
Tidak berapa lama kami berdiri di depan jendela kamar. Aku mendengar suara masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," sapa suara dari luar.
Aku dan adikku yang berdiri di depan jendela menatap keluar menikmati hujan beranjak dan menghampiri sumber suara yang berasal dari luar.
"Wa'alaikumussalam," jawabku dengan nada suaraku yang manja berlari ke depan pintu ingin segera mengetahui suara itu. Suara siapa?
"Ibu," jawabku yang telah merindukannya.
Adikku yang tadi mengikuti dari belakang berdiri di samping menatap ibu sambungku yang masuk dengan lekat. "Kak, Ibu kesayangan Kakak itu dari mana datangnya ?" bisik adikku di telingaku. "Kenapa tidak basah? Padahal 'kan, hujannya deras?" Adikku berdiri dengan pakaian hoodienya yang tidak jauh berbeda dari hoodieku.
"Ana... ."Sontak aku langsung memutar kepala melihat ke arah dapur.
"Siapa, Nak?" tanya ayahku langsung berdiri melihat ke arah yang kami lihat.
Sekelabat aku langsung menatap dengan cemas. Ibu sambungku yang tampak baru datang dari luar. Dia masuk dengan tenang tanpa membawa beban bersalah.
"Dari mana saja dirimu? Kenapa jam segini baru pulang ?" tanya ayahku yang menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.
"Aku tadi dari rumah temanku," jawabnya dengan tenang.
Ayahku sejenak diam ketika mendengar jawaban itu. Ayahku rasanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Gurat wajah yang letih itu pun sembari memutar dengan gelengan kepala seakan ayahku sudah kehabisan akal menghadapi ibu sambungku.
"Kenapa kau menggeleng?" tanya ibu sambungku.
Ayahku hanya diam saja memutar langkah sambil mengerjakan pekerjaan dapurnya. Aku yang berdiri menyaksikan mereka. Melihat ayahku dan ibu sambung kami yang berjalan masuk ke kamar sambil meremas jemariku.
"... kalau aku harus terus menerus di dalam rumah ini. Bisa-bisa pikiranku semakin stres," sungut ibu sambungku. "Rumah ini kosong melompong. Tidak ada apa-apa. Bahkan tv pun tidak ada di rumah!" kata ibu sambungku dengan sedikit keras.
Ayahku langsung menghentikan yang di pegangnya dan memutar kepala sedikit menoleh ke kiri. Aku yang melihat ayahku seakan menikmati yang di sampaikan ibu sambungku. Sedikit pun tidak ada balasan yang keluar dari mulut ayahku untuk menyerang ibu sambungku.
"Kayak mana pula aku bisa bertahan diam di dalam rumah yang kecil ini," pekik ibu sambungku dari dalam kamar. "Berhari-hari sudah cukup kutahankan tinggal di sini. Satu pun tidak ada yang kudapatkan," rancaunya. "...selain kerjaan, kerjaan dan kerjaan, cih." Ibu sambungku semakin sepuasnya bersuara.
Aku dan adikku pun langsung berpelukan dengan erat karena mendengar omongan-omongan yang keras keluar dari mulut ibu sambungku. "Kak, aku takut." Adikku memelukku dengan erat. Melihatku. "...apa Kakak tidak takut ?" tanya adikku yang terheran melihatku masih berdiri.
"Ana, Kakak juga takut," kataku dengan nada suara yang kutahan untuk menahan ketakutanku.
"Terus, kenapa Kakak masih berdiri di sini?" Adikku melihatku kembali bertanya ingin tahu.
"Kakak, lapar, Dik," jawabku dengan wajah memelas.
Adikku refleks melepaskan pelukannya dan melihatku dengan dalam. "Kakak, lapar ,ya?" tanya adikku dengan sendu. Dia sungguh kasihan mendengarnya. "Kak, apa Ayah sudah selesai masak?" tanyanya kembali. Berjalan ke dapur menarik lenganku menghampiri ayahku.
"Ayah, kami lapar." Adikku memanggil ayahku.
"Anak Ayah sudah lapar, ternyata! Sekarang duduklah, Nak! Ayah akan mengambilkan makanan kalian." Ayahku langsung mengambil piring dan meletakkannya di hadapan kami.
