
Aku gugup setelah mendengar adikku menegur dengan pertanyaan yang banyak.
"Kakak jangan buat aku di suruh Ayah menjaga Kakak lagi. Aku bosan karena aku sudah gak bisa bermain lagi gara-gara itu," tampik adikku.
Sontak aku yang memutarkan badan mengutip mainan yang terjatuh langsung melirik adikku yang bersedih karena tertekan oleh perintah ayahku.
"Kakak akan jaga diri Kakak sendiri," balasku pelan sambil mengutipi mainan yang berserakan di lantai.
"Ya memang harus kayak gitu. Kakak menjaga diri Kakak dan aku akan menjaga diriku sendiri," ucapnya. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Aku terus saja mengutipi mainan yang berserakan sambil mendengarkan ocehan adikku yang terus berlanjut.
" 'Kan Kakak sudah besar, sementara aku masih kecil. Masa aku yang menjaga Kakak. Seharusnya Kakak yang menjagaku," terangnya.
Mainan yang berserakan sudah tidak lagi terlihat di lantai. Lantai kini telah enak di pandang oleh mata karena sudah terlihat bersih.
"Tapi 'kan yang menyuruhnya Ayah," kataku mengucapkannya kembali di hadapan adikku.
"Iya, aku tau. Tapi aku gak mau," tolak adikku. "Aku gak mau di kasih tugas kayak gitu!" sungutnya.
Ruangan kamar kini sudah mulai terlihat dengan rapi. Mainan dan bantal yang berserakan pun tidak lagi terlihat menutupi lantai. Semua sudah kembali, seperti semula bersih tanpa kotoran.
Aku langsung bangun sambil meregangkan otot-otot yang sudah lelah berjongkok mengutip mainan. Semua terasa ringan jika kita mengerjakannya dengan senang hati meski tubuh ini terserang penyakit, pikirku tersimpul manis di dalam hati.
Otot -otot tubuh mungil yang lemah ini sudah mulai agak terasa segar setelah aku meregangkan syaraf -syaraf jemariku juga. Napas yang tidak segar yang bercampur dengan penyakit yang menyerang terasa sedikit hangat ketika aku mengeluarkannya dari tenggorokan dengan lepas.
Suara kicauan burung yang mencari teman perlindungan dari senja yang hampir menghilang terdengar merdu menyentuh gendang telinga ini. Suara kicauan itu terkadang masih juga bercampur dengan suara keluhan adikku akibat hukuman dan perintah ayahku.
"Ayah juga sudah tau! Aku Anaknya masih kecil masa di suruhnya menjaga Kakak," keluh adikku yang terus menerus ingin mengelak dari tuntutan yang memaksanya.
Aku masih mendengarkan keluhannya itu sambil menatap ke arah jendela yang terbuka lebar di tengah senja.
"Ayah 'kan tau! Aku paling tidak suka di suruh menjaga. Apalagi menjaga Kakak," sungut adikku sebal terdengar dari belakangku.
__ADS_1
Tubuh mungil yang lemah bercampur penyakit ini masih tetap tegak berdiri membelakangi dia yang tidak mau berhenti mengomel.
"Belum lagi Kakak sakit," gerutu adikku. "Pasti aku akan ikut dikurung di rumah, aaah!" rintihnya sebal.
Tatapan nanar yang bercampur redup ini mecoba untuk bertahan sambil melihat burung yang beterbangan dari luar jendela. Sekuat mungkin aku terus saja mencoba untuk menerima keluhan, rintihan, bahkan sungutan adikku yang dengan senang hati mengusik ketenanganku.
"Ana," kataku. Memuat badan melihat adikku. "Kau gak usah jaga Kakak. Kakak bisa kok menjaga diri Kakak sendiri," ungkapku. Berdiri tegak lurus dihadapan adikku tepat membelakangi jendela.
Adikku sontak mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya Kak? Ayah 'kan tatapannya sangat tajam. Kalau aku ketauan gak menjaga Kakak, pasti Ayah akan memarahiku," terangnya sebal. Mengkerucutkan bibirnya melihatku.
Sepertinya kali ini aku gagal lagi untuk meyakinkan adikku, pikirku. Aku terus bergelut mencari jalan yang terbaik untuk menjauhkan adikku dari tuntutan ayahku mengenai diriku.
