
Ayahku masih saja memegang lembaran foto itu. Dia begitu terpaku menatapnya. Foto istri yang telah lama meninggalkan dan telah lama di simpannya itu kembali membuka memorinya.
"Ayah, itu kenapa di simpan?" tanyaku penasaran mengikuti ayahku dari belakang.
"Ini harus Ayah simpan agar kelak kalian sesudah besar bisa melihat wajah Ibu kalian," kata ayahku menyimpan foto itu kembali ke dalam plastik.
Aku langsung tersipu mendengarnya. Ayahku mengikat plastik itu dengan kuat kembali. "Nak, foto ini tidak boleh hilang. Ini adalah peninggalan satu-satunya untuk kalian," kata ayahku menatapku lekat.
Mendengarnya pun aku seakan sedih. Wajah Ibu yang selam ini kami rindukan ternyata seperti itu. Aku terus mengingat wajah itu meski tidak begitu puas.
Wajah yang manis dan lembut itu telah menyentuh hati. Wajah lembutnya seakan menjadi penenang.
"Ayah, kenapa harus nunggu kami besar?" tanyaku mendadak ingin tahu. Berdiri tegak mengambil sapu yang terletak.
"Karena kalau sekarang, kalian masih kecil dan kalian belum mengerti kali," ungkap ayahku berdiri dengan wajah sedikit ketat.
Aku langsung mengambil sapu dan keluar dari kamarnya. Sapu itu telah aku letakan di balik pintu.
"Liyan, kalau kau ingin belajar jangan lupa, cari dulu adikmu! Dan suruh juga dia belajar," pinta ayahku menyeruku.
"Iya Ayah," jawabku.
Aku pun masuk ke dalam kamar untuk memeriksanya. Apa adikku ada atau tidak? Tas yang sudah kering pun aku ambil dan buku yang telah kering juga aku letakan di atas tempat tidur.
Aku langsung keluar memakai sandal mencari adikku. Sepanjang jalan yang aku lalui aku belum juga menemukannya.
"Apa kau melihat, Ana?" tanyaku pada anak yang tidak kukenal.
"Tidak, Kak," jawab mereka.
Aku kembali berjalan mencarinya. Selintas aku memerhatikan jalan yang aku lalui. Tiba-tiba aku teringat tentang Rahmadani. Aku langsung mengayun kaki menyambangi rumahnya. Tiba-tiba aku kembali berjalan pelan mengingat Widia adalah kakak sambungnya dari Rahmadani. Antara mau sama menolak aku berjalan di pikiran bercabang.
"Rahmadani!" teriakku keras memanggilnya di tengah jalan.
"Iya Kak. Kakak memanggilku?" tanya Rahmadani memutar badan melihatku sambil mengisap permen tangkai.
"Apa Ana ada bersamamu?" tanyaku ingin tahu.
"Gak Kak. Ana sudah lama tidak bermain dengan ku," terangnya memberitahu.
__ADS_1
Aku langsung terdiam menganga mendengarnya. Sudah lama aku berada di luar mencarinya. Jalan pun sudah banyak kulalui hanya untuk mengajaknya pulang.
Tapi lagi-lagi aku menggenggam tangan kosong. Sampai saat ini aku belum juga menemukannya. Seluruh gang rumah telah aku datangi satu per satu. Bahkan rumah anak-anak yang tidak aku kenal pun aku datangi. Satu rumah pun tidak luput dariku, bahkan terlewat.
Suara teriak anak-anak yang bermain aku perhatikan satu per satu. Pendengaran dan penglihatan kutajamkan untuk memerhatikannya.
"Kak, si Ana tidak ada," sahut salah seorang anak yang sudah mengetahuiku kalau aku selalu mencari adikku.
"Iya terimakasih," jawabku berteriak dari jauh di bawah sinar matahari yang terik dan menyilaukan pandang ini.
"Sebaiknya Kakak pulang saja. Sebelum hujan ," kata mereka.
Aku yang mendengarnya pun lekas mengayun kaki kembali ke rumah. Perasaanku tidak enak ketika melihat dinding rumah kami. Selintas wajah adikku mengusik siang ini.
Pintu rumah pun telah terbuka lebar. Aku semakin penasaran bercampur tanda tanya. Berdiri melihat ke bawah tepatnya di bawah pintu. Aku tercengang ketika aku melihat ada sandal anak perempuan terletak.
