Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kecemburuan


__ADS_3

Wajah sedihnya pun membuatku terhipnotis. Kekesalan aku hilang seketika. Wajah rasa bersalahnya pun tak lagi aku hiraukan.


" Liyan, ada sama mu adikmu?" Tanya ayahku .


"Ini Ayah!" Sahutku sambil menatap adikku. Kedua bola matanya mengatakan kalau ia bersalah telah melakukan kecurangan.


" Bilang sama adikmu malam ini mengaji." Kata ayahku dengan pelan dari luar.


Wajah adikku langsung berubah pias. Sorot matanya pun, kini terlihat tajam mendengar apa yang disampaikan oleh ayahku. Dia terlihat seperti mencari -cari.


" Dek, nanti malam mengaji." Kataku dengan penuh penekanan. Namun, adikku sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun.


Dia masih terlihat diam. Sesekali aku melihat dia memasang wajah masam dengan mulut yang bergumam kecil.


" Apa hari ini tidak libur?!" Menatapku dengan kesal. " Aku lagi malas mengaji." Menatap gambarannya sambil menepuk-nepuk kecil. Mendengus.


" Kak, kakak enak la engga ngaji." Dengan wajah yang tidak rela.


Huh! Melempar bantal.


Tubuh lemahku duduk diam bersandar didinding kamar. Kakiku yang lemah aku rentangkan sambil menetralkan napasku.


Menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Pikiranku berjalan tentang diriku yang akan melakukan pengobatan esok hari. Napasku terasa berat kini menjalani hidup yang aku alami.


" Dek, cepat kau siap-siap! Nanti Ayah marah." Menatap adikku yang berbaring sambil menghitung gambarannya berulang kali. Seolah ia bermain dengan gambarannya sendiri.


" Kak, ini kan belum Maghrib." Katanya sambil melihat dan menghitung gambarannya kembali dengan acak. Wajahnya yang begitu menggemaskan.


"Kak!" Memalingkan wajahnya melihatku. " Kakak besok berobat, ya!" Memalingkan wajahnya kembali. " Kalau kakak besok berobat, aku ikut ya." Masih melihat gambarannya.


" Mana bisa dek! Kataku dengan datar. " Besok kan, kau sekolah." Melihat adikku yang berbaring menghadap dinding.


" Libur!"


" Apa!" Seketika aku terperanjat menatap adikku dengan mendelik. Wajahku seketika seperti tersambar petir mendengar itu. Tubuh lemahku pun refleks terangkat sendiri.


" Kenapa kak ?" Melihat ku dengan penuh tanda tanya.


" Masa ia, kamu libur dek!" Dengan gurat wajah tidak percaya.


" Ia, kak. Aku pengen libur sudah lama aku tidak libur. Masa liburannya cuman hari minggu sama tanggal merah aja." Dengan ketus. "Sesekali boleh la kak, kita libur sendiri." Dengan suara yang pelan. Penuh harapan.


Seperti orang bodoh akhirnya diriku setelah mendengar adikku. Tubuh lemahku seakan menghilang bagaikan tersambar oleh sesuatu. Aku engga habis pikir melihat adikku yang menganggap sekolahannya seperti milik orang tuanya. Mau sekolah dan libur sesuka hatinya.


" Dek, nanti gurumu marah." Berusaha mengingatkan.


" Engga kak! Buktinya teman-temanku yang lain banyak yang libur kok, kak." Kata adikku yang tidak mau kalah dengan aku. " Bahkan, orang itu alpa lagi." Kata adikku dengan tegas.


" Ia, tapikan dek! Kamu sama orang itu kan, berbeda." Memprotes apa yang dibilang oleh adikku.


" Beda dari mana sih, kak?!" Kata adikku dengan penuh tanda tanya.


" Ya, kamu, kamu. Mereka, ya mereka. Masa kamu mau sama, sama seperti mereka. Kan, lucu aja kamu ikut-ikutan sama orang lain." Kataku dengan tidak rela. Mengikuti orang lain.


" Kak, kali ini hanya untuk libur. Engga apa-apa lah sesekali." Kata adikku dengan santai.


" Terus nanti apa kata Ayah, coba!" Mengingatkan adikku kembali.


" Emang apa kata Ayah kak. Ayah itu cuman diam aja. Ayahkan engga pernah menolak keinginan ku." Dengan percaya diri yang kuat adikku menguatkan keinginannya.


