
"Benar Liyan, apa yang di katakan Tania," sambung Ecy membela Tania. "Dia itu tidak sengaja," lanjut Ecy. Melirik Tania bercampur panik.
Aku semkin mengerang kesal mendengar penuturan Ecy membela Tania. "Aku tidak takut dengan mu," kataku menantang Tania. Mendelik semakin marah.
Tania sangat terkejut ketika mendengar dan melihat wajah merah yang bercampur api. Sekejap mata dia menutup mulutnya rapat.
Menepi mencari celah untuk kabur dariku.
Ecy semakin berkutat memegang lengan Tania dengan kuat. "Tania bertengkarnya besok saja kita lanjutkan," kata Ecy panik bercampur takut.
"Tidak," jawab Tania langsung dengan wajah seakan menantang.
"Jadi, kau masih mau bertengkar dengannya?" tanya Ecy melongo.
"Iya," jawabnya tegas.
Glek!
Ecy yang bertemu pandang dengan ku pun menelan ludah dengan kasar terlihat dari tenggorokannya yang berjalan, seperti menelan.
"Heh, Liyan! Kau pikir aku takut samamu," pekik Tania di tengah hari yang terik.
"Aku juga gak takut dengan mu," timpalku keras menantang.
Murid -murid yang tadi berdesakan pun telah menghilang. Tidak ada lagi satu murid pun terdapat di kelas selain aku dan mereka berdua. Kelas telah sunyi.
"Iya, aku juga tidak takut dengan mu," kata Tania membalas timpalanku. Berdiri semakin maju dengan tas yang tersandang.
"Liyan, kau itu... ." teriak Tania kesal bercampur geram melayangkan tangannya menjambak rambutku dan menarik tasku.
"Kau... ." Aku pun maju melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Tania.
Kami berdua pun maju. Setengah kaki melangkah maju dan sebelah tangan mengayun ke depan.
"Sudah Tania. Jangan bertengkar." Ecy menarik mundur baju sahabatnya itu.
"Ecy, kau itu apa-apaan sih. Kenapa menarikku?" teriaknya dengan kesal. "Kau tau tidak?! Dia hampir saja ingin terjambak!" katanya memekik keras di telinga Ecy.
Ecy mendadak terdiam menganga. Dia tidak menyangka kalau suara Tania lebih keras dari pada dentuman peluru. Serta merta dia pun melepaskan tangannya langsung.
Dia sekan terpukul mundur beraturan ke belakang. "Tania, kau menyeramkan," kata Ecy terkejut bercampur panik. "Telingaku jadi sakit," tandasnya.
"Makanya, jangan coba-coba berani menarik bajuku!" katanya semakin keras. Melayangkan sorot mata yang berapi-api.
__ADS_1
Aku pun memundurkan kepalaku langsung. Sedikit lagi aku hampir meninjunya. Tapi semua gagal berantakan karena Ecy yang ketakutan melihat kami berdua.
Selekas mungkin dia berteriak dan menarik baju Tania dari belakang untuk mundur. Betapa kesalnya rasa Tania kini. Keinginan yang sudah dia nanti-nantikannya gagal di tengah jalan.
Aku semakin meremas jemariku kuat melihat Tania yang tadi ingin menjambak rambutku.
Napasku sekarang terasa tidak beraturan lagi setelah melihat semuanya sia-sia.
"Ecy, kau kenapa selalu membela Anak miskin itu?" teriak Tania semakin memekik keras. "Kau lebih suka melihatnya dari pada aku. Iya 'kan?" katanya langsung melayangkan pertanyaan pada Ecy.
Deg!
Terhenyak rasanya aku ketika kata-kata itu keluar begitu saja yang menusuk ke telinga. Menunduk bercampur sedih dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak menyangka kalau ada orang yang tega menyebutku seperti itu.
Segenap duka lara pun tersimpan di dalam hati. Tangan yang tadi ingin meninjunya kini telah meremas tali tas dengan kuat menahan diri ini yang ingin terkulai.
"Aku bukan membelanya," jawab Ecy. "Aku takut, kalau tiba-tiba di lihat Ibu guru," ucapnya memutar sorot mata berjaga.
Aku yang masih menunduk selekas mungkin menyeret kaki ini meninggalkan mereka.
prak!
