Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kegiatan sore hari


__ADS_3

"Ana, meskipun kau Anak yang paling kecil, tapi kau harus bersikap layaknya, seperti Kakak." Aku melihat adikku yang berdiri.


Adikku kini tidak lagi menjawab perkataanku. Dia hanya melihatku dan diam. Dia semakin terlihat gerah setelah mendengar ucapanku.


"Kak, jangan bersuara lagi," pinta adikku menyuruhku diam.


Seketika wajahku langsung tertekuk. "Dik, kalau begitu sekarang Kakak mau mandi dulu, ya!" Aku melihat adikku yang melihat ke arah yang lain.


"Iya Kak ," jawabnya dengan acuh. "Oh, iya Kak! Airnya lumayan dingin, loh." Adikku langsung mengatakannya. "Aku takut kalau Kakak nanti menggigil," tutur adikku.


"Akan Kakak coba!" Aku pun melihat adikku dan menutup pintu kamar mandi. Lalu aku mulai menyentuh air yang terletak di atas ember yang lebar. Air itu langsung kutatap dengan mata yang lebar. Air yang tenang itu menyepak wajahku yang pucat.


"Oh-ho!" Aku pun seketika mengangkat tanganku langsung dari dalam ember.


Betapa terkejutnya diriku saat mengetahui air itu dingin sekali.


Jeglek!


Aku pun keluar langsung membuka pintu. "Ana, ternyata airnya bukan cuman dingin," kataku pada adikku.


"Lalu?" tanya adikku.


"Tapi dingin sekali," jawabku melihat adikku yang tergelak.


"Hahaha! Kak, 'kan, sudah kubilang airnya dingin. Tapi Kakak malah tidak percaya !" ucap adikku. "Jadi, sekarang Kakak mau mandi, nih?" Adikku bertanya melihatku.


"Tidak," jawabku menggeleng pelan sedikit malu. "Besok pagi saja." Aku lalu menunduk sambil melirik kamar mandi.


"Hihihi!" Adikku tertawa geli. "Kakak sudah berapa hari tidak mandi," sindir adikku sambil mengerjitkan kedua matanya agar aku tidak memarahinya.


Aku pun terdiam mendengarnya dan menaikkan pandanganku. "Baru tiga hari," kataku jujur dengan malu.


"Selama ini, Kakak belum bisa mandi, seperti Anak yang normal." Adikku menatap sendu diriku yang malang.


Aku pun hanya bisa diam melihat ke bawah dengan kedua bola mata mencari-cari kebenaran dari dalam diriku. Adikku pun langsung bergerak ke kamar mandi. "Kak, aku bawa sabun dan handuknya, ya? Kakak tidak jadi, mandi 'kan?" tanyanya.


"Engga, Dik," jawabku dengan malu.


"Ooo, bera... ." Adikku terdiam.


"Tunggu! Tapi Kakak mau cuci muka dulu." Aku menoleh ke arah adikku yang melangkah ingin masuk.


Sontak kakinya sebelah kiri pun terhenti ingin melangkah. "Apa Kakak mau memakai sabun?" Adikku menoleh ke belakang bertanya padaku.


"Iya," jawabku.


"Kalau begitu masuklah, Kak." Adikku pun memutar badan dan melangkah kembali ke belakang. "Kakak, kalau mau mencuci muka cepatan dikit. Nanti udaranya semakin dingin." Adikku berdiri di bawah pohon yang tumbuh di dekat sumur.

__ADS_1


"Iya, Kakak tahu," balasku langsung masuk.


Air yang terlihat menatapku dengan lekat masih terdiam di dalam ember yang lebar. Perlahan-lahan aku pun mulai membasuh mukaku hingga bersih dan tidak lupa juga aku membasuh kedua tangan dan kakiku. Layaknya, seperti orang yang sedang berwudhu.


Sabun yang terletak tidak jauh dari ember itu pun aku ambil dan lalu aku usapkan di wajah yang pucat ini. Tidak lupa aku juga menyikat gigi ini sampai bersih.


Pok! Pok! Pok!


Aku yang sedang asyik menyikat gigi seketika terhenti karena mendengar adikku memukul kakinya. "Ana, kenapa ?" tanyaku sambil menahan sikat gigi di dalam mulut.


"Banyak nyamuk Kak," jerit adikku sambil memukul kakinya berulang kali silih berganti. "Kakak masih lama, tidak?" tanya adikku yang masih saja memukul nyamuk.


"Sebentar lagi," jawabku sambil berkumur-kumur.


"Kakak lagi ngapain rupanya ?" tanya adikku ingin tahu.


"Lagi menyimpan sikat gigi dan sabun," jawabku langsung keluar.


Jeglek !


"Ayo kita pulang." Aku berjalan menghampiri adikku sambil membawa handuk dan tempat sabun.


