Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#100 Obat


__ADS_3

Dari arah luar cici sedang berjalan menemani aryo melihat lokasi yang akan menjadi target perusahaan aryo untuk di bangun resort olehnya.


Wajah cici nampak memaku ketika melihat ke arah mobil yang tak asing baginya.


"Itu mobil barack bukan?" ucap cici ke pada aryo sambil menunjuk ke arah mobil yang terparkir menghadap ke arah laut.


Aryo sedang menyelidik ke arah dalam mobil yang terlihat samar dari arah luar karena tertutup film kaca mobil.


Mereka berdua berjalan menghampiri mobil barack.


Aryo membungkuk untuk memastikan ke adaan di dalam mobil.


Wajahnya nampak memerah ketika melihat adegan panas antara luna dan barack di dalam sana.


Cici mengikuti jejak aryo dia melihat ke arah dalam, matanya membulat dengan cepat dia menarik tubuhnya menjauh dari kaca mobil barack.


Cici dan aryo hanya saling melempar pandang, wajah cici sangat terlihat malu harus melihat barack dan luna sedang berciuman di dalam mobil.


Aryo tanpa dosa dengan santainya langsung mengetuk kaca pintu mobil barack.


Dari arah dalam barack nampak terkejut, terlihat aura gelap menyelingkupi wajahnya setelah melihat aryo mengganggu dirinya yang sedang berusaha menyalurkan hasratnya kepada luna.


Barack mendengus kesal dengan segera dia membuka pintu dan melompat keluar dari dalam mobilnya.


Luna mengubah posisinya menjadi duduk kembali di kursi sambil berbenah diri dan mengusap bibirnya yang masih terasa basah.


"Kenapa kalain harus datang di saat yang tidak tepat seperti ini!!!" ucap barack dengan nada penekanan di setiap ucapannya.


Aryo nampak berusaha keras menahan tawanya karena berhasil mengganggu barack.


"Ya ampuunn barack!!, , kamu seperti orang yang tak bermartabat, setidaknya sewalah hotel untuk menyalurkan hasrat terpendammu itu" tawa aryo seketika pecah melihat ekspresi wajah barack saat menahan rasa malunya. Dia tahu dengan benar kalau barack telah lama tak menyentuh tubuh istrinya semenjak luna koma, apa lagi setelah dia tahu bahwa kini luna tangah kehilangan ingatannya walaupun tidak semuanya.


Dia tahu barack pasti lebih kesusahan menyalurkan keinginannya itu.


"Sial! brengsek juga kamu" umpatnya pelan ke pada aryo. Agar luna tak mendengarnya.


Pipi cici merona, dia langsung mengampiri luna yang masih berada di dalam mobil.


"Apa aku menggnggumu?" ucapnya sambil meraih ke dua tangan luna menuntunnya ke arah cafe yang menjorok ke arah laut.


Luna menggeleng pelan. Dengan senang hati dia mengikuti sahabatnya itu, sesekali dia melihat ke arah barack yang tatapan matanya terlihat seperti tak rela dirinya pergi dengan cici.


Tatapan barack kembali terlihat tajam ke arah aryo setelah luna pergi meninggalkannya.


"Seharusnya aku memukulmu dengan keras! namun aku memilih untuk tidak melakukan hal itu" wajah barack merona seketika.


Dia benar benar kehilangan akal sehatnya, dia sendiri lupa kalau dia sedang mencumbu luna di dalam mobil.


Naluri kelelakiannya tak memberinya ruang untuk berfikir dan memilih tampat.


Aryo tertawa puas, ketika melihat wajah barack sangat memerah padam karena menahan malu.


♡♡♡


"Katakan padaku, apa kamu sudah ingat semuanya?, , hingga kamu sekarang sudah menerima barack kembali" ucap cici dengan sangat antusias, dia merasa senang melihat sahabatnya itu kini telah kembali mengingat semuanya.


"Mm" luna menggeleng pelan.


"Apa maksud dari gelengan kepalamu itu?" pandangan mata cici berubah menyelidik ke arah luna.


"Aku belum memgingatnya ci" jelasnya.

__ADS_1


"Tapi tadi kalian berdua sudah berci, ciuman jadi aku pikir kamu sudah mengingat semuanya" ucapnya sedikit terbata.


Pipi luna kembali merona karena malu, sahabatnya itu harus melihat adegan yang tidak seharusnya dilihat.


"Aku hanya ingat aku pernah mengutarakan perasaanku padanya, terlepas dari dia meninggalkan ku saat"


"Itu lagi itu lagi!!" ucap cici memotong pembicaraan.


"Kan aku sudah memberitahumu lun, barack tidak pernah meninggalkanmu di hari pernikahan kalain" sejenak cici menghentikan ucapannya untuk memberi waktu kepada luna berfikir sesaat.


"Sepertinya kamu harus sedikit mencari ketenangan batin lun, agar bisa mengingat semuanya?" ucap cici berusaha menenangkan.


Luna nampak berfikir keras mencerna ucapan sahabatnya itu.


"Owh iya, kemarin aku dengar rekan kerja aryo sedang mencari orang berbakat di bidang fashion, kamu tidak kehilangan ingatanmu tentang dunia fashion mu kan?" ucap cici memastikan.


"Tidak" ucap luna dengan pasti


"Apa kamu mau mencobanya?"


"Bolehkah?" ucap luna penuh keraguan.


"Kalau aku suamimu si, , boleh boleh saja" seketika cici tertawa.


"Apa dia akan mengijinkanku?" ucap luna merujuk pada suaminya.


Cici mengangkat ke dua pundaknya seolah dia juga tidak bisa memastikan kalau barack akan mengijinkannya untuk bekerja.


