Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain kelereng


__ADS_3

"Kak,masa kata Ayah kalau aku sakit harus tetap sekolah." Ungkap adikku duduk menatapku. "Jadi, nanti kalau aku pingsan gimana kak?" Ucap adikku kembali dengan sendu.


Mendengar adikku seketika aku diam menatap lurus ke depan sambil berpikir.


"Dek, kakak aja sebentar lagi ingin sekolah kembali." Sambung ku menatap adikku.


Ha! Adikku terkejut menatap ku dengan bengong.


"Hahaha! Kakak mau sekolah? Hahaha!" Timpal adikku sambil tertawa. "Kakak itu engga bakalan bisa sekolah,jalan kakak aja belum benar masih sempoyongan seperti ini..." Ejek adikku menatapku sambil memperagakan dengan smrik.


Wajah pucatku seketika sedih melihat dan mendengar nya. Adikku yang nakal terus mengejek ku sampai ia puas. Mata nakalnya begitu membuat ku merasa terpojok.


Ruangan yang bisu pun seakan mengejek ku juga. Aku terdiam dan malu akan diriku yang terlalu percaya diri untuk masuk sekolah segera.


"Kenapa? Tanya adikku. "Kakak sedih ya." Menatapku dengan lekat.


Wajah adikku tertunduk malu seketika melihat diriku yang terdiam seribu bahasa dengan gurat wajah merasa bersalah. Dia berjalan masuk kamar tanpa berpamitan dengan ku.


Melihat adikku, aku kemudian menyandarkan tubuhku ke dinding berdiri tegak menatap ke bawah. Wajahku yang sedih seketika berubah karena melihat adikku pergi dengan keadaan merasa bersalah akibatnya,aku berkubang sendiri dalam diam. Sesekali aku mengigit bibir kecilku dengan melemparkan pandangan kosong ke segala arah. Tungkai kakiku yang lemah terasa gemetar.


"Liyan!" Panggil ayahku. "Bagaimana dengan obatmu,apa sudah kau minum?" Tanya ayahku ingin tahu. Berdiri menatapku.


Ayahku yang pergi membawa pakaian kotor untuk di cuci tanpa ku sadari dia telah berdiri diantara kami.


"Ia Ayah,ini mau Liyan minum." Jawabku dengan pelan. Mengambil obat.


"Cepat di minum obatmu,biar kamu lekas sembuh dan bisa sekolah kembali." Ungkap ayahku sambil mengambil gantungan pakaian nya.


"Ia Ayah." Kataku.Bergegas.


Tungkai kakiku langsung melangkah meraih obat yang terletak di atas meja.


"Kak,kita bermain yuk!" Ajak adikku,berdiri disamping ku.


Tangan lemahku yang meraih obat seketika terhenti memutarkan badanku menatap adikku yang berdiri di belakang ku. Wajah pucatku melihatnya dengan lesu memberi isyarat bahwa aku tidak ingin bermain.


Obat yang ingin aku raih akibatnya terlupakan sejenak karena menatap adikku yang begitu antusias untuk bermain bersama.


Hatiku seketika risau ketika mengingat ayahku yang begitu ketat menjaga ku sehingga dia tidak mengizinkan aku untuk keluar rumah.


"Kak,kita bermain ya." Ajak adikku kembali dengan lembut. Sebentar saja kak." Bujuknya menggoda ku.


"Dek nanti Ayah marah,kakak kan lagi sakit.Lagi pula kakak kalau keluar rumah harus ada izin dari Ayah." Tolak ku dengan pelan.


"Kak,Ayah kan tidak ada." Sambut adikku. Berjalan mengambil kotak bening yang kecil.


Melihat adikku telah pergi lalu aku memutar badanku meraih obatku kembali, serta melangkahkan kaki lemahku berjalan menuju dapur mengambil segelas air dengan pikiran masih tertuju akan ajakan adikku kepada ku.


Tangan kecilku kini memasukkan obat ke dalam mulutku dengan segelas air di tangan ku.


"Kak!" Panggil adikku,mengagetkan ku dan melepaskan gelas yang ku genggam. "Jadi,kita bermain kan kak." Harap adikku.Berdiri tegak di hadapan ku.


Aku yang masih bingung menatapnya.


"Apa!" Sahut ku dengan datar. "Dek kakak engga berani ikut bermain dengan mu.Kamu sudah lupa dengan kejadian tadi.Ayah tadi marah besar pada mu. Belum ada beberapa jam kemarahan Ayah,kau sudah mau keluar lagi." Sindir ku pada adikku.Bagaimana nanti kalau Ayah marah lagi yang ada kita berdua engga boleh keluar." Keluh ku kembali pada adikku.


