
Setelah selesai membuat Saus, Bunga menyiapkan spaghetti yang sudah terlebih dulu di masak. Sementara Davien tampak sibuk membersihkan saus yang mengotori kemejanya di wastafel.
Bunga meletakkan dua piring berisi spaghetti di atas meja makan satu untuk Davien dan datu lagi untuk dirinya sendiri. “Duduklah kau makan saja dulu, berikan padaku kemejanya biar aku yang membersihkan.” Bunga mengulurkan tangan menunggu Davien memberikan kemejanya yang telah basah sebagian.
Davien tampak ragu tapi akhirnya dia menuruti keinginan Bunga. “Apa ini tidak merepotkanmu?”
“Tidak, kau tenang saja.” Pipinya merona karena harus berhadap-hadapan dengan Davien yang sudah bertelanjang dada.
“Baiklah!” ucapnya sembari berjalan menuju kursi kemudian duduk.
Sesaat Bunga masih berdiri di sana meremas kemeja milik Davien, berusaha mengatur detak jantungnya yang tak beraturan. Setelah itu melangkah pergi mencuci kemejanya di mesin cuci. Selang beberapa menit dia kembali ke meja makan, menikmati makan malam bersama dengan Davien hanya berdua.
“Mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam menunggu kemejamu kering” benar-benar dalam situasi yang sangat awkward hanya berdua dengan Davien, apa lagi lelaki itu tak mengenakan pakaian.
“Hmm... tidak apa-apa! Aku akan menunggu sampai pakaianku kering.” Sesaat Davien terdiam memikirkan sesuatu sebelum melemparkan pertanyaan kepada Bunga. “Aku dengar Keiko dan Marvel akan menikah lusa nanti, serius kau tidak apa-apa Bunga?” ujung matanya perlahan mengarah ke wajah Bunga yang duduk di seberang meja.
“Uhm... aku senang mendengar mereka akhirnya bisa bersama!” Bunga mengacak-acak makanannya, terlihat hanya dua atau tiga suap saja yang masuk ke dalam mulutnya.
“Bukan itu yang aku tanyakan, tapi... bukankah kau sempat ingin bertunangannya. Perasaanmu... benar baik-baik saja?”
“Tentu saja, dari awal aku juga sudah merasa mereka akan bersama. Aku bahagia untuk mereka!” seketika tangannya terpaku, menyadari bahwa pertanyaan itu adalah sebuah jebakan untuk mengetahui seperti apa sebenarnya perasaan yang dia miliki untuk Marvel.
“Lalu... apa tujuanmu waktu itu menerima lamaran darinya kalau tahu Marvel akan bahagia dengan Keiko?”
Glek! Bunga menelan ludahnya susah payah, mulai gelisah saat pembicaraan di antara mereka semakin serius. “Uhm, apa kau sudah selesai makan? Aku akan mencuci piringnya!” Bunga berusaha mengalihkan perhatian serta menghindari pertanyaan Davien yang tak mungkin dia jawab.
Davien memperhatikan tingkah Bunga sejak mulai beranjak dari kursi dan berjalan menuju wastafel. Perempuan itu sibuk mencuci piring di sana. “Aku tahu kau sebenarnya tidak menyukai Marvel!” sahut Davien.
Bunga gugup sampai nyaris menjatuhkan piring, sengaja berpura-pura tak mendengar ucapan Davien, dia malah menyalakan kerannya semakin besar berharap suara airnya akan membantu agar Davien tidak curiga kalau dia pura-pura tidak mendengar. Setelah selesai mencuci piring Bunga hendak pergi mengambil kemeja milik Davien tapi saat memutar tubuhnya, perempuan itu terkejut dengan keberadaan Davien yang sudah berdiri tepat di belakangnya. “Eh!” dadanya bergerak cepat bersamaan dengan nafasnya yang terengah-engah. Saking terkejutnya Bunga sampai bergerak cepat melangkah ke belakang sengaja memberi jarak di antara mereka tapi ternyata dia tak bisa menjauh karena wastafel di belakang. “Kau! Mengejutkanku!”
Berbeda dengan Davien yang terlihat tenang, sempat bersedekap namun kini tubuhnya sedikit membungkuk di depan Bunga dengan kedua tangan berada di bibir wastafel tepat di sampung kanan dan kiri tubuh Bunga seperti sengaja mengurung perempuan itu agar tidak bisa menghindar lagi. “Apa yang sebenarnya kau rencanakan Bunga?” punggungnya bergerak maju memaksa Bunga menarik diri semakin ke belakang tapi karena tak bisa lagi bergerak perempuan itu akhirnya menahan dadanya menggunakan kedua tangan.
