
"Benar itu Liyan, kau terluka?" tanya ayahku melayangkan pertanyaan padaku.
Aku hanya bisa membisu mendengarnya. Berdiri dengan baju terusan setengah lutut yang terkoyak.
"Iya Ayah," jawabku sambil meremas kedua jemari yang kusilangkan tepat di depan.
Huh!
Ayahku mendengus kesal melemparkan pandangan sembarang sambil memijat keningnya.
"Liyan, sudah berapa kali Ayah bilang. Kau jangan bermain!" kata ayahku dengan nada suara kesal.
Aku semakin menunduk diam membisu.
"Ayah, mungkin Kakak sudah gak mau mendengarkan yang Ayah bilang lagi," timpal adikku yang sangat membenciku saat ini.
Aku shock dan pucat mendengar adikku setega itu menjelekanku di depan Ayah kami sendiri.
"Padahal 'kan, Ayah sudah bilang," lanjutnya. "...tapi Kakak melanggarnya."
Tidak berapa lama aku langsung menaikan pandangan. "Ana, jangan menuduh, ya!" kataku menyerang adikku. Menatapnya tidak suka.
Ayahku sangat terkejut dan membelalak mendengar suaraku yang sedikit meninggi menyerang adikku.
"Liyan, kenapa kau membentak Adikmu?" tanya ayahku yang terkejut mendengarnya.
Kedua bola mataku langsung menunduk ke bawah kembali melihat lantai dengan air mata yang menganak di pelupuk mata.
"Kau sudah salah. Masih saja... ." Ayahku tidak melanjutkan yang ingin dikatakannya dan lekas menutup mulutnya dengan rapat.
"Ayah, Kakak sekarang sudah melawan," ucap adikku yang tidak mau membela diriku hari ini. Dia semakin menambah bumbu kemurkaan ayahku agar ayahku semakin menghardikku kembali seperti yang dulu.
Adikku sangat tidak senang dengan perhatian yang kudapatkan saat ini dari ayah kami. Dia ingin perhatian itu kembali dia dapatkan sehingga dia dengan ringan menjelek- jelekan aku di hadapan ayah yang kami sayangi.
"Ayah, selama Ayah sudah sayang sama Kakak. Dia semakin keluyuran , Yah," lanjut adikku yang masih berdiri di sampingnya tepat berhadapan dengan ku.
"Kau Liyan. Sudah mulai membantah yang Ayah larang," kata ayahku kembali sambil membuka topinya.
Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri sebab lututku baru saja terluka. Ingin sekali aku menjatuhkan tubuh ini agar rasa sakit lutut ini sedikit mereda. Tapi aku tidak melakukannya karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Ayahku saat ini lagi marah besar padaku. Jika, aku sampai berani duduk aku pasti akan mendapatkan hukuman di luar nalar.
__ADS_1
"Baru sembuh. Belum makan siang sudah pergi bermain! Sampai Adikmu pun mencarimu!" hardik ayahku dengan penuh penekanan. Berdiri tegak dengan amarah yang ingin dia hempaskan padaku. "Kalau saja Adikmu tidak tau kakimu sakit. Pasti akan kau tutupi , ya 'kan?" tanya ayahku seakan dia tau kalau putrinya ini sangat cerdik dan bisa menyimpan rahasia apa pun darinya.
"Iya Ayah sama seperti yang kemaren. Yang di lempar bola kasti itu!" sambung adikku mengingatkan dengan ucapan yang ringan. Adikku sepertinya sengaja membuka itu lagi agar ayah kami kembali ingat dan semakin mengekangku di rumah.
Tidak mudah rasanya untuk melawan adikku yang mendapat perlindungan dari ayah yang kami sayangi. Ayahku memang sudah menjaga jarak kasih sayangnya pada adikku agar adikku tidak semakin manja ketika nanti tumbuh dewasa.
"Liyan, kau sudah membuat Ayah kecewa," tandas ayahku dengan nada suara yang sesal. "Sudah berapa lama Adikmu mencarimu," terangnya kepadaku agar aku sedikit menaruh simpati terhadap adikku.
"Iya Ayah. Aku lama tadi mencari Kakak sampai kakiku lelah," sambut adikku menjelaskannya dengan nada suaranya yang manja.
Air mataku semakin menganak mendengar ayah dan adikku.
