
Aku bergeming sembari berpikir antara menjawab atau tidak. Aku berdiri mematung mengepal kedua tangan sambil meremasnya kuat terbata bercampur takut. Aku bertanya kembali padanya. "Kenapa kau seperti itu melihat, Kakak?" tanyaku ingin tahu. Menatap adikku bercampur resah.
Adikku seakan sebal melihatku. Mukanya semakin pias mengetat melirik. "Kenapa Kakak menuduhku?" tanyanya tidak senang menatap tajam. "Semakin lama, Kakak sekarang semakin jahat," cecarnya menuduh.
Aku semakin shock mendengarnya lontaran kata-katanya semakin menghenyak hati sekuat-kuatnya. Aku tidak bisa lagi berani menatap lurus ke depan. Sekarang aku berdiri, seperti patung diam membisu serta mengepal jemari dan meremasnya hanya itu yang saat ini bisa aku lakukan.
"Aku tidak suka melihat Kakak lagi," kata adikku. "Karena Kakak sudah jahat sama ku," tandasnya penuh kebencian. Menatap sinis.
"Ana, Kakak tidak pernah jahat," ungkapku mengatakan yang sebenarnya dengan lembut. "Kita selama ini 'kan tidak pernah bertengkar," kataku pelan masih menunduk melihat lantai.
"Pernah, kok kita bertengkar. Apa Kakak sudah lupa... ?" kata adikku menanyakannya padaku. "...yang gara-gara itu... ." Adikku diam seakan dia tidak mau mengatakannya.
Aku langsung menegakan sedikit pandangan melihat lurus ujung tirai yang tergantung. Aku lekas mengetahui maksud perkataan adikku. Mungkin dia masih mengingat aku dan ayahku yang dimana pada waktu itu ayahku terlalu mencemaskan aku dan telah merubah sikapnya padaku. Selama ini aku dan adikku sangat jauh berbeda. Di mana adikku sering mendapat kasih sayang ayahku, bahkan ketika adikku bermain ayahku tidak pernah memarahinya. Apalagi meminta sesuatu darinya, ayahku selalu memenuhinya.
Tapi setelah beberapa saat semuanya berubah terbalik. Ayahku langsung memberiku perhatian. Ayahku juga selalu mengkhawatirkan aku ketika aku telat pulang. Memang selama ini ayahku seperti itu tapi tidak terlalu over. Dia hanya sekilas bertanya lalu selesai.
Itulah yang membuat adikku semakin membenciku dan cemburu padaku. Kasih sayang ayah yang dulu dia dapatkan, bahkan hampir setiap hari membelainya dan memanjakannya, bahkan seakan dialah yang menguasainya. Tiba-tiba belakangan ini semuanya berkurang sedikit demi sedikit.
Aku seakan merasa bersalah atas apa yang menimpa adikku. Namun, aku juga anak ayahku. Aku juga berhak mendapatkan kasih sayangnya meski aku tidak terlalu manja sepertinya. Semakin hari semakin lama aku merasa seperti anak yang egois hanya mementingkan keinginanku sendiri dan tidak memperdulikan adikku lagi. Meski sebenarnya itu terlintas di pikiranku tetapi itu tidaklah benar. Aku tidak seperti itu dan aku tidak mungkin melakukannya. Sekilas aku merasa kalau adikku iri dan cemburu melihatku. Dia pasti lagi memikirkan bagaimana cara menjauhkan aku dari ayahku, pikirku dan selekas mungkin aku langsung menyangkalnya.
Aku rasa aku salah. Mana mungkin adikku seperti itu. Aku selalu mengalah, bahkan selama ini kami sering bertengkar tapi tidak pernah berlama-lama. Lalu kembali kami membaik. Itulah yang menegarkan diri ini untuk tetap percaya dan yakin kalau aku tidak seperti itu.
Adikku hanya salah paham mungkin karena dia terlalu diperlakukan istimewa oleh ayahku sehingga dia tidak bisa menilainya dengan bijak atau mungkin adikku terlalu terlena dengan kasih sayang yang diberikan ayahku sehingga dia begitu terpukul ketika dia sedikit saja tidak di perhatikan.
Adikku masih tetap duduk di atas tempat tidur tepat di pinggirnya yang berdekatan dengan jendela. Tatapannya masih tajam menatap ke luar. Jendela yang terbuka seakan menerbangkan semua kesalah pahamannya terhadapku karena dia sekarang terlihat lebih tenang.