"Di sini banyak sekali nyamuknya, Kak," rintih adikku sambil mengelus kakinya yang gatal. "Di dalam tidak ada nyamuk, ya, Kak ?" tanya adikku di tengah perjalanan menatapku. "Mari Kak, sabunnya aku aja yang bawa." Adikku mengambil dari tanganku.


"Engga ada," jawabku. Berjalan sambil memberikan sabun pada adikku.


"Kan, di dalam ada air," jawabku sambil meletakkan tempat sabun.


"Walaupun ada air, Kak. Nyamuk pasti ada?!" kata adikku sambil menjemur handuk.


"Ya, nyamuknya Kakak siram lah dengan air," sambungku. "Push! Nyamuknya langsung pergi deh!" lanjutku memperagakannya dengan gerakan tangan dan suara mulutku.


"Eyalah!" Adikku langsung jengah dan meninggalkanku sendiri.


"Ana, tunggu! Jangan tinggalkan Kakak." Aku berlari mengejar adikku.


Brugh!


Aku pun menabrak adikku yang berjalan hingga terjungkal ke depan. "Kakak !" teriak adikku. "Aku hampir saja mau terjatuh ke depan," celetuk adikku.


"Siapa yang mau terjatuh?" tanya ibu sambungku melangkah masuk.


"Kak, jawab wanita itu!" Adikku spontan menyuruhku.


"Sstttt! Ana, jangan ngomong begitu! Tidak baik tahu. Itu orang tua. Ingat kata Ayah!" Aku berhenti melangkah dan menegur adikku.


Adikku langsung menunduk menutup bibirnya dengan rapat. Maaf, Kak!" pinta adikku yang tidak berani menatapku.

__ADS_1


"Liyan, siapa tadi yang mau terjatuh Ibu dengar?" tanya Ibu sambungku berhenti sambil menatap kami yang berhenti berjalan juga.


"Si Ana, Bu," jawabku.


"Kenapa dia bisa terjatuh?" tanya ibu sambungku selanjutnya.


"Tadi Waktu Ana berjalan..., aku mengejarnya, Bu," ungkapku dengan sedikit khawatir.


"Kenapa pula kau berlari?" Ibu sambungku memutar badan kembali melangkah.


"... , tidak ada apa-apa, Bu," jawabku sedikit berpikir. Aku pun melihat punggung belakang ibu sambung kami yang sudah membelakangi kami.


Ibu sambung kami yang membelakangi kami terdengar sedikit mengomel. "Ini semuanya sudah rapi dan bersih." Ibu sambungku seakan menunjuk sendok makan yang telah dia gantungkan di dinding.


Aku dan adikku diam dan saling menatap. Adikku yang menatapku seakan mengatakan padaku dari sorot matanya, kalau ibu sambung kami sudah mengetahui bahwa selama ini sendoknya di buat bermain oleh adikku.


Seketika aku pun menutup mulut ini dengan rapat. Melihat adikku dan juga melihat ibu sambung kami yang mengomel. "Setiap hari sendok hilang. Tidak pernah, tidak hilang. Ada saja caranya agar sendok ini hilang," gerutu ibu sambung kami. Menutup pintu dapur.


Refleks aku dan adikku menaikkan alis kami sebagai isyarat untuk berjalan saja masuk ke dalam kamar.


Entah kenapa? Mata yang bening ini melihat keluar dari jendela yang belum terkunci. "Ana hari sudah mulai malam." Aku menatap langit. "Tapi, kenapa bonekamu masih terletak di atas tempat tidur ?" Aku bertanya menatap adikku yang tidak peduli.


Tatapannya pun langsung mengarah kepada ku. "Kak, dia 'kan tidak menyeraki tempat tidur," tutur adikku dengan lembut.


Aku pun seketika terdiam menerima jawaban adikku. Kedua mataku langsung memutar ke arah tempat tidur yang terpasang kokoh tanpa tilam itu. Pikirku pun melayang mengingat selimut yang tadi aku lipat dan alas tikar yang sering kami pakai untuk tidur telah tertata dengan rapi. Bantal pun telah aku letakkan kembali, seperti yang tadi dan aku pun memutar badan berjalan ke belakang.


"Dik, Kakak keluar sebentar, ya!" kataku membuka tirai.


"Kakak mau ke mana?" tanya adikku.


"Melihat Ayah," jawabku.


"Untuk apa Kakak melihat Ayah?" tanya adikku dari belakang.


"Kakak mau mengatakan, kalau Kakak tidak usah di jaga olehmu," jawabku memutar badan melihat adikku. Lalu aku menyingkap tirai kamar yang tergerai dengan rapi.


Aku yang tadi berada di dalam kamar sekarang telah berdiri diluar menatap adikku yang sedang memainkan bonekanya. Boneka imut itu begitu berarti rupanya bagi adikku. Sehingga dia tidak bisa meninggalkannya.


Aku pun kemudian berjalan mencari angin segar untuk menetralisir suasana hati. Aku berdiri di depan pintu dapur yang selama ini tidak pernah menjadi sandaran untuk melihat langit yang luas.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2