
Setelah pernikahan Bunga dan Davien mereka langsung disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari undangan ke luar negeri menghadiri dan rapat penting di beberapa kota. Baru hari ini mereka akhirnya memiliki waktu untuk pindah ke rumah Davien.
Juliet tengah disibukkan dengan menata ruang kamarnya di mana sebelum pindah ke rumah itu Juliet mendapat tawaran dari Davien untuk memilih sendiri warna dan furnitur kamar yang dia inginkan.
“Sayang? Kau menyukainya?” Davien baru saja masuk ke kamar Juliet, sebelum sesaat yang lalu memperhatikan Anak kecil itu menata boneka kecil miliknya di almari.
“Uhm! Juliet sangat menyukainya.” dia menghentikan kegiatannya memilih fokus dengan Davien yang duduk di bibir ranjang. “Terima kasih Ayah! Entah kenapa... tapi setelah pertemuan kita di desa itu Juliet merasa banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan Juliet.”
“Ah... benarkah? Misalnya?” Davien meraih tangannya meminta Juliet mendekat lalu berdiri di depannya saat bercerita.
“Mmm... seperti, Juliet tidak pernah lagi bermimpi buruk lalu... Juliet selalu melihat ibu bersemangat setiap pagi sebelum berangkat kerja, ibu juga lebih sering tersenyum... dan yang pasti, Juliet bahagia karena sekarang Juliet tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah!”
Deg!! Seketika dadanya berdebar kencang, bukan karena jatuh cinta melainkan terkejut mendengar pernyataan dari seorang anak kecil yang bahkan baru mau menginjak umur 7 tahun bulan depan. Davien dihadapkan dengan situasi kebingungan, bolehkah dia bahagia mendengar ucapan Juliet ataukah harus bersedih?
“Bolehkah Juliet memeluk Ayah?” pintanya dengan senyum lebar, tapi mata Davien justru berkaca karena dibalik senyum Juliet yang manis jelas terlihat anak kecil itu sedang menyembunyikan tangis.
‘Tidak! Aku tidak boleh sedih di depan Juliet!’ Davien berusaha tersenyum sembari membuka kedua tangannya. “Juliet tidak perlu meminta ijin untuk memeluk Ayah! Kemarilah!”
Dengan senang hati tentu saja Juliet tak akan malu-malu lagi kepada Davien. Tubuh mungilnya berada dalam pelukan yang selama ini dia inginkan, sejak pertama kali sekolah Juliet hanya bisa melihat teman-temannya di antar sampai pintu gerbang oleh ayah mereka. Tapi kini dia bisa merasakan hal itu, kebahagiaan yang tak bisa tergantikan dengan hal apa pun.
***
Setelah keluar dari kamar mandi Davien meletakkan handuk kecil yang baru saja digunakan untuk mengeringkan rambutnya di kursi kemudian menghampiri Bunga yang sedang duduk di kursi sembari berkaca di depan meja rias.
Pipinya langsung merona setelah melihat Davien mendekat. “Kemarilah!” lelaki itu meraih lengannya meminta Bunga duduk di pangkuan setelah Davien terlebih dulu duduk di tepi ranjang. Mereka mengenakan handuk kimono dengan warna senada. Sama-sama baru bisa mendapat waktu luang bersama setelah pernikahan mereka. Huuft!! Davien menghela nafas panjang menyandarkan keningnya di bahu sang istri, melepaskan segala penat karena perkerjaannya. “Hampir 3 minggu akhirnya kita bisa mendapatkan waktu bersama! Ini sangat menyiksa. Setiap hari aku harus menahan rindu padamu, Bunga!”
“Aku jauh lebih merindukanmu!” balasnya, Bunga mengecup ujung kepalanya kemudian. “Sangat-sangat merindukanmu!”
