
Barack duduk di kursi ruang Dokter, matanya tertuju pada sebuah layar dimana ada beberapa gambar kerangka kepala di sana.
"Keadaannya baik, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Untuk selanjutnya nanti akan kita periksa lebih lanjut lagi" Dokter berucap dengan nada menenangkan
Setelahnya Barack keluar dari ruang Dokter, lali laki itu nampak murung saat melangkah kembali masuk ke ruang inap.
Dia menarik kursi dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu Luna.
Perempuan itu masih belum sadarkan diri, Barack duduk di kursi sementara matanya terus memgawasi keadaan Istrinya.
Tangannya bergerak meraih tangan Luna menggenggamnya dengan erat, mengecup punggung tangan Istrinya kemudian meletakkan telapak tangan Luna ke pipinya.
Pandangan matanya tidak pernah berubah selalu tertuju pada wajah Istrinya.
"Lun" bisiknya dengan lembut.
Barack tidak menyangka kalau suaranya akan membuat Luna tersadar, perempuan itu merespon dengan menggerakkan jarinya yang sedang di genggam oleh Barack.
Barack menjauhkan tangan Luna dari pipinya, matanya menyelidik ke arah tangan Luna untuk memastikan bahwa baru saja jari Istrinya itu telah bergerak. Dan benar, Barack melihatnya lagi.
Laki laki itu tersenyum, kini pandangannya beralih ke wajah Luna. Dia melihat Istrinya tengah berusaha membuka matanya.
Mata Luna terbuka, dahinya berkerut kasar. Perempuan itu langsung bangun mengubah possinya duduk di atas ranjang. Keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya. Nafasnya pun terengah engah.
Barack beranjak dari kursi dan duduk di bibir ranjang mendekati Istrinya. Meraih pipinya dan menatap mata Luna dengan penuh tanda tanya.
"Luna?" Barack merasa khawatir ketika Luna terlihat pucat saat itu.
Nafas Luna semakin memburu. Matanya menyapu seluruh ruangan itu.
"Truk?? truk itu menbrakku dengan kencang" perempuan itu berusaha mengatur nafasnya.
"Luna? kamu bermimpi?" Barack menangkup ke dua pipi Luna dengan tangannya.
"Aku tidak bermimpi, truk itu menabrak mobilku. Dan mobilku terpental jauh, aku dan mobilku berguling di atas jalan" Luna menggerayangi tubuhnya sendiri memastikan bahwa tidak ada yang terluka di sana.
"Iya, itu beberapa bulan yang lalu Luna. Kamu pasti barusaja bermimpi buruk. Tunggu!" tatapan mata Barack menyelidik ke arah Luna.
"Kamu sudah mengingatnya?" Barack berucap dengan raut wakah tak percaya.
Luna melamun, pandangannya kosong dia masih berusaha memikirkan ucapan Barack.
Setelahnya perempuan itu mengangguk dan menatap ke arah Suaminya.
"Aku sudah ingat" Luna kini menunduk memandangi perutnya kemudian mengusap lembut di sana.
"Apa aku kehilangan calon bayi kita? saat kecelakaan itu terjadi?" Luna menatap Barack dengan lekat.
Laki laki itu hanya diam dan memeluk tubuh Istrinya dengan lembut.
Tak perlu menjawab namun itu sudah mewakili jawaban dari pertanyaan Luna.
Luna terdiam memaku, ujung matanya mengeluarkan kilauan bening di sana.
"Maaf"
Barack melepas pelukannya dan menatap Istrinya dengan Lembut. Laki laki itu tersenyum berusaha memberikan ketenangan kepada Luna.
"Mm, , tidak apa apa. Aku sudah sangat senang mendengar kamu mengingat semuanya" Barack meraih pipi Luna dan mengusap air mata Istrinya, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
Setelahnya Luna memeluk Barack dengan erat mencarai kenyamanan di tubuh suaminya.
__ADS_1
"Maaf" bisiknya lagi.
♡♡♡
Sepanjang perjalanan pulang dari Vila Aryo sama sekali membisu, dia tak mengucapkan sepatah kata pun hingga menciptakan keheningan di antara mereka berdua.
Cici merasa canggung, perempuan itu hanya menunduk dan memainkan jarinya.
Sesekali dia melirik ke arah Aryo. Laki laki itu menyadarinya namun dia hanya diam tak menghiraukan dan lebih memilih fokus ke jalan.
"Aku"
Aryo menyalakan musik sengaja agar Cici tak mengajaknya berbicara.
Perempuan itu menghela nafas, dia tahu kalau Aryo sengaja melakukannya.
Ujung mata Cici bergerak lagi melihat ke arah Aryo. Mata mereka hampir bertemu di sana sebelum Laki laki itu berhasil mengindar lagi.
Cici mengecilkan volume musiknya. Perempuan itu kini berani memandang Aryo dengan Lekat.
"Aryo!" ucapnya tanpa keraguan.
"Hmm?" gumam laki laki itu, dia masih bersikap dingin dan tak menatap Cici.
"Aku sedang berbicara dengamu!" ucapnya dengan nada menuntut.
"Aku sedang menyetir, bicaralah aku akan mendengarnya"
Cici meghela nafas panjang lagi berusaha menguasai perasannya.
"Kamu marah? kenapa kamu sedikit bicara dari kemarin?"
