Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Becak ayahku


__ADS_3

"Jadi, Ibumu mengatakan itu?!" singgung Tania kepada Ecy. "Kasihan sekaliii." Tania menatapku dengan smrik.


"Iya, kau 'kan tahu, bagaimana Ibuku?" Ecy menatap Tania dengan sendu.


Aku semakin diam dan menunduk meratapi sepatuku yang sobek. Air mata hampir saja menetes membasahi pipiku yang cabi. Lemparan pedas kata-kata yang di lontarkan Ecy dan Tania membuat separuh jiwaku rasanya menghilang.


Bumi yang kupijak tidak lagi terasa dengan kuat menopang tubuh ini. Semakin lama rasanya dadaku semakin sesak mendengar suara yang singgah di kedua telingaku. Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin meninggalkan mereka yang mencela diriku dengan senang.


Perlahan aku mundur selangkah demi selangkah ke belakang. Tania dan Ecy pun semakin menarik bibirnya seakan mereka mengejekku. Aku yang kini dipandang sebelah mata oleh mereka tidak ingin menaikkan kepala menatap lurus ke depan. Isak tangis yang menjerit di dalam hati ini semakin meraung rasanya sehingga melemahkan kedua kakiku yang melangkah. Kaki yang berjalan rasanya ingin mulai terjerembab ketanah.


Bibir pucatku yang hampir pudar langsung bergetir menahan tangis yang ingin pecah. Kedua tangan pun berusaha menutup mulut untuk menahan agar tangisku tidak keluar dan teman-temanku tidak mengetahui yang 'ku alami saat ini.


Sekuat mungkin aku berdiri tegak lurus dengan tatapan nanar ke bawah melihat kakiku yang memakai sepatu yang sobek.


"Tapi, Ecy temanmu yang malang ini kasihan sekali sepatunya sudah sobek." Tatap Tania dengan pandangan mengejek.


"Kalau kau kasihan kau saja yang membelikannya. Supaya kau dapat pahala," ungkap Ecy. Melirik Tania dan melirikku.


Aku yang setengah berhenti melangkah menaikkan sedikit kepala melihat mereka berdua. Betapa hinanya diriku ini di hadapan kedua temanku sampai mereka berebut ingin menghina dan mencelaku. Celaan ini seakan meruntuhkan semangat diriku. Celaan ini juga semakin membuatku menjadi anak yang tabah dan kuat. Celaan ini memang menghancurkan hatiku ketika mereka membawa-bawa pekerjaan ayahku.


Namun, sebagai manusia aku harus terus berjuang dan berjalan di atas tanah yang kupijak. Aku tidak bisa menghindar begitu saja karena sebagai anak yang kuat aku harus tetap sabar dan tidak boleh cengeng, kalau ayahku mengatakan aku tidak boleh menyerah sebelum berperang. Itulah yang menjadi benteng kekuatan untuk 'ku agar aku tidak menjauh dari celaan ini.


Sebenarnya aku terkadang sudah lelah. Aku sudah bosan. Rasanya tidak ada keadilan yang di berikan Allah pada hidupku sampai setiap saat aku selalu di dampingi dengan celaan, hinaan dan cacian dari setiap orang yang menginginkannya.


Aku yang berdiri mendengarkan celaan mereka berdua melirik ke kanan dan ke kiri. Sorot mata yang lemah ini terus berputar mencari sosok yang dapat menjadi penyejuk bagi diriku yang malang.


"Liyan, sepatumu 'kan sudah sobek." Ecy menatapku. "Nanti kalau pulang sekolah langsung ke pasar, ya membeli sepatu. Jangan beli ikan,..." Ecy seakan mengejek memutar kepala melirik Tania dengan senyum menghina terhadapku.


"Hahaha !" Tawa Tania terbahak. "Nanti dia ngadu sama temannya," kata Tania. "...emang kau engga takut, iiiiiiihhh!" Tania menggeser tubuh seakan jijik melihatku.


"Dia itu Anaknya cengeng. Mana mungkin dia berani mengadu," kata Ecy.


"Kau itu aneh sekali. Justru dia itu cengeng, dia pasti akan mengadu?!" tukas Tania melirik ke arah Ecy.


