Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ibu tiriku


__ADS_3

Ibu sambungku memiliki kepribadian yang tidak jelas. Alias plin-plan! Dia terkadang enjoy ,terkadang marah-marah tak jelas.


Moodnya yang berubah -ubah membuatku tidak begitu nyaman didekatnya. Apalagi kalau dia bermasalah ataupun ada masalah dengan yang lain. Itu pasti, akulah yang kenak tatapan sinisnya.Dia memang tidak menakutkan tapi bagiku serem!


Pernah suatu hari, aku ikut dengannya. Ketika, dia bekerja sebagai bersih-bersih di rumah seseorang.Ntah, apa yang terjadi. Tiba-tiba dia begitu kesal melihat majikannya. Sambil membersihkan ruangan. Dia marah -marah dan ngomel pada benda yang dibersihkannya.


Dari jauh aku melihat dia yang marah -marah tanpa henti.


Kalau saja Ayahku tahu tentang itu. Pasti, dia akan menerkam ku bulat-bulat seperti, singa yang menerkam mangsanya.


Oh! Tidak aku pun terpaksa menyembunyikan semua kejadian tadi dari Ayahku tercinta.Kalau Ayahku tahu aku ikut dengan dia. Sementara, sikap dia seperti itu tadi. Bisa-bisa dia akan di kecam oleh Ayahku untuk tidak membawaku lagi kemana-mana.


Karena Ayahku sendiri tidak suka kalau ada yang membawaku dan menunjukkan sikap yang tidak baik di hadapanku.


Sementara, Ibu sambungku sendiri tidak bisa mengontrol emosinya. Kalau sudah terpancing dengan hal-hal yang sepele.Dia tidak bisa membaca tindak tanduk orang -orang di sekelilingnya.Itulah kelemahannya!


Akan tetapi, jika Ayahku memberi nasihat ataupun pandangan kepada dia. Dia tidak pernah mau mendengarkannya. Seakan, dia jauh lebih tahu dari pada Ayahku.


Pernah suatu hari. Ketika, Ibu sambungku keluar rumah untuk bergaul dengan tetangga di dekat rumah.Dia memperoleh informasi tentang Ayahku di luar rumah. Dia pun, kemudian kembali kerumah dan membawa informasi yang di terimanya. Dia langsung mempercayai informasi itu tanpa di saringnya terlebih dahulu dan menciptakan keributan di rumah dengan Ayahku.


.


.


.


"Ia, seperti itulah kata mereka tentang dirimu!"Dengan nada yang tinggi dia berkata kepada Ayahku.


"Itu tidak benar."Kata Ayahku dengan nada yang pelan.


"Bagaimana mungkin tidak benar?! Sudah jelas-jelas dia melihat mu!"Kata Ibu sambungku yang terus menyerang Ayahku dengan kata-kata dia yang penuh amarah.


'' Kau ini! sudah ku bilang tidak, ya tidak, bagaimana mungkin aku harus meng-"ia"kan yang tidak kulakukan!"Kata Ayahku dengan kesal.


"Hm! Yang namanya***?

__ADS_1


"Yang namanya apa?"Kata Ayahku memotong pembicaraan dia.


"Hm!"Dia pun memalingkan wajahnya yang sinis dari Ayahku.


Dia mendapat informasi tentang Ayahku!


"Ada yang bilang kalau kau membawa perempuan bersama mu di atas becak sambil tertawa."


"Ha! Ayahku pun langsung,"hahahaha itu,itu aja? hahahaha!"Ayahku pun tertawa kasihan melihat Ibu sambungku yang percaya kepada perkataan orang lain diluar sana dari pada Ayahku.


Ayahku pun!


"Aku ini pembawa becak. Tugasku mencari penumpang dan mengantarkan penumpang kemana tujuannya."


"Ia,kamu kan bisa mencari penumpang lain!"


Ayahku pun semakin tidak mengerti. Ntah, bagaimana? Mengatakannya.Akhirnya dia pun bingung.


Ha! Bagaimana? aku harus memilih penumpang! Gumam Ayahku dengan lirih di dalam hati.


"Ia! kau bilang kau menarik becak. Membawa penumpang,cih! Masa yang kau bawa perempuan bukan penumpang."


