
Tawanya itu semakin membuatku miris melihat diriku yang sering mendapatkan olokan dari teman-temanku.
"Widia, ini bukumu," kata Septiani. Menghampiri Widia yang berdiri bersamaku saat ini.
Widia pun mengambil buku "Lima Sekawan " itu dari tangan Septiani. "Aku pikir kau lupa mengembalikannya," kata Widia melihat buku ceritanya.
"Terimakasih, ya," ucap Septiani berseri seakan dia terlihat menyindirku. "Ceritanya bagus. Aku suka. Kisah petualang. Berlima lagi," katanya melirikku.
"Iya sama-sama. Aku juga suka baca ini," kata Widia menyambung perkataan Septiani.
Aku langsung mundur sambil memeluk erat tas.
"Tapi, sayangnya cuma berlima,"lanjut Septiani mendadak seakan ingin menghentikan langkahku. "Kenapa kau gak beli yang enam sekawan?" tanyanya dari belakang terdengar oleh telingaku . Septiani sengaja mengatakan itu. Dia ingin sekali menyindir agar aku merasa terhenyak.
Memang itu benar kalau itu ada di pikirannya. Aku memang terhenyak ketika mendengarnya. Tungkai kaki langsung lemas dan gemetar seakan mereka kini tidak lagi mau berteman denganku.
Aku terus berjalan meletakan tas ke atas meja.
"Liyan, kenapa kau taruh tasmu di situ lagi?" tanya Rasyd. "Kita 'kan sudah mau pulang," lanjutnya dengan nada suara datar.
"Tapi 'kan, bel belum bunyi," kataku kembali melihat Rasyd. Di ikuti oleh tangan sebelah kiri meletakan tas.
"Hei, Liyan, kau tidak mau pulang?" tanya Widia mendadak ramah.
Aku sangat heran mendengarnya. Dia tidak seperti biasanya yang bersikap dingin dan tidak mau beramah tamah dengan ku lagi. Tapi hari ini berbeda seakan dia menyimpan sesuatu. Aku terus menatap matanya sekaligus bertanya di dalam sanubari.
Sorot mata yang kulayangkan padanya semakin menajam bercampur sedikit kecurigaan.
"Mau," jawabku singkat.
"Lalu, kenapa kau menaruh tasmu lagi di atas meja?" tanyanya seakan terheran .
"Tasku berat," jawabku pelan.
"Kenapa kau bisa lupa?" tanya Rasyd.
"Lupa apa?" tanyaku yang tidak nyambung maksud pertanyaan Rasyd.
"Iya, hari ini kita 'kan ujian. Kau tidak ingat sama sekali?" tanya Rasyd kembali menatapku lekat. Melirik tasku. Seakan lirikan itu menyinggung tas.
Aku diam mengerutkan sedikit bibir sambil menggeleng pelan.
"Kenapa kau bisa tidak ingat, Liyan?" tanya Rasyd kembali dengan gurat wajah sesal bercampur kecewa.
"Liyan, 'kan pengen cepat naik kelas," sambung Widia terus.
__ADS_1
Aku semakin memelas. Ujian yang segera berakhir akan membawa langkah kembali pulang ke rumah.
Rumah yang tadi di serbu oleh perseteruan antara ayah dan ibu sambungku menghilangkan semangat. Aku semakin jenuh bercampur lelah ketika itu terlintas kembali di pikiran. Wajah yang bercampur api itu pun menari-nari kini di depanku dengan jelas.
Widia dan Rasyd pun tidak lagi terdengar. Mereka yang berdekatan dengan bangkuku telah menghilang entah kemana. Aku sekarang seorang diri mencari mereka yang tidak jelas keberadaannya.
"Liyan," suara panggilan pun terdengar keras menyebut namaku. Aku yang masih bergulat dengan pencarian langsung memutar kepala melihat pintu.
"Fikri," gumamku. Ternyata Fikri yang memanggil, di ikuti oleh Solihin di sampingnya.
"Kau tidak gabung dengan kami?" tanyanya.
Bibirku begitu berat ingin menjawabnya. Aku serba salah sekarang. Fikri masih juga belum beranjak sedangkan Solihin terlihat risau ketika dia telah mengetahui hubunganku dengan Widia dan Septiani.
"Kami lagi kumpul di situ!" katanya.
"Liyan, ikut saja. Jangan takut!" ucap Solihin seketika mencengangkan.
"Takut kenapa?" tanya Fikri dengan gurat wajah langsung tidak enak bercampur penasaran.