Perlahan kepalanya terangkat menatap wajah Bunga yang berada persis di depan mata. “Tapi, aku jauh lebih merindukanmu! Setidaknya setiap 1 jam aku selalu mengirim pesan, belum lagi aku mencoba menghubungimu tapi kau tidak pernah mengangkatnya!” ucap Davien dengan nada dan gayanya yang manja.
“Mm, karena... setiap kali membaca pesan dan mengangkat panggilan darimu pikiranku pasti akan langsung buyar! Jadi aku–,”
“Tunggu!” sahut Davien, keningnya berkerut dalam sebagai tanda kekesalannya. “Jadi, kau selama berada di tempat kerja sengaja mengabaikanku?”
‘Sial! Aku tahu Davien akan marah dan tidak terima!’ aah! Bunga menjerit ketika Davien membuang tubuhnya ke atas ranjang kemudian menguncinya kedua kaki dan tangannya.
“Benar kau sengaja mengabaikanku?”
“Karena setiap kali aku membalas pesan darimu selanjutnya aku tidak bisa berhenti melepaskan ponsel dari tanganku! Aku... ingin selalu membalas pesanmu tapi pekerjaan berkata lain!”
“Baiklah! Kau tahu kalau perbuatanmu itu harus mendapat sanksi berat agar jera?” ancam Davien disertai senyuman lebar.
“Kalau sanksi dan hukuman itu darimu yang harus aku dapatkan... maka dengan senang hati aku akan menerimanya!”
Davien menyeringai seperti seekor singa tengah siap menyerang mangsa. “Kalau begitu kau sudah siap?” bisiknya.
Ah! Hahaha.... Bunga tertawa menggeliat menahan geli ketika Davien menggelitiki tubuhnya menggunakan wajahnya yang sengaja dia arahkan ke beberapa titik tertentu, hingga akhirnya ikat pinggang pada kimono yang dia kenakan berhasil di lepas. Tak perlu permisi lagi kini lelaki yang sudah menyandang gelar sebagai suaminya itu menghadiahi beberapa kecupan di dadanya.
Ceklek! “Ibu? Ayah?”
Di tengah-tengah pemanasan sebelum melakukan olah raga berat pada malam hari, Davien seketika berguling di atas ranjang hingga terjatuh di lantai lalu bangun bersikap seolah tak terjadi apa pun setelah mendengar suara Juliet.
__ADS_1
Brugh!
“Au!” rintuhnya sembari beranjak berdiri mengusap pinggangnya.
“Kau baik-baik saja?” Bunga pun langsung beranjak duduk, cepat-cepat merapikan ikatan pinggang serta rambutnya yang sedikit berantakan.
“Ibu? Ayah? Bolehkah Juliet tidur bersama kalian? Juliet belum terbiasa dengan kamar baru!” Juliet melangkah mendekat, kedua matanya tampak merah karena sangat mengantuk tapi tak kunjung bisa memejamkan matanya.
“Tentu saja boleh!” sahut mereka berdua secara bersamaan. Setelah itu saling melempar pandang dan tersenyum getir. Karena selama ini mereka memang selalu tidur bersama bertiga dalam satu ranjang. Sebagai orang tua mereka sangat paham dan mengerti Juliet yang semakin manja. Terlebih lagi Davien, dia sangat mengerti keinginan Juliet yang mendambakan kasih sayang dan selalu ingin dekat dengannya.
“Kemarilah sayang!” Davien naik ke atas ranjang meminta Juliet tidur di sampingnya.
“Assiiik!” dengan senang hati anak kecil itu segera melompat ke ranjang penuh dengan kegembiraan.
“Karena ini sudah malam Juliet harus segera tidur oke?” Bunga menarik selimut, memakainya untuk mereka bertiga. Keberadaan Juliet di antara mereka berdua malam itu menambah daftar panjang bagi Bunga dan Davien agar lebih bersabar lagi. Bunga telah memejamkan mata sembari mengusap punggung tangan putrinya yang mulai terlelap, tapi dia tak bisa menahan senyum menyadari bahwa di sisi lain ada lelaki yang terlihat begitu muram karena harus mengendalikan dirinya yang tengah menegang.