Sementara aku masih saja berkeluh kesah atas prasangka yang di tuduhkan adikku terhadapku. Hatiku rasanya bercampur aduk. Sesekali aku yang masih berdiri melirik adikku yang duduk diam. "Ana, Kakak tidak jahat, kok." Aku kembali mengatakannya meski adikku tidak mau mempercayainya. "Selama ini Kakak, 'kan sering mengikuti kemauanmu," paparku memberitahunya.
"Jadi, Kakak mengungkitnya," kata adikku menyerang. Menatap dan melebarkan kedua bola matanya.
Aku kemudian menunduk dan tidak berani menatap bola mata adikku yang mendelik. Suaranya yang memang terkenal besar dan meninggi sangat menakutkan sekali. Suaranya dan suaraku memang sudah jauh berbeda. Aku dan adikku sama sekali sudah tidak akur lagi. Kerap kali dia selalu mempermasalahkan ayahku dan ayahku.
Aku semakin depresi setelah adikku sendiri memusuhiku. Kami yang dulu terlihat akur sekarang telah renggang. Adikku semakin membenci setiap mengenai diriku. Dia tidak lagi mau tahu tentang diriku. Sesekali dia mencoba untuk menjauhkan aku dari ayahku.
Aku yang lemah tidak pernah berani untuk membalasnya.
Wajah piasnya semakin masam walau hanya sekedar berdiri di dekatnya. Dia sekan tidak mengenalku. Adikku telah menjadi orang asing bagiku. Aku sekarang sangat sedih karena aku tidak punya siap-siap lagi.
Aku semakin lemah berdiri sendiri di dalam kamar yang hening. Embusan angin yang dingin masuk menerpa wajah menjadi teman kesepianku saat ini. Ingin sekali aku mengajak adikku berbicara. Aku ingin mengatakan kembali kalau aku tidak jahat. Namun, aku tidak sanggup seakan bibirku di tutup oleh perekat yang kuat.
Mau batuk dan menguap aku saja tidak bisa lagi. Aku semakin terkekang dengan segalanya hari ini. Berkali-kali aku sudah mengatakan pada adikku bahwa aku tidak seperti yang dia pikirkan. Namun, semuanya sia-sia. Semua usaha yang telah aku lakukan rasanya tidak ada lagi gunanya. Semuanya hampa tidak ada lagi yang mau mendengarkan aku lagi.
Di dalam rumah hanya adikku lah yang menjadi teman ceritaku. Adikku lah yang menjadikan aku tidak pernah merasa kesepian semenjak kami beranjak besar setelah mengerti dan mengetahui ibuku telah tiada.
Ini sekarang telah berbalik, semuanya telah sirna. Kasih sayang kami Kakak beradik berada di ujung tanduk. Adikku yang keras dan egois sangat sulit rasanya untuk di taklukan. Apalagi masalah yang terjadi adalah masalah kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah.
Udara kosong pun seakan ingin menghimpitku hingga tubuh ini terasa remuk untuk bertahan. Tawa ceria, canda gurau yang dulu mewarnai permainanku dan adikku sekarang telah menjadi hitam.
Secarcik harapan pun sangat tipis. Keras kepala adikku yang tidak mau mengerti dan mengalah membuat semuanya di ambang kehancuran. Aku yang selalu mendapat nasihat dari ayahku berusaha tegar dan berdiri kokoh di tengah gelombang yang menghantam.
__ADS_1
Aku juga keras kepala sama seperti adikku tapi aku masih mau mengalah jika mengingat tentang ayah. Ayah adalah senjata yang ampuh untuk ku bertahan dan menaklukan kembali hati adikku. Meski aku harus menutupinya dari ayahku.
Aku dan adikku ketika di depan ayahku tidak pernah menunjukan perseteruan kami. Kami berdiri dan duduk layaknya, seperti anak yang akur. Secerdik mungkin aku harus menutupinya dari ayahku. Adikku pun demikian juga, dia tidak mau kalau ayahku sampai tahu kalau kami tidak seakur dulu lagi.
Dia terus bersikap normal di hadapan ayahku meski dia sedikit melirik dengan sinis padaku. Siang yang semakin terlihat. Hujan yang mengguyur pun telah reda. Ini saatnya aku dan adikku sekarang terlihat, seperti biasa lagi yaitu, makan siang lalau tidur siang.
