
Aku semakin menunduk menahan malu yang menganak di dalam diri ini. Sembari memutar bola mata dengan kencang hanya untuk menetralkan kepedihan di hati akibat sindiran adikku yang terlalu menghenyak hati.
"Kalau Kakak bersedih. Nanti luka kaki Kakak gak sembuh," kata adikku dengan gurat wajah bercampur tawa mengejek.
Glek!
Aku kembali menelan ludah kekecewaan karena ternyata adikku tidak seperti harapanku. Aku pikir dia sudah berubah dan melupakan semuanya. Tapi ternyata aku salah. Sekarang aku melihat dia yang sama seperti yang baru aku kenal, iri dan cemburu terhadapku.
Tubuh mungil yang mulai dingin membeku semakin menyelubungi dengan sejadi-jadinya. Lutut yang terluka pun masih menyisakan rasa nyeri yang teramat dalam sehingga membuat air mata kembali menetes deras membasahi pipi.
Saat ini tidak banyak yang bisa aku utarakan selain menahan sabar dan berbesar hati menahan rasa sakit serta menghadapi sikap adikku.
"Kak, kalau boleh. Mending Kakak gak usah ikut -ikutan dengan aku. Yang punya banyak mainan, hiks," cibirnya dengan pedas. Menyeringai dengan gurat wajah bercampur tawa.
"Ana, tapi 'kan Kakak Anak Ayah juga," ucapku dengan terus terang dengan gurat wajah lirih. Menatap lantai sambil menajamkan pendengaran mendengar ocehan adikku.
"Iya, tapi 'kan Kakak bukan Anak kesayangan Ayah. Buktinya Ayah gak pernah menuruti kemauan Kakak. Bukan itu saja, kalau Kakak salah Kakak langsung di hukum," tandasnya.
Aku langsung pias mendengarnya. "Kau 'kan di hukum juga!" kataku dengan nada suara sedikit meninggi. Memberi perlawanan untuk adikku.
Wajah adikku semakin memerah sorot matanya pun semakin mendelik. "Iya, itu semua gara-gara Kakak. Kakak yang membuat aku di hukum. Kakak juga yang membuat aku gak bisa bermain keluar. Semuanya Kakak, semuanya Kakak. Kakak jahat! Huhuhuhu!" teriak adikku dengan keras sambil menangis.
Aku langsung terdiam menutup mulut dengan terpaksa. Suara tangis adikku pun semakin keras terdengar memenuhi ruangan kamar. Aku sangat panik setelah mendengar tangisannya. "Ana, jangan menjerit. Nanti Ayah mendengarnya. Diam Ana, diam !" pintaku dengan nada suara lembut bercampur panik. Menggeser dudukku dan menutup mulut adikku dengan tanganku. "Ana, Kakak mohon diamlah! Jangan menangis," lanjutku dengan nada suara semakin panik. Memutar kepala melihat ke arah tirai kamar.
"Suara tangisan siapa itu?" teriak ibu sambung kami dari balik dinding kamar.
Aku semakin panik dan kebingungan bercampur dengan suhu tubuh yang tidak normal.
"Liyan, itu kau yang menangis ?" tanya ibu sambung kami semakin berapi-api.
"Ada yang menangis rupanya?" sambung ayahku bertanya dari balik dinding kamar.
Huhuhuhu! Adikku semakin histeris menangis. Suaranya tidak bisa aku cegah untuk meredakan tangisnya.
"Liyan, kenapa kalian berdua di tanya diam?" teriak ayahku dari balik dinding kamar dengan nada suara panik. Berjalan dengan kencang terdengar oleh pendengaranku menghampiri kamar kami.
__ADS_1
"Mungkin kedua Anakmu sudah tidak punya mulut!" tandas ibu sambung kami dengan kasar.
Huhuhuhu! Adikku semakin menangis seakan dia begitu sedih teramat dalam.
Aku pun gugup setelah melihatnya menangis. Kepanikan bercampur gemetar pun menyelimuti diri ini setelah aku melihat bayangan menghampiri tirai kamar.
"A-Ayah," gumamku pelan dengan suara terbata. Menatap lekat bayangan yang hampir mendekati tirai kamar.
"Oh, tidak! Ana diamlah. Ayo! Kakak minta maaf kalau Kakak jahat,"
"Kenapa ? Siapa jahat ?" tanya ayahku. Berdiri di belakangku.
