Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tangisan di dalam rasa sakit.


__ADS_3

"Ibumu tidak mungkin bilang begitu," timpal yang lain.


"Itu hanya karanganmu saja!" sambung mereka.


"Kau jangan menuduhku, ya ! Kau tau 'kan Ayahku, dia orangnya galak," kata Septiani.


"Garangan mana dari Ayahku," kata yang lain menantang Septiani.


Lukaku semakin parah. Air mata terus berjatuhan membasahi kedua pipi. Mata sayu yang bening pun kini terlihat merah.


"Bagaimana ini?" tanya Widia cemas. Mengabaikan Septiani yang ingin menyerang terus.


"Iya, aku juga takut Liyan," kata mereka, di ikuti oleh kedua sorot mataku yang sembab dan merah menatap mereka yang seakan dengan sengaja mengingatkan aku akan ayahku.


Sekilas tanpa batas aku langsung terbayang wajah ayahku yang sudah senja dan ketat itu. Aku semakin panik bercampur khawatir ketika wajah itu terlintas.


"Liyan, kami akan membawamu pulang," kata Widia yang masih memeriksa lukaku. "Aku takut kalau Ayahmu nanti akan memarahimu," ungkapnya.


Aku terus segugukan dengan air mata yang terus mengalir.


"Iya Liyan," kata teman yang lainnya melayangkan sedikit gurat wajah takut.


Huhuhu!


Aku semakin menjerit di dalam hati menahan rasa sakit yang mendera.


"Aku bisa pulang sendiri, kok!" kataku dengan nada suara lirih bercampur tersengal.


Widia dan yang lain pun, kini sudah tidak bisa untuk berlama-lama lagi. Septiani yang mendorong dengan sengaja tersenyum jahat melihatku yang tidak berdaya.


Sementara, yang lain juga melihat Septiani yang bisa berbuat setega itu padaku. Itu terlihat dari ekor mataku.


"Liyan, lukamu sudah bersih," kata Widia yang membersihkan sisa -sisa yang lain.


"Tapi kau jangan berharap ini langsung sembuh Liyan," kata yang lain.


Aku menaikan pandangan menatapnya yang berucap.


"Iya Liyan. Kata Ibuku, nanti bisa infeksi," sambungnya yang membantu Widia membersihkan sedikit lagi.


Bola mataku berputar-putar melihat tangannya dan tangan Widia yang membersihkan lututku dengan lembut.


"Widia, aku pulang duluan, ya!" kata yang lain berpamitan.


"Iya, terimakasih, ya," jawab Widia. Melihatnya sambil membuang sampah daun.

__ADS_1


"Liyan, aku pamit dulu, ya!" ucapnya. Melihat lukaku dan aku sehingga kedua sorot mata kami bertemu pandang.


"Widiaaaa!" teriak suara seorang laki-laki yang suaranya hampir mirip dengan suara seusia dengan ayahku.


Sontak aku melihat tangan Widia yang mengobati lutut dengan lembut berhenti seketika.


"A-Ayah," katanya dengan terbata bercampur rasa panik dan khawatir. Sontak daun pun dilemparkannya langsung ke sembarang arah. "Ayah," katanya meninggalkan aku dan berdiri tepat di arah sebelah kiriku.


Wajahnya begitu takut seakan dia seperti orang yang melakukan kesalahan besar.


"Ngapain kau di sini, ha?" bentak lelaki itu di samping Widia. Berdiri.


Sekilas Ayahnya melihatku dan aku pun sama melihatnya juga. Lelaki yang usianya tidak jauh dari usia ayahku adalah dia yang selalu ditakuti dan diikuti oleh Widia setiap perintahnya yaitu, ayahnya sendiri pak Supi.


Lelaki itu seakan kesal melihatku, terlihat dari sorot matanya yang bertemu pandang dengan ku.


"Sudah berapa kali Ayah bilang, jangan berteman dengan Anak ini lagi!" kata pak Supi memekik di telinga dengan keras.


Dia pun tidak sungkan memukul Widia dengan sehelai ranting yang dia ambil. "Sudah setiap saat Ayah katakan, jangan berteman lagi dengannya!" ucap Ayahnya semakin keras.


Widia dan aku yang saling berdekatan merasa panik dan sedikit bergeser.