Sekejap aku mengingat kalau tadi tidak ada satu pun sandal jepit yang terletak. Ini pasti sandal adikku, pikirku.
Bergegas aku menolak pintu dengan tangan kiriku sambil mengayunkan kaki sebelah kanan mengintip dari luar.
"Liyan!" panggil ibu sambungku seakan dia dapat merasakan kalau itu adalah aku.
"Dari mana saja kau? Rumah yang kau sapu pun tidak bersih," katanya memekik.
Aku sontak kaget mendengarnya. Aku seperti mimpi.
"Coba lihat itu di dapur! Di depan ini. Semua berpasir. Aku risih menginjaknya," tandasnya. Mendelik.
Ingin tahu bercampur penasaran aku masuk dan melihatnya. Terperanjat ternyata yang dikatakan oleh ibu sambungku itu adalah benar. Heran bercampur tidak percaya aku semakin dalam menatapnya.
"Ini kau bilang bersih!" katanya dengan keras menunjuk lantai.
Aku tidak berani untuk mengatakan apa pun. Lantai yang tadi telah bersih entah, kenapa bisa kembali kotor? Kondisi ini semakin menyelimuti ke rasa was-wasanku yang mendalam.
Ini seperti mimpi lantai yang sudah bersih kini tiba-tiba berpasir. Pemandangan ini begitu mencengangkan.
"Kenapa kau tidak bisa bersih, ha? Kalau kau mau bermain. Rumah ini seharusnya kau sapu dulu bersih. Jangan main pergi-pergi aja!" pekiknya dengan meninggi sambil menghempaskan sapu. "Cepat sapu itu! Jangan berdiri saja kau di situ! Lama -lama aku muak melihatmu!" serangnya dengan cecaran yang mengalirkan air mata.
Sedih bercampur takut aku menunduk mengambil sapu yang terlempar ke lantai.
__ADS_1
Tangan bersama air mata yang menetes menemani sapuan hari ini.
"Sapu sampai bersih! Jangan ada sedikit pun pasir terinjakku," pekiknya meninggi.
Teriakan pekikan itu masuk menembus ruangan kosong begitu saja. Aku berjalan menyeret sapu sambil menyimak yang dikatakannya dari jauh.
"Sapu dari sana!" perintahnya menunjuk sudut balik pintu. Dia yang berdiri di pintu tengah mengawasiku dengan ketat. Aku merasa sangat gugup ketika aku melihatnya dari ekor mata.
Dia semakin ketat mengawasiku. Setiap sapuanku dia meliriknya dengan tajam.
Sekarang aku belum jadi belajar. Sepulang dari luar mencari adikku. Aku langsung mendapat serangan tajam dari sosok seorang ibu pengganti.
Serangan itu sangat menghambat jadwalku mau belajar. Setengah lantai pun telah bersih aku sapu. Tidak ada satu pun yang tersisa.
"Itu lagi. Sapu dari bawah kolong meja, cepat!" teriaknya semakin keras menyerang.
Aku kembali mundur ke belakang menyeret kaki dan sapu melihat kolong meja yang dikatakan olehnya.
"Jangan berhenti kau, sebelum siap!" katanya dengan gamblang.
Aku pun terus menyapunya berulang kali. Melihat setiap sudut yang terlihat.
"Tidak boleh makan, kalau belum siap!" tandasnya dengan sangat kejam.
Aku semakin menangis di dalam hati. Aku yang masih kecil harus menghadapi ini semua. Anak kecil yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian ini malah mendapat serangan kata-kata tajam yang mengancam keceriaan sebagai seorang anak.
Kesempatan untuk bermain dan belajar pun seketika hilang hanya pekerjaan rumah dan jeritan serta ucapan kasar bercampur pedas yang lebih sering menyapa.
"Pelan-pelan menyapunya, jangan buru-buru! Nanti kau tidak dapat makan kalau itu masih Kotor," tandasnya. "Hati-hati awas itu pecah! Itu mahal. Uang jajanmu tidak bisa menggantinya," katanya mengejek dengan hinaan.
"Mau apa mu, kau jual? Sepatu lusuhmu itu!" sindirnya dengan pedas.
Aku terdiam teringat ibu yang tadi kutemui. Seandainya dia masih ada aku mungkin sudah mendapatkan kasih sayangnya.
.
.
.
__ADS_1