Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tiba di rumah Pudan


__ADS_3

"Nanti kamu yang suka makan jeruk?" tanya Bu Rosita setengah bercanda. Melirik Rasyd.


"Hahaha !" Tawa anak-anak. "Iya, Bu. Rasyd itu yang suka makan jeruk," sambung yang lain.


Bu Rosita langsung memalingkan pandangannya. "Sudah-sudah, sekarang pelajaran Ibu sebentar lagi berakhir," kata Bu Rosita. Melirik jam yang melingkar di tangannya.


Kami pun diam, termasuk temanku yang masih menulis. Semuanya diam menyiapkan tugasnya masing-masing. Bagi yang belum selesai segera menyelesaikan tugasnya dan mengumpulkannya ke depan sebelum Bu Rosita pergi.


"Widia, kita sebentar lagi akan ujian. Apa kau sudah punya buku untuk belajar?" tanyaku . Menyimpan pensil dam mengancing tas.


Widia langsung menoleh . "Sudah," jawabnya. "Aku punya buku yang lengkap." Widia kembali menjawab sementara netranya melihat ke tempat yang lain.


"Mm!" kataku dengan anggukan kecil.


Ruang kelas yang penuh dengan siswa -siswi terasa hening sejenak. Riuh gemuruh anak-anak yang bercengkrama sambil bercanda di meja belakang dalam proses belajar mengajar tanpa sepengetahuan Bu Rosita kini telah berhenti. Mereka diam dan kembali menyelesaikan latihan mereka.


Sedangkan Rasyd, Solihin dan Fikri masih berdiri begitu juga dengan Tania dan Ecy. Mereka belum juga mendapat dispensasi dari bu Rosita dan baju seragam mereka pun sudah berantakan sedikit di ikuti oleh sepatu Solihin sebelah kiri yang sudah lepas ikatan talinya.


Teng! Teng! Teng!


Pelajaran Bu Rosita pun akhirnya selesai. Sorak gembira anak-anak pun terdengar riuh bergemuruh memenuhi seluruh ruangan kelas. Tak terkecuali juga dengan Rasyd, Fikri dan Solihin yang berdiri. Tania dan Ecy pun langsung tersenyum sumringah melepaskan tangannya dari telinganya dan menurunkan kaki mereka.


"Bu Rosita telah pergiiii!" teriak mereka kegirangan.


"Hahaha !" Solihin pun tertawa garing melihat ke dua temannya.


"Tapi kita hari ini cepat pulang," kata Fikri senang.


"Kenapa pulang?" tanya Rasyd terheran.


"Karena kita besok mau ujian," kata Fikri.


"Ujian?" tanya Solihin terkejut.


Mereka bertiga pun terlihat sangat senang berangkulan bertiga. Sedangkan Tania dan Ecy menatap mereka bertiga dari belakang dengan pias, di selingi oleh Ecy yang menatapku tajam.


"Teman-teman kita kumpul uang, ya. Untuk menjenguk Pudan," teriak Fikri mengambil topinya di atas meja.


"Betapa per orang?" tanya Septiani menatap Fikri.


Sejenak Fikri dan kawan-kawannya diam saling menatap satu sama lain, di ikuti oleh Rasyd mengangkat bahu dan melihat Solihin.


"Kita buat saja dua ribu rupiah per orang," ucap Rasyd menatap tajam Fikri dan Sholihin.


"Itu terlalu banyak," kata Tania keberatan.


Mendengar ucapan Tania yang merasa keberatan, Fikri dan ketiga temannya pun berpikir.


"Bagaimana kalau kita buat seikhlas hati saja," usulku dari bangkuku.


"Iya, Liyan ada benarnya juga," kata Fikri berdiri di depan.


"Tapi kalau nanti seikhlas hati, pasti yang ngasih lima ratus rupiah," celetuk Ecy dari belakang.


Fikri dan Rasyd pun terdiam kembali. Mereka sangat tatap muka kembali, di ikuti oleh Solihin yang melihat uang jajannya. "Aku cuman punya uang segini," ungkap Solihin melebarkan uangnya.


Fikri yang melihatnya pun. "Bagaimana kalau kita buat paling kecil seribu rupiah saja," ucap Fikri pelan. Menatap lirih uang jajan Solihin.


"Iya, paling kecil seribu, tapi kalau Anak orang kaya ngasihnya lebih, ya!" kata Rasyd bercampur canda.


