
"Uang masih bisa kucari," lanjut ayahku. Meletakkan plastik yang di berikan oleh adikku tadi di sebelah bangku yang dia duduki.
"Heh!" Ibu sambungku menyeringai seakan dia menertawai ayahku bercampur ejekan. "Kau terlalu sombong dan sok banyak uang," sungutnya. "Jangan 'kan untuk mengobati Anakmu membeli makanan di rumah ini saja kau sudah kewalahan," cibirnya dengan pedas .
Aku dan adikku hanya diam saja berdiri mendengarkannya dari jarak yang jauh. Adikku masih menempel dengan kuat di pangkuan ayahku.
"Ayah kita kapan pergi bermain lagi?" tanya adikku berani memotong pembicaraan ibu sambung kami. "Aku pengen beli permen, Yah," katanya.
"Nak... ." Ayahku langsung menutup mulutnya dengan rapat.
"Baru lagi kemaren kalian di bawa jalan-jalan. Ini sudah minta jajan lagi. Kalian berdua itu selalu menghabiskan uang. Yang satunya sakit dan yang satunya jajan," gerutu ibu sambung kami dengan berani memotong pembicaraan ayahku.
Aku semakin lemas mendengar ayah dan ibu sambung kami yang tidak pernah terlihat akur. Aku semakin terhenyak mendengar semua ini.
"Liyan, kau mau jajan juga?" tanya ibu sambung kami.
Aku hanya diam dan melayangkan tatapan melihat muka ibu sambung kami yang mengatakan itu.
"Kau bilang Liyan. Kalau kau mau jajan," ucap ibu sambung kami.
Aku semakin terlempar ke dinding dan bersandar. "Engga. Aku gak mau jajan," balasku. Menatap ibu sambung kami bercampur rasa ketakutan.
"Jangan -jangan kau sakit karena gak jajan, iya?" lanjut ibu sambung kami melayangkan sorot mata bertanya padaku.
Rumah kami terasa semakin mencekam sehingga membuat ayahku tidak berani berucap sedikit pun. Ayahku hanya diam dan diam sambil memangku adikku yang manja dan cerewet itu.
Tekanan demi tekanan terus saja menghampiriku hingga membuat aku semakin terhimpit dengan hidup yang sederhana bercampur sakit. Tungkai kaki yang terkadang nyeri dan terkadang tidak seakan memaksa aku untuk tabah dan kuat dalam menjalani setiap yang aku lalui.
"Kalau kau tidak mau jajan. Lalu kenapa kau mau sakit?" tanya ibu sambungku yang membuat aku terpojok. Pertanyaan ini semakin menguras pikiranku untuk mencari jawabannya.
"Pertanyaanmu ada-ada saja," timpal ayahku jengah. Duduk dan memangku adikku. "Kau tanya sama Anak yang masih kecil. Kenapa dia sakit? Cik, cik, cik!" lanjut ayahku berdecak sambil menggeleng.
Aku yang bersandar di dinding dengan lekat menatap mereka silih bergantian. Adikku yang duduk di pangkuan ayahku semakin pias sedikit melihatnya. Sementara ayahku tetap terlihat seakan mendinginkan pikirannya.
"Seharusnya dia tau menjawabnya. Berbohong aja dia pandai. Iya 'kan Liyan?" sungut ibu sambungku menekanku dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Kemari Liyan," kata ayahku. Mengayunkan tangan ke udara memanggil. "Jangan terus menerus menekan dia. Dia itu masih kecil," ucapnya. Memberi larangan keras terhadap istrinya.
Aku pun dengan berat hati menyeret kaki menghampiri ayahku.
"Ayah, aku capek menggantungkan kaki di sini," rengek adikku mengiba.
"Tapi Nak... ." Ayahku melirikku. "... Kakakmu mau duduk di dekat Ayah," ungkap ayahku.
"Ayaaaah," rengek adikku terus. "Kakiku sakit," keluhnya ngambek. Mengerucutkan kedua bibir.
Setengah langkah yang terhenti aku pun. "Ayah, aku duduk di sini saja," usulku. Menjatuhkan tubuh duduk di atas lantai. Melirik adikku dengan sorot mata yang sudah tidak bisa bersahabat lagi.
"Anakmu yang satu itu membuatku muak, cih," kata ibu sambung kami. Memutar badan beranjak dari dinding kamar mereka.
Aku yang sudah terduduk diatas lantai pun sekilas melayangkan sorot mata melihatnya.
