Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kekaguman


__ADS_3

Aku langsung berhenti menunggu mereka dan mereka pun segera berlari mengejarku. "Kak, kenapa Kakak pulang sendiri?" tanya adikku.


"Kakak memang selalu pulang sendiri," jawabku sambil menunggu adikku berjalan bersama.


"Tapi Kak, selama ini aku melihat, Kakak engga pernah pulang sendiri," ungkap Andrini.


"Biasanya, Kakak selalu pulang 'kan, sama Kak Widia," lanjut adikku.


"Iya. Tapi ' kan, engga setiap hari, Dik." Aku langsung mengayun kaki untuk melangkah.


"Ah, masa Kak?!" Adikku menatapku dengan menyimpan kecurigaan.


"Mmm." Aku pun langsung memalingkan pandangan darinya agar dia tidak semakin menatap kedua bola mataku yang menyimpan sejuta rahasia.


Dari ekor mataku. Aku masih melihat kalau adikku belum percaya dengan yang kusampaikan padanya. Dia masih ragu dengan yang didengarnya hari ini sedangkan Andrini yang sudah menganggapku sebagai kakaknya. "Kak! Kak Widia, ternyata jahat juga, ya," ucapnya seketika.


Aku langsung terperanjat mendengarnya. "Jahat bagaimana, Dik?" tanyaku menatapnya dengan kedua bola mata yang lebar.


"Dia tega sekali meninggalkan, Kakakku," jawab adikku langsung memotong pembicaraan.


"Tidak! Dia engga jahat kok, Dik. Dia juga tidak meninggalkan Kakak," kataku sambil berjalan terus.


Adikku dan Andrini, mereka berdua sangat menghawatirkan aku yang pulang sekolah seorang diri. Aku tidak terlalu cemas sebenarnya, pulang sekolah seorang diri saat ini. Di tengah kesendirianku aku berusaha mengisinya dengan menghapal beberapa pelajaran yang akan diujikan nanti dan aku juga sambil mengingat bait demi bait puisi yang aku tulis dulu.


Puisi indah itulah yang menemani langkahku meskipun Widia mengikutiku berjalan di belakang cukup jauh dan aku tidak sengaja melihatnya dari ekor mataku.


Sorot mata yang tanpa sengaja melihat bayangannya sekilas turut merasa bahagia karena Widia sebenarnya tidak sanggup meninggalkan aku pulang sekolah seorang diri. Dalam kebenciannya dia masih saja menyimpan belas kasihan padaku.


Aku pun tidak memutar badan langsung melihat ke belakang karena aku takut kalau Widia nanti mengetahuinya dia benar-benar akan meninggalkan aku. Lalu bagaimana nanti dengan nasibku ketika orang aneh itu menghadangku di tengah jalan?


Orang aneh itu begitu menakutkan dan membuat aku tidak bisa melarikan diri. Dia sangat kuat dan seakan mau mengepung dengan tubuhnya yang besar itu. Tiba-tiba di ruas jalan yang berbeda tidak berapa lama adikku dan Andrini melihat dan memanggilku.


"Kak Liyaaan !!!" teriak mereka menjerit memanggil.


Mereka pun berlari dengan kencang. "Oh, iya Kak! Andrini mau bertanya." Andrini melihatku dengan sejuta rahasia.


"Mau bertanya apa pada, Kakakku?" sambung adikku bertanya yang sering mengawasi gerak gerikku.


"Mmm! Kak, Kakak mau tidak menemani aku di rumah nanti?" tanya Andrini berharap.


"Kak, bukannya Kakaku tidak ma... ." Adikku tidak melanjutkannya dan langsung menoleh ke arahku.


"Eee! Nanti ya, Dik. Kakak lihat Ayah Kakak dulu," jawabku memotong pembicaraan adikku.


"Kenapa Kakak harus melihat Ayah?" tanya adikku heran sambil berjalan dengan kencang.


"Dik, Kakak takut, kalau Ayah memarahi Kakak nanti," kataku sambil melihat rumah orang aneh itu.


Rumah orang aneh itu begitu hening. Tidak ada suara berisik apa pun terdengar dari sekeliling. Rumah besar yang kokoh berdiri di atas tanah terlihat sunyi dan mencekam itu begitu membuat bulu kudukku merinding. Rumah yang terbuat dari beton-beton yang kokoh ini serasa ingin menangkapku dan mengurungku. Ia seakan berlari mengejarku dengan kencang.


Begitulah dahsyatnya rasa takutku saat ini. Tidak ada secuil rasa pun yang bisa menenangkan. Di siang yang penuh dengan kebohongan ini semakin merajam diri ini tanpa belas kasihan sedikit pun.


Hahaha ! Hahaha !