Tiit tiit! Terdengar suara yang berasal dari mesin cuci sebagai tanda mesin telah selesai bekerja. “Davien! S.sepertinya pakaianmu sudah kering inilah kesempatan Bunga untuk menghindar darinya. Langkahnya cepat menuju mesin cuci, beruntung memiliki mesin canggih yang ketika dimasukkan dalam keadaan kotor maka saat keluar pakaian sudah tertata rapi seperti sudah di setrika. Bunga mengambilnya setelah tutup mesin cuci terbuka secara otomatis dan menampilkan pakaian milik Davien sudah bersih tak ada bekas saus sedikit pun.
“Aku akan memakainya di sini!” ucap Davien seketika membuat Bunga terkejut untuk kedua kalinya.
“Astaga! Kenapa kau senang sekali mengejutkanku?” ketika menetralisir nafasnya yang memburu, Davien mengambil alih kemeja dari tangannya.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu” ucapnya lembut.” Davien mulai mengenakan pakaiannya, lagi-lagi melakukan itu di depan Bunga sengaja ingin membuat perempuan itu malu.
Setelah ini Davien akan berpamitan pulang tidak mungkin bagi Bunga pergi begitu saja masuk ke dalam kamar. Maka dari itu sengaja dia menunggu Davien selesai memakai kemejanya. Hanya berdua di sana dengan lelaki yang sedang membenarkan kancing kemeja terasa begitu canggung, terlihat jelas Bunga sangat gugup dan malu dari pipinya yang merona.
Tangannya masih sibuk mengancingkan kemejanya matanya sesekali teralihkan ke Bunga yang mulai salah tingkah, kadang menggaruk tengkuknya kadang juga menyentuh telinganya yang memerah. Davien tersenyum tipis melihat perempuan itu merona. “Setelah ini apa kau langsung tidur?” ucapnya mencairkan suasana, sengaja agar Bunga tidak canggung padahal sebenarnya dia senang melihat tingkah malunya.
“I.iya kalau kau sudah selesai aku akan mengantarmu keluar.”
Davien telah selesai mengancingkan kemejanya tapi dia tak langsung pergi, berada dalam situasi canggung hanya berdua dengan Bunga membuatnya tak ingin melewatkan momen itu.
Perhatian Bunga teralihkan ke kancing kemejanya yang tampak tidak rapi, terlewat satu kancing membuat bagian kerahnya tinggi sebelah. Bunga terkekeh melihat penampilan Davien, sepertinya Lelaki itu tidak menyadari.
__ADS_1
“Eh, kenapa kau tersenyum?” Davien bingung karena tidak tahu penyebab Bunga tertawa lirih saat itu. Tetapi dadanya dibuat berdebar kala Bunga mendekat kearahnya, biasanya dia yang bergerak terlebih dulu tapi kini Bunga datang padanya tanpa diminta. “Kenapa denganmu?” tanyanya heran terlebih lagi kedua tangan milik Bunga terarah kepadanya terlihat seperti ingin memeluk. Pipinya seketika memerah padam.
“Aku hanya ingin membantu merapikan kancingnya.”
“Oh!” keluhnya membuang nafas lega, pikirnya Bunga akan berubah agresif sehingga membuat Davien jantungan takut tak bisa menolak dan akan berujung penyesalan jika tak bisa mengendalikan diri. Tapi ternyata dugaannya salah.
Bunga sibuk membenarkan kancingnya satu persatu, perasaannya sempat tenang namun lagi-lagi dibuat gugup setelah tahu Davien selalu menatap wajahnya. Ghm! Dehemnya sengaja menetralkan perasaan. “Sekarang sudah rapi!” Bunga hendak melangkah mundur kembali ke tempat semula tapi Davien terlanjur meraih tangannya terlebih dulu.
“Davien?” akhirnya Bunga berani membalas tatapan matanya. Berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Davien tapi Bunga tak mampu melakukan karena cengkeramannya diara semakin mengaut.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Bunga! Saat kau menerima lamarannya... benarkah kau sudah melupakanku? Benarkah aku sudah tidak ada lagi di hatimu?”
‘Apa sebenarnya yang kau inginkan Davien? Kenapa seperti ini setelah mengatakan kalau kau tidak ingin hubungan kita kembali seperti dulu? Kenapa kau bersikap seolah memberi harapan padaku kalau ternyata kau ingin ada jarak di antara kita?’
“Kenapa kau diam saja? Katakan padaku bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap Marvel? Selama 7 tahun kalian bersama... di saat kita sedang ada masalah tapi kau justru memilih bersama lelaki lain, kau membiarkan Marvel berada di sisimu tanpa memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya. Apa kau ingin menggunakan alasan karena kesalahanku untuk menghukumku?” sepanjang Davien berucap sama sekali tak menggunakan emosinya, takut mengganggu Juliet yang sedang tidur maka dia berusaha mengendalikan diri sekuat mungkin.
