
Aku dan adikku telah siap menikmati sarapan pagi yang telah disediakan oleh ayahku. Ayahku begitu peka ketika aku melihat obat yang terletak di atas meja.
Adikku juga demikian, meski dia sangat membenciku dan iri padaku tapi dia tidak pernah mengabaikan aku sama sekali. Terutama di saat aku sedang sakit. Dia selalu ada untuk ku dan sibuk untuk mengurusku, layaknya seperti seorang ibu. Itulah yang membuatku kagum dengannya. Aku sangat terharu ketika adikku mempedulikan kesehatanku, seperti hari ini.
"Kak, ini obatnya," kata adikku. Mengambilnya dari atas meja dan menyerahkan kepada ku.
"Terimakasih Ana," balasku dengan lembut. Mengambil obat dari tangannya.
"Kakak jangan lupa! Air minum Kakak di tambah," ucap adikku. Menyodorkan teko yang sudah tersedia di atas meja.
Aku semakin berpikir kalau ayahku telah menyediakan semuanya untuk ku. Aku pun terus menatap teko yang perlahan di seret adikku tepat dekat dihadapanku.
Tak!
"Ana, obat ini sangat pahit," keluhku. Melirik adikku sambil membuka obat.
"Makanya aku bilang, Kakak isi minumnya yang penuh. Biar Kakak bisa langsung minum," kata adikku mengajariku.
Srrr!
Glek !
Aku pun menuangkan air minum ke dalam gelasku sampai penuh dan langsung menelan obat dengan air minum yang telah kutuang.
"Kak, semoga Kakak cepat sembuh. Sebentar lagi kita masuk ujian," kata adikku. Melirik aku yang memegang gelas dan menelan obat.
Setelah selesai aku kembali meletakkan gelas di atas meja yang sering dipergunakan oleh ayahku untuk menyantap makanannya.
Plak!
Gelas pun aku letakkan di atas meja tepat di mana adikku duduk. Gelas itu pun kini terduduk diam di atas meja yang setengah panjang.
"Kak, kalau Kakak sakit jangan lama tidur!" kata adikku dengan larangan yang keras. "Nanti Kakak semakin sakit. Jadinya, aku gak bisa bermain dengan Rahmadani," keluhnya mengiba. "Lagi pula, Kakak terlalu sering sakit. Aku takut kalau aku tertular," tandasnya pedas.
Deg!
Kata-kata adikku seketika menghenyak dan membaut aku lemas dan juga sedih. Adikku bicara terlalu menghenyak batin. Dia sama sekali terlihat polos dan mungkin belum mengerti, pikirku. Melayangkan pandangan kembali melihat ke tirai kamar. Di mana tempat mainan kesayanganku tersimpan.
"Ana, Kakak akan jauh-jauh dari mu supaya kau gak sakit," kataku menjelaskannya pada adikku.
"Kayak mana pula Kakak mau jauh -jauh dariku," ucap adikku. Menatap pintu yang terkunci dari luar. "Apalagi kalau sudah Ibu tersayang kakak itu memanggil kita. Pasti kita datang," timpalnya.
__ADS_1
Aku semakin pusing tujuh keliling setelah mendengar timpalan dari adikku. Belum lagi aku harus memikirkan tubuh dan tungkai kaki ini agar segera sembuh dan supaya aku bisa kembali mengikuti pelajaran di sekolah tanpa ketinggalan lagi.
"Ana, kalau kayak gitu. Kakak masuk ke dalam, ya!" tuturku sebagai isyarat meminta izin untuk pamit dari hadapan adikku.
"Kakak mau main-main lagi di kamar?!" kata adikku bertanya. Menegakkan kepalanya lebih tinggi lagi agar sejajar dengan sorot mataku yang berdiri tegak di dekat meja.
"Biar kau gak sakit," ungkapku. Melihat adikku dengan wajah berbinar dan tatapan seakan meminta izin darinya.
"Gak boleh," larang adikku langsung. "Kalau Kakak mau bermain. Bawa saja Ank Bp Kakak itu ke sini," usul adikku.
Aku sontak membelalak. "Untuk apa? Dan kenapa harus dibawa ke sini?" tanyaku terheran. Melayangkan sorot mata yang tajam menatapnya.
"Karena aku mau melihat Kakak bermain. Masa Kakak bermain sendiri di kamar. Kalau nanti kamarnya kotor. Ibu kesayangan Kakak itu pasti marah?!" kata adikku mengiba dengan sorot mata yang ngotot.