Glek!
Aku langsung menelan ludah dengan kasar. Menatap dinding kamar dengan gurat wajah panik bercampur cemas. Duduk dengan sebelah kaki yang sulit untuk di tekuk dan sebelah tangan kanan masih menempel di bibir adikku sementara tangan sebelah kiri memegang pergelangan leher adikku.
"Liyan, kau menangiskan Adikmu?" tanya ayahku dengan nada suara rendah bercampur dengan penuh penekanan. Berdiri tegak di belakangku.
Aku pun mengerjitkan kedua mataku dengan kuat sambil mengerutkan bibir sekuat-kuatnya menahan rasa takut yang datang menyerang dari belakang.
"Jawab Ayah, Liyan. Kenapa diam saja ?" tanya ayahku semakin pias.
"Kalian berdua selalu berkelahi. Kau saja yang membuat pertengkaran di rumah ini, Liyan," pekik ibu sambung kami.
Huhuhuhu! Tangis adikku belum juga berhenti. "Aayaah!" panggil adikku berlari dengan wajah sedihnya yang memerah di kedua bola matanya. Dia pun meninggalkan tempat tidur dan menghampiri ayahku. "Ayah Kakaaak!" katanya dengan nada suara yang serak bercampur tangis dari belakangku.
"Liyan, kenapa kau buat Adikmu menangis?" tanya ayahku pantang menyerah. "Putar badanmu dan lihat Ayah!" katanya dengan nada suara meninggi dan penuh penekanan.
"I-iya Ayah," jawabku pelan. Mengangguk dan memutar badan perlahan.
"Kenapa adikmu?" tanya ayahku. Menatapku dengan tatapan yang tajam.
Aku yang sudah duduk tepat di hadapan ayahku masih menutup mulut dengan rapat bercampur tubuh mungil yang sudah kembali melemah.
"Dari tadi Ayahmu bertanya Liyan. Kau selalu menutup mulut. Kau bisu, ya?" tanya ibu sambungku dengan penuh penekanan. Berdiri tepat di belakang ayahku sedikit sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
__ADS_1
"Jangan terlalu ikut campur dalam urusanku dan Anak-anakku," bisik ayahku pelan kepada istrinya.
Aku langsung menaikkan kepala pelan. Melihat ayahku yang menegur istrinya itu. Ibu sambungku langsung diam dan menatap tajam ayahku.
Huh!
Dia pun mendengus kesal dan pergi meninggalkan kami bertiga.
"Liyan, kau apai adikmu, ha?" tanya ayahku. Melayangkan sorot mata yang tajam melihatku.
Huhuhuhu ! Adikku semakin terhenyak dengan tangisannya.
"Lihat ini! Adikmu menangis!" ucap ayahku dengan sorot mata yang tajam sambil menunjuk adikku dengan kedua bibirnya. "Kau tau 'kan Liyan. Apa yang Ayah pernah bilang kalau Adikmu menangis, ha? Kau masih ingat ?" tanya ayahku dengan tatapan mata yang tajam. Seakan sorot mata itu bercampur dengan api yang ingin membakarku.
"Tau Ayah," balasku menjawab pertanyaan ayahku.
Huuhuhu! Suara tangis adikku belum juga reda.
"Betapa sedihnya hati Adikmu, Liyan!" ungkap ayahku dengan nada suara pelan. Menatapku dengan lekat.
Aku semakin diam dan terus diam jika sudah berhadapan dengan ayahku. Sepertinya aku memang sudah di takdirkan untuk terus mengalah dengan adikku, pikirku. Melirik adikku yang manja di pelukan ayahku.
"Ayah, aku gak sengaja," kataku mengiba. Membela diriku sendiri.
"Huhuhuhu ! Ayah Kakak bohong!" balas adikku langsung. Menaikkan kepalanya melihat ayahku dengan kedua bola matanya yang memerah karena tangisannya.
Ayahku kembali menatapku dengan tajam, di ikuti oleh tangan sebelah kirinya melingkar di leher adikku yang berdiri.
"Benar dugaan Ayah. Kau yang sudah membuat Adikmu menangis," kata ayahku. Berdiri sambil memeluk adikku.
"Ayah, tadi Adik luan yang jahat," sangkalku. Duduk di atas tempat tidur.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...