Bibirnya tersenyum sinis merasa lucu dengan sikap Davien yang begitu naif. Sekuat tenaga Bunga menarik tangannya melepaskan diri. “Apa sebenarnya yang kau inginkan Davien?”
Seketika hening tak lama kemudian Davien berucap tanpa ragu dengan suara beratnya. “Aku ingin kita kembali seperti dulu!”
Seketika Bunga terpaku terdiam membisu mendengar pemintaannya. ‘Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu kali ini? Siapa kau ini sebenarnya Davien? Aku hampir tidak mengenali dirimu! Yang mana yang harus aku percaya? Ucapanmu malam itu, sikapmu yang begitu manis pada perempuan itu... atau, kalimat yang baru saja kau ucapkan? Yang mana yang harus aku percaya? Melihatmu bersikap baik kepada perempuan lain... membuatku berpikir kalau kau memang sudah berubah, bukan Davien yang kukenal dulu yang akan bersikap dingin pada setiap perempuan yang dia temui!’
“Bunga? Kenapa kau diam saja? Jawab aku!” kedua tangan Davien berada di bahunya, menyadarkan Bunga dari lamunan yang meracau pikirannya.
Dilanda kebingungan Bunga tak mampu lagi berpikir jernih, hanya ingin segera masuk ke kamar dan menyendiri. Perlahan Bunga menyingkirkan tangan Davien dari kedua bahunya. Meminta lelaki itu segera pergi dari apartemen. “Aku lelah Davien, pulanglah... kau juga harus istirahat!” setelah berucap, bunga melangkah terlebih dulu menuju pintu tanpa memberi kesempatan kepada Davien mendengar jawabannya.
***
Davien telah berdiri di depan pintu sementara Bunga bersiap untuk menutup pintunya. Mereka saling diam tak ada satu pun yang berucap untuk beberapa saat.
“Hati-hati di jalan!” Bunga sengaja berucap sebagai tanda bahwa Davien harus segera pergi.
“Tunggu!” Davien berusaha menahan pintu yang nyaris ditutup.
Tetapi dari arah dalam Bunga membukanya kembali. “Kenapa?” suaranya lirih, matanya tampak waspada melihat Davien yang sudah berdiri dekat di depannya. Pipinya merona saat lelaki itu menyentuh wajahnya.
“Good night, Bunga!” Davien hendak mencium bibirnya tapi perempuan itu menolak dengan menundukkan kepala. Dia justru tersenyum setelah mendapat penolakan dari Bunga. “Jadi... seperti rupanya?” gumamnya.
“He?” Bunga tampak bingung.
“Tidak, tidak apa-apa... istirahatlah!” tak kehabisan akal, kali ini Davien mendaratkan kecupannya di kening. “Aku pulang!”
Davien telah pergi dan Bunga juga sudah menutup pintunya tapi, perempuan itu masih berdiri di sana.
‘Aku ingin kita kembali seperti dulu!’
Kalimat itu membuatnya frustasi.
Keesokan harinya setelah jam makan siang Bunga yang mendapat kabar kalau shooting iklan dimulai. Tak ingin kehilangan momen pertama putrinya terjun memulai kariernya menjadi bintang iklan, Bunga sengaja datang ke lokasi shooting.
__ADS_1
Kebetulan karena tak ada pengambilan gambar di luar ruangan maka shooting dilakukan di dalam studio. Beruntung saat tiba di sana Bunga masih bisa melihat proses shootingnya kini Juliet sedang melakukan beberapa pengambilan foto bersama Rebecca. Studio yang sangat luas, tapi selain kepada Juliet ada hal lain yang menarik perhatiannya, tak lain dan tak bukan adalah keberadaan Davien yang tengah duduk di bangku menatap layar monitor bersama sutradara.
“Oke, kalian ganti pakaian dulu setelah ini kita lanjutkan foto kedua!” seru sutradara.
“Permisi, tapi bolehkah aku mengambil foto bersama presdir sebelum ganti baju? Jujur saja aku merasa tersanjung karena baru kali ini presdir terjun langsung mengawasi proses shooting iklan... sutradara bolehkah aku mengabadikan momen ini?” ucap Rebecca dengan gayanya yang centil, namun justru itu yang membuat semua orang gemas dan semakin menyukainya.
“Ya ampun Rebecca, kenapa kau harus meminta ijin denganku? Mintalah ijin pada presdir, tapi aku rasa presdir tidak akan menolak. Bukan begitu presdir?” sahut sutradara.
Semua orang di ruangan itu bersorak seketika ramai melihat interaksi Davien dan artisnya. Sementara Bunga hanya diam menyaksikan mereka.
Mungkin itu hal lumrah apa lagi foto bersama artis yang berada di bawah naungan agensinya, tapi tidak bagi Bunga. Sepertinya cobaan kali ini lebih berat. Kesabarannya semakin diuji kala Rebecca tak hanya berfoto dengan Davien, perempuan itu juga mengajak Juliet bersama mereka. Menempatkan Juliet di tengah kemudian berfoto layaknya sebuah keluarga kecil yang dipenuhi tawa.
