
" Bu sekarang biodatanya 'kan telah terkumpul... ,"kata Septiani. "Jadi, itu untuk apa, Bu?" tanyanya ingin tahu.
"Ini hanya untuk mengisi biodata kalian saja. Mana tahu biodata kalian ada yang salah. Hanya itu saja!" ungkap Bu Dona dengan penuh penekanan. "Oh, ya Fikri." Bu Dona menyusun biodata dengan rapi. "Apa sudah terkumpul semua?" tanya Bu Dona melihat Fikri yang berdiri.
"Sudah, Bu," jawab Fikri langsung.
"Sekarang pergilah duduk ke bangkumu!" seru Bu Dona.
Fikri pun langsung memutar badan dan berjalan duduk ke bangkunya. Wajahnya yang tenang menatap lurus ke depan bersama dengan langkah yang kencang.
Seperti biasa kami selalu mengerjakan tugas yang di berikan bu Dona ketika dia telah masuk ke dalam kelas. Kami seluruh siswa di dalam kelas pun sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tidak ada satu suara pun terdengar ketika dalam mengerjakan tugas. Seluruh siswa atau pun aku terlihat rileks mengerjakan semua tugas yang di berikan.
Dengan senang hati aku menyiapkan semuanya tanpa ada sedikit kesalahan. Sebaik mungkin aku mengerjakannya dengan ikhlas dan sabar hingga tugasku pun selesai tepat waktu.
Pelajaran tentang puisi masih belum selesai kami bahas. Masih banyak lagi yang harus kami tuntaskan. Satu demi satu dari tugas yang kami kerjakan begitu menumpuk karena sebentar lagi kami akan menghadapi ujian.
Sepanjang di dalam kelas menyelesaikan tugas tidak ada sedikit pun suara yang terdengar. Aku yang terlalu serius mengerjakannya sesekali menaikkan kepala mencari suara yang akan terdengar walau hanya sesaat.
"Anak-anak! Ada beberapa biodata kalian yang belum selesai di tulis," kata Bu Dona dengan keras sambil menyisihkannya ke tempat yang lain.
Seluruh siswa dan aku pun memutar kepala melihat satu sama lain sambil bertanya pada diri sendiri. Aku pun tidak ubahnya dari mereka. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku sangat khawatir kalau yang dibilang Bu Dona tersebut adalah biodataku sendiri. Gurat wajahku langsung berubah menjadi panik. Aku juga langsung menatap lurus dengan kecemasan yang menghampiri.
Biodata yang aku bawa sebelum di serahkan kepada Bu Dona berulang kali kubaca sehingga aku dengan penuh keyakinan kalau biodata itu tidak mungkin salah, pikirku. Jemari yang memegang pensil pun kini terasa lemas . Sudah sejatinya aku juga mencemaskan diriku sendiri akan biodata itu. Namun, kalau mengingat ayahku. Dia tidak mungkin menulis biodata yang masih ada ketinggalan.
Pikiranku pun berputar seperti bola mata yang terlihat saat ini. Semangat yang tumpah tadi ketika aku menulis kini telah hilang dalam sekejap dibuat oleh Bu Dona yang mengatakan biodata dari kami masih belum ada yang lengkap.
Seluruh murid pun terdengar bersuara seakan merasa kalau biodata yang salah itu adalah punya mereka sendiri.
"Apa itu biodataku?" tanya salah seorang temanku sedikit pelan.
"Iya, aku juga takut kalau biodata itu punyaku," sambungnya dengan cemas.
"Ini lagi! Sudah ada nama orang tua. Ada lagi nama wali," keluh Bu Dona. "Punya siapa ini?" Bu Dona melihatnya dan membaca biodatanya. "Liyan?!" kata Bu Dona pelan sedikit terdengar di telingaku dengan jelas.
Aku langsung membelalak dengan gemetar. Gurat wajah panik pun langsung menghiasi wajah polosku yang imut. Jemariku rasanya tidak sanggup lagi untuk memegang pensil, bahkan menulis.
"Itu punyamu?" Widia sedikit bertanya dan menaikkan kepala melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya.
"Aku tidak tahu. Aku lupa," jawabku langsung dengan kekhawatiran yang menghampiri dan membuatku kehilangan semangat.
Widia hanya manyun memonyongkan sedikit bibir mengangguk mempercayai yang kuucapkan. Dia pun langsung memutar kembali pandangannya melihat Bu Dona yang masih mengerutkan kening membaca biodata kami.
"Masih ada saja yang belum mengerti tentang biodata," ucap Bu Dona dengan gurat wajah kecewa.
Aku yang sedikit lengah membuang pandangan dari Bu Dona membuat aku semakin gelisah. Biodata yang kuanggap sudah benar kini menghalangi kelegaanku yang telah mengumpulkannya.
