS_1
"Liyan, hari ini kau mandi atau tidak?!" Tanya ibu sambungku ingin tahu. "Menyibak tirai dan melihatku dengan pias.
Aku tersentak dan takut, wajah pucatku kini kembali berubah menjadi cemas.
"Engga Bu." Jawabku dengan gemetar. Melihat.
"Kalau sampai ayahmu tahu, kau pasti di marahi." Bisik ibu sambungku dengan penuh penekanan. Mendelik.
Seketika jemari lemahku berhenti, kancing baju yang ingin aku lepas pun aku urungkan seketika.
Wajah pias ibu sambung yang melihat begitu mencekam sehingga membuat jantungku terhenti. Cengkeraman amarah begitu mencabik-cabik tubuh lemah dan membuat hatiku berdarah.
Butiran kristal kembali jatuh, kesedihan kembali menyelimuti dengan penuh. Spontan aku menunduk melihat lantai dengan air mata.
Setelah aku menangis, dia pun pergi meninggalkanku, menghilang dari balik tirai kamar.
"Ana, di mana kakakmu?" Tanya ayahku dari balik dinding kamar.
"Ana engga tahu." Jawab adikku.
Suara kaki terdengar mendekat menghampiri tirai kamarku, begitu adikku melihatku teronggok, ia pun memutar badannya kembali berjalan keluar.
"Ayah kakak di kamar." Kata adikku. Di balik dinding kamar. "Kenapa Ayah mencari kakak?" Tanya adikku kembali.
"Ayah takut kalau kakakmu pergi lagi." Jawab ayahku. Dari balik dinding kamar.
Seketika aku bangun dan beberes merapikan diriku yang pilu. Aku kembali melepas pakaian seragam sekolah dan mengganti dengan pakaian harian. Tas yang tadi masih menggantung di pundakku, kini aku lepas dan aku gantung di tempatnya.
Seketika tubuh mungil yang lemah tersentak dengan spontan, memutar badan melihat ke arah tirai.
"Kak di panggil Ayah." Seru adikku. Berdiri.
Tangan lemahku pun turun perlahan sambil melihat adikku dengan ketakutan yang masih membara. Perlahan aku berjalan mengikuti adikku dari belakang menghampiri ayahku.
"Liyan, mulai besok kau pergi dan pulang sekolah harus bersama dengan adikmu." Tuntut ayahku dengan tegas. "Jangan sampai Ayah lihat, kau pulang sekolah besok, kau pergi lagi!" Kata ayahku dengan penuh penekanan. Melihat dengan tajam.
Adikku berdiri di samping dengan wajah polos ia menjawab. "Ayah engga usah takut, kakak besok pasti pulang cepat." Ucap adikku. Melihatku.
Mendengar ucapan adikku ayahku langsung menutup mulut dengan wajah yang masih curiga.
"Ayah masih belum percaya, kalau kakakmu besok tidak bermain lagi." Kata ayahku dengan wajah yang menaruh kecurigaan. "Liyan, apa kau besok akan pergi lagi, seperti ini?!" Tanya ayahku kembali. Mendelik.
"Engga Ayah, Liyan janji engga akan pergi lagi." Jawabku dengan terbata. Berdiri.
"Kau ingat janjimu, kalau sampai besok kau pergi lagi, kau akan tahu hukuman yang akan Ayah berikan." Lanjut ayahku dengan penuh penekanan. Melihatku dengan sinis.
Mendengarnya aku semakin membeku seakan tumpukan es menimpa tubuhku dari atas.
.
.
.
Teman-teman terimakasih atas dukungannya, like, favorit dan komentarnya.🤗🙏
❤️❤️❤️
Bersambung.....
Sambil nunggu Author update, yuk, baca dulu novel punya teman author ! Di jamin nggak nyesel deh, setelah baca.
Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.
Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?
Yuk kawal kisah,
Rahasia pernikahan anak SMA 2 !
Ikutin terus kisah selanjutnya!!!
So be happy reading 🥰
__ADS_1