Tirai kamar yang tergerai lurus di atas lantai. Aku tarik dengan lekas melihat ke sekeliling isi rumah. Ibu sambung yang tadi berteriak dengan keras memasuki rumah sekarang telah menghilang entah kemana.
Kaki sebelah kanan pun aku ayunkan melangkah keluar, di ikuti oleh tubuh yang setengah miring ke belakang melihat adikku. "Ana, kau tidak makan?" tanyaku bercampur cemas.
"Tidak, aku tidak lapar," jawab adikku ketus.
Dia pun masih tetap bersikeras. Aku yang ingin keluar makan. "Nanti Ayah marah," kataku dengan nada suara pelan bercampur bimbang.
"Kakak tidak usah mengajakku makan. Kalau Kakak mau makan, makan saja!" bentak adikku.
Spontan aku terkejut. Jantungku rasanya semakin lemas. Darahku pun ingin turun ke bawah. Sorot matanya yang tajam bercampur bentakan itu membuatku semakin menjatuhkan pandangan melihat lantai. Hatiku perih ketika mendengarnya. Napas terasa sesak seakan ingin berhenti.
Hasrat hati ingin bertanya tidak lagi kulanjutkan. Aku mengurungkan semua yang ingin kutanya. Tatapan sinis bercampur kebencian terpampang jelas di pelupuk mata.
"Kakak tidak usah lagi berteman dengan ku," kata adikku. "Aku tidak mau lagi berteman dengan Kakak," lanjutnya memekik di telinga.
Sedetik aku terdiam seakan tamparan keras mengenai wajah dengan keras. Siraman es rasanya seakan turun dari atas menyiram tubuh sehingga aku membeku.
"A- Ana, jangan marah pada Kakak," ucapku terbata penuh permohonan.
Kekecewaan semakin terasa tergores di dalam hati. Harapan kosong semakin tergenggam erat di tangan. Butiran kristal pun terasa ingin jatuh membasahi pipi. Air mata yang menganak di pelupuk mata pun tertahan dengan kuat.
"Jadi, Kakak jangan berteman lagi samaku," kata adikku memecah kebisuan. "Aku malas berteman dengan orang jahat!" katanya menegaskan. "... karena temanku Anak baik semua," lanjutnya pedas.
Aku semakin terhenyak. Perut yang lapar sekarang tidak lagi terasa seakan lontaran kata-kata pedas dari adikku lebih kuat menutupi rasa lapar di banding lapar itu sendiri.
Suara kaki ayahku yang lalu lalang melewati ruang tamu yang tepat berada di depan pintu kamar terdengar kuat. Bayangan jenjang kakinya yang melangkah terlihat jelas dari ekor mata melewati kamar.
"Liyan, Ana." Dari balik tirai terdengar ayahku memanggil. Berdiri dan lalu pergi.
"Iya, Yah," jawabku mengusap air mata yang menganak di pelupuk mata dari dalam kamar.
Aku mengayunkan sebelah kaki maju dengan sebelah tangan memegang tirai kamar. "Ada apa, Yah?" tanyaku membuka tirai dengan tangan kiri mengeluarkan kepala sedikit melihat ayahku.
"Kalian sudah makan ?" tanya ayahku. Mengayunkan kakinya sebelah lalu memutar badan melihat kami.
Aku tidak bisa membuka mulut ketika aku melihat tatapannya yang letih. Aku begitu bimbang mau menjawabnya. Bibir yang bergetar ingin berkata semakin berat. Aku lalu berpikir dan di ikuti olehku memutar kepala ke belakang melihat adikku yang bangun dari duduknya, kemudian aku mengikutinya dengan menajamkan tatapan melihatnya yang berjalan mendekat. Aku perlahan memutar bola mata menatap nanar lurus tirai yang kupegang. Di ikuti oleh telinga yang menajamkan pendengaran mendengar kaki adikku yang melangkah.
"Ayah, aku tidak lapar," jawab adikku.
"Kenapa tidak lapar, Nak?" tanya ayahku penasaran.
Adikku terdiam berdiri di sampingku tepat di depan ayahku. Dia melihat lantai seolah mencari alasan yang tepat. "Ayah, kami pengen jajan," rengek adikku dengan nada suara manjanya. "Ayah 'kan, sudah lama tidak memberi kami jajan," terang adikku melihat ayahku dengan gurat wajah berharap bercampur cemas.