"Yummy." Aku dan adikku langsung menyantap masakan ayahku.
Kresek!
Suara tirai kamar pun terdengar dengan kasar dibuka. Aku yang menyuap nasi seketika terhenti di tengah udara dengan mulut yang setengah terbuka. Aku pun kini meliriknya dari ekor mata.
Ibu sambungku yang telah berdiri tepat di depan pintu kamar. Dia dengan tajam melihat kami yang duduk di atas lantai sambil menikmati makanan. Wajah bengisnya pun terlihat dengan tajam sekan dia ingin menerkam kami. Sorot mata yang tidak berkedip pun semakin melebar seperti ingin keluar.
Aku yang melihat dari ekor mata perlahan langsung menatap lurus ke piring yang terletak di hadapanku. Adikku yang duduk bersama denganku memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan cepat. Tanpa menoleh dan berpikir adikku dengan sigap menghabiskan semuanya tanpa tersisa sedikit pun.
Air yang terletak di dekatnya langsung di raihnya dengan bergegas dan meminumnya seperti orang yang di kejar oleh sesuatu sehingga dia pun tersedak.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Dia pun terbatuk dengan keras dan wajahnya pun memerah seperti kepiting rebus. Aku yang duduk tepat di sampingnya memutar kepala dan melihatnya yang tersedak dengan kesakitan.
"Ana, pelan-pelan, Dik! Jangan terburu-buru," tegurku dengan nada suara pelan di telinga adikku.
Adikku yang sesekali memberi isyarat kepadaku dengan lirikan matanya yang menoleh ke arah ibu sambungku.
Aku yang memahaminya seketika. "Ana, jangan takut! Ibu tidak akan memarahi kita," kataku dengan keyakinan penuh.
"Tapi aku takut, Kak," balas adikku yang telah siap mencuci tangannya.
"...sampai batuk-batuknya lagi kalian yang makan itu, 'kan?" tanya ibu sambungku dengan kasar. Mendelik.
Aku yang tergugup semakin panik mendengar dan melihatnya. Perlahan aku pun menyuap nasi dengan kasar agar aku juga bisa segera selesai makan sama, seperti adikku. Di tengah-tengah kekalutanku aku menyempatkan menghabiskan nasi dan air minum yang telah tersedia di hadapanku.
Ibu sambungku yang belum beranjak dari tempat kami. Menjadikan aku sedikit bertanya di dalam hati dengan jeritan yang memenuhi ruangan kalbu. Semakin lama ibu sambungku semakin ingin berlama-lama karena dia mengetahui kalau ayahku sudah pergi ke sumur untuk mandi dan mengambil wudhu.
__ADS_1
Hujan yang tadi menimpa ayahku membuat dia segera beranjak mandi dengan cepat setelah selesai menyiapkan makan siang dan memberi kami makan.
Aku dan adikku yang telah selesai makan tidak berani bangun sebab ibu sambung kami masih berjaga di tengah kami. Dia seperti security yang menjaga tuan mudanya dari orang-orang jahat.
Suaranya yang keras berbalut dinding rumah yang sedikit mendengung membuat seakan terdengar hingga keluar rumah. Nada -nada yang keras dan kasar itu sangat mencabik-cabik mental kami sebagai anak kecil.
Aku yang ingin segera melarikan diri. Meliriknya dengan penuh hati-hati. Namun, karena gerakku yang terbatas membuatku kembali duduk dan meratapi nasib.
"Kak... ," panggil adikku mengayunkan tangan di pundakku. "... Ayah tidak kulihat, Kak?" tanya adikku sambil memutar pandangan ke sana kemari.
"Kalau Ayah di sini, pasti kita sudah bisa pergi dari sini?!" kataku dengan tegas.
"Mana pula," sela adikku. "... Ayah sekarang 'kan, sudah sayang sama dia," celetuk adikku sedikit kasar.
"Sssttt ! Ana tidak boleh bicara seperti itu!" tegurku melarang adikku. "... nanti kita berdosa, Dik," paparku melirik adikku yang duduk di sampingku menatap lurus dengan kosong.