"Takut hantu," jawab Solihin seketika mengalihkannya supaya Fikri tidak curiga.
"Mana ada dia... ." Fikri pun terhenti.
"Bel sudah berbunyi," kata Solihin langsung mengayunkan sebelah tangan kanan ke udara tepatnya ke belakang menunjuk bel dan memutar sedikit tubuhnya, di ikuti oleh kedua matanya melihat Fikri.
Aku sedikit menarik bibir tipis melihat Solihin yang tercengang bercampur senang mendengar bel itu tepat mengarahkan wajahnya di hadapan Fikri yang bengong.
"Hei, kenapa bengong?" tanya Solihin.
Fikri langsung tersentak dan mengedip-ngedipkan matanya tersadar.
"Ayo cepat ambil tas!" kata Fikri bergegas masuk ke dalam kelas. Di ikuti oleh kedua mataku yang melirik mereka.
"Liyan sudah tidak sabar itu pengen pulang, hahaha!" kata Solihin tertawa.
Anak -anak pun masuk berhamburan ke dalam kelas mengambil tasnya masing-masing. Widia, Septiani dan Rasyd pun telah masuk dan menyandang tas. Pudan pun demikian juga selepas dia sembuh dari sakitnya dia langsung menghadapi ujian.
"Hei, jangan lupa ya. Nanti malam belajar," kata Rasyd. " Kau juga," katanya menunjuk Pudan.
"Untuk ujian selanjutnya," sambung Septiani.
Fikri dan Septiani sekarang telah jarang bertengkar, bahkan mereka pun semakin jarang terlihat bertegur sapa. Pemandangan ini begitu melintasi pikiranku lagi tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.
Di mana Fikri sedikit memperhatikan aku dan membuatnya iri. Aku jadi menekuk setelah itu kembali terlintas.
__ADS_1
Pintu kelas yang kami lalui pun terlihat padat. Anak -anak yang berdesakan keluar pun semakin terlihat tidak sabaran dan dorong-dorongan.
Aku berdiri di belakang menunggu mereka keluar.
"Liyan, jangan lupa besok bawa tas lagi dan sepatumu itu, pakai terus sampai tamat," kata Tania berbisik pelan di telingaku.
"Hahaha!" sambung Ecy tertawa. "Bair sekalian...kalau bisa sampai kau SMP," ucap Ecy menandaskan.
"Hahaha!" Di sambung tawa lagi oleh Tania.
"Sepatumu itu bau, tidak?" tanya Tania ingin tahu seakan bercampur mengejek.
"Tapi jempolnya tidak pernah terinjak?" tanya Ecy dengan heran. Melirik ke ujung sepatu tepat mengarah ke jempol kakiku.
"Lebar kali ya sudah," lanjut Tania seakan terheran melihatnya.
"Heh," tegur Ecy menyenggol bahuku sedikit keras. "Pasti jarang kau cuci, ya?" tanyanya melirik sepatuku. Seakan dia melihat kelusuhan sepatuku.
"Kalau di cuci, nanti semakin sobek," sindir Tania menghenyak.
Aku semakin terhimpit rasanya. Kata -kata itu semakin membuatku meneteskan air mata. Butiran kristal yang bening itu pun seakan menjawab dengan jelas kepada diriku kalau ayahku tidak mempunyai apa-apa.
Sepatu yang terpasang semakin dalam kutatap. Aku semakin tidak sanggup untuk terus melihatnya. Tania dan Ecy semakin terus melontarkan kata yang mengiris hati.
"Iya, ya," kata Ecy mengangguk membenarkan yang dikatakan oleh Tania.
Mereka sangat lama sekali berhenti di depan pintu. Entah apa yang sedang di tunggu oleh mereka. Nisa dan Widia menyelinap melawati teman yang berhenti di depan pintu.
"Aaugh!" Aku pun spontan terkejut sambil menahan kaki kuat dan menahan tubuh yang ingin tersungkur. Hampir saja aku terjatuh karena Tania yang sengaja mengayunkan sebelah kakinya ke arahku hingga langkahku mendadak terhenti ingin tersungkur.
Mata yang melihatnya pun semakin melebar bercampur kesal. Aku semakin mengerang melihat mereka yang sudah keterlaluan. Ingin sekali aku meninju hidungnya.
"Kau sengaja, ya!" kataku berteriak memekik di telinganya. Mendelik bercampur api.
"Tidak," jawabnya langsung menyela.
"Gak mungkin. Kau pasti bohong. Aku tau, kau sengaja menekal kakiku, 'kan?" teriakku kembali bertanya padanya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1