
Sejak mendengar kabar kalau Tuan Valldemor menolak semua artis yang dipilih secara langsung oleh Davien, pihak agensi harus memutar otak mencari artis lain entah pendatang baru atau artis yang sudah senior.
“Kau sudah dapat pandangan, James?” sejak tadi mereka berdua terlihat stres memikirkan satu masalah yang sebenarnya sepele, tapi hampir semua kriteria telah ditolak sehingga entah seperti apa yang diinginkan Tuan Valldemor karena dia tak memberikan kriteria apa pun pada pihak agensi.
“Belum presdir, agensi lain juga enggan mengirim artis mereka. Kemungkinan besar karena mereka takut akan kehilangan artisnya nanti.” Pasti, karena hampir semua orang ingin masuk ke agensi D Entertainment yang di pimpin oleh Davien.
“Tunggu!” Davien teringat dengan ucapan Juliet saat pertama kali mereka bertemu, di mana Juliet mengatakan kalau dia ingin menjadi artis top di agensi miliknya.
“Kenapa presdir?” James sempat bingung tapi melihat ekspresi wajah Davien berubah cerah, dia yakin kalau tuannya itu telah menemukan solusi. “Apa Anda sudah mendapatkan gambaran?”
“Uhm... aku belum yakin, tapi... semoga saja! Kau coba terus hubungi mereka secara diam-diam, siapa tahu salah satu dari mereka nanti bisa menarik perhatian Tuan Valldemar... aku akan pergi menemui seseorang!” tidak mau membuang waktu, Davien akhirnya bergegas pergi.
***
Karena semalam mabuk berat Keiko nyaris tak bisa bangun, saat membuka mata dunia seolah berputar. Kepalanya sangat pusing, seperti ditusuk-tusuk dengan jarum dan seolah semua yang dia lihat berputar. Perutnya mual Keiko tak mampu beranjak dari ranjang.
Hueekk!!! Tak mampu beranjak ke kamar mandi Keiko akhirnya mengeluarkan seluruh isi perutnya ke lantai dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Kau baik-baik saja?” Marvel melangkah cepat menghampiri Keiko yang tengah sekarat.
“Maaf... aku, mengotori lantaimu!” Keiko nyaris kehabisan nafas. Tubuhnya jatuh ke belakang berbaring lagi seperti semula.
“It’s oke Keiko... aku akan membersihkan lantainya. Kalau belum mampu berjalan kau boleh tidur lagi” Marvel kemudian membersihkan lantainya yang kotor.
Entah apa yang terjadi semalam, Keiko sama sekali tidak ingat sampai paginya dia berakhir di kamar itu lagi. “Marvel? Kenapa aku bisa di sini lagi?” suaranya lemah seperti tubuhnya yang lemas.
“Kau tidak ingat kalau semalam kau memintaku datang menjemput?”
“Semalam?? Ah!! Se.semalam bukannya kau dan Bunga... kalian” Keiko tak mampu melanjutkan ucapannya.
Marvel telah selesai membersihkan lantainya, dia mengalihkan pandangan ke Keiko sembari memamerkan senyum tipis. “Apa yang sedang kau pikirkan? Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti kalau makanan sudah siap.” Tangannya bergerak mengusap kepala Keiko. Sebelum kembali ke pantry Marvel mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya. “Tidurlah!”
Keiko terpaku nyaris tak percaya ketika sadar lelaki yang baru saja keluar dari kamar itu mengecup keningnya. “Tunggu! Dia... apa yang baru saja Marvel lakukan? Dia, dia mengecup keningku?” Keiko menyentuh dahinya sendiri tepat di mana Marvel mengecup. Pipinya merona hangat.
***
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
“Presdir, ada yang ingin bertemu dengan Anda” ucap sang sekretaris yang baru saja masuk ke ruangan.
Bunga menghela nafas panjang. “Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun! Suruh dia kembali besok!” Bunga kehilangan moodnya dalam bekerja hari itu. Hampir semua orang yang datang ingin bertemu di tolak olehnya.