"Ha!Ayahku pun, langsung melongo mendengar penuturan dari mulut dia sambil menggelengkan kepala dengan menghembuskan napas kasar.


"Ia,perempuan yang ku bawa itu sewa ku! Dia cuman menceritakan kejadian tadi yang barusan di hadapinya."


"Ia, tapi masa ketawa-ketawa!"


"Ia, dia menceritakan kejadian tadi itu! Ada yang lucu."


"Hm!" Langsung menepiskan wajahnya dari Ayahku.


"Itulah makanya, aku bilang jangan pernah percaya sama omongan orang diluar sana! Dan jangan pernah membawa apapun yang disampaikan orang kepadamu tentang diriku. Karena boleh jadi, orang itu mau menghancurkan. Kita tidak tahu."


Seperti itulah Ibu sambungku. Dia tidak bisa mencerna semua. Kalau ada orang yang berbicara tentang Ayahku. Dia tidak tahu itu betul atau tidak. Dia langsung menelan informasi itu tanpa di saringnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Ibu sambungku memang baik tidak pernah memukul.Tapi, dia sangat labil dan mudah terpengaruh dengan orang lain.


Ibu sambungku tidak pernah bisa menentukan haluannya sendiri. Bahkan, mendayung perahunya pun dia tidak sanggup ntah mau sampai kemana?


Tapi dia memang rajin terkhusus bekerja. Dia tidak pernah mengeluh bahkan dia dengan sukarela mau membantu Ayahku. Meskipun, Ayahku menolak bantuan dia karena Ayahku tahu itu adalah uang milik dia. Sementara, Ayahku tugasnya ialah untuk mencari nafkah membahagiakan keluarganya.


Akan tetapi Ibu sambungku tidak tahu kalau Ayahku pemikirannya seperti itu.


Mendengar perkataan dari Ayahku yang menolak pemberiannya. Dia langsung marah besar dengan suara yang tinggi dan cempreng.


"Itulah! Kalau aku mau menolong selalu ditolak. Tidak pernah mau! Aku sadar diri aku ini, siapa?Kau kan dulu mana pernah suka samaku.Hu!"


Dia memang seperti itu dikit-dikit menangis. Masalah kecil pun, dia selalu membesar -besarkannya sampai tetangga pun tahu.


Dia tidak pernah merasa puas kalau tetangga tidak ada yang tahu. Makanya, dia suka menangis sambil teriak-teriak. Seolah -olah Ayahku berlaku kasar kepada dia.


"Kenapa kamu menangis seperti disiksa saja disini!"Kata Ayahku dengan wajah yang memerah dan menahan emosi didalam dirinya.


"Biarlah! Biar semua orang tahu kau itu siapa?"


"Apanya maksudmu!"Ayahku dengan kesal menatap dia tajam.


Terkadang tetanggaku ada yang peduli dan menasihati.Tapi lagi-lagi, dia terus mengeraskan suara sehingga terlihat tidak karu-karuan.


Bahkan, dimuka keluarganya pun dia demikian, juga. Seolah -olah Ayahku adalah laki-laki yang tidak berguna.Yang sering menyiksa saudara perempuan mereka.


Setelah kepuasan dia terpenuhi yang menjelek-jelekan Ayahku didepan keluarganya dan tetangga kami. Dia pun, dengan mudah melupakan semuanya. Lalu tersenyum baik kembali kepada Ayahku.


Ibu sambungku memang labil kadang normal dan terkadang tidak! Bukan berati dia mengalami gangguan jiwa.


Yang paling buruk dari Ibu sambungku adalah dia suka membesarkan masalah. Meraung-raung tidak jelas. Menangis sekencang -kencangnya dan tidak luput juga. Dia suka berantem dengan tetangga sampai pingsan.


Dia suka bergaul dengan tetangga akan tetapi, jika suatu waktu mereka bertengkar dia pasti pingsan! Ntah, itu benaran atau hanya sandiwara. Ntahla, yang jelas. Dia kalau ribut dengan tetangga dia pasti pingsan.Tapi yang anehnya sudah demikian dia tidak jera dan masih mau berteman.


Lagi-lagi dia terkadang mengadu kepada Ayahku. Namun, Ayahku terkadang tidak mau menanggapinya. Ayahku hanya, menganggapnya sebagai angin lalu yang berhembus hanya sekedar singgah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2