__ADS_1
Adikku yang berdiri di samping tepat dekat dengan ku terlihat sedikit melihat ke bawah terlihat dari ekor mata. Aku yang mendengar rengekannya, menegakan kepala melihat ayahku yang berdiri tegak dihadapanku kemudian aku melirik ke samping tepat di mana adikku berdiri.
Mereka saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing. Ayahku sedikit merasa keberatan dengan permintaan adikku. Sementara adikku sangat berharap ayahku akan mengabulkan permintaannya.
Di dalam pemikiran mereka pasti bertentangan, pikirku. Aku semakin resah kalau ayah dan adikku saling bertukar keinginan yang berbeda.
"Ana, Ayah suruh makan! Bukan minta uang jajan!" kata ayahku dengan penuh penegasan.
"Ayah tapi aku pengen jajan," rengek adikku melihat ke luar pintu. "Ayah sudah lama tidak memberi kami jajan," lanjutnya.
Ayahku terdiam seakan dia malu. Dia pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Ana, Ayah belum dapat uang, Nak," kata ayahku pelan seakan menahan rasa malu di hadapan kami.
"Tapi, Yah. Aku cuma minta seribu saja," ucap adikku sedikit keras bercampur kesal. "Masa tidak ada, Yah," rengeknya membujuk ayahku.
Ayahku seketika diam seakan dia kehabisan kata-kata. Napasnya kembali di hembuskannya dengan kasar sambil mengusap mukanya dengan tangan kanannya.
Aku yang mendengarnya seakan merasa tidak enak hati. Aku menghela napas dalam melihat adikku yang keterlaluan. Pancaran mata ayahku pun seakan meredup sedih mendengar rengekannya.
"Ayah, sudah lama kami tidak di kasih uang jajan sore, Yah," rengekannya semakin panjang. "Sekali ini saja, Yah," bujuk adikku lembut.
"Ana, Ayah tidak punya uang hari ini," kata ayahku membujuk adikku agar berhenti merengek. "Nanti kalau Ayah sudah punya uang. Pasti Ayah kasih ya, Nak!" kata ayahku berjongkok di depan adikku.
"Ayah pelit," kata adikku memekik keras. Pergi meninggalkan ayahku merajuk. Dia pergi masuk ke dalam kamar, di ikuti oleh tatapanku yang mengikuti langkahnya.
Begitu pelik terasa hari ini sehingga aku tidak bisa berkata-kata lagi. Uang jajan yang menjadi kebutuhan aku dan adikku selama ini sekarang tidak lagi kami nikmati. Semakin lama ayahku semakin bersedih ketika mendengar adikku merengek meminta uang jajan.
"Itulah di Ana, kalau di marahi pasti merajuk," kata ibu sambung kami masuk dari pintu dapur.
Ayahku seketika terkejut ketika mendengar suara yang menegurnya dari belakang. Bibirnya seakan bergerak ingin menjawabnya. Namun, entah apa arang yang melintang ayahku seakan tidak kuasa ingin mencetuskannya.
Dia menahan bibirnya kuat untuk terbuka. Semakin lama aku melihatnya aku semakin sedih. Ayahku seperti bergulat dengan masalahnya. Wajahnya semakin mengetat setelah mendengar permintaan adikku.
"Anakmu si Ana itu sudah terlalu kau manjakan," kata ibu sambungku bergerak menyibukan diri di dapur. "Makanya, dia selalu merajuk," tandasnya.
Cibiran ibu sambungku semakin pedas menyentuh hati. Dia seakan tidak berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakannya. Sesekali ayahku jengah mendengarnya.
"... sampai dia tidak mendengar kalau di bilang uang tidak ada. Dia tidak tahu kalau semua uang habis untuk mereka. Sekolah jajan. Pulang sekolah jajan, sore jajan. Macam Anak orang kaya saja," cibirnya pedas. "Tidak tahu di untung," katanya santai seakan lemparan itu menyindir aku.
Aku menutup tirai kamar kembali mundur ke belakang seolah malu pada diriku sendiri. Aku merasa kalau aku yang salah dan akulah penyebab semuanya. Aku semakin tersudut di tengah kebimbangan yang melanda.
Adikku terpaku lesu murung di sudut tempat tidur. "Ana, Ayah tidak punya uang," kataku mengulanginya agar adikku mau mengerti.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1