
"Baiklah, Dik," ucapku, melihat adikku yang berjalan keluar.
"Kenapa Kakak gak senang gitu?" tanya adikku terheran.
"Gak senang kayak mana sih, Dik," sesalku, melayangkan jawaban kepada adikku.
Jeglek!
Pintu pun langsung terbuka lebar. Kedua kaki kami berdua langsung melangkah keluar. Udara luar lalu aku hirup dengan bebas. Betapa senangnya hatiku melihat keceriaan adikku yang sudah lama terpendam.
"Kak, Kakak ikut bermain, gak?" tanya adikku ingin tahu.
Seribu bahasa aku masih terdiam, melihat adikku yang sudah sibuk sendiri menikmati kebebasannya.
"Kakak belum tau, Dik," jawabku.
Spontan adikku langsung berjalan dengan gelagat sedikit malas. "Kenapa Kakak belum tau, Kak?" tanyanya.
Sesaat ini masih membuatku seperti terpukul. Kepergian ibu sambung kami bagaikan mimpi buruk terhadap ku.
"Kakak masih malas, Dik," jawabku, menunduk melihat lantai.
Raut muka adikku berubah derastis tidak semangat. "Kak, kalau Kakak gak ikut bermain. Jadi, aku bermain sama siapa?" tanya adikku merengek. Berdiri di depan pintu menatap sendu.
"Sendiri aja," jawabku acuh.
"Kakak, aku gak mau. Masa aku bermain sendiri," rengek adikku, melihat mainannya yang teronggok di atas tanah.
Hal ini sangat memperhatikan. Betapa sedih terasa oleh adikku. Dia yang ingin bermain bersama dengan ku kini malah mendapat penolakan.
"Kak, kita mainnya sebentar aja," ajak adikku. Berdiri melihat mainannya yang terletak di depan pintu.
Dengan rasa malas aku menatap adikku yang sangat cerewet. "Ana!" panggilku, melirik ayahku yang sudah menghilang. "Kita bermain di dalam aja, yuk!" ajakku.
"Aku gak mau, Kak. 'Kan Ayah udah ngasih kita izin," ucap adikku. Berdiri di luar.
Suasana hati ini masih mencekam semenjak kepergian ibu sambung kami beberapa menit yang lalu.
"Kalau Kakak gak mau. Ya udah! Biar aku sendiri aja yang bermain," kata adikku, melirikku yang masih tetap diam mematung.
Sebenarnya adikku tidaklah salah. Dia wajar kalau hari ini merasa bahagia karena ibu sambung yang selama ini telah memarahinya kini sudah pergi untuk selamanya.
"Kak, kita bermain aja. Siapa tau besok Ayah gak ngasih kita bermain lagi?" ucap adikku, melayangkan pertanyaan terhadapku.
Wajah percaya diri dan sumringah adikku tertoreh tanpa beban kesedihan sedikit pun. Dengan segenap hati dia sangat senang sekali bermain di luar rumah.
"Kak, coba lihat ini!" ungkap adikku dengan rasa bahagia. "Aku akan belajar bermain masak-masakkan, Kak," lanjutnya senang.
Aku tetap berdiri diam mematung melihat adikku yang sangat antusias dengan penuh rasa ingin menikmati permainan yang sudah lama meninggalkannya.
__ADS_1
"Kak, Ayah hari ini baik sekali," kata adikku polos. "Ayah mau mengasih kita keluar bermain di sini!" cetusnya.
"Ayah 'kan sedih melihat kita, Dik," kataku.
"Kenapa Kak?" tanya adikku.
"Karena Ibu udah pergi," jawabku langsung.
"Kakak masih saja menyebut nama Ibu kesayangannya Kakak itu," keluh adikku sebal.
Aku menarik bibir tipis sebagai rasa bersalah karena keceplosan. "Ana, bukan itu," bantahku lirih, membuang muka dari adikku.
Dia langsung diam dan meninggalkan aku sendiri. "Alah, Kakak palingan cuma bisa bilang itu aja," sesalnya.
Diam memangku wajah yang ditekuk. "Ana, kalau kau mau bermain. Bermain aja sendiri. Biar Kakak temani," ucapku. Berdiri melihat adikku yang sibuk.
"Kak, sini duduk! Temani aku menyusun ini," harap adikku memohon.
Tungkai kaki pun aku seret mendekati adikku yang duduk. "Ana, kau udah lama gak bermain ini, ya!" ledekku tersenyum.