Aku menarik napas. Menatap nanar adikku yang begitu antusias. Kepalaku pusing melihat adikku yang sekolah saja. Selalu membuatku bermasalah. Apalagi, kalau ia libur dan dirumah satu harian bersama ku. Pasti kami akan sering bertengkar. Jika, ia tidak sekolah maka masalahku akan semakin parah.


Kesedihan kini terlihat di wajahku yang pucat. Membayangkan adikku besok akan bersama ku. Ayahku pasti akan menyalahkan diriku kalau sesuatu terjadi pada adikku besok.


" Kak ! Kakak kenapa diam?" Melirik ku sekilas.


Mendengar pertanyaan adikku. Aku hanya melihatnya dan masih diam. Sorot mataku pun melihat nya dengan lekat sambil mencari jalan untuk menggagalkan keinginannnya.


" Dek, kamu besok sekolah aja!" Berusaha merayu adikku dengan segala kepandaian ku agar adikku tidak jadi besok libur. " Lagian di rumah sakit, bau." Dengan wajah yang meyakinkan. Aku membuat adikku agar dia percaya dengan apa yang aku katakan.


Spontan adikku memutar kepalanya. " Ha! Bau kak." Menatap ku dengan mendelik. Dengan gurat wajah yang penasaran adikku memutarkan kepalanya kembali.


Ia diam melihat gambarannya kembali. Wajahnya seakan menunjukkan kepada ku kalau ia masih terus mengkaji ucapanku barusan.


" Kenapa bisa bau, kak?" Tanyanya kembali ingin memastikan. " Tapi, kan ada yang membersihkan." Katanya kembali protes.


" Ia, dek! Tapi masih bau!" Kataku kembali.


" Bau apa kak?" Tanya adikku belum percaya.


"Bau obat, bau keringat!"


" Engga apa-apa lah, kak!" Dengan wajah yang masih terlihat berpikir.


Huh! Mendengus kesal.


Semua rencana ku gagal untuk meyakinkan adikku. Tubuh lemahku seketika lemas. Wajah pucatku mengerut seketika. Bibir kecilku yang tipis tertutup rapat. Pikiranku yang tadi bekerja kini terhenti bagai di hempaskan.


" Kak, kalau aku besok libur enak, kan!" Kata adikku tersenyum.

__ADS_1


Napasku rasanya mau lepas mendengar adikku . Besok ingin libur. Hari ini hidupku bagaikan bulan yang di kekang malam.


" Kak!" Memanggilku. Hm! Aku pun mengeram.


" Besok kita bermain, kak." Kata adikku dengan senang.


Melihat adikku aku hanya bisa tersenyum. Miris melihat diriku yang seperti terkena jebakan Batman. Tak bisa aku bayangkan hidupku besok.


Kalau saja aku lengah besok menjaganya. Habislah hidupku.


" Dek, kau besok sekolah saja, ya." Merayu adikku dengan memutar otak ku kembali berpikir.


" Sekolah! Mendelik. " Kakak, kan sudah tahu aku besok mau libur." Dengan tegas.


" Tapi, rumah sakitnya, bau!" Kataku dengan tandas.


" Ia, tapi aku mau libur. Aku mau bermain. Bukan mau ikut kerumah sakit." Dengan kesal.


Srrr!


Jantungku rasanya mau copot. Darahku langsung turun semua kebawah. Tubuh lemahku dan kaki lemahku serasa tak berdaya. Aku tadi yang lemah kini lemas seketika. Tangan yang tadi gemetar kini tak berdaya.


Wajah pucatku pun terlihat seperti orang yang gelagapan. Gugup akan sesuatu. Bibirku, aku tarik sedikit dengan wajah masam.


Napasku, aku hembuskan dengan kekesalan. Ingin rasanya aku membawa adikku menyembunyikannya di tempat yang tidak terlihat.


Hidupku tidak akan tenang besok. Tubuh lemahku pasti besok akan menyusuri jalan yang terik.


" Dek, bentar lagi, kan mau ujian." Kembali mengingat kan adikku.


" Ia kak! Tapi kan masih lama." Dengan datar.


" Kau, engga takut ketinggalan pelajaran." Berusaha mencerahkan pikiran adikku.


Sontak ia terdiam sejenak. Melihat ku dan melihat dinding kamar. Kembali ia memutarkan kepalanya. " Terus, kayak mana dengan kakak." Kembali melemparkan perkataan ku kepada diriku. " Kakak kan juga ketinggalan pelajaran." Menatap dengan pandangan seakan aku sama dengan apa yang aku ucapakan.


Seketika aku diam. Mulutku tertutup rapat sambil mencari alasan untuk diriku sendiri.


" Kakak, kan sakit dek!" Kataku dengan pembenaran.