"Liyan, siapa yang menulis biodatamu itu?" tanya Fikri berbisik di telingaku dari belakang.
"Iya Liyan. Kenapa bisa ada yang salah?" tanya Rasyd yang duduk sebangku dengan Fikri.
"Ayahku," jawabku pelan sedikit getir.
"Apa Ayahmu tidak tahu tentang biodata?" tanya Rasyd kembali ingin tahu.
"Aku rasa Ayahnya Liyan tahu. Mana mungkin dia tidak tahu," tandas Fikri.
"Kau benar, kalau tidak tahu mana mungkin biodata raportnya ada," sahut Widia.
Aku semakin dilema. Bu Dona yang kutatap dari ekor mataku pun masih terlihat meneliti biodata yang telah ditulis. Satu per satu lembar kertas pun dia ambil lalu dia baca dan kemudian dia letakkan tepat di sampingnya dengan rapi. Dia terus saja memeriksanya agar tidak ada kekeliruan dalam pengisian biodata kami nanti.
"Ini kalian jangan banyak yang berbicara di belakang, ya!" tegur Bu Dona. "Selesaikan tugas kalian sampai benar semua!" seru Bu Dona sembari membaca biodata yang selanjutnya.
"Bu, kalau benar semua kami tidak bisa , Bu," sambung Solihin.
"Hmm!" Bu Dona hanya berdehem. Dia sama sekali tidak menanggapi dengan serius yang dikatakan Solihin.
"Ada beberapa orang yang ingin Ibu panggil ke depan," cetus Bu Dona dengan gurat wajah yang lega karena telah selesai membaca semua biodata kami. "... orang yang paling pertama kali ingin Ibu panggil adalah Liyan," kata Bu Dona menaikkan kepala menatap ke arah mejaku.
Deg!
Tiba-tiba aku terkejut dan jantungku rasanya ingin copot. Tatapanku refleks tegak menatap Bu Dona yang menyebut namaku dengan sengaja. Seketika bola mata yang bening ini melebar tanpa arah yang diperintahkan.
Buku yang terletak di hadapanku seketika kutinggalkan setelah mendengar bu Dona menyebut namaku. Semangat menulisku pun kini langsung berkurang. Rasa malu yang akan kuhadapi di depan teman- temanku nanti kini semakin menyelubungi diri yang lemah ini.
__ADS_1
Aku semakin takut kalau aku akan malu di depan semua teman-temanku di buat oleh Tania dan Ecy hanya karena biodataku yang sedikit ada kesalahan.
Tania dan Ecy terlalu suka mengejek dan mencela diriku yang terlahir dari keluarga miskin dan dari seorang anak pembawa becak dayung.
Aku semakin risau dan tidak tenang duduk di dalam bangkuku. Kekhawatiran pun membuatku memutar kepala melihat ke arah Tania dan Ecy yang duduk sebangku dalam satu meja. Mereka begitu senang tertawa dengan perbincangan kecil yang terlihat. Aku yang melihatnya pun seakan bertanya kalau mereka seolah tidak mendengar yang dikatakan oleh Bu Dona tadi.
Pemikiran itu terus saja aku simpan dalam kepercayaan diriku sendiri bahwa Tania dan Ecy sama sekali tidak mendengar itu. Namun, sekejap aku langsung menepis kepercayaanku yang masih ambigu yang aku tidak tahu sebenarnya mengenai hal ini. Apakah Tania dan Ecy mendengarnya ?
"Ehmm!" Widia pun berdehem seakan dia mengetahui yang kupikirkan. Dia pun berusaha membangunkan aku dari lamunan yang penuh dengan misteri yang belum terkuak dengan jelas. Ini semakin menganak di dalam benakku dan menjadikan kekhawatiran terkhusus pada diriku sendiri.
Setelah aku mendengar deheman Widia yang sengaja tanpa kusadari begitu menyelamatkan aku dari tatapan Bu Dona yang sedari tadi melihatku.
"Liyan, maju ke depan!" pinta Bu Dona dengan tegas.
Tanpa memberi balasan atau pun jawaban dari Bu Dona. Aku langsung beranjak bangun menemui Bu Dona yang memanggilku. Sesampainya aku di depan meja Bu Dona. Aku berdiri dan menatap lurus tepat ke arah Bu Dona yang telah menunggu dari tadi.
"Ini biodatamu?" Bu Dona mengayunkan selembar kertas tepat ke arahku.
Aku yang sedikit gugup menatap lembaran kertas itu dan memperhatikan tulisan yang terlihat olehku di awal dan membacanya di dalam hati. "Iya Bu," jawabku.
Bu Dona pun kembali melihat kertas itu berulang kali seolah Bu Dona terlihat, seperti membolak balik melihatnya "Siapa yang menulis ini, Liyan?" tanya Bu Dona.
"Ayah saya Bu," jawabku.
