Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ketahuan


__ADS_3

Aku langsung berlari pulang. Kaki yang ingin melompat seketika menggantung di tengah udara. Aku sangat panik bercampur deg-degan dan kalang kabut. Suara panggilan ayahku semakin memekik terdengar. Suara keras bercampur geram itu pun seakan melilitku seketika.


"Kak, Ayah Kakak," kata Andrini menepuk pundakku pelan.


Aku sama sekali diam. Menatap dengan gelapan. Perlahan kaki yang setengah menggantung langsung turun menyentuh lantai.


"Kak... ." Andrini diam seakan dia mengatakan, Kakak pasti akan dimarahi dari isyarat diamnya dan melirik ayahku dan aku berulang kali.


"Dik, Kakak pulang dulu, ya!" kataku berpamitan padanya.


Tali karet gelang yang tadi terikat, dia lepas langsung. "Ayah Kakak pasti marah, Kak," katanya dengan nada suara lirih. Gurat wajahnya pun penuh dengan kekhawatiran bercampur takut.


Aku tetap tidak menjawabnya seakan aku hanya fokus melihat ayahku yang sedang menatapku dari depan rumah kami. Tatapan yang sangat mematikan menyeret langkah ini sedikit terseok-seok.


Sambil mencengkram jemari aku melangkah keluar dari teras rumah Andrini segelintir kecemasan pun menyelubungi diri ini lekas. Sorot mata tajam itu kini tidak ada lagi keramahan yang terlihat.


"Ayah," kataku pelan bersama kesalahan yang kutelan . Berdiri di hadapan ayahku.


"Liyan, ini 'kan, harinya hujan," kata ayahku dengan penuh penekanan memberitahukannya padaku kembali.


Aku pun menunduk mendengarnya. Rasa bersalah karena kelancanganku semakin menekuk wajah.


"Kamu itu baru sembuh. Baru berapa bulan kau sembuh, Nak. Ini kau bermain hujan lagi?!" kata ayahku menelan kekecewaan. Melihatku yang terkena gerimis.


Aku hanya terdiam meremas jemari menunduk dengan bibir yang bergetir tertutup rapat.


"Ini apa?" kata ayahku bertanya padaku mengayunkan baju sekolah basah yang tadi kusembunyikan. Mengayunnya setengah di udara.


Penasaran bercampur terkejut aku spontan melebarkan bola mata dengan hati yang miris menjerit kuat. Aku tidak bisa lagi berkata apa-apa. Baju yang tadi menjadi harapan agar tidak terkena kecaman ayahku malah terkuak.


Aku menajamkan tatapanku melihatnya. Jeritan semakin mengusik ketenangan hati.


"Ini baju apa Liyan?" tanya ayahku dengan penuh penekanan. Melayangkan sorot mata yang tajam.


Aku semakin panik seakan itu tidak mungkin. Aku terus berpikir dengan keras. Baju itu tidak mungkin ketahuan oleh ayahku, pikirku menaikan pandangan meliriknya dan melirik baju.


Tanda tanya besar pun muncul dengan ke janggalan yang kulihat. Baju ini tadi tersembunyi di bawa kolong tempat tidur, pikirku kembali meliriknya kembali dengan dalam.


"...dan itu juga!" lanjut ayahku melayangkan jari telunjuknya ke arah yang lain. Tepat ke sebelah kanan yang berdekatan dengan sudut lemari yang menjadi pembatas ruang tamu dan kamar kami.

__ADS_1


Aku pun berjalan masuk dengan gontai mengikuti langkah ayahku yang masuk juga.


Sontak aku semakin terkejut. Mataku pun semakin melebar dengan selebar-lebarnya. Terkejut bercampur tanya inilah yang terpampang jelas di pelupuk mata.


"Kenapa bisa basah?" tanya ayahku. Menatapku tajam.


Aku semakin tercekam. Mulut serasa berat ingin membuka dan memberi jawaban. Bola mata pun refleks menunduk menatap lantai . Aku seperti terkena pukulan yang keras. Semua yang kuharapkan menjadi penyelamat ini malah sebaliknya. Semuanya telah gagal dan hancur berantakan. Baju dan sepatu telah diketahui oleh ayahku.


Pikiranku sekarang hanya tertuju dengan barang sekolah yang satu lagi yaitu, tas beserta isinya. Aku sedikit menelan keberuntungan karena tas dan peralatanku belum diketahui oleh ayahku.