"Sekarang ayo pulang !" teriaknya dengan kasar menarik lengan Widia, di ikuti oleh tangan sebelah kirinya memegang ranting.


Aku yang melihatnya pun semakin sesak. Widia yang sangat ketakutan diam mengikuti keinginan ayahnya begitu juga dengan Septiani yang terpelongo melihatnya, di ikuti oleh teman-teman yang lain yang masih berada bersama dengan ku.


"Aku jadi, takut berteman dengan si Liyan," sambung yang lain.


"Iya, aku takut di marahi Ayahku, seperti Widia juga." Mereka melirikku dengan tatapan penuh ketidak sukaan.


"Sudah aku bilang. Jangan berteman dengannya," cetus Septiani menghilang.


"Iya, dia betul," kata mereka bergantian menginyakan dengan cara anggukan.


Aku semakin tersudut di antara teman dan ayahku. Mereka pun pergi menghilang dari hadapanku.


Kini hanya tinggal aku seorang diri bersama segenap duka lara yang menghantam diri ini dengan puas. Setelah mereka menghilang satu per satu aku pun berinisiatif ingin segera pulang saja.


Kaki yang sakit menjadi bumerang bagi diriku ini terus melangkah terseok-seok kaku. Lutut yang sakit dan tidak bisa di tekuk atau pun di luruskan membuatku semakin panik dan cemas.


"Kak, ngapain Kakak? Sampai sekarang belum pulang!" pekik adikku terlihat sangat marah. "Kakak tidak dengar, apa? Ayah di rumah marah-marah karena Kakak belum pulang," tandas adikku sebal.


Aku yang menyeret kedua tungkai kaki merasa tidak nyaman dengan ocehan adikku.


"Ana jangan berteriak dan jangan ribut. Ini jalan," ucapku sambil memegang lutut yang sakit.

__ADS_1


Adikku diam dia terus membelok menuju jalan rumah kami. Pohon -pohon bunga yang kecil bergoyang ke sana kemari mengikuti arah embusan angin.


"Gara-gara Kakak, aku tidak di kasih lagi bermain sama Ayah," gerutu adikku mendengus kesal.


Aku semakin depresi ketika menunduk melihat lututku yang sakit. Darahnya yang sudah kering tidak lagi terlalu menetes sehingga bisa berpikir untuk mengelabui ayahku.


Luka ini tidak boleh terlihat oleh ayahku, pikirku. Aku mencari alasan yang tepat sepanjang jalan.


"Liyan, kenapa kau tidak ada di rumah?" tanya ayahku berdiri dengan memegang kedua pinggangnya.


Aku yang berdiri tepat di belakang adikku bergeser lebih lurus mengikutinya agar wajahku dan wajah ayahku tidak saling terlihat.


"Liyan, keluar dari belakang adikmu!" pinta ayahku dengan tegas.


Perlahan aku bergeser sambil menahan rasa sakit. Sekujur tubuh rasanya kedinginan dan sekuat mungkin aku menahan rasa sakit juga.


"Liyan, Ayah belum pulang kerja tapi kau sudah pergi entah kemana?" kata ayahku melayangkan pertanyaan ketat padaku.


Aku dan adikku hanya diam saja.


"Ana kemari!" kata ayahku dengan tegas menyuruh adikku berdiri didekatnya.


Adikku pun dengan berat langkah mengikuti perintah ayahku.


"Di mana kau jumpa Kakakmu?" kata ayahku bertanya.


"Bermain Ayah," jawab adikku singkat. Lalu membisu lagi.


Aku yang berdiri di hadapan ayahku menunduk melihat tanah. Aku sedikit menaikan lirikan melirik ayahku dan mencari- cari ibu sambungku. Ayahku semakin geram bercampur benci melihatku.


"Sudah berulang kali Ayah bilang jangan bermain jauh-jauh. Kalau Ayah memanggilmu kau tidak dengar !" kata ayahku dengan penuh penekanan.


Sepertinya sorot mata ayahku begitu lincah melihat diriku yang sedikit memberi kecurigaan mendalam padanya.


"Kenapa matamu sembab?" tanya ayahku dengan gurat wajah penasaran.


"Ayah Kakak terluka," jawab adikku langsung memotong yang ingin kukatakan.


Sontak aku yang berdiri seorang diri di hadapan ayahku menganga karena tidak jadi berucap.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2