Memutarkan badanku membelakangi adikku.


Mendengar apa yang aku sampaikan adikku menatap ku dengan kesal. Bola matanya kini melihat ku seakan dia ingin memberikan ancaman yang tidak terduga. Dia pun memutarkan badannya menjauh dariku.


Kotak kecil bening yang berisi kelereng ia genggam dengan penuh kasih sayang. Pelukannya begitu erat melihat kotak kecil yang berada dalam dekapan nya. Kakinya yang keras melangkah kini berhenti, berdiri diam di depan pintu. Kedua netranya menatap lirih ke luar.


"Aku pengen keluar bermain." Gumamnya kecil. Mendekap kotak kecil bening. "Kenapa kakak ku takut sama Ayah.Padahal kan Ayah baik." Gumaman kecil adikku kembali dengan lirih.


Aku spontan ikut hanyut akan kesedihan adikku yang berdiri di depan pintu sambil melemparkan kesedihannya dan bergumam kecil karena kecewa melihat kondisinya hari ini,lemah tak berdaya.Hahaha! Spontan tawa kecil dari bibir ku yang getir menatap adikku.


"Engga usah keluar." Ledek ku pada adikku sambil menarik sedikit bibirku. "Nanti Ayah marah.Jadi,nanti hukuman mu akan bertambah berat." Bisik ku pada adikku.


Spontan adikku memutarkan badannya menatapku dengan sedikit kesal. Huh! Kembali memutarkan badannya menatap nanar keluar.


"Awas! Kakak ya, kapan kakak engga membutuhkan ku." Ancam adikku dengan kesal.


Mendengar ancaman adikku aku tertawa dan rileks.


"Membutuhkan apa? Yang ada kamu dek yang butuh sama kakak." Ejek ku pada adikku dengan percaya diri.


Melihat adikku hari ini yang terus diam membuat ku semakin ingin tahu sehingga aku terpaksa menyeret kakiku yang lemah menghampiri adikku.


Wajahnya terlihat begitu murung karena di tahan di dalam rumah sehingga dia diam menatap kotak kecil yang diayunkannya ke udara dengan lirikan matanya seolah menghitung kelereng itu satu persatu.


"Kakak mau ngapain berdiri di situ?!" Kata adikku sambil melirikku dari ekor matanya.


Sontak aku terperanjat takut kalau adikku akan menghardik ku dengan melihat ia yang memasang wajah ketat,aku pun seketika melemparkan senyum.


"Dek,nanti coba bilang sama Ayah kalau kau ingin bermain di luar." Usul ku dengan pelan. Berdiri menatap adikku.

__ADS_1


"Apa kakak yakin ? Ayah akan mengizinkan." Lanjut adikku dengan penuh tanda tanya.


Spontan aku memalingkan kepalaku dari hadapan adikku seakan aku memikirkan apa yang di tanyakan adikku pada ku.


Kaki kecilku yang lemah aku seret menjauh membawa tubuh mungilku berdiri di depan pintu dapur.


"Kak,kakak ngapain disitu?" Tanya adikku ingin tahu, memutar badannya melihat ku.


"Melihat Ayah." Jawab ku tegas.


Seketika adikku berjalan dengan kencang menghampiriku. "Ngapain kakak melihat Ayah!" Bisik adikku menatap ku tajam.


"Mau memberi tahu kalau kau ingin bermain kelereng di luar." Lanjut ku dengan wajah datar.


Sontak adikku mendelik menatapku. "Jangan beritahu Ayah sekarang.Aku lagi memikirkan apa yang akan aku katakan pada Ayah." Imbuh adikku,berdiri tegak di hadapan ku.


Melihat wajah adikku yang panik aku jadi mengurungkan niatku dan mengikuti keinginan adikku yang menyebalkan.


Kaki lemahku terpaksa ikut berhenti ketika mendengar semua penolakan dari adikku.


Wajah piasnya kini menyelimuti dirinya dengan tajam.


Begitu sangat menakutkan aku terhenyak diam mematung seribu bahasa. Langkah gontai dari ayahku yang lelah kini terlihat akan menghampiri pintu dapur.


Adikku dan aku seketika pergi menjauh.


"Kak,Ayah pulang." Kata adikku dengan ketakutan.Berlari berdiri di balik tirai kamar.