"Suka mengatur, merengek gak jelas. Untung aja kau orang tuanya. Kau memang sangat sabar menghadapi Anakmu itu, hiks." Ibu sambungku mengambil handuk dan sabun mandi.
"Ayah, aku sayang Ayah," kata adikku sebagai bentuk rayuannya terhadap ayahku agar ayahku tidak memarahinya.
"Iya Nak. Ayah sayang sama kalian berdua," ungkap ayahku. Mencium kepala adikku dengan penuh kasih sayang.
Aku yang melihatnya sedikit iri karena aku tidak bisa semudah itu untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah yang telah membesarkan kami dan merawat kami dari kecil setelah kepergian ibuku.
Sesekali aku melihat adikku yang masih senang duduk di pangkuannya tanpa memberi tempat untuk ku sedikit pun. Aku yang sudah terduduk di atas lantai dengan tubuh yang tidak sehat, menatap dia yang sangat beruntung mendapatkan curahan kasih sayang dari ayah yang kami harapkan selama ini.
Aku begitu tersipu malu menunduk dan menekuk muka dengan sedih ketika aku bertemu pandang dengan ayahku. "Liyan, kau tidak mau kemari, Nak!" ajak ayahku dengan lembut.
"Engga Ayah," jawabku pelan bercampur sedih . Di saat aku mengingat adikku. Adikku tidak begitu suka dengan kedekatanku sama ayahku. Dengan segala cara dia sebisa mungkin untuk menjauhkan aku dari ayahku karena dia tidak ingin kalau ayahku lebih sayang kepada ku dari padanya.
"Ayah ini sudah mau malam. Ayah gak mandi?" tanya adikku. Sok dewasa.
"Ayah mandi sebentar lagi, Nak," balas ayahku. "Coba panggil Kakakmu kemari," pinta ayahku dengan lembut pada adikku.
Adikku langsung cemberut membuang muka dari ku ketika aku melirik ke arahnya. "Ayah, Kakak itu sakit. Nanti aku sakit kalau aku dekat-dekat dengannya," sindir adikku dengan penolakan langsung.
__ADS_1
"Tapi kasian Kakakmu duduk sendiri di situ," papar ayahku. Melirik adikku dan sesekali melirik ke arahku juga.
"Kakak 'kan sudah besar Ayah," cetus adikku. Melipat kedua tangannya di atas dadanya sambil cemberut kesal.
Aku sangat sedih mendengarnya. "Ayah, aku di sini saja. Di sini dingin," balasku dengan tolakan lembut. Melihat ayahku dan adikku.
"Kalian cuma berdua, tapi selalu bertengkar. Ana kau tidak boleh keras kepala. Kalau Ayah suruh ajak Kakakmu, kau harus mengajaknya," tutur ayahku.
Huhuhuhu !
Air mata adikku langsung menetes . "Ayah 'kan sudah menyuruhku untuk menjaga Kakak," singgungnya bercampur suara tangis. Seakan dia tidak mau ditambahi tugas oleh ayahku lagi.
"Lalu kenapa ?" tanya ayahku bingung. "Ayah 'kan cuma menyuruh itu," lanjutnya kembali. Menggeleng.
"Masak Kakak harus di sini juga," keluh adikku. Cemberut bercampur tidak rela.
Aku semakin diam dan merasa terpukul oleh benda keras setelah mendengar pengungkapan yang keluar dengan pedas dari mulut adikku.
"Ana selama ini Kakakmu sudah menjagamu. Kau bermain dia mencarimu. Kau ingat ! Kalau kau bermain keluar, kau lupa untuk pulang. Kakakmu yang mencarimu," tandas ayahku mengingatkannya.
"Tapi 'kan Ayah yang menyuruh ," dalih adikku pelan. Menetralkan raut wajahnya yang manyun. Menundukkan kepala melihat kedua jemari yang di remasnya.
"Karena itulah Ayah menyuruhmu juga. Supaya kau bisa jadi, Anak yang bertanggung jawab sama saudaramu," tandas ayahku bercampur sebal.
Aku dan adikku menunduk mendengarkan omelan ayahku yang seperti seorang wanita. Angin yang mulai berembus dan hari yang sudah mau gelap, mendesak aku agar segera beranjak dari tempat dudukku.
"Ayah aku mau tidur," pintaku. Bangun dan berdiri melirik adikku secara diam-diam.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1