"Aku tidak marah. Bukannya kamu yang memintaku untuk menjaga jarak denganmu. Kenapa sekarang kamu menanyakan itu? aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman di sisiku"
Aryo menepikan mobilnya. Laki laki itu sedikit menoleh ke arah Cici namun masih menghindari tatapan matanya.
"Bukannya kamu merasa jijik saat berada di dekatku? lalu bagaimana bisa aku menatapmu? takutnya hal itu juga akan membuatmu tidak nyaman"
"Itu artinya kamu marah denganku?"
Sejenak Aryo terdiam berusaha mencerna ucapan Cici.
"Aku hanya marah dengan diriku sendiri" Laki laki itu kembali melajukan mobilnya.
♡♡♡
Aryo berjalan dari reseptionis menuju ke arah keluar pintu lobi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Cici dan sekretaris lainnya.
"Rosa!" ucap Aryo memanggil sekretarisnya yang sedang bersama Cici.
"Iya Pak?" Rosa menghentikan langkahnya.
"Tolong bawa berkas ini ke ruang kerjaku, setelah ini ikut denganku meeting di luar ya. Aku tunggu mobil" ucapnya sambil menyerahkan berkas ke pada Rosa setelah itu Aryo berjalan keluar menuju mobilnya tanpa menghiraukan keberadaan Cici.
Cici hanya diam pandangannya terlihat kosong saat itu.
"Ci?? ayo" Rosa membuyarkan lamunan perempuan itu saat Cici terlihat diam mematung.
Cici hanya memamerkan senyum getirnya ke pada Rosa.
♡♡♡
__ADS_1
Cici masih duduk di kantin, matanya terus menatap ke arah jam di tangannya.
Hampir 2 jam Rosa belum kembali setelah dia tahu kalau Aryo mengajaknya keluar.
Perempuan itu merasa cemburu walau pun tahu mereka berdua hanya pergi untuk meeting.
"Bagaimana pun juga Rosa kan perempuan. Mereka semobil, sementara Aryo? dia juga seorang playboy. Bisa juga kan laki laki itu merayunya di luar sana. Dan"
Cici bergidik sambil memukul pelan kepalanya sendiri seolah sedang menyadarkan dirinya dari pikiran buruk.
"Apa yang kamu pikirkan ci!!" gumamnya.
Ujung matanya beralih melihat ke arah luar, dari balik kaca dia melihat mobil Aryo telah kembali. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya saat itu.
Namun senyumnya menghilang ketika melihat Aryo tengah membukakan pintu untuk sekretarisnya.
Pandangan matanya tak pernah berubah dan selalu melihat kearah mereka berdua. Dadanya semakin panas dan wajahnya terlihat murung saat melihat Aryo berbincang akrab sambil membuang senyumnya ke pada Rosa.
"Recahan sekali senyumnya. Kenapa dengan mudahnya dia tersenyum ke pada wanita lain"
♡♡♡
Cici keluar dari pantri dengan membawa secangkir kopi.
Seperti biasa Aryo sebenarnya meminta Rosa membutkan untuknya, namun Rosa meminta tolong kepada Cici.
Tok tok tok!!!
Setelah mengetuk pintu Cici membukanya dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Aryo.
Matanya menyapu seluruh ruangan itu namun dia tak mendapati Aryo di sana.
"Kamu yang mengantar kopi lagi?" ucapnya secara tiba tiba dari arah belakang, hingga membuat perempuan itu terkejut dan membalikkan badannya dengan cepat, dan tanpa sengaja dia menumpahkan kopi itu ke kemeja Aryo.
Cici segera meletakkan cangkirnya di atas meja dan mengusap kemeja Aryo yang basah.
"Maaf aku tidak sengaja" Cici masih berusaha menyapu dada Aryo dan membersihkan kemeja laki laki itu dengan lengan kemejanya.
Aryo meraih tangan Cici dan menahannya.
"Aku bisa membersihkannya sendiri" Aryo melepaskan tangan Cici, laki laki itu membuka kancing bajunya satu persatu. Setelahnya melepas kemejanya di depan Cici begitu saja.
Wajah Cici merona saat melihat dada Aryo terekspos di depan matanya. Dadanya semakin berdetak dengan capat hingga membuat nafasnya memburu.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia melangkah menuju kotak p3k dan mengambil salep dari dalam sana.
Cici berjalan ke arah Aryo dan menghentikan langkahnya tepat di belakang laki laki itu.
"Dadamu memerah kerana tersiram kopi panas tadi. Aku akan membantumu mengoleskan salep ini"
Aryo membalikkan tubuhnya, laki laki itu telah memakai kemeja berwarna hitam namun belum sempat memebenarkan kancingnya hingga kembali memperlihatkan bagian tubuhnya yang kekar.
Sekali lagi Cici mengalihkan pandangannya dari dada Aryo.
"Tunggu apa lagi??, , katanya mau membantu memgoles salepnya?" Aryo berucap dengan nada berat.
Dia juga memalingkan wajahnya saat Cici melangkah maju mendekat ke arahnya.
Tangan Cici bergerak membuka kemeja yang menutup dada Aryo. Jarinya menyentuh bagian kulit yang memerah.
Perempuan itu mulai mengoleskan salep perlahan.
__ADS_1
Aryo nampak memejamkan matanya saat merasakan sentuhan jari Cici yang seakan menari nari di dadanya.