"Aaah! Kakak gak mau. Bermain di sini gak enak. Gelap!" tolakku dengan keras.
Adikku semakin pias. "Kak, di sini 'kan terang," lanjutnya tidak mau kalah.
Aku semakin jengah mendengar bantahannya. "Ana, di sini itu gelap," ucapku kembali mengulanginya dengan tegas.
"Gak Kak," balas adikku ngotot.
"Gelap," bantahku kembali.
"Gelap," kataku dengan melayangkan sorot mata tajam dan berlalu meninggalkan dia sendiri.
"Uwis!" Adikku meringis kesal melihatku yang bersikeras menolak permintaannya. Dia lalu menatap jemari yang terletak di atas pangkuannya. Mengerucutkan mulutnya dengan rapat.
Seketika jiwaku bergelora ikut merasakan sedihnya yang tertoreh jelas di wajahnya. Aku yang berdiri sekalian menyeret tungkai kaki yang lemah ini dengan terseok-seok dan berhenti lalu membelokkan langkah ini singgah di depan lemari yang menjadi pembatas antara ruang tamu kami yang kecil dengan ruangan kamar kami yang sangat sederhana.
Perlahan aku yang berdiri membelakangi adikku yang merajuk tadi, menyeret obat yang berada di dalam kotak P3K dari laci lemari yang tingginya sedikit lebih tinggi dariku.
Kreeek!
Plak!
Kotak P3K itu pun terjatuh tepat di tanganku. Namun, adikku yang duduk di belakangku tetap bergeming duduk di atas bangku. Aku yang sudah mendapatkan kotak P3K itu sekilas melirik adikku dengan diam-diam.
Adikku begitu murung setelah aku menolak permintaannya. Sepatah kata pun tidak keluar menegurku, apalagi untuk menatapku, dia sama sekali tidak mau.
Huh!
__ADS_1
Aku menghela napas memutar badan dan membawa kotak P3K itu. Dua langkah kaki ini terseret tiba-tiba terhenti.
"Kak," panggil adikku.
Aku langsung menoleh ke arahnya. "Ada apa, Dik ?" tanyaku. Berdiri memegang kotak P3K dengan posisi tubuh berdiri sedikit miring membelakanginya.
"Kakak jangan pakai obatnya banyak -banyak. Nanti obatnya habis," celetuk adikku seakan melarang aku untuk memakainya.
"Nanti 'kan bisa di beli lagi," sambungku. Melihat dan sambil memegang kotak P3K.
"Tapi 'kan uang Ayah gak ada," paparnya bercampur sebal.
"Tapi, Ana Kak... ." Aku terdiam.
"Sini Kak!" Adikku langsung merampasnya dari tanganku dengan kasar.
Aku pun berdiri melongo melihat adikku yang merampas itu dengan kasar. Bibirku sontak pucat dan membeku setelah melihat kotak P3K itu melayang begitu saja dari hadapanku.
"Kakak gak boleh pakek ini!" pekiknya. Menajamkan tatapannya melihatku dengan sinis.
Aku langsung diam seperti patung dengan kedua tangan masih mengayun di udara. Tatapan mata yang nanar pun melihat tegak lurus ke arah rampasan kotak itu.
"Biar Kakak tau! Ini harganya mahal. Uang jajan Kakak gak bisa membeli ini," cibirnya menyakitkan hati.
Air mata langsung menganak di pelupuk mata setelah mendengar omelan kasar adikku. Tubuh mungil dan tungkai kaki yang lemah ini pun semakin diam dan tidak bisa melangkah.
Bibirku semakin pucat dan tidak bisa berkata-kata lagi. Aku sangat Shock setelah serangan itu datang menyerangku dengan tiba-tiba.
"Uang jajan Kakak cuma bisa beli Anak Bp jelek," cecar adikku. Memegang kotak P3K dengan erat.
"A-Ana 'kan bisa beli pakek uang Ayah," kataku dengan sedikit terbata. Menatap kotak dengan nanar bercampur air mata yang menggenang di bola mata.
"Uang Ayah itu hanya untuk jajanku, bukan untuk membeli ini!" sambung adikku dengan nada suara keras. Menunjuk kotak P3K dengan bibirnya.
Aku semakin tertunduk. Ternyata adikku jauh lebih cerdik dariku. Aku pikir adikku sedang berbicara ringan layaknya sebatas ocehan. Namun, sayang itu malah sebaliknya yang aku pikir hanya sekedar ocehan biasa malah berpindah menjadi omelan yang menghenyak diri ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...