Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Selesai bermain


__ADS_3

"Iya Bu," jawabku. Aku masih saja lekat melihat ayah dan adikku bermain.


"Baguslah," balasnya.


Dari jauh aku melihat adik dan ayahku sudah selesai dan mereka pun terlihat berjalan menuju tempat aku dan ibu sambungku. Di mana tempat kami sedang duduk meregangkan otot -otot yang tegang dan juga teruntuk diriku yang menenangkan diri dari trauma ringan yang baru saja terjadi.


"Ayah, pasirnya banyak kali dan juga airnya dingin," ucap adikku senang dengan nada suara sedikit keras terdengar sampai ke telingaku.


"Tapi kau sangat susah untuk diajak naik," terang ayahku. Membuka tas dan mengambil baju.


"Sekarang cepat ganti baju kalian. Nanti kita terlambat pulang," pinta ibu sambung kami. Membuka rantang.


Ayah dan adikku pun kemudian pergi membawa baju bersih untuk berganti. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Aku sangat kagum melihat ayah yang begitu kuat menjadi orang tua yang terbaik untuk kami.


"Liyan, ini piringmu dan ini nasinya. Makan dulu! Jangan melihati ayah dan adikmu saja," ucap ibu sambungku sambil melirik. Meletakkan piring di hadapanku.


"Iya Bu," jawabku seketika memalingkan pandangan dari mereka berdua. Mengambil piring yang terletak.


"Ini adalah lauk kesukaanmu, ayam goreng," katanya menaruh sepotong ayam ke dalam piring.


"Dimakan. Jangan di buang!" ucapnya. Bangun dan berdiri membawa air untuk mencuci tangan.


"Terimakasih Bu," jawabku sedikit berteriak keras. Menaikan kepala melihat ibu sambung yang berjalan.


Aku juga tidak lupa melakukan, seperti yang dilakukan oleh ibu sambungku juga yaitu, membawa botol minum milikku dan mencuci tangan.


"Cuci tanganmu yang bersih! Kau Anaknya terlalu sensitif. Mudah sakit," ungkapnya. Melirik dan berlalu meninggalkan aku lebih dulu.


"Iya Bu," balasku langsung. Mencuci tangan sesuai saran darinya.


Aku pun membuka botol minum dengan pelan dan kemudian mencuci kedua tangan hingga bersih.


"Ayah, bajunya cantik sekali," kata adikku dengan senang memuji baju yang dia pakai. Aku mendengarnya dari belakang punggungku.


Ayahku sangat senang mendengar adikku memuji baju yang dibelikannya untuk adikku. Aku yang memutar badan melihat mereka berdua bercerita sambil berjalan, ikut bahagia juga.


Ayahku tersenyum sumringah bahagia mendengar adikku yang masih kecil sudah pandai memuji.


"Ayah, aku jadi suka memakainya," ucap adikku .


"Kenapa Nak!?" tanya ayahku penasaran.

__ADS_1


"Karena aku sudah lama tidak pakai baju baru," tandas adikku.


Deg!


Ayahku sedikit diam menatap nanar melihat lurus . Dia seakan sedih mendengar kejujuran dari mulut adikku. Aku yang masih melihat mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat di mana aku mencuci tangan.


"Liyan, tanganmu sudah bersih ?" tanya ibu sambungku yang sedang menikmati makanannya.


"Sudah Bu," jawabku langsung. Meletakkan botol minum di atas tikar tepat di dekatku. Melirik ayahku yang sendu.


"Sekarang makan nasimu. Pasti kau kelaparan 'kan?" tanya ibu sambung yang menjadi temanku saat ini untuk menikmati makanan yang sedap.


"Ayah, aku lapar," kata adikku. Menaikkan kepala melihat ayahku, di ikuti oleh tangan sebelah kanannya memegang tangan sebelah kanan ayahku.


"Jangan takut, Nak. Habis ini kita akan makan," ucap ayahku. Tersimpul manis melihat kebahagiaan adikku.


Ayah dan adikku yang berjalan terus saja aku lihat sambil menyuap nasi ke dalam mulut sesuap demi sesuap. Apa yang mereka bicarakan terdengar jelas ke telingaku. Meski sedikit samar bercampur angin. Aku kembali menunduk melihat nasi yang telah dihidangkan oleh ibu sambungku dan menikmati ayam goreng dan nasi dengan lahap.


"Waaah! Ayah ada ayam goreng," kata adikku dengan senang. Menjatuhkan tubuh kecilnya duduk di atas tikar.


Aku yang menikmati makananku refleks menaikkan pandangan sedikit melirik adikku. Nasi yang terletak di hadapanku pun aku kunyah perlahan di dalam mulut.