‘Hah... sial! Harus ditunda lagi malam ini!’ Davien memijat keningnya perlahan.
***
Ceklek!
“Tidak sopan! Kau bahkan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu–,???” Bunga terkejut saat mengangkat kepalanya, semula dia hampir marah mengira bahwa sekretarisnyalah yang masuk ke ruang kerja. “Davien?” raut wajahnya berubah, bercahaya melihat kedatangan lelaki itu tanpa diduga. Segera dia beranjak dari kursi dan langsung berlari memeluk suaminya.
Dengan senang hati Davien membalas pelukannya, bahkan lebih erat tanpa melupakan hadiah kecupan di kening istrinya. “Apa aku berhasil membuatmu terkejut?”
“Uhm!!” angguknya cepat. Selama dua hari Bunga harus tinggal berdua di rumah karena Davien pergi keluar negeri.
“He? H.hawai? Kau serius?” Bunga terkejut tak percaya.
“Hmm! James sudah menyiapkan tiketnya kau hanya tinggal meminta sekretarismu untuk mengatur jadwalmu minggu depan, oke?”
“Tapi... bagaimana dengan Juliet?” Bunga tidak bisa tenang sekalipun dia meninggalkannya dengan Antonio yang sejak kecil selalu melihat pertumbuhan putrinya. “Oh, bagaimana kalau Juliet tinggal sementara bersama dengan ibu?”
“Ibuku?” tanyanya memastikan.
“Iya!”
Davien bisa saja membiarkan Juliet tinggal bersama kedua oranh tuanya, tapi akan lebih baik kalau semua ini sesuai dengan apa yang sudah dia rencanakan. “Aku yakin mereka sama sekali tidak keberatan, tapi... ada orang lain yang lebih berhak merawat Juliet ketika berada di Hawai nanti!”
“Siapa?” keningnya berkerut memikirkan seseorang yang sedang dibicarakan oleh suaminya.
“Kau akan tahu, hari ini rencananya setelah menjemputmu kita akan pergi ke sekolah menjemput Juliet dan... aku akan mengajak kalian berdua ke suatu tempat!”
***
Davien membawa istri dan anaknya pergi ke desa di mana pembangunan perumahan elite miliknya hampir 100% selesai.
“Kenapa kau mengajakku ke tempat ini? Aku sudah tahu kalau kau sengaja tidak menghancurkan rumahku! Jadi ini yang ingin kau perlihatkan padaku?” Bunga tersenyum memgingat kenyataan bahwa Davien sempat berseteru dengan para pemegang saham hanya untuk mempertahankan rumah tua milik neneknya.
“Tidak, masih ada hal lain yang belum kau ketahui! Turunlah kau akan tahu nanti! Aku akan membangunkan Juliet terlebih dulu!”
__ADS_1
Setelah turun dari mobil Bunga tak pernah mengalihkan pandangannya dari rumah tua itu. Semua tampak baik-baik saja hingga akhirnya dia melihat pintu rumah bergerak terbuka dari arah dalam dan seorang perempuan melangkah keluar.
Senyum perlahan menghilang dari wajahnya. “Siapa perempuan itu?” kakinya bergerak melangkah mendekati perempuan yang baru saja keluar dari rumah neneknya itu terlihat sibuk membuang air kotor ke halaman.
Dari arah belakang Davien menggendong Juliet mulai mengikutinya. “Bunga tunggu?” serunya,
Mendengar suara Davien menyebut nama Bunga, perempuan yang berdiri di depan rumah tua itu seketika terdiam, tak lama kemudian menoleh membuang pandangannya ke arah di mana suara itu berasal.
“Bunga?” gumam perempuan itu.
***
“Aku tidak mau dia tinggal di rumah itu!” sempat terjadi ketegangan antara Bunga dan Davien yang berselisih tentang Laura. Pasalnya setelah perempuan itu diusir oleh suaminya, Laura tak memiliki tempat tujuan kecuali kembali ke rumah itu.