Melihat adikku yang ketakutan aku ikut terbawa suasana yang tidak menyenangkan ini. Tubuh mungilku yang lemah pun mulai tenggelam dalam kecemasan.


"Liyan mana adikmu?" Tanya ayahku tiba-tiba.


Di dalam kamar yang hening aku melihat adikku berdiri mematung di balik tirai membenamkan dirinya dengan wajah yang panik.


Suara ayahku yang membuat ku terperanjat memanggil namaku belum juga aku sahut.


Aku masih melihat adikku yang bergulat dengan panik sehingga aku menghampiri adikku.


"Kak, cepat jawab! Ayah memanggil mu." Kata adikku dengan pelan. Mendorong ku keluar.


Perlahan aku melangkah menghampiri ayahku. "Ia Ayah." Jawabku dengan pelan.Melirik ke kamarku.


"Di mana adikmu?" Tanya ayahku kembali. Berjalan menuju kamar.


"Di kamar ayah." Jawab ku. "Ayah." Panggil ku kembali menghentikan langkah ayahku. "Boleh ngga kam..." Seketika aku menghentikan kata-kata ku melihat adikku datang.


Ayahku langsung memutarkan badannya menoleh ke arah adikku dengan wajah ketat.


"Ayah boleh engga Ana pergi bermain." Pinta adikku pelan menatap ayahku dengan wajah sedikit menahan rasa takut.


Ayahku hanya diam mendengar yang di sampaikan oleh adikku. Dia memutarkan badannya dan melangkah.


"Mau bermain apa?" Tanya ayahku ingin tahu. Menyusun pakaiannya yang tergantung dengan rapi.


"Bermain keluar Ayah,Ana sudah lama tidak bermain di luar." Pinta adikku pelan. Berdiri.


Mendengar permintaan adikku seketika ayahku diam menatap nanar seakan ayahku begitu kasihan mendengar permintaan adikku, terlihat dari gurat wajahnya. Aku yang berdiri menyaksikan mereka sambil menghela napas seakan aku takut kalau ayahku akan memarahi adikku dengan permintaan nya.


Adikku hanya bergeming dan memegang kotak kecil bening yang di dekapnya. Sorot matanya seakan mengatakan dan menunjukkan kalau permintaan nya tidak akan di kabulkan oleh ayahku.


Ayahku berulang kali keluar masuk kamar nya tanpa membawa sepatah katapun untuk adikku . Aku yang berdiri hanya bisa melihat.


"Belum lama Ayah memarahi mu,ini kau sudah minta keluar bermain kelereng." Bisik ku pada adikku. Berdiri di sampingnya.


Seketika adikku menatapku dengan wajah memerah seperti ingin mengeluarkan api panas.


"Kak,emang kenapa? Kalau Ayah mengizinkannya." Kata adikku dengan sedikit keras.Berdiri menatap ku.


"Ya,terserah." Sambung ku tegas.


Kami terus bertengkar dengan pelan sedangkan ayahku yang sibuk dengan kegiatannya berada diantara kami tidak mengetahui pertengkaran kami. Kami begitu hati-hati agar ayahku tidak mengetahui nya.


"Ayah bolehkan Ana bermain." Rengek adikku, menghampiri ayahku.


"Tapi ingat jangan lama-lama pulang. Kalau sampai Ayah lihat pulangnya lama jangan harap akan Ayah kasih lagi keluar." Pekik ayahku dengan penuh penekanan.


"Ia Ayah." Jawab adikku sambil menarik sedikit bibirnya. "Ayah tapi bolehkan kakak kali ini ikut dengan ku." Sambung adikku kembali.


Sontak sorot mataku begitu tajam menatapnya dan mendelik. Aku tidak percaya kalau adikku begitu berani meminta pada ayahku untuk membawaku bermain.


"Kenapa kau ajak kakak." Kataku dengan pelan.


"Karena kakak pandai main kelereng." Tersenyum. "Aku pengen menunjukkan pada temanku kalau kakak sangat lihai bermain kelereng." Tukas adikku.


"Tapi kakak lagi sakit.Kalau kakak keluar nanti kakak sakit lagi pasti kakak engga akan sekolah." Lanjut ku menatap adikku.

__ADS_1


"Kakak engga akan sakit tenang aja,kan harinya engga hujan.Kalau hujan baru kakak bilang,kakak akan sakit." Sanggah adikku.


"Kau ini!" Balas ku.


Dari ekor mataku aku melihat kalau ayahku lagi memperhatikan kami.