"Liyan, kau ini Anak yang mudah sakit," kata ayahku dengan penuh penekanan menjelaskannya. "Coba lihat ini!" katanya dengan kesal bercampur sesal. "Baju, sepatu semua basah!" tandasnya. "Ayah rasa tasmu juga basah ?" kata ayahku bertanya padaku.


Deg!


Aku semakin tertimpa gunung es rasanya. Tubuh mungilku ingin sekali terjerembab ke lantai. Terduduk dengan lemas. Napasku semakin tidak karuan terasa.


"Coba keluar 'kan tasmu Liyan," sambung ibu sambungku dari belakangku.


Aku semakin histeris menanggung semuanya seorang diri.


"Cepat Liyan! Jangan diam di situ !" suruh ibu sambungku dengan pekikannya.


Aku semakin bercabang-cabang. Kebingungan pun semakin menyelimuti seluruh tubuh dan perasaanku. Rasanya air es itu semakin membuatku mematung dan bisu.


Sorot mata rasanya seakan malu melihat ayahku.


"Dari tadi Ayahmu menanya. Kau hanya diam saja!" kata ibu sambungku seakan menggeleng melihatnya.


"Ini Ayah," kata adikku langsung keluar dari kamar.


Glek!


Aku langsung menelan ludah kasar dengan membelalak melihat adikku yang sudah berubah.


"Ayah ini tasnya!" kata adikku maju menyerahkan tas pada ayahku.


Ayahku pun mengayun kakinya mengambil tas. Ayahku pun diam seakan dia terkena lemparan keras yang membuat dia tidak bisa bergerak. Menatapku tajam dengan gurat wajah seakan bertanya-tanya bercampur heran.


"Tasmu basah, Liyan?" kata ayahku bertanya seakan tidak percaya dengan yang di pegangnya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mengiyakan dan membenarkan yang di tanya ayahku.


"Liyan, kau selalu mencari penyakit!" pekik ibu sambungku di telinga. "Kau tau?! kalau kau sakit, ha? Ua... ." Ibu sambungku langsung menutup mulutnya.


"Jangan pernah bilang itu padanya," kata ayahku dengan keras memberi peringatan. "Aku gak suka kalau kau selalu membilang itu!" tandasnya dengan penuh penekanan.


"Ayah, biar Kakak tidak bermain hujan lagi," sambung adikku sedikit membela ibu sambung kami.


Butiran kristal bening pun jatuh menyentuh lantai. Bola mata semakin buram melihat lantai. Air mata pun telah menggenang di pelupuk mata melihat adikku yang telah berubah.


"Kenapa kau tidak menjaga Kakakmu? Kalau kau takut dia bermain hujan?" tanya ayahku pada adikku yang berdiri di dekatnya.


Adikku semakin diam seakan ucapannya memakan dirinya sendiri. Dia pun bergeming mendengarkan omelan ayahku sampai selesai.


"Kakakmu itu baru sembuh. Seharusnya kau menjaganya dan menunggunya pulang sekolah," kata ayahku kembali menegur adikku dengan keras. "Bukannya malah kau pulang duluan," lanjutnya dengan nada suara kesal berusaha menahan amarahnya.


"Ayah, jam pulang kami gak sama," jawab adikku. "Kami pulang lebih cepat dari pada Kakak," terangnya menjelaskan.


"Si Liyan juga salah. Sudah tau hujan masih di lewati," kata ibu sambungku.


Selama berada di tengah mereka aku sama sekali tidak memberikan pembelaan terhadap diriku sendiri.


"Ibumu benar Liyan. Kenapa kau gak menunggu hujan berhenti?" tanya ayahku ingin tahu.


Aku semakin terjepit. Hanya satu yang bisa kulakukan saat ini yaitu, diam dan bersabar mendengarkan omelan sampai selesai.


"Sampai ini, ha? Bajumu basah, sepatumu basah, tasmu pun ikut basah," kata ayahku menunjuk semua yang terletak. "Bukumu basah juga tidak ?" kata ayahku bertanya padaku mengeluarkan isi tas.


Plak!


Buku-buku dan yang lain pun di taruh ayahku satu per satu di atas meja. "Aagghh, cik, cik,cik!" kata ayahku berdecak penuh heran melihatnya.


"Semua basah. Gak ada yang gak basah. Liyan, Liyan !" kata ayahku kesal bercampur sesal sambil berdecak.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2