"Ayah! Aku tadi cuma mau bermain sebentar," ucapku dengan nada suara yang pelan dan sedikit gugup mengingat kejadian tadi yang membuat aku sampai terlambat pulang.
"Lalu, kenapa kau lama pulang ?" tanya ayahku yang sudah mengetahui penyebab aku mengapa lama pulang.
Aku diam tidak menjawabnya.
"Kakak 'kan jatuh, Yah," sambung adikku yang mengetahui dengan jelas luka di lutut.
Deg!
"Memang itu saja kerjamu. Bermain pasti jatuh?!" kata ayahku dengan kesalnya. "Makanya, Ayah malas melihatmu kalau pulang bermain... ," lanjutnya terdiam beberapa detik. "...kalau tidak jatuh..., sakit!" tandasnya.
Aku melirik ayahku dari ekor mata. Ayahku sangat pias bercampur kesal dengan tatapan yang tajam melihat diriku yang menunduk. Aku pun juga melirik adikku yang tersenyum bahagia melihat ayah kami yang memarahiku kembali.
Tawanya semakin puas bercampur senang melihat gurat wajahku yang menunduk takut.
Sesekali aku bergerak untuk meregangkan otot-otot yang kaku akibat berdiri.
"Ayah, Kakak tidak usah kasih bermain lagi," kata adikku. "...kalau Kakak nanti sering jatuh. Dia nanti pasti sakit, Yah?!" lanjutnya memberi saran pada ayah kami.
Ayah kami seketika bergeming seakan dia menimbang yang di sampaikan oleh adikku.
"Itu memang cocok! Kakakmu tidak usah bermain lagi," balas ayah kami mengangguk. "Kau memang harus di rumah saja. Biar tidak jatuh," cetusnya dengan tegas. "Mulai sekarang kau balik lagi, seperti dulu tidak boleh keluar rumah lagi," tandasnya dengan keras memberi larangan terhadapku.
Glek !
Aku shock mendengarnya sambil menelan ludah dengan kasar. Kedua mata pun menatap nanar bercampur air mata yang menggenang. Tatapan yang tertutupi oleh air mata begitu buram menatap lantai.
__ADS_1
"Ayah, aku minta maaf tidak akan jatuh lagi," kataku dengan nada suara lirih. Berdiri menahan kaki yang sakit.
"Kakak pasti bohong itu, Yah?!" balas adikku seakan dia menunjukku. Jika aku mendengar dari kata-katanya.
Sedih bercampur kecewa itu yang kurasakan saat ini. Air mata tidak lagi berguna untuk menarik simpati ayah yang kami sayangi. Hari ini permainan sepeda memang membuatku semakin terpuruk kembali ke masa lalu yaitu, kembali terpenjara di rumah.
"Jadi, Ayah mulai kapan Kakak tidak boleh keluar rumah lagi?" tanya adikku yang sangat bahagia mendengar aku kembali terkekang.
"Mulai hari ini," jawab ayah kami dengan lugas.
"Mulai hari ini Ayah," sambut adikku dengan nada suara senang dan bahagia.
Deg!
Aku yang masih menunduk dengan napas yang sesak. Menaikan pandangan sedikit melihat reaksi adikku yang membuatku penasaran.
Dia sangat bahagia ternyata. Bibirnya pun seketika tersimpul tipis dengan gurat wajah yang licik.
"Ayah, tapi kami libur sekolahnya lama," ucapku dengan nada suara meminta permohonan agar dia mau mencabut kata- kata yang barusan diucapkannya.
"Jadi, kalau kalian liburnya lama, kenapa ?" tanya ayahku dengan santai. Terdengar di telingaku kalau itu tidak begitu penting baginya.
"Bosan lah, Yah di rumah terus," sambung adikku seakan menyindirku yang menimpali omongan ayahku sebagai isyarat memberi tahu kepada ayah kami kalau aku tidak terima di rumah terus.
"Kalau bosan di rumah. Pergi keluar dan tidak usah pulang lagi ke rumah!" ancam ayahku dengan keras.
Deg!
Aku kembali terhenyak dan tidak percaya kalau ayahku semudah itu mengatakannya. Pikiranku semakin berkecamuk. Ini semakin menjadi ancaman keras bagiku. Jika aku salah sedikit aku pasti akan mendapatkan hukuman yang berat darinya.
"Tidak usah pulang ke rumah, Yah," kata adikku menganga mendengarnya dan bengong.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1