"Ayah kami boleh keluar kan." Pinta adikku dengan wajah memohon.


Begitu berat hati ayahku harus mengabulkan permintaan adikku.


"Ia tapi jangan lama-lama kalian kembali." Kata ayahku dengan pelan dan wajah yang ketat seakan ayahku keberatan memberikan izin kepada kami.


"Ayo kak!".Teriak adikku dengan senang. Berlari keluar sambil menarik tanganku.


"Hari ini pasti kakak senang, ya kan. Kan ini pertama kali kakak keluar setelah berapa lama sakit." Kata adikku sambil tersenyum.


Aku begitu terharu melihat adikku yang perhatian akan diriku.


"Kita akan bermain di sana kak." Tunjuk adikku dengan penuh keyakinan.


Aku memalingkan pandangan ku mengikuti jemari adikku yang menunjuk sesuatu di depan kami.


Seakan nyawa ku mau lepas melihat tanah yang kosong dan panas.


"Kita akan bermain di sana?" Tanyaku dengan penasaran. Berjalan.


"Ia kak,kenapa? Kakak takut panas." Ucap adikku dengan datar.


Aku langsung menarik napas panjang untuk mengatur emosi ku. Panas yang terik akan menyentuh tubuh mungilku yang lemah sehingga membuatku ingin terhempas ke tanah. Tanah kosong yang panas pasti akan membakar kulitku yang putih.


Sekian lama aku terkurung di rumah tak pernah melihat udara segar. Tapi kali ini yang aku hadapi malah lebih parah. Aku harus menghadapi udara luar yang gersang dan menyengat.


"Kenapa kita tidak nanti sore atau besok saja keluar untuk bermain, ini." Kataku dengan sedikit kesal. Menunjuk kelereng.


"Kak hari ini keberanian ku mengalahkan rasa takut ku. Kalau besok belum tentu Ayah mengizinkan ku. Apalagi aku besok harus sekolah,mana mungkin kak nanti sore ataupun besok di kasih kak." Keluh adikku .


Adikku begitu bijak dalam berbicara selalu kata- katanya yang paling benar sehingga hari ini kata-katanya begitu membuat ku tak berkutik, kalau aku tak ikut bersamanya pasti nanti, dia tidak akan di izinkan oleh ayahku bermain. Hari ini hidupku terjebak diantara mereka berdua.


Hai! Sapa adikku pada yang lain.


"Kak,tunggu di sini dulu ya." Kata adikku. Pergi meninggalkan aku.


Aku yang tidak mempunyai pilihan lain terpaksa mengikuti apa yang di perintahkan oleh adikku. Hari ini adikku bagaikan seorang atasan yang membawa dan mengatur bawahannya.


Di tempat yang teduh tepat di bawah pohon aku pun menggeser tubuh mungilku yang lemah untuk duduk.


Aku melihat adikku menghampiri orang itu dan berbicara dengan nya dari jarak yang cukup jauh dariku.


Kedua bola mataku yang hitam melihat adikku yang begitu serius. Tak sekalipun dia berpaling melihat ku.


Melihat adikku yang jengah membuatku melemparkan pandangan ku melihat yang lain. Hembusan angin di siang hari yang panas membuat tubuh mungilku melupakan sengatan matahari.


"Kak." Panggil adikku. Berdiri di hadapanku.


Aku sontak terkejut dan memutar kan kepalaku ke arah suara yang memanggil ku.


"Ada apa? Tanya ku menatap adikku dengan heran. "Kau mengejutkan ku saja." Sungut ku kembali.


"Ayo kita sekarang bermain kak." Ajak adikku sambil menarik lengan ku.


Ha! Aku terkejut menatap adikku.


"kakak engga ikut main." Tandas ku dengan datar.


"Kenapa kakak engga mau ikut.Padahal aku tadi sudah memohon kalau kakak jadi temanku


dalam permainan kelereng ini." Kata adikku dengan memasang wajah sendu.


"Kakak,lemas dek. Kakak kan belum sembuh." Tolak ku pelan.


Seketika adikku memutarkan kan badannya memasang wajah sedih.


"Ana,ayo kemari! Katanya, mau main kelereng." Ajak teman yang lain. Menatap adikku yang terduduk di sampingku.


"Aku engga jadi bermain. Kata adikku dengan sedikit kesal.


.


.


.


Terimakasih buta teman-teman yang sudah memberi kan dukungan like, komentar, favorit, dan votenya.🤗🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2