Suatu ketika saat Davien melihatnya duduk di bangku depan rumah milik Bunga, dia pun menawarkan tempat tinggal untuk Laura tapi perempuan itu menolak dan memilih tinggal di rumah peninggalan mendiang ibunya.
Bunga dan Davien terlihat berbincang membahas perihal Laura sementara Juliet sedang bersama neneknya bercanda gurau di halaman rumah.
“Bunga aku mohon, aku tahu kau tidak mungkin tega membiarkan ibumu tinggal di jalanan! Aku juga yakin kalau kau masih sangat menyayanginya. Aku yakin dia pasti sudah berubah.” Davien berusaha menenangkan Bunga yang sempat terpancing empsi melihat ibunya tinggal di rumah itu.
“Aku tidak sebaik itu! Aku bukan orang yang mudah memaafkan!” sahutnya kesal.
Dengan penuh perhatian dan kelembutan Davien terus mencoba melunakkan hatinya. Membelai kepalanya kemudian kedua pipinya dengan lembut. “Tapi bagiku... kau perempuan yang sangat istimewa, meskipun kau bilang begitu tapi aku yakin kalau kau sudah memaafkan kesalahannya sejak dulu sebelum ibumu meminta maaf ya, ‘kan? Aku ingin perempuanku hidup dengan damai tanpa sedikit pun memikirkan sesuatu yang akan mengganggu pikirannya! Aku tahu semenjak pernikahan Marvel waktu itu kau selalu memikirkan ibumu karena tidak melihatnya ada di pesta ya, ‘kan?”
“B.bagaimana kau bisa tahu?” Bunga terkejut.
Davien mencubit hidungnya gemas. “Dasar, bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan! Aku... adalah suamimu! Pikiran kita sudah terikat sejak dulu jadi, apa pun yang sedang mengganggu pikiranmu aku pasti tahu. Sekarang... aku mohon, berdamailah dengan ibumu. Please!” Davien memamerkan wajah imut ketika memohon kepada istrinya. “Ayolah! Mmm... sayang? Aku mohon!”
Bunga mengernyit geli mendengar Davien tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan sayang. “Sayang??? Kenapa kau tiba-tiba memanggilku sayang?!”
“Kenapa?? Kau suka?” sahut Davien tersenyum lebar. Kedua tangannya meraih pinggang Bunga membawa istrinya ke dalam dekapan.
“Tidak! Itu menggelikan!” Bunga kesal tapi karena ulah Davien sehingga dia tak bisa menyembunyikan senyumnya karena malu.
“Ooh, catat! Istriku lebih senang dipanggil dengan sebutan sayang! Oke?” hahaha...
“Tidak! Jangan memanggilku sayang saat di depan Juliet!”
“Oke! Tapi... kau harus menuruti permintaanku dulu!” Davien mengecup pipi Bunga yang masih berada di dekapannya.
Perempuan itu menghela nafas panjang tak bersemangat karena tahu apa yang diinginkan suaminya. “Aku tidak janji apa aku bisa bersikap baik di depannya!”
“Ayolah sayang! Demi aku, demi Juliet. Hmm??”
“Aah! Baiklah-baiklah... sekarang lepaskan dulu pelukanmu, bagaimana bisa kita berjalan seperti ini!”
“Kau tidak perlu jalan, sayang. Aku bisa menggendongmu kalau kau mau?” bisiknya.
Bunga refleks berlari menjauh. “Jangan membuatku malu di depan Juliet, Davien! Kau menyebalkan!” ucapnya sambil berlalu.
Sementara Davien masih berdiri di tempat semula bertolak pinggang memperhatikan Istrinya yang bergerak menjauh menghampiri Juliet. Tak lama kemudian tersenyum membayangkan keluarga kecilnya akan semakin lengkap tanpa adanya perselisihan antara Bunga dengan ibunya.
__ADS_1