Yang lain pun ada yang menerimanya dan ada juga yang menolaknya. Terutama Tania dan Ecy. "Kenapa harus Anak orang kaya? Kenapa tidak semuanya saja?" tanya Tania keberatan.


"Iya, padahal 'kan Anak orang kaya belum tentu jajannya banyak," sambung Ecy merasa keberatan juga. "...Anak orang miskin juga ada yang jajannya banyak," terang Ecy menentang.

__ADS_1


Fikri dan Rasyd pun semakin pusing. Mereka semakin bingung untuk memberi keputusan. Berulang kali Fikri menatap teman-temannya yang lain, di ikuti oleh menatapku dan Widia juga. Sorot matanya pun semakin mempertajam memikirkan sesuatu memutar- mutarkan topinya mencari jalan keluar.


Solihin yang jongkok sambil mengingat tali sepatu. "Mana ada jajan Anak orang miskin banyak," sambungnya langsung.


"Iya Solihin benar, aku tidak pernah banyak jajan di sekolah," tukas yang lain.


Hening pun terjadi di dalam kelas beberapa saat. Kelas yang sepi dengan guru pun semakin ketat mendiskusikan untuk membeli buah buat Pudan. Fikri yang kehabisan akal pun semakin diam. Dia semakin pening melihat setengah dari temannya yang menentang.


"Bagaimana seterusnya?" tanya Septiani seakan mengejek Fikri.


Fikri yang masih kusut berdiri di depan tetap diam dan berpikir terus. "Bagiamana kalau kita buat sebuah permainan?" saran Fikri.


"Permainan apa?" tanyaku ingin tahu.


"Permainannya jalan sulit-sulit, ya!" pinta Widia. Acuh.


"Yang pastinya tidak akan sulit," ucap Solihin sumringah seakan dia sudah mengetahui jenis permainannya.


Wajah sumringahnya langsung bersinar, di ikuti oleh anggukan kecil dariku menajamkan pendengaran dan tatapanku melihat mereka.


"Bermain apa, sih? Kasih tahu dong," desak Septiani sebal.


Wajah merekah Solihin yang hobby melucu pun terpampang jelas di iringi oleh tawanya yang jenaka. "Ki-ki... ." Menahan suaranya tertawa. "hihihi!" Dia pun menunduk tertawa dengan geli.


"Huuuu!" Sorak yang lain kesal.


"Solihin kalau kau ingin melawak, jangan di sini!" teriak yang lain keras.


"Kalau mau melawak sana, di tv," serang yang satunya lagi.


Solihin semakin jahil. Ulahnya yang konyol membuat sebagian siswa panas. Tidak ada yang mau diam. Semuanya semakin mengerang kesal melihatnya. "Solihin jangan buang-buang waktu. Nanti kita keburu pulang," timpal Septiani.


"Aku sudah bosan mendengar suaramu di depan," celetuk Tania kasar.


Tok! Tok! Tok !


Solihin yang tertawa mengaung pun terkejut. "Siapa itu?" Refleks dia memutar kepala panik.


"Kalian kenapa ? Kok ribut kali?!" Tanya uwa kantin terheran.


"Kami lagi rapat, Uwa," jawab Solihin berguyon.


"Rapat?!" ucap Uwa kantin mengangguk. "Uwa pikir kalian itu entah kenapa? Tiba -tiba suaranya terdengar sampai keluar," ucapnya memutar badan dan pergi.


Cengiran pun mengiringi langkah Uwa kantin yang berlalu. Mereka bertiga kembali mengulanginya kembali. Solihin belum juga enyah dari leluconnya. Dia terus melontarkan lelucon berlagak bak seorang pelawak.


Fikri dan Rasyd semakin jengah melihatnya. Gestur tubuh mereka pun semakin terlihat miring ingin jatuh ke lantai mondar mandir ke sama kemari melihat temannya yang setengah depresi.


"Hahaha !" Tawa menyerang Solihin semakin menyeruak. Lemparan kertas pun terjadi secara beruntun menyerangnya.


"Solihin hentikan!" teriakku menegurnya. "Nanti dengar guru. Kau di hukum lagi," kataku panik.


"Liyan, kita bersenang-senang dulu setelah lama berdiri," gurau Solihin garing. Menendang-nendang kertas yang di lemparkan.


"Sudah hentikan!" Fikri membekap Solihin pelan.


Solihin langsung berhenti mendadak, di ikuti oleh tawa Rasyd garing menggelitik pinggang Solihin.


