Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Perkelahian secara diam-diam


__ADS_3

"Betul," balasku singkat.


Adikku langsung menyambungnya. "Iya memang betul. Kalau kita punya kawan gak seru, pasti ada yang jahat nanti. "Kan Kakak juga gak mau kadang bermain keluar. Kakak bilang, di luar banyak orang jahat," lanjutnya. "Makanya aku gak mau si Dottie-ku punya teman," ungkap adikku kembali menatap bonekanya dengan sendu. Di ikuti oleh kedua bola mataku melihatnya.


"Heh." Aku menyeringai memutar badan setelah mendengar ucapan adikku dan kembali menatap lurus ke depan sambil menyandarkan tubuh mungil yang lemah ini ke tepian tempat tidur. "Tapi kalau kita gak punya kawan. Kita sendiri," sambungku langsung menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan penuh penekanan.


"Kak, kalau kita rame-rame pasti bertengkar ?!" tutur adikku dengan jelas yang duduk tepat di belakangku.


Anak Bp yang teronggok mematung dihadapanku terus menerus kutatap dengan lekat hingga lama kelamaan bisa mencairkan suasana hati yang sedang dirundung masalah. Masalah perebutan kasih sayang ayah yang selama ini memperjuangkan kami. Belum lagi masalah yang barusan singgah di dalam hidupku yaitu, sakit yang kembali mendera.


" 'Kan orang jahat bisa berubah jadi baik," singgungku kembali. Menatap anak Bp yang teronggok.


"Mana pula! Kalau jahat, ya tetap jahat," timpal adikku.


Sorot mata serta pikiranku masih terus melayang melihat anak Bp-ku. "Tapi itu gak kok," balasku dengan yakin. Menunjuk anak Bp yang terpampang di depan mata dengan kedua bibir dan sorot mata. "Semuanya di situ orangnya baik- baik. Gak ada yang jahat," ucapku melihat anak Bp yang tersusun rapi di atas lantai.


"Namanya, bukan manusia. Itu 'kan cuma kertas," sangkal adikku langsung dengan penuh penekanan dan masih duduk di atas tempat tidur tepatnya di belakangku.


Apa yang di katakan adikku itu ada benarnya juga, pikirku. Itu 'kan cuma hanya sebentuk kertas yang di cetak berupa mirip manusia dan bisa digunting-gunting, seperti sekarang ini sehingga aku bisa memainkannya. Makanya identitasnya tidak jelas, siapa yang jahat dan siapa yang baik dan terkadang bisa juga identitasnya terlihat jelas, ada yang baik dan ada yang jahat. Itu semua berlaku jika si empunya mainan memainkannya dengan jelas sesuai alur dan keinginannya.


"Iya Dik. Kau betul, dia 'kan bukan manusia," ucapku langsung menyahut yang di katakan oleh adikku kalau itu hanya sebentuk kertas.


"Makanya gak ada yang jahat," lanjut adikku kembali mengulanginya dari belakangku.


Rumah yang gelap dan masih terkunci pun terus menjadi pengekang bagi kami yang ingin melihat keluar. Rumah yang gelap dan jendela kamar yang terang ini terus memaksa kami untuk berbaikan setelah saling bertengkar.


"Ana, Ayah belum pulang juga," kataku dengan sendu. Melihat ruangan yang gelap dari balik tirai pintu.


"Mungkin Ayah belum dapat uang," sambung adikku menyahut dari belakang. "Karena 'kan dibilang Ayah mau mencari uang yang banyak," lanjutnya dengan polos.


Tek!


Jeglek!

__ADS_1


Pintu pun dibuka dan terhempas menyentuh dinding. Hilang gelap terbitlah terang inilah yang mewarnai kesenanganku hari ini. Bergegas aku pun beranjak mengangkat dan menyeret sebelah tubuh mungil yang lemah ini mengintip dari balik tirai yang memisahkan kami dengan ruang tamu.


"Siapa Kak?" tanya adikku dari belakang yang duduk di atas tempat tidur.


"Ayah," kataku pelan dari balik tirai. Memutar badan tepat ke arah adikku. Melihat adikku yang langsung menepiskan bonekanya.


"Ayah Kak," sahut adikku sumringah. Turun dari tempat tidur menghampiriku yang teronggok di atas lantai mengintip ayah kami.


