Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain kucing-kucingan


__ADS_3

Air mataku menetes sambil memaksa kakiku untuk berjalan di barengi oleh tawa mereka yang masih saja melihatku sempoyongan.


"Dia pasti kesakitan?!" tanya Ecy pada Tania yang yang berada disampingnya.


"Sakitnya tidak akan lama, sebentar lagi juga hilang," cetus Tania tidak peduli. "Aku juga pernah terkena bola itu! Tidak sakit kok."


"Mungkin kau tidak keras terkena lemparannya. Liyan 'kan keras," balas Ecy. "Pak Duan semoga saja tidak melihatnya." Ecy segera menjauh.


Sayup -sayup suara mereka masih saja terdengar dengan jelas di telingaku dari kejauhan. Tawa garing yang menertawai jalanku semakin terbahak dengan melebar memenuhi udara yang kosong.


"Liyan, cepat berjalan dari situ!" teriak Pak Duan. "Jangan halangi mereka yang ingin berolahraga."


"Baik Pak," jawabku sambil menunduk dengan suara getir, sembari tanganku menggenggam dadaku yang masih terasa sakitnya dengan jelas karena bola yang mengenai bagian dari tubuhku.


Semakin terseok -seok, aku berjalan dengan kencang menopang tubuhku yang menjerit karena menahan rasa sakit. Bibirku tidak lagi sanggup untuk berucap. Hanya pandangan mata kosong yang redup yang mampu berbicara hari ini.


Akhirnya, sampailah kedua kakiku di lorong kelas dan segera ingin memasukinya lalu duduk di dalam sesuai perintah Pak Duan. Kursi yang kosong rasanya seakan berjalan menyambutku dengan kehangatan. Meja kosong juga telah berdiri dengan tegak menghadap ke arahku yang berjalan masuk melalui pintu.


Refleks aku pun serasa merasakan sambutannya sehingga aku menguraikan senyum manis padanya. Berjalan dengan perlahan sambil menyentuh meja dan bangku yang ingin kuhampiri.


Di dalam kesendirian yang sepi aku hanya berteman dengan ruangan yang kosong. Aku duduk di tengah jeritan hati yang mendera. Rasa sakit yang tadi kini tidak lagi terasa bagiku. Hilang sudah bagaikan terbawa hembusan angin. Kedua bola mataku masih saja menatap pintu yang menjorok keluar lapangan yang terdengar teriakan riang dari temanku yang mengikuti pelajaran hari ini.


Anganku pun seketika melayang membayangkan diriku. Seandainya aku sehat aku sudah pasti berada bersama mereka berlari, tertawa dan bercanda gurau dengan lepas. Akan tetapi semua hanya ilusi dan mimpi yang tertanam didalam benakku yang dalam. Saat ini hanya impian besarlah yang menari-nari di hadapanku layaknya, aku sedang berada didalamnya di bawah angan yang tidak bisa di alami dengan nyata.


Senyum pun terhapus dengan refleks. Aku lalu mengambil beberapa buku dari dalam tas dan pensil kemudian aku menulis di atas buku dengan sebuah coretan yang menggambarkan kesedihanku. Coretan pensil yang tertuang di atas kertas sedikit bisa terbaca.


Sesekali aku melihat keluar, panas terik yang menyinari bumi membuat bayangan temanku terlihat bermain. Sunyi sepi tanpa seorang sahabat rasanya, bagaikan hidup tidak bermakna.


Sahabat adalah segalanya bagiku, mereka adalah penyemangatku, tanpa mereka aku mungkin sudah lama tidak bisa menatap dunia ini dengan senyum. Mereka begitu sabar dan peduli terhadapku.


Kedua tanganku masih saja mencoret di atas kertas yang ingin mencurahkan kejadian yang tadi yang membuat air mataku menetes. Gambaran bola kasti pun tanpa kusadari telah terlukis memenuhi kertas yang lebar.

__ADS_1


"Liyan, itu bola apa?" tanya suara asing yang membuatku terperanjat dan menghentikannya.


Seketika aku memutar kepala untuk melihatnya. "Rasyd." Bibirku berucap dengan pelan sedikit gugup. Aku takut kalau sampai Rasyd mengetahui, kalau aku tadi terkena bola kasti oleh Tania dan Ecy. "Aku hanya menggambar lingkaran," jawabku. Lalu menunduk kembali melihat yang membuat Rasyd penuh tanda tanya.


"Menggambar lingkaran, tapi kenapa lingkarannya secantik itu." Rasyd terus menatap dengan penuh perhatian. "Itu seperti bola," katanya semakin membuatku terpojok.


"Ti-tidak," jawabku dengan sedikit gugup. "Aku hanya menggambar bola saja, benaran," dalihku dari Rasyd agar dia tidak memberi pertanyaan terus menerus.


