
"Kalau kalian susah diatur, Ayah akan mengantarkan kalian ke tempat kerabat Ayah," ancam ayahku enteng.
Mata adikku membelalak lebar. Tubuh kecilnya yang tadi berdiri langsung dia seret duduk dia atas tempat tidur tepatnya berdekatan dengan ku.
"Kak, aku gak mau, ah," tolak adikku. Duduk sambil memeluk bantal.
"Makanya, Kakak bilang ikuti kemauan Ayah," bisikku pelan menuntut adikku.
"Tapi, Kak. Kalau kita ikuti kemauan Ayah. Kita gak akan jajan lagi," ucap adikku menunduk lesu melihat bantal yang dia pukul-pukul pelan.
"Liyan, Ana. Dengar 'kan! Kalau kalian belum makan. Pergi makan sekarang ! Jangan tunggu-tunggu lagi! Nanti kalian sakit. Ayah belum punya uang untuk membawa kalian berobat nanti," tegur ayahku tidak main-main kali ini sepertinya.
"Ana!" panggilku menjentik adikku yang terlihat tidak mengambil pusing teguran ayahku. "Ana." Jentikku kembali melihatnya yang sama sekali belum mau merespon sedikit pun jentikkanku. "Ayah, kami sudah kenyang," jawabku kembali memutar bola mata melihat ayahku yang menunggu jawaban dari kami.
"Ya sudah. Ayah tidak akan bertanya lagi. Tapi ingat kalau kalian belum makan. Makan sekarang! Jangan ada yang mengeluh sakit dengar Ayah, mengerti!" tandas ayahku tegas, menghilang dari hadapan kami.
"Iya Ayah," jawabku pelan sangat takut. Bantal yang terletak di dekatku. Kuambil langsung dan kupeluk sebagai menetralisir ketakutan yang kualami.
"Kak, Ayah serius? Kalau Ayah gak akan lagi menyuruh kita makan?" tanya adikku yang masih kecil dan polos.
"Ayah cuma bilang, "kalau malam ini kita kelaparan, Ayah gak akan nanya lagi," jawabku pada adikku yang mendekatkan wajahnya di hadapanku.
"Kenapa gitu Kak? Jadi, siapa nanti yang ngambil nasi kita?" tanya adikku kembali membalas jawabanku dengan bertanya lagi.
Ideku langsung terbuka cepat. "Makanya, Dik. Makan sana bilang sama Ayah !" desakku menarik baju adikku agar dia segera turun dari tempat tidur.
"Kakak, nanti bajuku koyak," sentak adikku, menepis tangan. "Aku gak lapar. Kalau Kakak lapar Kakak saja yang makan," suruh adikku, melihat baju yang kutarik.
"Tapi kau takut, kalau Ayah nanti gak mau ngambil 'kan nasi," kataku menggoda adikku yang sering cemberut manja.
"Aku gak lapar. Tadi 'kan kita udah makan jajan. Jadi, aku udah kenyang, Kak," tutur adikku dengan nada suaranya yang lemah lembut bercampur manja.
Perut yang tadi lapar pun sama dengan adikku ternyata sudah kenyang. "Kita besok saja makan," saranku menyenangkan hati yang malas makan.
"Iya Kak. Kita besok pagi baru makan. Kalau Kakak udah lapar. Iya Kak?" kata adikku, membalas saranku dengan sebuah pertanyaan yang diajukannya seolah ingin bercanda ria dengan ku.
__ADS_1
Aku menaikkan bahu sebagai isyarat tidak tahu tentang hari esok. Malam yang semakin hampir larut menemani kami menikmati perbincangan yang tiada hentinya yang sering berakibat fatal yaitu, terjadinya pertengkaran.
"Aku malas punya Kakak kayaknya Kakak," imbuh adikku cemberut.
"Malas kenapa?" tanyaku yang senang menjahilinya.
"Ya, malas aja," jawabnya acuh semakin cemberut. Meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri tempat tidurnya yang sering memejamkan matanya.
Aku yang masih duduk di sudut tempat tidur, tepat di bawah kakinya adikku. "Ya sudah! Kalau malas punya Kakak, seperti Kakak. Besok cari Kakak baru aja, ya!" pintaku menjahili adikku yang cerewet. "Yang gak malas dan mau mengikuti semua maumu!" singgungku menjebak wajah memerahnya yang sudah ingin menangis.