Wajahnya kembali mencari-cari. " Kalau begitu bilang saja aku sakit. Ia, kan kak!" Menatapku tajam.


Aku hanya diam. Menatap adikku yang antusias. Bagaimana mungkin ia bisa libur? Sekali lagi aku mencoba mendamaikan diriku sendiri. Mengalihkan pikiranku ke ayahku.


" Dek, cepat! Sana mengaji." Pintaku kepada adikku yang masih bergulat dengan gambarannya.


Beberapa kali adikku mengambil gambarannya dengan gerakan seperti menghitung nya.


Diriku yang menghadapi adikku semakin lemah. Hanya bisa menggantungkan harapanku kepada Sang Maha Pencipta.


Semoga aku tidak dimarahi oleh ayahku atas tingkah laku adikku besok.


" Kak, kakak kapan ngajinya?" Tanya adikku. Bangun dari rebahan nya.


Pikiranku pun seketika berpikir. Ingin menjawab pertanyaan adikku. Aku coba untuk mengingatnya. Agar aku bisa menjawab pertanyaan adikku. Heran diriku melihat adikku.


" Liyan, mana adikmu? Suruh dia bersiap untuk mengaji! Pekik ayahku dari ruang tamu.


Seketika aku diam mendengar ayahku dan melihat adikku.


" Ia, Ayah!" Sahutku dengan sedikit keras.


Gerutuan kecil terlihat dari adikku. Ia begitu tidak senang terlihat.


" Kak, ini malam apa?" Tanya adikku dengan wajah sedikit masam.


" Malam sabtu!" Kataku dengan suara datar.


Wajahku dan wajahnya seketika terkejut. Mendengar suara azhan tiba-tiba berkumandang. Raut wajah adikku kini terlihat jelas seperti orang yang akan berjuang untuk berkompetisi meraih juara.


Selang beberapa lama. Aku menatap adikku yang turun dari tempat tidur. Berdiri mengambil mukenanya yang baru dari lemari.


" Liyan!" Teriak ayahku.


" Ia Ayah!" Aku yang sudah mengerti panggilan dari ayahku menyuruh adikku segera menghampiri ayahku. " Dek, cepat!" Kataku memaksa adikku.


Sikap santainya masih saja bergeming di dalam dirinya saat ini. Ia masih diam dan berdiri menatap lirih I'ROQ yang ia pagang. Seakan, wajahnya tidak rela kalau ia harus mengaji malam ini. Begitu, berat hatinya untuk semua ini.


" Liyan!" Teriak ayahku kembali sedikit keras.


" Ana!" Aku menggerakkan kepalaku pelan memberikan isyarat, ia harus cepat. Nanti, Ayah bakalan marah.


Adikku hanya menatap ku dengan sorot mata yang datar. Langkah yang begitu berat. Ia tidak rela meninggalkan kamar dan pergi mengaji.


" Liyan, apa lagi dimana adikmu. Dari tadi Ayahmu sudah memanggil-manggil. Lama kali kalian. Apa yang kalian kerjakan di kamar itu!" Kata ibu sambung kami berteriak sambil menyingkap tirai kamar kami.


Sontak aku terkejut. Adikku pun seketika diam seperti patung. Kami saling bertemu pandang satu sama lain. Menatap dengan tatapan masing-masing.


" Ini kerja kalian ternyata, ya!" Hardiknya dengan melihat gambaran yang berserakan di tempat tidur. " Pantas! Lama kali kau keluar." Mengalihkan pandangannya kembali.

__ADS_1


Tubuh lemahku menciut seketika. Teriakan yang keras membuat ku terasa mengecil. Jantungku pun berdebar karena ketakutan. Aku pun mengalihkan pandanganku darinya.


"Cepat apa lagi!" Menatap adikku kesal.


Adikku langsung beranjak dengan wajah kesalnya.


" Liyan, susun gambaran itu! Jangan sampai masih berserakan!" Pekiknya. Pergi menghilang.


Gambaran yang begitu banyak. Kini aku susun satu persatu sampai selesai. Tubuhku yang lemah dan wajahku yang pucat malam ini seakan bersahabat dengan ku.


Ibu sambungku telah beranjak dari hadapan ku kini.


" Liyan!" Ibu sambungku kembali menemui ku. "Nanti, kalau sudah selesai keluar dari kamarmu!" Nada suaranya sedikit keras.


" Ia Bu !" Jawab ku dengan lembut.


Ia pun setelah itu pergi menghilang dari balik tirai. Seketika aku memutar kepalaku kembali. Menyusun gambaran adikku yang memenuhi tempat tidur.


