
" Ibu, ini hasil dari pemeriksaan darahnya." Menyerahkan sebuah amplop. "
Ibu sambungku berdiri. " Baik Bu." Meraih amplop. " Selanjutnya bagaimana Bu, maaf!" Menatap orang yang berpakaian putih itu.
" Bawa keruangan dokter lagi, Bu! Dimana tempat Ibu berobat." Kata orang itu kembali.
" Baik Bu."
Kami memutarkan badan. Pergi kembali keruangan dokter. Tubuh lemahku kini menggenggam tangannya dengan erat. Mengikuti ayunan kakinya yang sedikit kencang.
Dengan terseok-seok aku menyeret kakiku yang lemah dengan peluh keringat dingin membasahi keningku.
Angin yang berhembus di pagi yang cerah ini. Membuat tubuh mungilku kedinginan. Wajah meronaku terlihat pucat karena menahan dinginnya angin yang berhembus. Bibir kecilku pun terasa keluh dan berwarna gelap karena dingin yang menyerang
" Ibu, apa kita masih lama?" Menatap ibu sambungku.
" Kurang tahu!" Tanpa melirikku.
Perjalanan rumah sakit pun begitu melemahkan bagiku. Segenap jiwaku rasanya rapuh melihat pintu yang berdiri tegak di depan kami. Pintu yang akan kami lalui saat ini untuk keluar. Menuju ruangan dokter kembali.
Pintu pun, kami buka dan segera keluar. Langkah gontai ku menemaniku saat ini.
" Liyan, cepat! Kamu jangan seperti itu jalannya. Agak cepat sedikit. Biar kita cepat sampai. Urusan mu ini, begitu lama. Membuat ku ingin cepat-cepat keluar dari sini." Dengan kesal. "Mudah-mudahan ini yang terakhir." Menatap kedepan dengan sorot mata yang tajam.
Mendengar ucapan ibu sambungku. Aku hanya diam merututi nasibku sendiri dengan wajah sedih yang coba aku tahan.
" Liyan, kau harus sembuh. Kau gak boleh sakit lagi. Kalau kau sakit lagi, aku gak mau lagi membawamu berobat. Capek aku membawamu berobat saja!" Mendengus kesal.
Terus berjalan.
" Ibu, Liyan juga mau sembuh. Liyan juga engga mau sakit." Menatap ibu sambungku dengan lirih.
" Apa kau bilang! Kau engga mau sakit. Kalau kau engga mau sakit. Mana mungkin kau sakit." Penuh penekanan. Berhenti dan menatapku dengan tajam. " Kau tahu engga! Dari semenjak aku menikah sama Ayahmu! Kau itu selalu sakit-sakitan. Engga pernah, engga sakit. Pasti sakit. Itu yang kau bilang kau engga sakit." Nyengir. "Aku nyesal jadinya nikah sama Ayahmu. Sudah miskin, punya anak sakit-sakitan." Melihat ku dari ekor matanya penuh dengan kebencian.
Tanganku yang menggenggam tangannya, kini aku lepas seketika. Hati yang sedih karena sakit ku. Kini harus menjerit karena ucapannya yang begitu mengiris di hatiku. Membuat butiran kristal pun jatuh tak terbendung.
" Kenapa kau menangis?" Sorot matanya menatapku dengan tajam. Berjalan perlahan.
Rumah sakit yang ramai. Membuatku tetap menunduk. Melihat langkah kakiku yang aku ayun dengan lemah. Butiran kristal terus berjatuhan membasahi lantai. Bibir kecilku terus bergetar menahan isak tangis yang ingin keluar.
Wanita itu terus saja bersuara yang membuatku semakin merasa bersalah.
" Itulah kau! Sudah sakit-sakitan, cengeng lagi." Dengan kesal. " Diam, jangan menangis." Pekiknya dengan penuh penekanan. Menatap orang-orang di sekeliling.
Langkahku pun, terus ku seret. Bersama gulatan yang berkecamuk di hatiku. Berjalan menuju ruang dokter yang telah menunggu kami.
" Liyan, hapus air matamu. Nanti, kau jangan menangis di sana. Tahu!" Penuh penekanan. Masih berjalan.
Aku seketika diam. Menahan tangisku dan menghapus air mataku yang menetes. Pintu ruangan dokter yang akan kami tuju. Kini terlihat sudah. Tangan kecilku yang lemah, pun menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Terlihat dengan jelas, kalau ibu sambungku kini sudah lelah dengan ku.