Bibirnya yang sudah cemberut semakin mengetat, menunduk melihat selimut yang baru diambilnya. Air matanya kini langsung berkaca-kaca menutupi bola matanya yang bening.
"Kalau begitu Kakak mulai besok cari Adik baru aja!" candaku dengan senang melihat wajah sedihnya yang terlihat di tengah cahaya lampu yang setengah terang.
Wajah cemberutnya yang sedih semakin menunduk diam. Tangan kecilnya yang mengambil kain terlihat sangat lemas dan lesu. Bibir semakin bergetar bercampur malu menahan isak tangis yang ingin pecah.
Diam mematung dan membisu sambil menahan air mata yang ingin tumpah membasahi kedua pipinya yang cabi terlihat tertahan dengan kuat.
"Kalau gitu Kakak tidur dulu, ah. Biar besok jumpa sama Adik baru," sindirku dengan senang.
Sekian lama dia hanya diam saja tanpa berteriak sedikit pun. Duduk, seperti patung sambil melihat selimut yang sering dipakainya. "Kak, aku ikut sama Kakak aja," Katanya langsung mengagetkan.
"Aku akan ikut yang Kakak mau," ucap adikku dengan lembut menyerah.
Senyum sumringah tertarik lepas ketika mendengar ucapan adikku yang tiba-tiba membuatku senang. Rasanya ini bagaikan mimpi, pikirku dengan tubuh yang sudah tertutupi selimut dan membelakangi adikku.
"Aku janji, Kak," sambung adikku mengajak berdamai dengan ku.
Sungguh senang hatiku malam ini. Akhirnya, adikku yang cerewet dan egois itu mau mengikuti permintaanku.
"Akhirnya, dia kalah," gumamku pelan tersenyum senang. Di ikuti selimut yang masih menutupi wajah. "Kau pasti bohong?!" kataku dari dalam selimut.
"Engga, Kak," sahutnya dengan suara manjanya itu. "Aku gak mau punya Kakak baru," cetusnya.
"Kenapa ?" tanyaku, memutar tubuh miring melihat adikku.
__ADS_1
"Karena Kakak baru pasti jahat?!" kata adikku lagi, menatapku dengan gurat wajahnya yang sedih bercampur cemas.
"Siapa bilang Kakak baru jahat?" tanyaku spontan, tersenyum geli di dalam selimut yang menutupi setengah wajahku.
Seketika adikku langsung terdiam dan bingung. Dia menunduk seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang kulontarkan.
"Kata orang," jawab adikku yang sudah bingung.
"Jadi, karena itu. Kau takut punya Kakak baru," godaku menjebak adikku yang egois.
Pluk!
Tidak sabar adikku langsung menarik selimutku tanpa kusadari. Wajah sedihnya yang tidak mau punya kakak baru kini menyelimuti raut muka manjanya.
"Kenapa kau jadi, nangis?" tanyaku terheran, menatap hidung adikku yang memerah dan sedikit terdengar berair.
"Aku gak mau punya Kakak baru. Kakakku cuma satu," balas adikku memberi jawaban yang mencengangkan.
Aku begitu terperanjat dan menahan tawa mendengar ucapan adikku untuk yang pertama kalinya.
"Kakakku cuma Kakak aja," ungkap adikku seakan tidak rela jika aku melepaskannya.
"Tapi 'kan kau gak mau ikuti yang Kakak mau," tandasku berpura ngambek.
"Kak, aku mau," sahut adikku langsung. "Iya Kak, aku mau mengikuti yang Kakak bilang," lanjutnya menjelaskan.
Rasanya aku seperti tersambar petir. Diam seperti orang bodoh ketika mendengarnya. Adikku tidak pernah, seperti ini mengalah dan mau menyerah. Hal ini malah kembali membuatku bimbang mengingat adikku yang terlalu cerdik bermain-main dengan ku. Bahkan sekian lama dia berjanji dia belum pernah sekalian pun menepatinya.
Hal itulah yang membuatku menjadi sedikit berjaga darinya. Kedua bola matanya yang menatapku penuh harap itu kupandangi sedalam mungkin.
"Kak, aku gak akan nakal lagi," kata adikku. "Aku gak mau punya Kakak baru," cetusnya memohon ampunan dariku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...