"Tapi, lingkaranmu cantik sekali," cetus Rasyd beranjak kembali keluar setelah mengambil sesuatu dari bangkunya.


Aku hanya tersenyum mendengarnya sambil mengikuti langkahnya yang menghilang dari balik pintu.


"Woy, tunggu dulu, aku masuk dulu ke dalam sebentar. Ada yang mau aku ambil," kata seseorang dari luar kelas."


"Ambillah! Cepat, ya. Kami tunggu di sini!" kata seseorang yang menyahut dari tempat lain yang tidak lain suaranya seperti suara Widia.


"Iya," jawabnya sambil melangkah mendekati pintu kelas.


"Iya, aku tidak melamun ,kok," jawabku dengan singkat.


"Cieee, Anak pintar lagi belajar, ya," celetuk Septiani menggodaku.


"Tidak, aku lagi menggambar," balasku sambil menunjukkan buku padanya.


"Menggambar ? Bukannya, kau tidak suka menggambar karena kau sering bilang, aku tidak suka menggambar karena aku tidak pandai. Jadi, kalau ada tentang menggambar aku malas. Bukan itu yang sering kau bilang, 'kan?! Ayo!" Septiani terus menggodaku hingga membuat aku malu. "Wajahnya memerah, jangan di tutupi, Liyan! Aku pengen melihat gambaran bolamu yang cantik itu, mana, coba sini aku lihat, pasti cantik." Septiani langsung menarik bukuku.


"Septiani, engga ada yang aku gambar. Aku cuman mencoret lingkaran saja," jeritku berdiri menarik buku dari Septiani. "Agh!" Aku mengelus kakiku yang tersandung bangku. "Septiani, kakiku sudah sakit kena bangku ini. Kembalikan bukunya."


"Engga! Engga bisa Liyan." Septiani berlari sambil membawa bukuku. "Hahaha !" Tawanya begitu renyah berlari mengelilingi bangku-bangku dan meja yang teronggok di dalam kelas. "Liyan, cepat kemari, ambil, kalau kamu bisa, ayo kemari!" Septiani terus berlari dengan kencang menjauh dariku sambil membuka lembaran mencari gambar yang aku ukir diatasnya.


"Septiani, kau di sini rupanya.Pak Duan mencarimu sama Fikri," teriak Widia dan Solihin. "Ngapain kau lari-lari di dalam kelas. Lari -lari di luar," ungkap Solihin memanggil Septiani.

__ADS_1


"Heh, kalau sampai ada guru yang melihatmu berlari di sini, bisa marah Bu Dona," sambung Widia mendekati Septiani dan meraih buku yang mengayun setengah di udara.


"Alah, iya, ya. Aku lupa," kata Septiani berhenti seketika. "Widia, kau bilang kalau Pak Duan dan Fikri memanggilku?! Untuk apa?" tanya Septiani dengan penasaran.


"Mana aku tahu." Widia menaikkan bahunya. "Makanya, ayo keluar!" pinta Widia menarik lengan Septiani.


"Eleh! Pasti kau bohong, 'kan?! Biar aku keluar bersama kalian. Iya 'kan? Ngaku aja deh." Septiani kembali menggoda Widia seperti yang dilakukannya padaku.


"Engga ada yang bohong," sambung Solihin dengan kesal. "Udah, ayo cepat keluar! Tidak usah bicara. Sekarang kita keluar. Pak Duan sudah menunggu di sana bersama Fikri, cepat!" Solihin mengeluarkan kepalanya sedikit melihat Pak Duan yang berada di tengah lapangan." Septiani," pekik Solihin semakin kesal.


"Kembalikan bukunya," pintaku berteriak mengejar Septiani. "Kau Septiani! Mau lari kemana, ha?" Aku berlari memutar arah mengejarnya. "Awas, kalau bukunya sampai sobek, ya! Aku akan memarahimu."


"Oh, ya! Kau akan memarahiku. Liyan, kau tidak bisa marah, kau cuman bisa menangis," ejek Septiani terus bercanda hingga aku menyerah karena lelah mengejarnya.


"Iya, Pak," sahut Solihin yang berdekatan dengan Widia.


Aku tiba -tiba terkejut dan menghentikan lariku mengejar Septiani. "Solihin kayaknya sudah marah," kataku melihat Septiani yang telah berhenti. Sikapnya kali ini terlihat seperti, Anak kecil .


"Aku jadi takut melihatnya." Septiani berjalan pelan seakan dia mengendap ingin menjauh dari Solihin. "Eh, tapi dia sudah pergi." Tawa Septiani kembali melebar. "Mereka berdua sudah pergi."


"Jadi, apa kau tidak ikut dengan mereka?" tanyaku menatap Septiani yang mengulurkan buku yang di ambilnya tadi dariku. "Tidak boleh. Jika, ada yang tidak ikut, iya 'kan?!" Aku mengambil bukuku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2