
"Kak, Ayah gak marah sama kita lagi?" tanya adikku.
"Kakak gak tau, Dik," jawabku.
Adikku lalu menunduk menikmati permainannya. Mainan yang di mainkannya hari ini sangat menyenangkan hati kami berdua.
"Kak, ayo kita potong -potong ini!" ajak adikku, menyerahkan batang -batang keladi yang kecil.
"Baiklah, Dik. Kakak akan ikut bermain samamu," kataku.
"Benar Kak," ucap adikku langsung senang.
"Iya, kita udah lama gak pernah bermain," balasku, memotong keladi-keladi kecil.
"Ini Kak," kata adikku menyerahkan beberapa mainan yang ingin di potong-potong kecil.
Sambil tersenyum aku mengambil mainan yang serupa dengan adikku. "Ana, kita masak ini aja dulu," saranku.
"Baiklah Kak," kata adikku.
Aku dan adikku sangat senang. Kebebasan yang diberikan oleh sang Ayah hari ini kami manfaatkan sebaik mungkin. Banyak hambatan yang sering kami lalui ketika sebentar saja ingin melangkah keluar bermain.
"Kak, kalau dulu kita kayak gini bermain pasti seru?!" singgung adikku.
"Kalau dulu kita bermain. Pasti ini gak di kasih kita duduk di sini?!" cetusku.
"Kak, tapi kalau kayak gini, aku jadi suka," ungkap adikku.
"Kenapa ?" tanyaku terheran, menghentikan mainan yang setengah mengayun di udara.
"Iya, karena udah gak ada lagi yang marahi kita, Kak," ucap adikku sendu. "Aku jadi takut kalau terus-terusan dimarahi," lanjutnya.
Sontak tanganku pun langsung terasa lemah memegang mainan. Adikku begitu lempang mengatakannya.
"Ana, kalau gak ada Ayah besok kita pasti gak bisa bermain kayak gini?!" ucapku, melihat adikku yang berputar mencari mainannya yang kurang.
"Kak, Ayah besok pasti ngasih kita lagi bermain?!" timpal adikku dengan yakin.
"Ayo Kak! Kita mainkan ini. Jangan sampai ada yang hilang ya, Kak!" harap adikku mengiba. "Kalau nanti hilang. Aku gak punya mainan lagi, Kak," lanjutnya pilu.
"Iya Dik. Kakak gak akan menghilangkannya," balasku. Duduk bersila manis bermain bersama adikku.
"Sekarang kita masak yang ini lagi, Kak," ucap adikku, menyerahkan setumpuk daun singkong.
Daun singkong membuatku menganga. "Ini untuk apa?" tanyaku bingung.
"Kak, itu untuk sayurannya," jawab adikku.
__ADS_1
Daun singkong yang diberikan adikku kepada ku. Aku putar secara jeli untuk melihat daun yang berwarna hijau itu.
"Ana, kalau Kakak minta. Boleh gak kita berhenti saja bermainnya," usulku.
Puk!
"Kakak!" Adikku langsung memukulku dengan ranting daun ubi yang kurus. "Kakak gak boleh pergi," cetusnya. "Kalau Kakak pergi. Aku akan nangis," rintih adikku.
Daun ubi yang dipukulkan adikku terhadapku berserakan ke sana kemari. "Ayah, Kakak gak mau ngawani aku bermain," rengeknya mengadu.
"Liyan, tolong temani Adikmu. Adikmu itu sangat cengeng," kata ayahku. Berdiri di depan pintu.
"Ayah!" panggil adikku dengan sebal. Memutar duduknya menghadap ke arah ayah kami yang sedang melihat kami bermain.
"Hahaha!" Tawaku terbahak melihat adikku yang malu. "Ayah, si Ana memang cengeng," ledekku.
Puk!
Dia pun memukulku dengan ranting daun singkong yang kurus. "Ayah, aku gak cengeng kok," balas adikku menolak kebenaran.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar lagi. Kalian itu cuma berdua. Jadi, harus bisa bermain dengan aku ya!" pinta ayahku berharap.
"Ayah, tapi Kakak suka ngejek aku," rajuk adikku, mengadu.
"Ana, lihat itu mainanmu udah rusak!" kataku menunjuk daun ubi singkong yang sudah berguguran.
"Siapa yang memukulkannya ?" tanyaku.