"Kakak terlalu banyak tahu," timpal adikku.
"Bukan, Dik. Ayah juga menyuruh kita harus berkata sopan terhadap siapa pun," tandasku menasihati adikku.
"Kakak, tapi Ibu kesayangan Kakak itu terlalu jahat," celetuk adikku dengan menyalahkan aku.
"Sssttt !" Aku langsung menatap adikku menutup mulutnya.
Ibu sambungku yang masih berdiri mendelik melihat kami memaksaku untuk bersikap seakan aku baik-baik saja dan tidak ada ketakutan sedikit pun. Di samping itu juga aku harus bisa melindungi adikku dari amarah ibu sambungku yang telah meluap akibat ayahku yang terkadang sayang terhadap kami.
"Tadi Ayah kalian di sini!" Ibu sambungku tiba-tiba teringat dan memutar pandangan kesana kemari mencari ayahku yang sudah tidak terlihat. ... sekarang di mana dia?" Ibu sambungku bertanya kepada kami dengan mendelik.
Aku dan adikku semakin takut melihat matanya yang melotot melihat kami. "Kak, ayo kita masuk!" jerit adikku merengek mengajakku.
Aku semakin getir dan panik. Piring yang tadi ingin aku hantar ke dapur kini masih jelas teronggok dan sudah di kerumuni lalat. "Sebentar lagi, Dik! Ibu masih di sini berdiri." Aku menaikkan kepala sedikit melirik dengan pelan.
Hujan yang telah reda seakan membawa semua kebahagiaanku terbang jauh melayang ke angkasa. Seiring redanya hujan keceriaan kami pun hilang sekejap mata. Rumah yang tadi adem ayem kembali menggema dengan pekikkan suara yang keras dan kasar mengaum di udara rumah kami yang kecil.
Hujan yang tadi menerbangkan angan dalam kesepianku akan hadirnya sosok seorang ibu kini seakan mencekam diri ini hingga tergulung, seperti di balut ombak yang deras menghempas daratan.
Aku dan adikku yang meremas jemari dengan kuat menahan hempasan kata-kata yang keluar dari mulut ibu sambungku.
"Ayahmu sampai sekarang belum juga terlihat." Ibu sambungku berjalan.
Aku dan adikku pun perlahan bangun dari duduk sambil mengikuti kaki ibu sambungku yang berjalan dengan kedua bola mataku.
Aku dan adikku telah tenang dari belenggu yang mengikat dan terlepas sudah. "Dik, sekarang kita sudah aman," kataku pada adikku. Menatap ibu sambungku yang berdiri di dapur.
"Iya Kak. Ibu kesayangan Kakak itu sudah pergi ke sana," sambung adikku menegaskan. "Kak, sekarang kita harus mengantarkan piring ini!" Adikku menjatuhkan setengah tubuhnya di udara mengambil piring dan gelas.
"Iya... ," Aku menatap ibu sambungku sambil berpikir. "...Ana... ." Aku melihat adikku. "...Ibu berdiri di situ!" Aku seakan masih takut.
"Tidak apa-apa, Kak. Di situ 'kan ada Ayah," sahut adikku dengan nada suara tenang.
"Apa kau sudah makan?" tanya ayahku kepada ibu sambungku. Masuk.
"Heh!" Ibu sambungku menyeringai seakan menertawakan pertanyaan ayahku. "Mau makan apa?" tanya ibu sambungku dengan ketus.
"Ya, makan nasi lah," jawab ayahku dengan tenang.
"Anakmu yang sudah makan!" tandas ibu sambungku seakan membencinya.
Ayahku langsung diam dan menunduk seakan dia berpasrah dengan keadaan dirinya yang lemah. Dia pun berjalan masuk dengan mengendap-endap, seperti maling. Ayahku tidak lagi mau berbicara, bahkan menoleh ke belakang untuk melihat ibu sambungku pun tida lagi.
Ayahku hanya fokus berjalan untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhurnya yang telah lama terlewat akibat mengurus kami kedua putrinya dan menyiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya.
Ayahku dengan kelesuan yang di tekuk masuk dengan jalan gontai yang dia atur agar tetap terlihat tegar di hadapan kami kedua putrinya.