“Termasuk aku?” sahut Davien yang sudah berhasil masuk ke dalam.
Mendengar suara berat itu, Bunga yang sempat menatap keluar dari balik kaca langsung memutar kursinya, matanya menatap sosok lelaki yang seketika membuat dadanya berdebar. “Davien? Kau... maaf, aku tidak tahu kau akan datang.”
“Aku sengaja tidak memberimu kabar... kau terlihat sedang tidak enak badan Bunga!? Sepertinya aku harus kembali besok!”
“Tidak!” sahutnya penuh semangat, terlihat sekali kalau Bunga tak ingin lelaki itu pergi.
“Wah presdir... Anda tiba-tiba kembali ceria, aku lebih suka melihat Anda seperti ini sehingga tidak perlu menolak semua orang yang datang karena ingin bertemu dengan Anda tadi” tanpa rasa berdosa sekretaris itu justru membuat Bunga malu, ucapannya seolah sedang memberi tahu Davien kalau kedatangannya membuat Bunga kembali bersemangat.
Pipinya merona malu, Bunga pun meminta sekretarisnya keluar dari ruangan.
***
“Maaf kalau aku datang tanpa memberi kabar terlebih dulu.” Davien mencercap secangkir kopi, mereka berdua terlihat berada di sebuah Cafe.
“Tidak apa-apa, santai saja!” pertama kalinya mereka menikmati waktu bersama setelah lama tidak bertemu dengan suasana yang sangat canggung pastinya. Menyadari Davien selalu memperhatikan dirinya, Bunga berinisiatif memulai pembicaraan. “Uhm... apa yang bisa aku bantu Davien?” tebaknya dengan sangat benar.
“He? Kau... ingin Juliet ikut casting?” sempat tak percaya, Bunga mengulangi pertanyaan Davien untuk meyakinkan.
“Iya!”
“Tapi... kenapa kau harus meminta ijin padaku? Kau” ucapannya terhenti, Bunga gugup saat ingin melanjutkan kalimatnya yang terhenti. Tetapi akhirnya dia memberanikan diri menyelesaikan ucapannya. “Bukankah kau juga ayahnya? Aku yakin kalau kau pasti akan mengambil keputusan terbaik untuk putri kita!”
‘Kita?’ mendengar Bunga mengucapkan kata itu membuat hatinya menghangat, dadanya serasa ditumbuhi bunga yang sedang bermekaran. Menimbulkan efek yang sangat terasa sampai tanpa sadar bibirnya mengembang tersenyum tipis.
“Tapi, kita harus membicarakan hal ini terlebih dulu dengan Juliet” tambahnya.
“Aku rasa dia tidak keberatan... karena Juliet sempat mengatakan kalau dia ingin menjadi artis top di agensiku!”
Hahaha... “Benarkah dia bilang begitu? Aku iri denganmu... Juliet bahkan belum pernah Cerita padaku mengenai keinginannya menjadi seorang artis ”
“Oh, Iya? Mmm... Terima kasih, Bunga” ucapnya sembari meraih tangan perempuan itu. “Setidaknya dengan seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Terima kasih karena mau memberikan kesempatan padaku agar bisa dekat dengan Juliet.”
__ADS_1
Bunga hanya tersenyum tipis tak lama kemudian pandangannya tertuju ke tangan. Lelaki itu belum melepaskan genggaman tangannya. Tetapi seketika hatinya merasa sedih saat Davien meminta maaf lagi untuk ke sekian kalinya karena baru saja sadar telah menggenggam tangannya.
“E, maaf!” Davien melepaskan tangannya.
***
Selepas selesai kerja Davien sengaja membuat janji dengan Bunga mereka akan pergi bersama ke rumah Mr.Rodrigo menjemput Juliet. Mobil hitam milik Davien terlihat berhenti di halaman depan rumah.