"Ayahmu?" tanya Bu Dona dengan penuh penekanan menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Bu Dona seketika pun diam dan kembali melihat biodata itu. "Ini ada dua nama perempuan... ." Bu Dona menatap lekat dengan kening yang berkerut seakan masih bingung. "... ini... satu nama siapa?" tanyanya. "... terkhusus yang wali, ini!" Bu Dona menunjuk kertas dengan penuh penekanan yang dia letakkan di atas meja.
Aku yang gemetar bercampur kepanikan menjawab dengan nada suara pelan yang terlihat gugup sedikit. "Itu nama Ibu sambung saya, Bu." Aku menatap telunjuk Bu Dona yang menunjuk nama wali yang tidak lain namanya adalah Genghis.
"Itu nama Ibu sambungmu?" tanya Bu Dona.
"Iya, Bu," jawabku. Menatap kebawah sambil melihat ke arah Tania dan Ecy sekilas.
Hari ini aku tidak tahu, apakah Tania dan Ecy melihat dan mendengarkan semuanya tentang diriku? Itu semakin mendesakku untuk menutupinya rapat dengan nada suara yang pelan mengenai ini.
"Lalu, apa ini nama Ayah dan Ibumu?" tanya Bu Dona kemudian.
"Iya Bu," jawabku lagi.
"Kalau Ibu tidak salah Ibumu sudah meninggal, 'kan?" tanya Bu Dona dengan sorot mata yang dalam.
"Nama Ibumu cantik juga," lanjut Bu Dona seakan memuji sambil tersenyum tipis. "Pergilah duduk!" seru Bu Dona langsung.
Aku pun menunduk memberi rasa hormat sebagai jawaban dan kemudian aku memutar badan kembali duduk ke bangkuku.
Setelah aku sampai di bangku dan duduk. Bu Dona kembali memanggil murid yang lainnya untuk melakukan tanya jawab pada Bu Dona tentang biodata, seperti yang dia lakukan kepada ku.
Widia yang melihatku telah duduk di bangku. "Liyan, emang Bu Dona bertanya apa padamu?" Widia menatapku dengan penuh keingin tahuan.
"Bu Dona bertanya tentang nama wali yang di buat ayahku di biodataku," jawabku melihat Widia sekilas.
"Ooh, aku pikir entah gara-gara apa?" Widia mengangguk mempertanyakan ke penasarannya sendiri.
Aku pun kembali melihat buku yang terletak di hadapanku sambil mendengarkan yang di katakan Widia.
Teng! Teng! Teng!
Tidak berapa lama kami yang tertib dan disiplin di dalam kelas tidak mendengar kalau bel telah berbunyi.
"Anak-anak! Siapa yang ingin bermain silakan!" kata Bu Dona.
Aku mendongak melihat ke arah Bu Dona yang berkata masih tetap duduk di bangkunya.
"Ayo kita bermain!"ajak Fikri sambil lewat berjalan melihat aku dan Widia.
"Eh, iya. Tunggu, ya," sahut Widia menyimpan buku-bukunya ke dalam tas. "Ayo Liyan!" ajak Widia memutar pandangan tepat ke arahku yang berdiri tepat di sampingku.
"Iya, tunggu sebentar!" balasku melihat Widia dan juga melihat Fikri yang telah berlalu lebih dulu keluar.
Aku dan Widia pun langsung keluar kelas meninggalkan Bu Dona yang masih duduk manis dengan buku yang di bacanya di bangku.
Akhirnya, aku dan Widia pun masuk ke dalam kantin yang telah banyak di kerumuni anak-anak yang lain lebih dulu datang ke kantin. Septiani yang masih menjadi sahabatku terlihat berdiri seorang diri menunggu Widia. "Kenapa lama sekali ?" tanya Septiani pada Widia.
"Aku lagi menyusun buku," jawab Widia dengan datar.
__ADS_1
Aku yang berpapasan dengan Septiani masuk ke kantin sedikit pun tidak mendapat teguran dari temanku itu sendiri. Septiani malah membuang pandangan dariku. Dia masih saja sakit hati dengan ku karena Fikri begitu perhatian dan mengkhawatirkan aku ketimbang dirinya.
Inilah yang membuat persahabatan kami retak. Ini jugalah yang membuat hubunganku dengan Widia terasa dingin hingga sekarang. Widia memang mau berbicara dengan ku. Tapi bukan berarti dia telah sepenuhnya mengganggapku sahabat seperti dulu.
Aku yang berjalan berdampingan bersama Widia. Melihat sikap cuek Widia dalam menjawab pertanyaan Septiani. Hari ini aku dapat melihatnya bahwa sikap Widia terhadapku tidak jauh berbeda terhadap Septiani juga. Widia anak yang sulit memaafkan, apalagi dia tipe anak yang memendam. Inilah yang membuat harapanku semakin tipis untuk menerima maaf dari Widia.