__ADS_1


Tiba-tiba aku mendengar suara tawa yang mencekam yang membuat bulu kuduk ini berdiri. Adikku dan Andrini, mereka berdua saling bertemu pandang seolah mereka saling melempar pertanyaan satu sama lain. Aku yang melihatnya merasa semakin panik sehingga kaki lemah yang gontai ini begitu sulit untuk di langkahkan.


"Kak Andrini, itu suara ketawa siapa ?" tanya adikku sedikit takut. "Ha, Kak? Apa kakak tahu ?" tanya adikku yang sudah ketakutan.


"Hahaha!" Andrini pun tertawa terbahak melihat tingkahku dan adikku. "Ana tidak usah takut!" serunya sedikit geli. "Itu palingan ketawa Anak gadis yang sering duduk di sini." Andrini kemudian menoleh ke arahku.


"Kak, Kakak yang benar aja, di sini ada Anak gadis," kata adikku dengan kesal.


"Iya Andrini, selama Kakak pulang sekolah. Kakak tidak pernah melihat Anak gadis ada di sini," balasku.


"Liyaaan, Liyan! Kau ini terlalu bodoh," celetuk Widia sedikit kasar. "Apa kau tidak tahu, Anak gadis itu siapa?" Tiba-tiba Widia mendekat dan menatapku dengan gurat wajah mengejek.


"Tidak Widia. Aku hanya sering melihat orang aneh yang suka bermain ludah di sini," kataku sambil menunduk. "Yang mau menangkapkup." Aku kembali mengatakannya.


"Nah, itu Anak gadisnya, Kakak," ujar Andrini.


Refleks aku langsung terdiam menunduk malu. Sejenak wajah orang aneh itu pun menari-nari di wajahku yang pucat. Pikiranku pun mengingat dia yang pernah berdiri di hadapanku sambil memainkan air ludahnya.


"Issshhh! Jorok sekali," gumamku pelan.


Aku pun menunduk melihat bayangan yang terus mengikuti perjalanan ini di tengah siang hari yang terik. Bayangan yang terlihat tenang tanpa beban berkejar- kejaran ingin lebih dulu sampai ke rumah. Bayangan Widia yang bergerak kini terlihat seakan mengejar bayanganku.


Bibir pucatku yang tipis langsung tersimpul manis tanpa diketahui oleh Widia. "Aku yakin kalau Widia masih mau berteman dengan ku," bisikku pelan pada diri sendiri. "Kalau dia tidak mau berteman dengan ku, mana mungkin, dia mau tertawa dengan adikku." Aku memutar sedikit badan kebelakang melihat mereka.


'Tapi, Widia kenapa tadi, seperti itu padaku?' Sekilas aku mengingat kebelakang. Aku yang berjalan lebih dulu di depan dari mereka cukup tersenyum manis dan bahagia melihat Widia masih mau bergurau dengan adikku.


"Hahaha !" Tawa Andrini pun terlihat terbahak dari jauh.


Mereka bertiga sekarang seperti teman. Aku begitu bahagia saat melihatnya. Bagiku seperti apapun sikap sahabatku ini terhadapku aku tidak pernah memasukkannya ke dalam hati. Di tambah lagi, ketika aku sudah melihat yang sebenarnya bahwa Widia masih mau berteman dengan adikku.


Perjalanan menuju kediaman masing-masing pun telah sampai dan terhenti. Tawa yang tadi pun masih saja menyeruak sehingga membias di hati yang sendu.


"Kak, Kakak sangat pandai melawak," teriak adikku melihat Widia yang telah beralih langkah.


"Siapa dulu dong, Kakak." Widia tersenyum bahagia sambil memuji dirinya sendiri.


"Haha hihihi!" Andrini semakin tergelitik di buatnya. "Kak, besok cerita lagi, ya," pinta Andrini.


"Iya Kak, besok cerita lagi," sambut adikku juga.


"Kalau Kakak ingat, ya," balas Widia sambil memutar kepala melihat jalan lurus menuju kediamannya.


"Ana, jangan lagi bermain. Kita sekarang pulang, ayo !" ajakku.


"Kak, sebentar lagi, ya!" Adikku kembali menunjukkan wajahnya yang memelas dan meminta belas kasihan. "Kak, jangan langsung pulang ke rumah." Adikku merayuku.


"Ana, ini harinya panas! Nanti Ayah akan marah, kalau kita berpanas-panasan," kataku dengan lembut membujuk adikku.


"Kak, kami bermain di rumah, kok." Andrini langsung membela adikku.


"Di rumah siapa ?" tanyaku.


"Di rumah aku, Kak," jawab Andrini.

__ADS_1


"Iya. Ya Kak. Sekali ini aja!" bujuk adikku .