Seakan tahu siapa yang datang saat itu, Juliet berhambur lari keluar dengan riang gembira menyambut Davien.
“Paman!!” teriaknya, kaki kecil itu berlari cepat tak segan-segan melompat ke tubuh Davien yang telah membungkuk sembari merentangkan kedua tangan, terlihat sudah sangat siap membalas sambutan Juliet yang begitu hangat.
“Julietku... apa yang membuatmu terlihat bahagia sekali hari ini?” tak bisa dipungkiri Davien benar-benar sangat senang saat Juliet terlihat bahagia melihat kedatangannya, tapi mendengar sendiri alasan yang sebenarnya dari mulut Juliet pasti akan semakin membuat hatinya berbunga.
“Bagaimana ini paman? Sepertinya penyakit paman menular pada Juliet, kenapa Juliet jadi sering merindukan paman? Padahal baru saja semalam kita bertemu! Apakah ini bisa disembuhkan, paman?” kedua tangannya melingkar di leher Davien saat berada di gendongan.
Hahaha.... tawanya pecah melihat ekspresi wajah Juliet yang begitu ketakutan saat bercerita mengenai perihal apa yang sedang dia rasakan saat itu kepada Davien.
“Ini tidak lucu paman, Juliet benar-benar tertular penyakit dari paman!” Juliet menekuk wajahnya.
“Uhmmm... bagaimana cara paman menjawab pertanyaan Juliet kali ini ya! Karena setahu paman penyakit itu tidak ada obatnya!” matanya menyipit, disertai raut wajah julid yang terlihat jelas. Davien sepertinya memiliki rencana untuk menggoda Juliet.
“Heeee???” ekspresi terkejutnya Juliet mendengar jawaban dari Davien semakin membuat anak kecil itu terlihat lucu. Mulutnya menganga dengan kedua tangan melekat di pipi kanan dan kiri ditambah lagi matanya membulat penuh serta rambut yang dikuncir cepol tinggi-tinggi di atas kepala membuat Juliet semakin lucu.l
Davien merona nyaris melemah melihat tingkah Juliet. “Bagaimana ini?? Paman secara mendadak mendapat serangan jantung! Kenapa Juliet harus bertingkah lucu di depan paman?” Davien dibuat meleleh dengan tingkahnya.
“Lalau bagaimana dengan Juliet? Akankah Juliet juga mendapat serangan jantung seperti paman?” Juliet semakin panik tapi Davien justru menikmati semuanya.
“Apa yang Juliet khawatirkan?” sahut Bunga, sejak tadi dia hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Meskipun belum kembali bersatu dengan Davien, Bunga merasa bahagia seolah melihat keluarga kecilnya telah kembali. “Apa yang Juliet rasakan saat ini, disebut dengan rindu.”
“Juliet pernah rindu dengan paman, tapi tidak seperti ini, Bu!” Juliet mengalihkan pandangan ke Davien. “Kali ini Juliet merindukan paman sampai rasanya tidak mau pisah dan selalu ingin bersama paman! Astaga... apakah penyakit Juliet sudah parah Bu?” Ucapnya polos, Davien semakin geli melihat raksinya.
“Tidak sayang” Bunga membelai rambutnya. “Itu bukan penyakit, karena apa yang Juliet rasakan itu semakin bertambah besar, berarti rasa rindu Juliet kepada paman semakin bertambah sangaaaat banyak!” jelasnya. Hal itu sudah pasti karena mereka berdua kini lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama membuat hubungan mereka semakin dekat.
“Oohhh... jadi hampir setiap hari ternyata Juliet sangat-sangat merindukan paman! Lalu bagaimana dengan paman?”
“Of course! Tentu saja, Julietku... setiap hari setiap menit setiap detik, paman selalu merindukan Juliet!”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Ibu? Ini akan menjadi tidak adil jika paman tak merindukan ibu pastinya! Apakah paman juga merindukan Ibu seperti paman merindukan Juliet?”