Tatapan nanar akan diriku yang memilukan kini semakin menyeruak. Melihat pintu yang akan kami masuki. Sejenak, membuat pikirku berkata, kapan? Aku tidak memasuki pintu itu lagi. Ingin rasanya aku segera menghilang dari ini semua.
Pergi menjauh meninggalkan semaunya dengan damai. Tak ada lagi yang merasa direpotkan akan diriku yang lemah. Tak ada lagi kelelahan yang timbul akan diriku yang lemah.
Tak ada lagi perdebatan panjang akan diriku. Semua itu menjadi beban tersendiri bagi diriku.
Redaman yang tersimpan didalam hatiku. Membuatku tak bisa bernapas dengan sempurna. Terlalu banyak yang aku hadapi tanpa memandang, siapa diriku?
" Liyan, sebentar lagi dokter itu akan melihat ini." Menunjuk amplop yang di genggamnya. Dengan kedua matanya.
Melihat ibu sambungku mengatakan demikian. Refleks aku pun, melihat amplop yang ia bicarakan.
" Cepat sedikit jalan mu Liyan. Jangan lihat kesana-kemari." Pintanya. Memohon. "Sudah terlalu lama kita dirumah sakit ini." Mendengus kesal. Melihat sekeliling rumah sakit.
" Baik Bu." Jawabku sedikit terbata.
" Jangan baik Bu, baik Bu saja! Langkahmu pun di cepatkan." Sedikit meninggi.
Tubuh mungilku yang lemah pun sontak tergagap mendengar suaranya yang sedikit meninggi terhadap ku.
" Kalau sampai kita ketinggalan dokternya. Besok kamu pergi berobat sendiri saja. Aku engga mau lagi menemanimu." Menatapku dengan kesal. " Jalan mu terlalu lama. Apa yang kau lihat dilantai itu?!" Katanya semakin kesal. " Jawab! Jangan diam saja. Kau kalau di tanya selalu diam."
Aku rasanya semakin ketakutan. Kedua netraku menatap ibu sambungku berjalan sedikit didepan ku. Sekalipun, dia tak menoleh ku kebelakang.
Aku diam hanya mendengarkan dan mengikuti apa yang di inginkan olehnya.
" Kau dimana?" Menolah ke arahku. " Cepat sedikit!" Mendelik. Berhenti.
__ADS_1
" Ibu, Liyan capek!" Dengan nada suara yang lirih. " Kita duduk sebentar, Bu!" Pintaku dengan wajah lesu.
" Kita tidak bisa duduk! Lagian, kamu jalannya terlalu lama." Penuh penekanan. Mendelik. Kau tahu engga! Kalau kau duduk, kita engga jumpa lagi sama dokternya, tahu!" Kata ibu sambungku menghardik ku.
"Ia Bu." Menatap kebawah dengan menganggukkan kepalaku. Kembali berjalan dengan perlahan.
Seketika, ibu sambungku menoleh kembali. "Ya, Sudah kalau kau capek. Kau duduk saja dimana mau mu. Biar aku yang akan menemui dokternya." Pergi menghilang seketika. Meninggalkan ku.
Aku semakin dilema dengan ucapannya barusan. Aku tidak tahu, apakah? Dia memang menaruh perhatiannya akan diriku karena melihat kelemahan ku atau dia memberiku sebuah ultimatum agar aku jangan banyak mengeluh.
Diam, hanya itu yang bisa aku berikan. Keterbatasan ku saat ini. Membuat ku tidak bisa melakukan apapun dengan bebas.
Saat ini, aku harus kuat menerima segala tekanan apapun yang datang menghampiri ku.
" Liyan!" Pekiknya dengan pelan. Berhenti di depan pintu.
Melihat dia memanggilku. Aku secepat mungkin mengayunkan kakiku yang lemah dengan kencang. Melihat lambaian tangannya yang memanggilku dengan begitu antusias. Membuat diriku merasa ingin segera sampai.
Tubuh mungilku yang rasanya ingin terkulai. Aku paksa sekuatnya untuk tetap tegak berjalan lurus. Dengan mata yang berkunang-kunang. Aku menatap jalanan lorong rumah sakit yang penat. Mengayunkan kakiku perlahan hingga sampai kedepan pintu ruangan dokter yang telah menunggu.
" Liyan, kenapa lama sekali jalanmu?" Menarik lenganku dengan sedikit keras.
" Ibu, aku tadi mau jatuh!" Menatapnya dengan lirih.