Bangku panjang yang terpajang di kantin dengan rapi terlihat sudah di penuhi oleh anak-anak yang bejajan dan duduk dengan santai. Tania dan Ecy pun terlihat duduk di bangku itu juga sambil menyeruput es lilin.
Aku yang berdiri bersama dengan Widia menatap mereka berdua yang bercengkrama dengan asyik.
"Liyan, aku pergi dulu, ya!" pamit Widia kepadaku.
Aku pun langsung menoleh ke arahnya. "Kau mau pergi kemana?" tanyaku ingin tahu.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Widia dengan acuh.
Widia memang masih mau berbicara dengan ku. Akan tetapi itu hanya sebatas teman biasa. Tidak seperti biasanya terlihat hari ini. Di mana Widia ingin pergi sendiri tanpa memberi tahuku sama sekali. Selama ini yang aku ketahui dan sering kualami jika Widia ingin pergi. Dia pasti akan mengajakku dan tidak pernah mau meninggalkan aku sendiri. Tapi belakangan ini semua berbanding terbalik. Widia yang menjadi teman setiaku dalam hal apapun kini meninggalkan aku sendiri ditengah kebencian Septiani.
"Widia, apa aku boleh ikut dengan mu?" tanyaku. Menatap Widia yang membuang muka dari ku.
"Tidak," jawab Widia spontan.
Seketika aku pun terkejut diam, seperti tersambar petir di siang bolong. Jawaban Widia yang di luar dugaan telah mematahkan semangatku untuk tersenyum, seperti biasanya.
Ketidak pedulian Widia sekarang membuatku menjadi anak yang tidak mempunyai siapa pun lagi.
Diam dan berdiri hanya inilah yang bisa kulakukan untuk menemani kesendirianku di sekolah. Langkah kaki Widia yang keras menghentak bumi membuatku memutarbalikkan kepala melihat anak-anak yang menikmati jajanan di kantin.
"Liyan," sapa seseorang dari belakangku.
"Iya,"sahutku.
Kreeerkkk!
Tiba-tiba aku pun terkejut ketika mendengar suara dari bawah. Suara itu tidak begitu jauh dari ku, bahkan suara itu rasanya bersumber dari diriku sendiri.
Perlahan dengan cemas aku pun melihat ke bawah tempatnya ke arah sumber suara yang kudengar tadi.
Ha!" Aku puh histeris menjerit di dalam hati ketika melihat suara itu berasal dari sepatuku yang sobek akibat tersandung paku yang tertancap di tiang pintu kantin.
Seketika mata ini pun berkaca-kaca melihatnya. Kesedihan yang keluar pun tidak bisa lagi terbendung olehku. Rintihan pelan di dalam hati semakin berteriak meratapi sepatuku yang sobek.
"Liyan, sepatumu sobek, ya, hahaha !" ejek Tania tertawa. Berdiri di dekatku.
"Kasihan sekali," timpal Ecy mengejek dengan gerakan bibirnya yang pedas.
"Anak orang miskin ya, memang kayak gini," cibir Tania. "... sepatunya pasti sudah lapuk... ." Tania melihat ke bawah ke arah sepatu dengan menyeringai.
"Hahaha !" Ecy pun tertawa dengan keras. "Namanya juga sepatu kain, pffttt," sindir Ecy dengan leluasa. Menahan tawa.
"Eeehh, makanya Ecy. Kau sumbangkan saja sepatumu yang bekas itu padanya." Tania menatapku dengan gurat wajah mengejek. Menyeringai.
"Sepatuku Tania? Sepatuku tidak boleh di kasih sama orang miskin kata Ibuku," sindir Ecy terhadapku.
"Kenapa?" tanya Tania ingin tahu.
"Karena kata Ibuku orang miskin itu nanti bakalan ketagihan kalau sudah di kasih sekali," tandas Ecy. Sok tahu. "Di tambah lagi... dia seorang anak tukang becak," cela Ecy semakin pedas. Menatapku.
"Hahaha !" Tania tertawa puas.
"Apalagi sepatuku harganya mahal... "Ecy semakin senang menghina sebab aku tidak begitu layak untuk memakai sepatu mahal sekali pun itu bekas.
Aku memang tidak layak untuk itu karena aku anak yang kurang beruntung. Omongan Ecy tanpa sengaja telah membuka kedua mataku dengan lebar.
"Tapi bukannya dulu kau pernah bilang ingin memberikan Liyan, sepatu bekasmu?" tanya Tania kembali mengingatkan Ecy.
Seketika Ecy terdiam menatapku. " 'Kan sudah kubilang...Ibuku tidak mengizinkan sepatuku di kasih sama orang lain," tandas Ecy dengan penuh penekanan. Menatapku dengan jijik.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...