Selihai mungkin ayahku selalu menyembunyikan sesuatu yang menyerang hatinya dengan sekelebat. Aku yang masih anak kecil yang duduk di bangku sekolah dasar sudah bisa memahami yang dialami oleh ayahku tercinta.
Aku tetap harus kuat dan tegar sama seperti ayahku agar tidak ada air mata dan kepiluan yang hadir di tengah keluarga kecil yang sangat sederhana ini. Segala bentuk tampikkan yang menyerang baik dari temanku, bahkan ibu sambungku sendiri karena keadaan ini tidak boleh mematahkan semangatku.
Aku harus tetap berdiri kokoh di hadapan adikku juga agar dia tidak terlalu membenci ibu sambungku. Selihai mungkin aku berusaha menutupi semua dari adikku, apabila adikku tidak mengetahuinya.
Ayahku yang kuat dan tegar. Dialah yang menjadi penguat diriku sehingga aku bisa bertahan dalam kondisi apapun, seperti aku terserang penyakit yang membuat tubuh mungilku yang menjadi lemah dan tidak berdaya. Bertahan di tengah hempasan ombak besar yang menerjang.
Adikku yang berdiri masih setia menemani hingga saat ini. Hanya menatap ayahku yang telah senja. Sesekali adikku ingin berlari mengejar ayahku. Tapi aku sekuat mungkin untuk menahan kaki adikku yang ingin berlari. "Ana, tetaplah berdiri di sini! Biarkan Ayah sholat dan istirahat." Aku menatap adikku yang berdiri di sampingku.
"Tapi Kak, aku belum pernah dicium Ayah. Kak, Biasanya Ayah dulu selalu menciumku setiap kali dia pulang kerja." Adikku dengan sendu menatapku. "... tapi... sekarang tidak lagi semenjak Ibu tersayang kakak itu hadir." Adikku menunduk dengan menekuk wajahnya.
Aku sangat sedih mendengar yang di sampaikan oleh adikku. Air mataku langsung menetes tanpa kusadari ke lantai yang ku injak tepat di dekat ujung kakiku.
__ADS_1
Butiran kristal itu pun terletak tanpa dosa sedikit pun. Aku yang melihatnya tidak bisa membendung tangisan sehingga air mataku pun terjatuh berurai ke lantai.
Adikku yang kini tidak lagi mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ayahku akibat ayahku memilih untuk menikah lagi membuat dia semakin menyendiri dan egois. Aku pun merasa semakin jauh juga dari ayahku yang belakangan ini semakin terlihat jelas.
Sekali pun itu terjadi. Namun, aku yang selalu mendapat peringatan dari ayahku yang selalu mengatakan anak pertama itu harus kuat dan tidak boleh menyerah sebelum berperang. Memicuku untuk tidak lemah di hadapan siapa pun.
Inilah yang menjadi sandaran kekuatanku untuk berdiri tegak lurus ketika berjalan. Sebanyak apapun duri yang kulalui aku harus tetap melewatinya tanpa menoleh sedikit pun kebelakang untuk mundur.
Ayahku yang telah berlalu dengan sholatnya meninggalkan ibu sambungku yang dengan santai menyerang ayahku dengan lemparan kata-kata pedas dan kasar begitu khusuk terdengar.
Aku dan adikku yang selalu berdua dalam keadaan apapun mengambil piring dan gelas yang terletak di atas lantai dan membawanya ke dapur dan menaruhnya di dalam ember yang di mana di gunakan oleh ayahku tempat menyimpan piring-piring dan gelas kotor.
Aku yang berdiri bersama adikku di depan ember melihat ibu sambungku yang sedang kesal dengan gerutuan yang masih mengetat di wajahnya.
"Liyan, bagus 'kan piring dan gelas kotor itu!" perintah ibu sambungku dengan bentakkan yang melepaskan kekesalannya ke pada kami.
Sementara adikku yang berdiri bersama denganku. Menatap ibu sambungku dengan pias. Adikku yang masih kecil terkadang bisa terlihat, seperti hewan yang buas ketika aku dan ayahku di sakiti oleh ibu sambungku.