Ecy sejenak diam sambil mencerna yang dibilang oleh Tania. "Iya 'kan...? Tapi kalau dia nanti sampai mengadu, bagaimana, ya Tania ?" Ecy bertanya pada Tania dengan panik.


"Aku engga mau ikut-ikutan, yaaa!" Tania kabur meninggalkan Ecy.


Aku yang tertindas oleh mereka. Berdiri melihat Tania yang kabur seakan dia merasa takut dan Ecy yang ditinggal kabur oleh Tania. "Taniaaaa, tungguuuu!" teriak Ecy berlari mengejar Tania juga.


Ecy begitu terbirit-birit berlari mengejar Tania. Mereka berdua pun menghilang kini dari hadapanku. Sekarang hanya tinggal aku sendiri yang bergulat dengan segenap rasa hati yang berkecamuk.


Refleks badan ini pun aku putar berjalan balik ke belakang dan kembali masuk ke dalam kelas. Dalam kesendirian tanpa seorang sahabat aku kini melangkah dengan sepatu yang telah sobek. Aku terus berjalan menghampiri kelas di bawah sinar matahari yang terik.


Kaki yang lemah karena lelah berdiri dan menahan rasa sakit agar tetep menjadi kuat, kini kuayun perlahan bersama bayangan yang menjadi temanku saat ini.


Septiani yang tadi melihat aku dihampiri oleh Tania dan Ecy tampak hanya diam saja. Sedikit pun dia tidak begitu mengkhawatirkan diriku ini layaknya, seperti yang pernah dia lakukan dulu terhadapku.


Ini semakin membuat aku menyadari bahwa Septiani sekarang benar -benar telah berubah jauh. Kantin yang tadi menjadi saksi pencelaan terhadap diriku oleh Tania dan Ecy telah aku tinggalkan.

__ADS_1


Sekarang aku telah sampai di depan pintu kelas. Kelas yang menjadi tempat berkumpul kami dan kelas yang juga menjadi penyatu kami sehingga seperti, apa pun pertengkaran yang terjadi ketika di dalam kelas kami melupakannya sejenak.


Widia yang tadi pergi meninggalkan aku sendiri di kantin ternyata dia telah duduk di bangku. Kakiku yang sebelah kanan melangkah masuk menatap lurus ke arah mejaku ketika aku mendengar suara Widia bercerita dan tertawa bersama Nina.


Nina yang selama ini jarang masuk. Dia terlihat sangat senang bersama Widia. Mereka begitu akrab, bahkan Widia memperlakukan dia sangat akrab sekali. Sama seperti yang dia lakukan kepadaku.


Keakraban mereka berdua yang terlihat, seperti terjalin sudah lama. Widia dan Nina pun seakan teman dekat yang baru aku lihat. Aku terus menatap mereka sambil berjalan.


Aku yang sudah tiba di dekat mereka. "Widia, kau dari tadi di sini?" tanyaku seperti orang baru.


"Iya," jawab Widia dengan cuek.


"Liyan, kau dari tadi kemana?" tanya Nina. "Aku tidak melihatmu." Nina melihatku dengan lekat.


"Aku dari kantin," jawabku.


"Ooh, pantesan aku tidak melihatmu." Nina pun seolah menunduk malu.


"Nina, liburan nanti, kau mau kemana?" tanya Widia.


"Tidak tahu. Liburan ini aku mungkin di rumah saja," jawab Nina.


"Tidak seru dong," timpal Septiani. Menarik bangku.


"Tidak seru bagaimana ?" tanya Nina. "Lagi pula Ayahku banyak kerjaan," lanjutnya. Menatap Septiani.


Aku yang duduk di antara mereka hanya diam saja. Aku di sini bagaikan orang asing yang terbuang dari kelompoknya. Widia sama sekali tidak mau berbicara, apalagi melihatku. Begitu juga dengan Septiani yang telah bersikap dingin terhadapku. Aku terus menatap nanar, seperti orang bodoh.


Kami pun kembali mengikuti pelajaran yang lain, seperti biasanya. Pelajaran yang paling disukai yaitu, berhitung.


Seluruh kami pun mengeluarkan buku tulis dan buku pelajaran matematika. Kini seluruh meja telah terisi dengan bukunya masing- masing.