"Kakak gak akan ngadu sama Ayah," jawabku. Berdiri dan melihat adikku yang mengerucutkan kedua bibirnya.
"Hahaha!" Adikku tertawa seolah dia menertawai aku. "Kak, Kakak pikir Ayah itu Anak kecil yang bisa kita bohongi!" timpalnya. "Ayah tau Kak. Apalagi kalau kita bicara sambil melihat lantai," tandasnya menyindirku.
Glek!
Tenggorokanku langsung menelan ludah dengan kasar dan menjauhkan pandangan melihat lantai setelah adikku menyinggungnya.
Kepalaku semakin menunduk malu. Jemari kecil pun terus kuremas hingga meregangkan pikiran yang kusut.
"Ayah gak kayak kita Kak yang suka bohong kalau takut di marahi," terang adikku dengan penuh penekanan memberitahuku.
Hidungku terus menerus kembang kempis menghela napas panik. Bola mata yang berselimut kecemasan pun bergerak dengan semakin kencang.
"Ana, kalau kau gak memberi tau Ayah. Ayah gak akan tau," kataku dengan nada suara berat. Menaikkan pandangan melihat adikku.
"Aku gak mau ah. Nanti gara-gara Kakak aku jadi di hukum lagi," cetus adikku menolaknya langsung. "Sekarang aku gak mau lagi dihukum. Kalau Kakak mau. Kakak saja pergi! Yang di hukum. Aku malas. Tiap hari hampir dihukum," celetuknya kesal.
"Tapi Ana ki... ." Aku langsung menutup mulut dengan rapat setelah melihat adikku langsung memotong pembicaraanku.
"Engga. Aku gak mau!" tolaknya dengan tegas dan penuh penekanan. Memutar duduknya menghadap ke arah dinding.
__ADS_1
Aku kembali bersedih setelah mendengar penolakannya yang menghenyak. Pikiranku semakin tidak bisa bekerja dengan normal. Tolakan adikku yang bercampur dengan guratan wajah sebalnya semakin menipiskan harapanku untuk segera berbaikan dengannya, meski tidak bisa bertahan lama.
Hari mulai gelap dan tubuh mungil ini semakin melemah jika malam mulai tiba. Namun, aku masih terombang-ambing di tengah perseteruan dengan adikku.
Perlahan tungkai kaki yang lemah serta nyeri ini aku seret menghampiri jendela yang masih terbuka. Namun, suara adikku tidak terdengar lagi sedikit pun. Hanya ada suara tangisan boneka yang menemani tiap malam.
"Dottie jangan nangis, ya. Besok kita baru beli es krim," bujuknya pada bonekanya.
Aku yang berdiri di depan jendela tergelitik saat mendengarnya dari belakang. Jemariku yang telah menempel pada daun jendela dan ingin segera menutupnya seketika terhenti. Namun, karena suara adikku yang menggelitik aku jadi menundanya sedikit lama. Aku jadinya terpaksa menajamkan pendengaran mendengar adikku yang menggelitik hati.
"Dottie jangan nangis! Nanti aku dihukum lagi sama Ayahku," tutur adikku dengan suara manjanya seakan memberi bujukan pada bonekanya.
Hihihi ! Aku semakin tersimpul lucu mendengar adikku yang kadang aneh bercampur lucu dan kadang cerewet menyebalkan.
Brak!
Jendela pun tertutup dengan rapat. Kedua daun jendela yang setengah tinggi dari kepalaku aku tutup dengan kuat. Tangan kiri aku paksa belajar memegang daun jendela dengan kuat sementara tangan kananku memegang kuncinya lalau menguncinya dengan kuat.
"Alah Dottie... sudah gelap?!" katanya di tengah ruangan kamar yang setengah gelap seakan dia membelalak bercampur terkejut memberitahunya pada sang boneka.
Aku terus berjalan sambil tersipu geli mendengar adikku yang sok dewasa dengan bonekanya.
Cetek !
Lampu pun aku hidupkan. Sekarang ruangan kamar kami telah diterangi oleh lampu yang setengah terang. Lampu sedikit terang dan tidak terlalu redup ini menerangi tidur panjang kami dan ia juga tidak terlepas menemani kami yang suka bermain sebelum tidur.
"Ana, tidur! Nanti Ayah marah kalau Ayah mendengar suaramu," pintaku dengan lembut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...