♡♡♡


Aryo berjalan membawa dua botol air mineral ke arah meja, dimana barack telah duduk menunggunya dari tadi.


Dia menyodorkan minuman itu ke arah barack.


"Kamu benar benar terlihat sangat menyedihkan!" ucapnya membuka percakapan di antara mereka.


Barack membuka tutup botol dan menegugnya perlahan.


"Apa maksudmu?" ucap barack sambil mengalihkan tatapannya ke arah aryo.


"Sudah berapa lama kamu menahan deritamu ini?" sejenak aryo menghentikan ucapannya untuk menegug air di dalam botolnya. Barack tahu dengan pasti ke mana arah pembicaraan aryo kali ini.


"Kalau aku, pasti sudah melalang buana mencari pelampiasan" ucapannya terdengar memprovokasi barack


"Aku bukan dirimu!" ucapnya menusuk ke dada aryo.


"Oh ya, leo menitipkan sesuatu untukmu" aryo beranjak dari kursi berjalan menuju mobil membuka bagasinya dan memngambil sesuatu dari dalam sana.


Tatapan barack nampak menyelidik ke arah aryo yang kini tengah berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah botol kaca bening di tangannya.


Aryo menyodorkan botol itu ke arah barack.


Kening barack berkerut, sempat mendengar aryo menyebut nama leo, barack sudah berfikir kalau yang ada di dalam botol itu adalah obat perangsang yang kemarin sempat di bicarakannya di telepon.


"Kalian berdua benar benar bajin***, , bisa bisanya kalian memberiku obat seperti ini" barack nampak tak percaya dengan sambil menggeleng pelan ke arah aryo.


Aryo hanya terkekeh riang melihat reaksi dari wajah barack.


"Aku tahu leo pasti sudah memberitahumu!, , ini akan sangat berguna untuk membantumu! ayolah jangan senaif itu barack. Aku yakin kamu tidak bisa menahannya" ucapnya terdengar mengejek ke pada barack.


"Sial!! aku masih bisa menahannya, tidak sepertimu, melihat ayam di bedaki juga bakal di embat!" ucap barack dengan santai namun terdengar menyakitkan bagi aryo

__ADS_1


"Sialan kamu!" aryo kembali terkekeh.


"Kamu girang bangat!!, , lagi ngomongin apaan?" suara cempreng cici terdengar sangat memekik di telinga aryo hingga membuatnya seketika mengalihkan tatapan matanya ke arah cici yang baru saja datang.


"Apaan si!! berisik" ucap aryo dengan sengit.


"Kalian datang cuma berdua?"ucap luna sambil melihat ke arah aryo dengan penuh tanda tanya.


"Mm aku sedang melihat lokasi, , dia menemaniku, karena sekarang dia magang di kantorku" ucap aryo merujuk ke pada cici.


"Magang apaan!!, , jadi kacung iya" ucap cici seketika membuat aryo tertawa.


"Kacung?" luna bertanya tanya.


"Iya, dia bilang aku boleh magang jadi sekretarisnya, nggak tahunya malah di suruh jadi kacung ke sana kemari cuma buat hal yang nggak penting!" gerutu cici.


Aryo hanya tersenyum kecut, kini dia mengawasi wajah luna dan barack secara bergantian dengan tatapan mencurigakan.


"Sebentar aku akan ambilkan minum untuk kalian" ucapnya merujuk pada luna dan cici.


Aryo berjalan mengambil minuman botol dari dalam lemari pendingin.


Sebelumnya dia telah membuka salah satu botol dan memasukkan satu pil yang dia peroleh dari leo ke dalamnya.


Aryo menyeringai penuh ke puasan.


Dia berjalan kembali ke arah meja. Memberikan sebotol minuman rasa leci kepada luna dan sebotol rasa teh ke pada cici.


Cici nampak menekuk wajahnya ketika mendapati aryo memberikan minuman yang berbeda dengan luna.


"Jahatnya kamu!, , giliran beliin buat aku aja rasa teh, noh beliin si luna rasa buah, wah bener bener nih, , kamu tu pilih kasih" ucap cici sambil membuang tatapan sengit ke arah aryo.


barack nampak tak mempedulikan percakapan mereka dia lebih memilih meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat.


Luna hanya tersenyum kecut ke arah barack saat itu.


"Ya udah nih, , kita tuker saja ya, kebetulan aku juga tidak begitu suka dengan minuman rasa buah" luna berucap sambil memberikan botol minumannya kepada cici untuk di tukarnya dengan minuman rasa teh.


"Jangan!! jangan!!" raut wajah aryo nampak pucat ketika cici dengan senang hati menerima tawaran dari luna, dengan segera dia membuka minuman botol itu dan menegugnya perlahan.


Aryo tak sanggup harus menyaksikan cici menegug minuman yang seharusnya di minum oleh luna.


"Mampus lo aryo" umpatnya dalam hati.


Aryo nampak stres dia mengusap wajahnya dengan kasar melihat cici kini tengah menegug habis minuman rasa buah itu.


Barack tak menghiraukan sikap aryo yang nampak terlihat aneh, dia lebih memilih membantu luna membukakan tutup botol minumannya.


Luna menegug pelan minuman beraroma teh hijau itu.


Wajah barack terlihat damai, saat memandang wajah istrinya yang berada duduk di dekatnya.


Berbeda dengan aryo dia nampak gelisah melihat cici tengah menegug habis minumannya.


Tangannya bergerak meraih botol minuman cici.


"Apaan sih?" cici menepis tangan aryo.


"Barang yang sudah di kasih nggak boleh di minta lagi!" ucap cici, dia kembali mengangkat botol minuman itu dan menghabiskan sampai tetes terakhir.


"Uuuuhhh, , seegeerrr" ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Mampus" umpat aryo


__ADS_2