Aku yang telah mengeluarkan buku dan menutup tas. Duduk dengan rapi sambil membuka buku matematika. Pelajaran ini adalah pelajaran yang memeras otak sehingga aku tidak menyadari kalau bel pulang pun telah berbunyi.


"Ibuuu, bel sudah berbunyi," teriak Anak -anak yang tidak sabaran ingin segera pulang.


"Iya, Ibu dengar! Siapkan buku kalian jangan sampai ada yang bertinggalan," kata guru kami. "...yang sudah siap silakan kumpul dan yang belum jadi, PR," katanya dengan tegas.


Aku yang telah selesai bergegas mengumpulkannya ke depan. "Ini, Bu," kataku menyerahkan buku. Buku pun di terima oleh guru matematika kami.


"Sekarang silakan pulang!" Bu Dona menatapku dan mengayunkan tangan ke udara sebagai isyarat menyuruhku pulang lebih dulu.


"Baik, Bu," jawabku mengangguk.


Aku pun segera mengambil tas dan menyalam bu Dona yang telah menungguku.


"Hahaha !" Terdengar suara tawa yang keras dari belakang seakan menertawakanku yang berjalan.


Perlahan dari jauh aku memutar badan sedikit kebelakang dan melihat ke arah sumber suara itu. "Tania," gumamku pelan. Aku pun seakan tersentak dan mengatur langkahku dengan pelan.

__ADS_1


"Hei Liyan," teriak Ecy.


"Kau mau pulang, ya? Jangan lupa beli sepatumu," teriak Tania.


"Jangan beli ikan, ya!" cela Ecy.


"Hahaha !" Tania pun tertawa dengan kencang.


Aku yang mendengarnya pun terdiam seakan malu berjalan pelan sambil memutar badan kembali seperti semula dengan pelan. Kakiku yang melangkah pun perlahan aku ayun dengan gurat wajah yang sedih.


Aku begitu tertekuk ketika mendengar yang di katakan Tania dan Ecy ketika menyerangku. Gerbang sekolah yang telah terbuka lebar secepat mungkin aku lalui untuk meninggalkan sekolah yang membuatku bersedih.


"Ayah," panggilku berteriak mengejar ayahku yang menungguku di seberang jalan. "Ayah di sini?" tanyaku sambil mencium punggung tangan ayahku.


"Iya, Nak. Apa adikmu sudah pulang?" tanya ayahku dengan nada suara yang parau dengan wajah senjanya yang lelah.


"Ayah. Aku belum melihat Adik," jawabku segera berdiri di samping ayahku. Melihat sekeliling ruas jalan dan gerbang sekolah.


"Ayah mau menjemput kami, ya?" tanyaku berdiri menatap ayahku sedikit mendongak.


"Iya Nak, hari ini Ayah memang sengaja menunggu kalian pulang sekolah untuk menjemput kalian," jawab ayahku.


"Kenapa Ayah?" tanya suara seorang anak perempuan menyahut dari jarak yang tidak kami lihat.


Aku yang tiba-tiba tersentak refleks memutar badan ke arah sumber suara tepatnya yang berada di belakangku sekilas aku juga melihat ayahku yang memutar kepala sama seperti aku.


"Ayaaah," teriak adikku sambil menghampiri ayahku dengan gembira. "Ayah menjemput kami?" tanya adikku sambil mencium punggung tangan ayahku yang berdiri.


"Iya Nak. Hari ini sudah mau hujan." Ayahku menatap langit sekilas. "Jadi, Ayah datang untuk menjemput kalian," kata ayahku menerangkan pada adikku.


"Emmmm." Aku menaikkan kepala ke atas melihat langit.


"Kenapa Ayah tahu?" tanya adikku yang polos sambil melihat langit dengan serius.


Adikku yang merasa penasaran dengan yang dibilang ayahku. Dia pun melihat langit dengan berputar. Seakan dia mengelilingi udara hanya untuk melihat awan yang mendung.


"Ayah! Jadi, kita pulang naik becak ini?" tanyaku sambil melihat becak dengan melongo.


"Iya Nak. Becak Ayah masih rusak," jawab ayahku yang berdiri melihat becaknya.


"Ayah, ini 'kan becak untuk membawa barang," ungkap adikku.


"Iya Nak," jawab ayahku.


"Asyiiik! Berarti kita akan naik becak ini," teriakku gembira .


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2