Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Perjalanan


__ADS_3

Keinginan Ayahku pun berjalan sesuai rencana. Di pagi hari yang sibuk dengan hiruk pikuk kendaraan yang lulu lalang. Dia bergegas secepat mungkin untuk mempersiapkan segala keperluan berobatku.


Aku yang berada didalam kamar. Mendengar ayahku berbicara kepada Ibu sambungku dan juga adikku. Adikku yang hari-harinya pergi sekolah selalu di antar oleh ayahku. Kini dia harus pergi seorang diri.Terkadang dia pergi tanpa sarapan. Adikku yang manja selalu membuat ayahku terkadang kesal di pagi hari. Mulai dari bangun tidur,Menyiapkan perlengkapan sekolahnya dan sampai dengan sarapan pagi. Dia selalu membuat ayahku kewalahan. Hari ini,sifat manjanya yang begitu over terpaksa dia hilangkan meskipun, dalam keadaan terpaksa.


Aku yang lemah pada saat ini mendengar adikku dan ayahku sedikit berdebat.Diruang tamu tempat kami berkumpul dan tempatku juga mengaji. Mereka berdua ribut dengan keinginan mereka masing-masing. Dengan keadaan yang tidak berdaya aku hanya bisa mendengar.


"Ayah! Hari ini apakah aku tidak diantar kesekolah?"


"Tidak,nak! Untuk sekali ini, kamu berangkat kesekolah sendiri ya,nak! Ayah mau membawa kakakmu berobat.Karena Ayah tidak bisa bekerja dengan tenang kalau kakak kamu masih seperti ini."


"Tapi,Ayah sekolah aku kan jauh." Bagaimana aku bisa pergi!" Dari dalam kamar aku mendengar suara adikku yang terus merayu ayahku dengan rengekannya yang tiada henti.


" Ayah, bisa -bisa aku nanti terlambat!"


"Nak,kamu tidak akan terlambat percaya sama Ayah. Kamu itu harus cepat bergegas dan sarapan!" Ayahku terus berkata dengan tegas kepada adikku. Dia tidak mendengarkan sepatah katapun apa yang disampaikan oleh adikku tentang keluhannya. Bagi Ayahku, aku adalah perioritas utamanya hari ini. Kesembuhan aku adalah mimpi terbesar bagi ayahku.Tidak ada yang lebih berharga baginya saat ini selain melihat aku sembuh.


"Tapi, Ayah! Aku pergi naik apa?"


"Nak,kamu hari ini pergi kesekolah berjalan kaki dulu, ya! Ayah harus buru-buru karena masih banyak lagi yang harus Ayah kerjakan mengertilah nak, sedikit!"


Seketika keduanya pun hening.Tidak ada suara yang terdengar baik dari ayah maupun adikku.Hanya suara secarik kertas yang terdengar olehku. Suara adikku kini tidak lagi terdengar. Dengan antusias aku beranjak dari tempat tidur melihat adikku yang tidak lagi bersuara.

__ADS_1


Jam dinding pun berdenting dengan putaran yang maksimal bagus.Hari pun sudah berlalu mengikuti perpindahan jarum jam. Mata sembabku kini terlihat dari pantulan cermin yang berada diantara tubuhku yang lagi berdiri.


Wajahku yang pucat tetap melihat ayahku yang lagi bersiap-siap untuk membawaku berobat.


Ibu sambungku yang berada didekat ayahku kini tidak terlihat olehku. Ayahku kini seorang diri teronggok duduk dilantai. Wajah yang berat menanggung beban terlihat seperti menunggu seseorang.


Aku pun melihat ayahku dan ingin menghampirinya. Namun,aku mengurungkan niatku seketika.


Aku yang tidak berani menghampiri ayahku,pun mulai beranjak naik ketempat tidur. Aku mulai mengukir khayalanku. Rasanya aku ingin sekali menjadi anak yang sehat dan baik-baik saja. Anak yang tertawa dan bersekolah tanpa ada penghalang sedikitpun.


Aku melemparkan tatapanku ke dinding kamarku yang kosong. Seketika itu aku juga tersentak mendengar suara seorang wanita yang bicara kepada ayahku yang tidak lain adalah Ibu sambungku.


"Bagaimana? Apakah hari ini kita jadi membawa Liyan berobat? Aku mendengar suara wanita itu berkata kepada ayahku.


"Ia, jadi. Kita akan pergi sekarang, ayo! Kata Ayahku kepada dia.