"Aaagh!" Tiba-tiba aku menjerit kesakitan bercampur sedih, di ikuti oleh air mata yang menganak di pelupuk mata. Butiran kristal pun terjatuh langsung ke lantai karena terkejut bercampur sakit ketika sebuah kaki menginjak ibu jari kakiku.
"Rasain! Enakan!" kata Tania berteriak keras tepat di telingaku. "Makanya, jangan sok hebat," cibirnya menyerang. "Sakit 'kan?" tanyanya dengan keras di telingaku kembali dengan penuh penekanan mengatakan bahwa sesungguhnya itu sangat sakit.
Isak tangis semakin keluar bercampur dengan segugukan yang menganak di dalam diri.
"Biar kau besok tidak ikut ujian!" timpal Ecy yang kesal bercampur benci karena aku tadi telah berani menantang kawannya.
Segugukan semakin kuat. Kaki yang terkena injakan keras itu pun menjerit. Perlahan aku menjatuhkan tubuh mungil ini setengah di atas lantai. Berjongkok mengusap ibu jari yang sakit.
"Besok-besok, jangan berani menantangku, ya!" teriak Tania menarik rambutku.
"Aagh!" Aku pun merintih kesakitan sambil menarik tangan Tania dari rambutku.
Mata yang tertutup pun semakin kuat menahan rasa sakitnya. Ibu jari yang masih sakit terpaksa aku elus dengan sebelah tangan kiriku.
"Tania, sudah! Jangan berkelahi lagi!" seru Ecy semakin keras melarangnya. "Kau tidak takut di lihat guru," lanjutnya dengan nada suara panik.
"Liyan, kau orang miskin. Jangan main-main samaku," katanya memberi ancaman keras. "Ayahmu cuma seorang pembawa becak. Tidak seperti Ayahku polisi yang banyak uangnya," sentaknya menggetarkan hatiku.
Aku semakin mengerang menahan rasa sakit. Aku tidak sanggup lagi rasanya ingin bertahan di sini. Pekikan dan hinaan itu serta suara keras itu semakin memecah gendang telinga.
__ADS_1
Tidak kusangka hari ini aku mendapat mimpi buruk. Aku rasanya bagai terlempar batu yang keras lalu tersiram air es.
"Liyan, kau sok hebat. Kau pikir aku takut dengan mu, ha?" teriaknya keras semakin menggema di ruangan kelas.
"Tania. Jangan lanjutkan lagi," pinta Ecy gemetar meremas jemarinya.
"Kenapa jangan?" tanya Tania heran dengan menanyakan alasannya kepada Ecy.
"Aku kasihan juga melihatnya," ucap Ecy getir bercampur raut wajah gemetar, di ikuti oleh lirikannya melirik kakiku ketika aku meliriknya juga.
"Biarin aja! Bair dia besok tidak sekolah dan tidak ikut ujian," katanya. Mendelik seakan ingin menerkamku.
Aku sangat takut. Sekuat mungkin aku menahan kaki dan menggeser tubuh ini sedikit demi sedikit menjauh darinya.
"Tania, suda!" rengek Ecy terus menerus. Menarik lengan Tania.
"Lepas Ecy!" pekik Tania menepisnya dengan keras. "Jangan tarik-tarik tanganku. Nanti tanganku sakit," cetusnya mendorong Ecy agar menjauh darinya.
"Nanti Liyan tidak bisa pulang," kata Ecy menaruh sedikit rasa kasihan.
" 'Kan lebih bagus. Kakinya sakit," ujar Tania.
"Kenapa lebih bagus?" tanya Ecy kurang mengerti.
"Dia bakalan tinggal kelas. Kalau tidak ujian, ha?" kata Tania menaikan alisnya.
Kaki semakin perih. Tangan begitu lemah untuk bisa menjauhkan kaki Tania dari kakiku.
"Kalau besok dia pincang bagaimana?" tanya Ecy mengkhawatirkan keadaanku.
Hahaha ! Tania pun tertawa puas mendengarnya seolah dia mengatakan padaku kalau Ecy tanpa di suruh telah mengejeknya.
"Pasti semua murid akan tertawa puas," katanya. Menatapku sinis bercampur senyum tipis.
Huhuhu!
Aku semakin menangis perih. Wajah polosku yang manis pun kini terlihat merah sekali. Injakan itu perlahan lepas juga.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...