"Kakak takut, kalau Ayah nanti memarahi kita berdua." Aku menatap nanar bola mata adikku yang memohon.


"Iya Ana. Ayahmu 'kan, galak," ucap Andrini yang sedang berjalan.


"Kalau padaku tidak, Kak," kata adikku.


Langkah pun terus melaju melewati jalan yang terbentang di hadapan kami. Aku yang berharap sampai ke rumah terlebih dahulu malah mendapat hambatan dari adikku.


Semakin lama rengekkan demi rengekkan terdengar dari adikku yang bersikeras untuk bermain. "Ya Kak, sebentar saja. Aku mohon Kak. Ayah tidak akan marah karena kita 'kan, bermainnya di dalam rumah." Adikku semakin bekerja keras meluluhkan hatiku.


Permasalahannya bukanlah di luar ataupun di dalam rumah. Sekarang yang menjadi bumerang adalah waktu yang digunakan untuk bermain tidaklah tepat. Ini hanya akan semakin menambah amarah ayahku melonjak tinggi. Dia tidak pernah mengizinkan kedua putrinya singgah di rumah orang lain ketika pulang sekolah. Kalau pun putrinya ingin bermain hendaklah pulang dulu ke rumah setalah itu baru bermain jika waktunya tepat.


Namun, adikku masih belum memikirkan sampai ke situ. Jadi, aku harus memutar kata- kata dan pikiran agar adikku membatalkan keinginannya.


"Ana, Andrini. 'Kan masih bisa bermain nanti sore saja," tukasku. "Kenapa mesti sekarang?" Aku menatap Andrini. "Kakak dan Ana belum sampai ke rumah," ucapku kembali berdiri tegak dengan nada suara yang lembut.


Setiap saat aku selalu di hadapankan dengan masalah dan masalah sehingga membuatku bosan. Aku pernah juga mengeluh sebab masalah ini tak kunjung menjauh dariku yang masih kecil.


Selepas masalah di rumah dengan adikku. Aku juga mendapatkan cobaan yang berat yaitu, penyakit yang aku derita tak kunjung jua sembuh. Sekolah yang tempat kita belajar dan bermain bersama teman-teman mengukir tawa kini telah menjadi bayangan hitam yang senantiasa memojokkan diri ini hingga tersudut.


Kedua kakiku yang masih berdiri di tengah teriknya panas semakin melemah menunggu keputusan dari adikku. "Ana, kita pulang dulu ya, Dik." Aku melirik dinding rumah kami yang telah terlihat. "Kita pasti akan bermain, kok nanti?! Tenang saja! Ayah pasti akan mengizinkan kita untuk bermain," ujarku.


Langkah pun semakin pelan. Adikku dan Andrini. "Kak, kalau bisa sekarang, kenapa mesti nanti?" Andrini bertanya sedikit protes.


"Iya, Kak. Kakak tidak akan di kasih Ayah untuk bermain," sambung adikku dengan sendu. "Karena Kakak sakit." Wajah adikku langsung memelas. "Itulah yang akan di katakan, Ayah," rintih adikku.


"Ana, rumah Kakak sudah tiba," kata Andrini. "Lalu bagaimana?" Andrini bertanya memastikan.


Adikku yang diam terlihat bingung. Dia menatapku dan juga menatap Andrini. "Kak, lain kali saja. Aku kasihan melihat Kakakku." Adikku menatapku. "Nanti Ayahku pasti akan memarahinya gara-gara aku, Kak?! Kita bermainnya besok saja, ya!" Adikku langsung memutar badannya meninggalkan Andrini.


"Ya, tidak apa-apa!" sahut Andrini. "Besok juga boleh." Andrini menerimanya dengan senang hati.


"Kalau begitu kami pulang dulu, Kak," kata adikku sambil melambaikan tangan. "Dadahhhhhh!"


Aku dan adikku pun kembali ke rumah. Sementara Andrini telah menghilang. Hari ini aku tersenyum kagum melihat adikku yang lebih memilih mengalah untuk mengikuti saranku dari pada keinginannya.


Saatnya sampailah kami di kediaman kami. Pintu rumah yang tidak seperti dulu lagi. Tertutup ketika aku pulang sekolah. Ini sudah terbuka lebar menyambut tuan putri yang kecil.


Kesunyian yang menyambutku dulu ketika masuk. Sekarang sudah tidak lagi. Sambutan yang penuh kasih sayang telah menyambut kami dari depan pintu meskipun itu hanya sekedar aroma masakan ayahku.


"Kak, aku lapar," kata adikku sambil memegang perutnya.


"Iya, Dik, sama Kakak juga." Aku melebarkan bola mata seakan mencari-cari masakan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku, ya !🙏🥰



__ADS_2