"Ini khusus Ayah masak untukmu dan untuk Kakakmu," balas ayahku dengan datar. Mengambil piring dan menaruh nasi serta ayam goreng ke dalam piring.


"Segini cukup Nak?" tanya ayahku . Melayangkan piring ke hadapan adikku.


"Cukup Ayah," balas adikku dengan senang. Duduk dengan rapi di samping ayah yang paling menyayanginya.


"Jangan di buang, ya !" larang ibu sambung kami menegaskan.


Adikku sama sekali tidak menghiraukan ucapan ibu sambung yang terduduk tepat di hadapan kami.


"Ayah, coba lihat ini! Ini apanya Ayah?" tanya adikku. "Kenapa dagingnya banyak, Yah," ucap adikku mengayunkan sepotong ayam goreng ke udara melihat-lihatnya dengan teliti. "Daging semua Ayah tidak ada tulangnya," lanjutnya terheran.


"Itu dadanya, Nak," jawab ayahku. Melihat adikku dan memakan nasi yang telah diambil ayahku.


Aku yang tadi melihat adik dan ayahku seketika menjatuhkan tatapan ke bawah melihat nasi yang setengah lagi di dalam piring.


"Selalu Anakmu itu saja yang kau perhatikan," gerutu ibu sambung kami. Meletakkan cuci tangan ke hadapan ayahku.


Raut wajah ayahku seketika berubah menjadi pias. Dia terus melayani adikku yang manja dan cerewet.

__ADS_1


Liburan yang telah lama di rencanakan oleh ayahku sekarang akan berakhir. Kami telah selesai berlibur.


"Cepat susun semuanya!" pinta ibu sambung kami menyuruh kami segera bergegas. "Yang itu Liyan jangan di situ! Tapi di sini!" terang ibu sambungku menjelaskan sambil mengajari kami bagaimana cara menyusunnya.


"Perhatikan satu-satu. Sudah masuk atau belum semuanya ke dalam tas," sambung ayahku yang memerhatikan kami menyusunnya.


"Yang ini di mana Ayah ?" tanya adikku berkemas. Memasukkan pakaian kotornya ke dalam plastik.


"Ayah kalau yang ini?" tanyaku. Menganyunkan lap tangan ke udara sebagai isyarat menunjukkan pada ayahku.


"Taruh saja di dalam plastik yang satunya lagi," pinta ibu sambung kami langsung. Menyusun semua rantang dan mengancing tas yang terletak di atas tikar.


Kami pun masing-masing bersibuk menyusun semua alat -alat perlengkapan piknik.


"Liyan, hati-hati menaruhnya di atas becak," kata ayahku. Menggulung tikar. "Jangan letakkan sembarangan nanti jatuh dan semua jadi jorok," tandas ayahku dengan tegas.


Kami semua pun bergotong royong menyusun semuanya hingga tidak ada satu pun tertinggal. Tas yang di taruh di atas becak pun sudah teronggok dengan rapi. Tikar yang di gulung ayahku pun tidak lupa dia susun di atas bak becak tepatnya di atas tenda. Rantang pun aku taruh tepat di samping tas. Begitu juga pakaian kotor di letakkan adikku juga di atas tenda tepat sebelah tikar.


"Ayah baju kotornya aku taruh di sini, ya!" ucap adikku meminta izin.


"Iya Nak. Hati-hati awas jatuh!" teriak ayahku mengingatkan.


Ayahku pun telah lega. Akhirnya, semuanya telah selesai dengan lancar. Ibu sambung kami yang tadi tidak suka dengan rencananya kini sedikit tersenyum tipis karena sedikit banyak dia juga senang menikmati perjalanan piknik yang sederhana ini.


"Bagaimana? Kita bisa pulang sekarang?" tanya ayahku. Melihat kami satu per satu.


"Bisa. Lagi pula untuk apa lagi lama-lama di sini," jawab ibu sambung kami yang telah bersiap menenteng hand bagnya .


"Liyan, Ana. Barang -barang kalian tidak ada lagi yang tertinggal 'kan?" tanya ayahku. Memeriksa sekeliling.


"Tidak ayah," jawab kami.


"Kita pulang langsung ?" tanya ibu sambungku kepada ayahku. Berdiri melihat aku dan adikku.


"Iya, ini sudah hampir mau sore. Aku takut kalau nanti kita kemalaman dan tiba-tiba hujan," jawab ayahku. Mengeluarkan becak dari tempat parkiran.


Aku dan adikku yang berjalan meninggalkan mereka. Berdiri menunggu di luar parkir menatap mereka berdua dari jauh yang bersitegang sedikit.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2