" Alah! Alasanmu aja!" Dengan ketus.
.
.
.
Melihat sorot matanya yang tajam dan wajahnya yang ketus. Membuat aku menguatkan mental ku.
" Bagaimana Bu? Sudah siap?" Tanya perawat itu. Berdiri.
" Ia Bu! Sudah." Kata ibu sambungku sambil menarik sedikit bibirnya. Menyerahkan amplop berwarna putih.
" Tunggu sebentar, Bu! Disini." Meraih amplop. Berjalan masuk ke ruangan dokter.
Kami pun, duduk menunggu panggilan kembali.
" Ia Bu! Liyan nanti gak akan takut." Dengan nada suara lirih. Menunduk.
" Ia baguslah! Biar kita cepat selesai dengan urusanmu ini." Dengan nada suara datar. Menatap lurus kedepan. " Ingat kata-kata mu! Engga akan takut, ya kan. Awas kamu, kalau kamu nanti ketakutan didalam." Dengan sorot mata yang tajam. Memberi peringatan.
" Ia Bu." Mengangguk pelan.
Dalam diam. Aku yang terduduk menata keberanian ku. Sambil meremas jemari tanganku dengan perlahan. Melihat-lihat pintu yang akan kami masuki kembali. Dengan gurat wajah yang penuh keraguan. Akankah? Aku bisa menepati kata-kataku.
Dengan cemas, aku menatap perawat yang memakai pakaian putih yang berdiri didepan pintu tepat melihat ke arahku.
" Liyan!" Teriak perawat itu sambil memegang lembaran kertas.
Sontak ibu sambungku berdiri dan berjalan menghampirinya. Menarik lenganku dengan perlahan.
" Ia Bu!" Berdiri.
"Ibu, silahkan masuk! Dokternya, sebentar lagi mau keluar." Kata perawat itu dengan datar.
" Baik."
Kami pun masuk dari balik pintu yang di bukakan oleh perawat itu.
" Silahkan duduk!" Dokter.
" Baik, dok." Menarik kursi. Duduk.
Tak berapa lama kami duduk.
" Bagaimana Bu? Apa sudah selesai?" Tanya dokter muda itu.
" Sudah, dok."
" Oke, mana hasilnya boleh saya lihat?" Meletakkan tangan di atas meja.
" Ini dok." Menyerahkan amplop putih yang masih terbungkus rapi.
__ADS_1
Dokter muda itu pun, meraih amplop dari tangan ibu sambungku. Perlahan dia membuka dengan hati-hati. Melihat dan membuka lembarannya. Kedua netranya begitu mendelik memasang wajah yang sangat serius. Seakan tak ada yang terlewat sedikitpun, olehnya.
Dia pun, diam dan memalingkan pandangannya sesekali melihatku.
Menggelengkan kepalanya pelan. Menarik sedikit bibirnya seakan, dia tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Wajahnya pun berubah seketika, dengan sedikit kecewa.
" Ibu, dari hasil pemeriksaan sampel darah anak Ibu. Dia terkena penyakit malaria." Berdecak. " Kenapa ? Bisa selama ini. Baru di bawa kembali berobat." Sedikit kecewa. Dari hasil yang saya baca, ini cukup parah." Menatap lekat lembaran kertas.
" Kami tidak tahu, dok. Kami pikir cuman demam biasa. Jadi, kami membawanya kemaren ke dokter umum saja tanpa periksa darah."
" Apa dokternya? Dokter yang sama juga. Selama dia berobat. Setelah sekian lama." Ingin tahu.
" Tidak, dok. Kami membawanya ke dokter yang berlainan. Kami tidak menyebutkan, kalau dia demamnya sudah berkepanjangan, dok."
" Disitulah salah Ibu. Tidak mengatakan yang sebenarnya. Jadi, kan seperti ini. Coba, lihat betapa kasihan nya anak Ibu. Dia begitu pucat. Bahkan, lemas." Menatap ku dengan lirih.
" Ia dok!" Ibu sambungku melirikku.
" Apa anak Ibu ada keluhan lainnya, selain demam, menggigil kedinginan?" Menatap Ibu sambungku dan menatapku juga.
" Sakit kepala." Kataku dengan tegas.
" Sakit kepala,ya." Mengangguk pelan. " Ibu, ini saya beri resep sesuai dengan penyakit anak Ibu. Tapi, kalau bisa dan memang harus, ya Bu. Anak Ibu harus banyak makan. Anak Ibu harus banyak makan buah-buahan biar cepat sembuh. Karena penyakit anak Ibu ini bisa kambuh lagi. Hati-hati, jangan sampai anak Ibu di gigit nyamuk." Menulis resep.