Baju terusan yang aku pakai menghalangi gerakku. Membuat semuanya terhambat. Gambaran yang tadi berserakan tidak terlalu jauh. Kini ada beberapa yang menjauh akibat terkena bajuku.


" Liyan!" Teriak ibu sambung kami. Seakan ia memberikan sebuah pertanda agar aku segera keluar dari kamar.


Telingaku yang mendengar nya memaksaku harus segera bergegas dengan secepat mungkin. Tubuh mungilku yang lemah pun, memaksa ku untuk bergerak dengan cepat.


Huuu! Melepaskan penatku ke udara.


Kini gambaran telah selesai aku susun. Dengan cepat aku turun dari tempat tidur. Meletakkan gambaran ke tempatnya dengan rapi.


" Liyan! Malam ini kamu minum obat, kan?" Sambil menemui ku.


"Ia Bu!" Berjalan dengan kakiku yang lemah.


" Kau harus lebih dulu makan. Karena kau kan, mau minum obat." Mengambil nasiku.


Kakiku pun, mengikuti langkahnya ke dapur. Adikku yang telah selesai mengaji. Berjalan perlahan melihat ku yang berpapasan dengannya.


Gurat wajahnya sedikit aneh. Menatap ku dengan penuh tanda tanya. Seakan, dia belum yakin kalau aku mendapat perhatian dari ibu sambung kami malam ini.


Tatapannya yang lekat menatapku. Masih penuh dengan pertanyaan.


" Liyan, ini! Duduk disana!" Menunjuk tempat dengan kedua matanya. Menyerahkan nasi kepadaku.


" Ia Bu!" Mengambil nasi.


Adikku masih terus menatapku. Tatapan yang menghantuinya dengan pertanyaan yang dalam.


" Kak, kakak makan?!" Sambil menaruh I'ROQ dan membuka mukenanya.


"Ia dek!" Meletakkan nasi.


" Kak!" Menghampiri ku. " Dia yang ngambilkan nasi kakak." Kata adikku, masih belum percaya.


" Liyan, kamu sudah makan!" Ayahku melihat ke arah ku. Berjalan.


" Kak! Tapi kan tadi dia memarahi kakak, kan?!" Adikku mencoba mencari informasi.


Wajah tanda tanyanya tetap melihatku. Menunggu jawaban dariku.


" Engga makan?!" Ibu sambung kami melihat ayahku.


" Kak, kak, coba lihat itu! Dia mencoba beramah tamah sama ayah." Kata adikku. " Maunya apa lagi itu, kak." Adikku tidak senang. " Kakak, jangan diam aja. Coba lihat!" Adikku mendongakkan kepalanya dengan isyarat menunjuk ke dapur.


Ayahku masih bergeming. Aku memutar kepalaku mengikuti kemauan adikku. "Kakak mau minum obat." Menjelaskan. Agar adikku tidak menggangguku dan cepat minum obat.


" Ana, cepat kemari! Ini nasimu." Ayahku menyerahkan piring kepada adikku yang telah menghampiri ayahku.


" Terima kasih Ayah!" Dengan nada suaranya yang manja.


" Kau! Selalu anak kau itu aja yang kau manja." Kata ibu sambung kami dengan penuh penekanan.


" Aku engga pernah memanjakan dia." Sahut ayahku.


" Apa! Hee! Tertawa sinis. " Engga kau manjakan! Sudah jelas! Kau bilang tidak." Nada suaranya dengan sinis.


" Lagi pula itu anakku, apa urusanmu. Aku yang tahu, apa yang ingin aku lakukan. Mana yang harus aku manjakan, mana yang tidak. Mana yang aku harus didik keras dan mana yang dengan lebih keras." Dengan penuh penekanan.


" Wow! Kau memang hebat. Aku tepuk tangan mendengarnya. Baru kali ini aku lihat orang tua seperti mu." Dengan suara penuh penekanan.


Ayahku diam. " Jangan mencari keributan karena ini malam." Dengan tegas.


" Banyak kali alasanmu!" Ketus.


" Ini nasimu! Makan lah." Dengan suara datar.


" Sudah selesai anakmu baru kau ambilkan nasiku." Merasa tak rela.


Tubuhku yang lagi sakit. Mencoba tabah menghadapi semuanya. Aku pun telah selesai makan di tengah keributan. Obat yang akan aku minum telah berada di tanganku. Aku terpaksa harus tertatih untuk mengambilnya.


Kewajiban aku minum obat kini telah selesai. Hatiku lega.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2