Adikku yang masih kecil ini juga terkadang menjadi penjaga bagiku di sekolahan ketika kedua temanku menghardik dan membulyku.
Aku yang melirik adikku seakan telah memahaminya. "Ana, sekarang juga kita tidur siang di kamar, yuk!" ajakku dengan lembut menarik lengan adikku. Berjalan.
"Tidak Kak! Aku tidak mengantuk," balas adikku dengan acuh. "Kalau Kakak mau tidur Kakak saja. Jangan ajak-ajak aku," timpal adikku seakan dia merajuk denganku.
"Kenapa Ana?" tanyaku.
"Benar Ana. Sekarang pergilah tidur, Nak! Ini sudah siang dan hujan juga sudah berhenti," sahut ayahku yang telah berdiri di luar tepatnya di depan pintu kamar.
"Ayah...," panggil adikku berlari mengejar ayahku. "... kenapa Ayah tadi di marahi olehnya?" tanya adikku dengan bijak.
Ayahku yang telah mengetahui arah pertanyaan adikku menjatuhkan tubuhnya menatap adikku dengan lembut . "Nak, Ibumu tidak memarahi Ayah," jawab ayahku dengan lembut.
Adikku yang terlalu ingin tahu. "...tapi, kenapa tadi dia bicara keras pada Ayah?" tanya adikku dengan nada suara lembut dan manja.
Sementara aku yang berjalan ingin menghampiri mereka berdua. "Ayah, kenapa Ayah lama sekali dari sumur?" tanyaku memotong pertanyaan adikku.
"Ayah tadi menimba air... ."Ayahku langsung menarik lenganku dengan lembut. "... untuk memenuhi ember-ember yang kosong di sumur," jawab ayahku menatapku dengan penuh kasih sayang.
"Apa tidak banyak nyamuk, Ayah?" tanya adikku dengan wajahnya yang manja.
"Baanyaaak," jawab ayahku bak seperti anak kecil agar aku dan adikku tertawa.
"Hahaha !" Aku dan adikku pun tertawa dan ayahku senang sekali karena dia telah berhasil membuat kedua putrinya tertawa.
"Ayah, Ayah seperti teman aku," celetukku di hadapan ayahku.
"Teman kamu, Nak?" Ayahku dengan senang. "...teman kamu yang mana, Nak?" tanya ayahku dengan lembut.
"Ayah tahu tidak?! Kalau aku di sekolah punya teman yang lucu," paparku.
"Siapa Kak?" tanya adikku.
"Iya, siapa nama teman Anak Ayah yang cantik ini?" tanya ayahku menggodaku dengan candaannya.
"Namanya Solihin, Yah," jawabku.
"Ooh, cowok," sambung ayahku mengangguk. Berdiri dan menarik lengan kami untuk duduk menepi tepat di dekat dinding kamar ayahku.
"Solihin yang mana, Kak?" tanya adikku sambil duduk di pangkuannya ayahku. "...aku cuman kenal sama bang Fikri saja," imbuh adikku.
"Jadi, kalian Anak dan Ayah di sini lagi bercerita." Ibu sambungku berdiri melipat kedua tangannya. "... bercerita apa?" tanya ibu sambungku. Berdiri.
"Mereka lagi bercerita tentang teman sekolahnya," jawab ayahku dengan tenang. Melihat aku dan adikku dengan curahan kasih sayangnya.
"Itukan hanya cerita Anak-anak. Cerita Anak-anak itu hanya Anak-anak saja yang nyambung," tutur ibu sambungku seakan mengejek ayahku.
Aku yang duduk di pangkuan adikku menaikkan kepala menatap ibu sambungku yang berbicara. "Bu, kami 'kan bukan Anak-anak lagi," tuturku dengan wajahku yang polos.
Ayahku yang masih memangku kami. "Nak, pergilah ke kamar, ya!" pinta ayahku dengan lembut. "... Ini sudah jam berapa. Sekarang waktunya kalian itu tidur siang, ya," dengan penuh kasih sayang ayahku menyuruh kami.
"Baik Ayah." Aku langsung berlari sambil menarik lengan adikku.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...