" Dokter kalau saya boleh tahu. Itu buah- buahannya. Buah apa ya, dok?" Tanya ibu sambungku ingin tahu.
" Engga perlu mahal-mahal. Jeruk juga bisa Bu, pepaya, anggur dan masih ada lagi, Bu. Kalau Ibu sanggupnya jeruk, ya jeruk saja. Dan juga banyak minum air gula, ya. Kalau ada air kelapa, sari tebu dan jus jeruk juga boleh. Dan juga harus banyak makan sayur seperti wortel biar cepat sembuh." Menatap ke arahku.
" Baik dok! Mengangguk pelan. "Engga ada pantangannya dok yang tidak boleh dia makan?!" Tanya ibu sambungku ingin tahu.
" Oh, ia jangan di kasih minum susu dulu. Jangan dikasih makanan yang tinggi serat, gorengan, makanan yang pedas dan berminyak, yang mengandung kafein, dan kurangi makanan yang mengandung asupan lemak, cepat saji." Penuh penegasan.
" Makanan tinggi serat itu apa saja, dok?" Tanya ibu sambungku kembali.
" Makanan tinggi serat itu seperti, jagung, alpukat, kacang -kacangan, kangkung, brokoli, tomat. Makanya tadi saya bilang anak Ibu tidak boleh makan pedas. Masih banyak lagi Ibu sebenarnya. Tapi, Ibu cukup memberi dia makanan apa yang saya katakan tadi."
" Baik dok."
" Boleh saya bertanya lagi dok." Dengan malu-malu sambil tersenyum. " Kalau minuman yang mengandung kafein itu seperti apa, ya dok?" Tanya ibu sambungku kembali.
" Kalau yang mengandung kafein itu seperti, kopi pada umumnya. Tapi yang mengandung kafein itu banyak, Ibu. Jadi, satu saran saya. Anak Ibu tolong jangan dikasih jajan diluaran. Apalagi, membeli minuman siap saji diluar. Cukup, Ibu kasih dia memakan, makanan yang telah saya beritahukan tadi." Kembali menegaskan. " Kalau susu Ibu kasih susu bearbrend . Tapi, kalau terjadi keluhan seperti, diare, mual muntah. Segera di hentikan, ya Bu. Segera hubungi dokter." Kembali menegaskan.
" Baik dok." Menatap dokter.
" Ada lagi yang mau ditanyakan Ibu."
" Tidak dok! Saya rasa, saya sudah paham, dok."
" Baiklah, ini resep yang telah saya tulis. Tolong Ibu tebus ke apotek sekarang. Setelah itu berikan kepada anak Ibu. Agar dia cepat sembuh. Semoga cepat sembuh,ya! Obatnya di minum, ya." Menatapku dengan senyum.
" Kalau begitu kami pamit dulu, dok. Permisi dokter!" Menunduk. Berjalan keluar.
Setelah keluar dari ruangan dokter yang begitu, membelengguku dan membuatku seperti patung. Hatiku rasanya tenang. Penat dan rasa takut menghilang seketika. Bibir kecilku yang tadi, begitu rapat tertutup. Refleks tersenyum tipis.
" Ayo, cepat jalanmu. Kita mau mengambil obat mu ke apotek." Menarik lenganku.
" Ia Bu." Berjalan menatap lurus.
" Ingat tadi! Apa yang dikatakan oleh dokter itu. Kau harus jaga makan. Jangan jajan sembarangan mulai hari ini. Biar kau cepat sembuh."
" Ia Bu." Kataku kembali menyahut ucapannya.
Kami pun berjalan dengan kencang. Menuju Tempat pengambilan obat. Kakiku begitu terseret mengikuti langkahnya yang begitu kencang. Genggaman tanganku lepas seketika karena langkahku yang masih lemah.
" Liyan, kenapa kau lepaskan peganganmu." Menatapku dari jarak jauh.
Melihat wajahnya yang sedikit kasar. Membuat ku menunduk dan diam. Jantungku kembali berdegup dengan kencang karena ketakutan.
.
.
.
Teman - teman terima kasih sudah memberikan like , komentar, favorit. Jangan lupa ikuti cerita Liyan selanjutnya.
🤗🥰
__ADS_1
Bersambung.....