"Agh!" Solihin menepis dekapan Fikri. Dekapan itu pun terlepas. Fikri kemudian tertawa karena melihat Solihin yang kesakitan di sambut tawa juga oleh Rasyd.


"Baiklah teman-temanku semuanya." Gaya Fikri sok berlagak seperti seorang guru.


"Huuu!" Sorak seluruh murid.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita pulang," ucap Solihin merebut topi Fikri mengutip uang.


"... sekarang serahkan uang kalian!" Berjalan menaruh topi kehadapan kami masing-masing.


Topi yang berpindah tangan yang membuat Fikri tersentak telah berisi uang setengah penuh. Topi merah itu pun mendarat di hadapanku.


Plak! Uangku pun langsung kutaruh.


Solihin terus berjalan membawa topi itu dengan lenggangan yang kemayu. Topi merah yang dibawa Solihin pun sudah penuh. Uang jajan yang di sisihkan telah siap untuk melihat Pudan.


Solihin pun tertegun melihat kami yang sangat antusias mengumpulkan uang untuk menjenguk Pudan. Fikri dan Rasyd kemudian berjalan mendekati Solihin yang berjalan mendekati mereka juga.


"Berapa?" tanya Fikri dengan anggukan kecil. Mengambil topi dari Solihin dan menghitungnya.


"Hitung saja," jawab Rasyd menyuruh Fikri.


Mereka bertiga pun kemudian menghitung uang itu bersama. Selembar demi selembar uang mereka ambil dan menyusunnya rapi.


"Setelah pulang sekolah nanti, kita akan singgah membeli buah," kata Fikri memegang uang dan memakai topinya.


"Siapa saja pergi ketua ?" tanya Tania lantang.


"Kami bertiga," jawab Rasyd karena melihat Tania yang sok.


"Cuman kalian bertiga ?" tanyaku.


"Kalau ada lagi yang mau ikut, silakan," lanjut Fikri menawarkan.


Jam pun terus berputar dan matahari semakin bersinar menyengat ke bumi. Fikri, Rasyd dan Solihin telah bersiap untuk melihat Pudan. Mereka bertiga langsung menyandang tas dan mengencangkan tali sepatu.


"Kalau ada yang mau ikut, ayo!" Fikri kembali mengajak sambil mengikat tali sepatu.


"Aku ikut, ya," ucapku menawarkan diri. Berdiri melihat Fikri mengikat tali sepatu.


"Ayahmu tidak marah, Liyan?" tanya Widia menyandang tas setengah memutar badan melihatku .


Aku menggeleng memberikan jawaban. Solihin langsung berkata. "Kalau memang begitu. Sekarang kita berangkat!" Solihin berputar melihat sepatunya.


"Ayo!" Rasyd mengayunkan tangan mengajak kami berjalan.


Pintu kelas kami pun kami lalui beramai- ramai karena sebagian ada yang ingin cepat pulang ke rumahnya. Desakan semakin terjadi di depan pintu. Dorong mendorong pun semakin mereka lakukan hingga aku ingin tersungkur ke depan. Untung saja Fikri refleks melihatnya. Dia pun lalu menarik lenganku dari belakang.


"Liyan, hati-hati ! Nanti bukan Pudan yang kita lihat, tapi kau," sindir Septiani pedas karena dia ingin terjatuh juga.


"Kita masih lama lagi, ya sampai di rumah Pudan?" tanya Widia mengipaskan sebelah tangannya karena kepanasan.


"Aku juga penasaran masih lama lagi atau tidak, ya." Aku terus berjalan sambil mengilap keningku karena keringat.


"Rumahnya sebentar lagi, kok," terang Solihin yang kabarnya sering ke rumah Pudan.


Pudan adalah anak yang termasuk sedikit pendiam dan baik. Jadi, tidak semua anak yang mau berteman dengannya, apalagi berbicara. Hanya Solihin lah yang suka menjahili Pudan terkadang duduk di bangku. Solihin dan Pudan mereka berdua adalah teman sebangku. Makanya tidak heran kalau Solihin lebih tahu banyak tentang Pudan.


Fikri yang ketua kelas pun tidak begitu peka terhadap Pudan. Dia malah tidak tahu kalau teman satu kelasnya telah terbaring sakit. Ketika dia mengetahuinya dia sedikit terkejut.


Rumah Pudan yang ingin kami datangi tidak lama lagi akan sampai. "Itu rumahnya." Tunjuk Solihin sambil melirik kami yang berjalan di belakang mengikutinya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2