Huhuhu! Wajah sedih adikku langsung mengguncang jiwa ayahku yang tadi terlihat tenang. "Liyan! Kenapa Adikmu?" teriak ayahku bertanya.
Aku menggaruk kepala dan pening melihat adikku yang merengek. Sampai saat ini adikku belum juga ada berubah. Dia masih saja anak yang manja. Anak yang cerewet yang suka mengadu dan tidak boleh berbagi kasih sayang.
"Ayah, Kakak jahat! rajuk adikku, mengadu pada ayahku yang menjadi teman kami hari ini.
"Ayah, aku gak jahat, kok," kataku membela diri.
"Kalian kalau sudah bermain. Pasti berkelahi?! Kalian mau Ayah hukum lagi, ha?" tanya ayahku, menyeret kedua kaki duduk di atas bangku.
Sekian lama aku duduk sambil bermain dengannya. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat adikku menangis.
"Ayah, bukan aku yang duluan," keluhku mengadu.
Kedua bola mata adikku tetap terjaga melihat mainannya yang setengah rusak. "Ayah, mainanku rusak!" teriak adikku mengadu dengan raut mukanya yang manja bercampur cemberut.
"Lalu siapa yang duluan, Nak?" tanya ayahku sengaja mencari tahu kebenarannya.
Kedua alis adikku langsung bersatu dan berkerut. Tatapannya yang tajam tiada henti melihatku. "Ayah, aku gak mau kalau mainanku rusak," rengeknya. "Ini semua gara-gara Kakak," gerutunya.
__ADS_1
"Ayah, aku gak ada mengganggunya. Aku cuma bilang, kalau aku gak mau bermain lagi," ujarku, menatap nanar mainan adikku.
"Sudah Ayah kasih bermain. Tapi kalian selalu ribut! Kalian cuma berdua, Nak! Jadi, maunya Ayah kalian itu akur. Jangan terus bertengkar!" sesal ayahku.
"Ayah, kami gak bertengkar, kok," balasku.
Mainan adikku yang setengah terbengkalai kini dia rapikan agar ayah kami tidak menyuruh berhenti.
"Ana!" panggil ayahku.
Tangannya yang memegang mainan terhenti seketika. "Ada apa Ayah?" tanya adikku berlagak polos.
Sejenak aku langsung melirik ayahku yang memutar badan dan ingin meninggalkan kami.
"Kalian masih ingin bermain?" tanya ayahku.
"Masih, Yah," jawab adikku pelan.
Di balik ketegasan ayahku. Ternyata, dia masih mempunyai rasa kasihan terhadap adikku. "Kalau kalian masih mau bermain. Jadi, jangan ada Ayah dengar sepatah kata pun kalian bertengkar," ucapnya.
"Iya Ayah," balas adikku langsung.
Sorot mata ini terus saja tertuju pada ayahku yang sudah jengah melihat kami berdua. "Ayah kami gak akan bertengkar lagi," sambungku.
Akhirnya, setelah itu aku dan adikku kembali bermain dengan senang. Mainan yang terletak dihadapan kami. Kami mainkan seperti biasanya yaitu, bermain masak-masakkan dengan batang keladi dan daun singkong.
"Kak, daun singkongnya dipotong kayak gini, ya, Kak," usul adikku, meletakkan batang keladi dan memotongnya dengan dadu.
"Ana, kalau yang ini udah siap Kakak potongin, Dik," kataku, menunjukkan daun singkong yang kuiris kecil-kecil.
"Mm, Kalau gitu. Sekarang kita masak, Kak," saran adikku.
Daun ubi dan batang keladi yang kami potong. Kami taruh di atas piring mainan yang banyak dan kecil. "Kak, sudah siap!" cetus adikku.
"Iya Dik. Kakak juga udah siap, kok," ucapku, meletakkan mainan yang aku potong.
"Kalau kalian seperti ini. 'Kan enak dilihat," sambut ayahku, membersihkan rumah. "Jadi, Ayah mau kerja pun tidak was-was meninggalkan kalian," ucapnya dengan enteng.
Aku dan adikku langsung bertemu tatap setelah melihat wajah senang ayahku. "Ayah, kalau Ayah kerja. Kami janji, kami gak akan bertengkar," sahutku, melihat mainan yang kupegang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1