Tak hanya Davien tapi Juliet, putri kecilnya itu juga sangat gembira jelas terlihat dari wajahnya yang berseri belum lagi tawanya saat bercanda gurau dengan Rebecca dan Davien ketika di sisi lain fotografer mengambil gambar mereka.
Dadanya semakin sesak nyaris tak dapat bernafas melihat pemandangan itu. Itulah yang selama ini Bunga inginkan, mengabadikan kebahagiaan keluarga kecilnya menjadi keinginan Bunga sejak dulu. Merasa kebahagiaan dan impiannya direbut begitu saja di depan mata membuat Bunga tak sanggup lagi bertahan lebih lama di tempat itu. Demi menjaga kewarasannya Bunga memilih keluar dari studio.
Akan tetapi usahanya keluar dari sana justru menarik perhatian semua orang terutama Juliet. Saat Bunga hendak keluar perhatian anak kecil itu tertuju ke cahaya dari balik pintu.
“Ibu?!” serunya.
Proses pengambilan gambar pun terhenti, semua orang mengalihkan pandangan mereka ke Bunga tanpa terkecuali.
Langkahnya terhenti, akan terasa canggung baginya untuk pergi begitu saja maka Bunga mencoba menyapa semua orang sebelum melangkah keluar. “Maaf, aku... tidak bermaksud mengganggu proses shooting. Sekali lagi aku minta maaf!” Bunga membungkuk sebagai bentuk rasa bersalah.
“Bunga? Tunggu!” seru Davien yang berusaha menghentikannya tapi Bunga terlanjur pergi.
***
“Bunga tunggu!” Davien berhasil mengejarnya, meraih tangan dan menggenggamnya erat. “Aku memanggilmu beberapa, apa kau tidak mendengar suarku? Kau sengaja mengabaikanku? Kenapa?”
“Davien aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, aku sudah sangat lelah... kenapa kau selalu seperti ini? Di mana letak kesalahanku? Kenapa aku tidak boleh menghindarimu? Kenapa aku tidak boleh mengabaikanmu? Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan padaku? Kau ingin menyiksaku lagi?”
“Bunga aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin tahu–,” ucapnya terhenti.
“Tahu apa? Tahu tentang perasaanku? Ha? Jawab Davien!!” tapi lelaki itu hanya diam saja membiarkan Bunga meluapkan emosi karena memang ini yang sedang dia nantikan. “Kau menang Davien! Kau berhasil membuatku cemburu! Kau berhasil membalas kekesalanmu karena selama 7 tahun ini aku menghilang tanpa kabar! Inikah yang ingin kau dengar? Kau menang Davien! Kau menang!!! Aku tidak pernah menyukai Marvel... aku juga tidak pernah melupakanmu! Aku selalu menyimpan namamu rapat dalam hatiku! Apa lagi yang ingin kau dengar? Perasaanku... sejak dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah, masih tetap sama. Aku... aku, aku menyukaimu! Kau dengar Davien? AKU MENYUKAIMU!! Jadi aku mohon berhenti membuatku cemburu! Berhenti bersikap manis kepada perempuan lain... berhenti memamerkan senyummu kepada mereka! Aku tidak ingin melihatmu bertindak lebih jauh lagi! Kau hanya boleh bersikap manis padaku, bukan pada perempuan lain!! Kau mengerti!” tangisnya hampir pecah tapi seketika terhenti saat Davien memeluknya.
“Kenapa begitu sulit membuatmu mengakui perasaanmu yang sebenarnya, Bunga?” Davien memeluknya erat, membenamkan wajahnya di perpotongan leher kemudian menghirup aroma tubuh Bunga, memuaskan dahaga kerinduannya selama ini.
“He?” Bunga terpaku kebingungan melihat sikapnya. “Davien tunggu–,” dia berusaha mendorong tubuh Davien tapi lelaki itu menolak.
“Tidak Bunga! Biarkan aku memelukmu! Katakan lagi apa yang baru saja kau ucapkan... biarkan aku mendengarnya!”
Bunga mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, karena beberapa hari ini dia dibuat bingung dengan sikap Davien. “T.tapi Dav–,”
“Please... aku hanya ingin mendengarnya!” saking bahagianya Davien tak mampu lagi menahan air mata, tapi dia sengaja membenamkan wajah di lehernya agar Bunga tak melihat.
Meskipun masih sedikit bingung tapi ketika Davien memeluknya erat seketika membuat keraguan di hatinya menghilang begitu saja. Tanpa berpikir panjang Bunga menuruti permintaan Davien. “Aku... menyukaimu!”
“Kalau begitu... maukah kau menikah denganku?”
__ADS_1