Seketika aku pun memutar seluruh badanku dan bersembunyi dibalik pintu kamar. Dengan diam mematung aku membayangkan tentang berobat. Apakah? Seram,menakutkan ataukah bagaimana? Pikiranku pun mulai kusut dan ketakutan menyelimuti keberanianku.


"Kemana Liyan mau kita bawa berobat hari ini?" Tanya Ibu sambungku kepada ayahku yang sudah sampai didepan pintu kamarku.


"Kerumah sakit!" Kata Ayahku yang begitu jelas terdengar oleh telingaku.

__ADS_1


"Liyan!" Ayahku memanggil namaku. Aku yang masih diam mematung dibalik pintu kamar. Sontak keluar menghampiri ayahku yang telah berdiri didepan pintu kamar.


"Ia,Ayah!" Ayo! Nak kita akan pergi berobat hari ini, mari kesini bersiap-siaplah!


Ayahku pun menggenggam tanganku keluar dari kamar. Sementara Ibu sambungku terlihat sudah begitu rapi.


"Mari kesini Liyan! Biar ibu pakaikan bajumu."


Wanita itupun meraih tanganku dari genggaman ayahku.Dia pun memakaikan pakaian yang bagus. Sentuhan tangan lembutnya membuatku merasa dia seakan adalah Ibu kandungku. Kasih sayangnya yang dia berikan begitu hangat.Tubuh mungilku pun kini diam ketika dia memakaikan pakaianku.


Tubuhku yang lemah hanya pasrah mengikuti kemanapun aku akan dibawa pergi.Tidak ada satu katapun bantahan yang terdengar dari mulut kecilku. Hanya kedua mata yang redup yang masih menyala dengan melihat lurus.


Kini tubuhku hanya bisa mengikuti perintah. Rasa sakitku yang disampaikan melalui otak kecilku. Ayahku yang sudah bersiap menunggu kedatanganku diluar. Kami pun kini pergi dengan becak dayung yang kami, naiki.


Angin yang berhembus menusuk tubuhku membuatku sedikit lengah.Pikiranku pun mulai terbawa suasana angin yang sejuk menusuk tubuhku. Saraf-saraf ketegangan yang menancap di kepalaku kini seakan menghilang. Ketakutan yang memuncak yang tadi kurasakan kini tidak ada lagi. Seketika aku melepaskan semuanya dengan berlalu.Wajah ayahku yang berada di atas kemudi. Aku melihat begitu tenang. Masalah yang begitu berat diwajahnya kini menghilang dengan rona ketenangan. Begitulah yang terlihat olehku. Seandainya saja masalah bisa diselesaikan dengan hembusan angin. Mungkin aku akan senantiasa berada ditengah tebaran angin yang berhembus.


Ayahku yang kini mengayuh becak dayungnya mulai kelelahan. Keringat yang terus bercucuran di pelipisnya menggambarkan lelah yang tiada henti. Aku yang duduk tepat disamping dia pun, menatap lirih ayahku yang sudah mulai menua.


Sementara Ibu sambungku yang duduk didekat aku. Terlihat santai dan tidak ada beban diwajahnya. Sepanjang kami berada didalam becak. kami hanya diam dan tidak bersuara. Masing-masing terlarut dalam khayalannya sendiri. Udara hampa yang kosong menemani perjalanan kami menuju rumah sakit. Ayahku yang semangatnya begitu terlihat marak. Ingin sekali rasanya dia melihat kesembuhan ku. Semakin bersemangat.


Sesekali dia berkata kalau kesembuhan ku harus segera dilihatnya. Aku yang terus duduk bersandar melihat di sekeliling ruas jalan. Ada banyak anak-anak yang terlihat olehku memakai pakaian seragam sekolah. Pikiran ku pun, hanyut seakan aku berada disekolah bersama temanku dan belajar. Rasanya aku tidak ingin bangun dari tidurku yang membawa ku kesekolah.

__ADS_1


Tubuhku pun terasa terhenti seketika. Khayalan ku pun pergi terbang ntah, kemana? Mata kecilku pun berputar mencari-cari seperti ada yang telah pergi meninggalkan aku. Hilang tidak terlihat. Sadar ku pun semakin lama semakin kubuka lebar. Kedua bola mataku yang kecil kini kubuka selebar mungkin. Sadar ku yang telah membawaku ke alam nyata. Dimana aku harus berjuang untuk sembuh dari sakitku. Langkah kaki ayahku telah membawaku berada ditempat yang semestinya.


Bersambung.....


__ADS_2