"Ana, tapi kenapa Ayah gak ngucapin salam?" tanyaku menaikkan kepala melihat adikku yang berdiri tepat disampingngku sedikit.


"Mungkin Ayah lupa Kak," jawab adikku pelan. Menjatuhkan tubuh mungilnya duduk di atas lantai.


"Lupa?!" kataku dengan gurat wajah ragu. Memonyongkan kedua bibir ke depan sedikit manyun sambil memutar pikiran mencerna yang di katakan oleh adikku.


Suara langkah ayahku pun terdengar seakan diatur. Dia berjalan dengan langkah kaki yang pelan dan mengendap -endap terlihat seperti maling.


Brak!


"Ayah pasti bawa jajan?!" kata adikku dengan gurat wajah penuh keyakinan menaikkan sebelah alisnya. Duduk dan sambil menatapku.


Aku langsung sumringah. "Iya Dik. Ayah 'kan udah lama gak pernah bawa jajan," sahutku dengan penuh keyakinan. Melihat adikku yang sedikit merubah tatapan mukanya melihatku setelah mendengarkan ucapanku.


Mendadak dengan muka yang masam dia pun langsung berpaling dariku. "Itu bukan untuk Kakak," tampik adikku. "Itu untuk ku karena aku yang bilang sama Ayah beli jajan," lanjutnya. Menatapku dengan muka yang sinis.


Aku langsung menunduk malu. Keceriaan yang tadi tertoreh di wajah setelah kembalinya ayahku kini langsung meredup tanpa arah. Aku seakan asing di mata adikku sendiri dan selalu menganggapku sebagai musuh yang ingin menjauhkan dia dari kasih sayang seorang ayah.


Searah lirikkan mata yang mengintip dari ekor mata pun melihat adikku yang berkutat dengan keegoisannya. Dia tetap mengetat dan bersikeras melarang diriku untuk tidak terlalu dekat dengan ayah yang telah merawat kami.


"Jadi, kalau Ayah beli jajan. Itu hanya untuk ku. Bukan untuk yang lain," terang adikku memberitahu dengan penuh penekanan.


Aku semakin malu menunduk karena beranggapan kalau aku tidak ubahnya, seperti pengemis yang setiap saat memohon dan berharap sesuatu yang tidak pasti.


"Jadi, Kakak gak boleh main ambil aja. 'Kan kesayangan Ayah cuma aku," lanjut adikku dengan nada suara penuh kebencian. "Di mana ada aku. Di situ pasti ada Ayah dan jajan," gumam adikku senang sambil menaikkan sedikit alis ke atas bercampur dengan raut muka licik.

__ADS_1


Bibirku yang pucat pun membeku dengan kuat dan tidak ada lagi kata -kata yang keluar untuk membela diri ini walau hanya sebuah huruf.


Wajah adikku masih terpampang jelas dengan muka liciknya yang mencoba memancingku untuk mengeluarkan ekspresi muka masamku dihadapannya.


Berjuang dengan keberanian aku menggeser sedikit tubuh adikku dengan pelan agar menjauh sedikit dariku.


"Dik, kau duduk disitu saja," saranku. Menunjuk lantai dengan kedua bibir yang sengaja aku monyongkan ke depan.


"Mm, Ah! Aku gak mau," tampik adikku menepis tanganku kasar.


Puk!


Plak!


Kedua tanganku yang lemah pun langsung terpental ke lantai dengan kuat. "Auugh," jeritku dengan merintih. Mengayunkan tangan sambil mengibas-ngibaskannya ke udara sebagai isyarat untuk meredakan rasa sakit yang terpukul oleh lantai.


"Kakak jangan dorong-dorong aku," tegur adikku keras. Melayangkan sorot mata yang sinis.


Raut muka sinsinya dengan raut muka merintihku karena menahan sakit bertemu pandang dengan kemurkaan hati masing-masing. "Ana, kau jahat, huhuhu!" sindirku menangis menahan suara agar ayahku tidak mendengar perkelahian antara kami Kakak beradik di dalam kamar.


"Makanya jangan dorong-dorong tubuhku," bentak adikku dengan sorot mata yang sangat tajam menahan nada suaranya agar ayah kami yang sudah pulang tidak mendengar pertengkaran kami.


Huhuhu!


"Kakak 'kan cuma menggesermu, hix, hix, hix!" balasku dengan deraian airmata yang tertahan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2