Wajah cemberutnya langsung pias melihatku. "Kakak juga udah lama kok, gak bermain," timpal adikku.
"Iya, makanya Kakak udah gak mau lagi main itu," cetusku, melihat peralatan bermain adikku.
"Tapi Kak. Berkat aku, Ayah ngasih kita bermain," tandas adikku, melihat mainan yang disusunnya dengan rapi.
"Tapi, cuma hari ini aja," balasku.
"Kakak rasa, engga!" sambungku. Duduk menemani adikku. "Kalau Ayah besok pergi kerja. Kita pasti dikunci lagi di dalam?!" ucapku, melihat pintu rumah.
"Dari mana Kakak tau?" tanya adikku.
Aku sejenak diam ikut membantu menyusun mainannya. "Engga dari mana," balasku, melihat adikku, di ikuti oleh sebelah tangan kananku menyusun mainan.
"Terus, kenapa Kakak bisa bilang begitu?" tanya adikku.
"Dik, karena selama ini Ayah. Selalu mengunci kita berdua," sesalku, menunduk mainan yang banyak.
Mainan yang sudah terletak di atas tanah pun tampak disusun rapi oleh adikku. Setumpuk mainan terlihat dia pengang erat.
"Itu karena Kakak masih sakit," timpal adikku enteng.
Kedua bola mata terkejut dan melebar. "Tapi, 'kan Kakak udah sembuh," bantahku pelan.
"Hahaha! Kakak Sembuh dari mana?" tanya adikku.
"Ini buktinya Kakak, gak sakit lagi," tuturku.
Raut muka adikku refleks menjauh dariku. Mainan yang berserakan dia ambil dan dia mainkan dengan senang hati.
__ADS_1
"Kak, kalau Kakak udah sehat. Berarti kita udah boleh bermain lagi," papar adikku. "Iya 'kan, Kak?" tanyanya.
Aku semakin terhenyak dan tidak bisa lagi berkata. Adikku begitu antusias kalau keinginannya harus terkabul.
"Dik, tapi itu hanya ada untuk mu. Kalau untuk Kakak mungkin tidak," balasku dengan lemah lembut.
"Kenapa Kak?" tanya adikku terheran.
Bermain dengan asyik itulah yang dilakukan oleh adikku sekarang. Semua jenis permainan yang dimainkannya saat ini begitu banyak memadati tempat duduknya.
"Karena kau 'kan Anak kesayangan Ayah," jawabku.
"Hahaha!" Adikku tertawa puas. "Kenapa Kakak ngomong gitu?" tanya adikku.
Puk!
Daun kering yang kupegang pun kulemparkan dengan keras pada adikku. "Kau sengaja mengejek Kakak, ya!" celetukku.
"Aagh, hahaha! Siapa yang ngejek Kakak, ya?"bantah adikku, melayangkan pertanyaan.
"Liyan, Ana. Ayah sudah memberi kalian izin," balas ayahku dari dapur tiba-tiba.
Sontak aku yang meledek adikku langsung terperangah mendengar suara ayahku tiba-tiba menyahut.
"Iya Ayah. Kami gak akan bertengkar kok," teriakku menjawabnya.
"Syukurlah, Nak! Jadi, Ayah sudah senang melihat kalian hari ini bermain," terang ayahku.
Adikku langsung manggut-manggut. "Ayah, besok kami bermain lagi, ya!" pinta adikku memohon.
Piring yang sudah bersih di cuci dan di susun. Telah membuat mata yang melihatnya sekarang menjadi enak.
"Kalau kalian berdua mau bermain. Jadi, Ayah harap kalian bermain yang benar ya, Nak," pinta ayahku.
"Baik Ayah," jawabku, melirik adikku.
"Iya Ayah, mulai sekarang kami gak bertengkar lagi, kok," sambung adikku.
"Ayah jadi senang, Nak, mendengarnya," ucap ayahku. Menyelesaikan piringnya.
Adikku semakin asyik menyusun mainan yang teronggok. Mainan masakan yang sudah lama dia idamkan kini menjadikannya lebih baik dari sebelumnya.
"Ayah, kalau Ayah suruh kamu bermain. Kami jadi senang," kata adikku.
Ayahku semakin senang mendengarnya. Wajahnya pun tidak lagi terlihat sedih melihat kami berdua.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...